Bab 43 Cukup Tidak Mengetahui Hal Itu
Li Lu merasa kesal atas ketidakadilan yang menimpa Shang Wanwan. Sejak mengetahui perselingkuhan Huo Dongming, ia sama sekali tidak menaruh simpati pada pria itu.
Siapa suruh pria tersebut memperlakukan Shang Wanwan dengan begitu buruk.
"Tidak. Aku berencana pergi ke rumah sakit besok untuk menjenguk."
Huo Dongming telah mengerahkan tim medis terbaik untuk Shang Xingyuan, jadi ia yakin ayahnya akan baik-baik saja.
Ia sempat bertanya kepada Chen Yao melalui WeChat, dan Chen Yao memintanya untuk tetap tenang di rumah karena kondisi ayahnya diurus dengan baik olehnya, sehingga ia tidak perlu khawatir.
Bagaimanapun juga, ia pasti akan kembali ke kediaman keluarga Shang. Begitu anak itu lahir, Shang Xingyuan dan Chen Yao akan resmi menjadi kakek dan nenek. Ia berharap mereka perlahan-lahan dapat menerima keputusannya untuk meninggalkan Huo Dongming.
Semua itu butuh waktu, dengan syarat ia harus terlebih dahulu membuat Shang Xingyuan menyetujui perceraiannya.
Betapa sulitnya hal itu, tetapi demi masa depan, ia harus berusaha.
"Aku akan menemanimu pergi. Kau kan sedang ham—"
Li Lu menyadari dirinya hampir keceplosan dan langsung menghentikan ucapannya.
Shang Wanwan ikut merasa tegang. Untungnya, para pelayan di rumah itu tidak punya kebiasaan menguping atau mencuri dengar percakapan majikan mereka. Saat itu, masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak ada yang memerhatikan Li Lu yang berhasil menghentikan kalimatnya tepat waktu.
"Apa kau tidak perlu mengambil jadwal syuting?"
Ia takut kehadirannya mengganggu pekerjaan Li Lu.
"Syuting apa sialan, tiga ratus hari dari tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun aku habiskan untuk bekerja, apa mereka tidak membiarkanku istirahat? Aku akan menemanimu."
Hati Shang Wanwan terasa hangat.
"Aku ada janji sebentar lagi. Besok aku akan menjemputmu untuk menjenguk Ayah."
Li Lu pergi mengendarai mobilnya, dan Shang Wanwan baru kembali ke dalam rumah setelah mobil sahabatnya itu tidak terlihat lagi.
Malam harinya, Huo Dongming pulang lebih awal, tetapi ia terus berdiam diri di lantai bawah dan tidak kunjung naik ke kamar.
Shang Wanwan merasa gugup dan takut setiap kali melihat pria itu.
Untungnya, sepanjang malam itu pria tersebut tidak menyentuhnya. Menjelang tengah malam, Shang Wanwan terbangun dan mendapati sisi kanan ranjangnya kosong.
Sepertinya Huo Dongming pergi ke ruang kerja.
Belakangan ini, perasaan kedua orang itu sama-sama tidak tenang.
Keesokan harinya, Li Lu datang tepat waktu untuk menjemputnya. Setelah berbenah seadanya, mereka pun pergi bersama ke rumah sakit untuk menjenguk Shang Xingyuan.
Berkat bantuan yang diberikan oleh Huo Dongming, kondisi kesehatan Shang Xingyuan terkontrol dengan sangat baik.
Melihat kedatangan Shang Wanwan, Chen Yao hanya berpesan agar putrinya itu tidak mengatakan hal-hal yang bisa memancing kemarahan Shang Xingyuan.
Li Lu menatap Chen Yao yang bersikap sangathati-hati itu dengan sekilas. Entah mengapa, ia merasa seperti pernah melihat wanita itu di suatu tempat.
Meskipun Li Lu dan Shang Wanwan telah bersahabat selama bertahun-tahun, ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan orang tua sahabatnya itu.
"Ayah, apa kondisi Ayah sudah membaik?"
Shang Wanwan merasa tegang tanpa alasan saat melangkah masuk ke dalam bangsal, bagaikan seorang anak yang baru saja melakukan kesalahan.
"Belum mati untuk saat ini. Pulang sana, dan ucapkan terima kasih kepada Dongming atas namaku. Sarang burung walet yang kusuruh kau bawa pulang untuk mertuamu itu, apa sudah kauberikan?"
Shang Xingyuan tidak lagi membahas urusan Shang Wanwan sebelumnya, perhatiannya justru tertuju pada sarang burung walet tersebut.
Yuan Yi sama sekali memandang rendah pemberian keluarga mereka. Shang Wanwan tidak berani mengaku bahwa barang itu telah ia makan sendiri, sehingga ia hanya bisa mengangguk asal-asalan.
Li Lu yang memerhatikan dari samping merasa tidak tahan lagi. Ia memiliki kepribadian yang blak-blakan, sehingga ia tidak bisa menahan diri untuk ikut mencampuri pembicaraan.
"Paman, sebaiknya Paman jangan terus menekan Wanwan. Keluarga Huo sama sekali tidak menghargai Wanwan. Apakah Paman tahu seperti apa kehidupan yang dijalani Wanwan di keluarga Huo?"
Shang Wanwan dengan lembut menarik lengan baju Li Lu. Shang Xingyuan yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit tadinya hendak menceramahi Shang Wanwan dengan posisi sebagai seorang ayah, namun interupsi dari Li Lu membuat niatnya seketika buyar.
"Siapa anak ini—"
Shang Xingyuan tidak pernah dengan mudah menunjukkan emosinya di hadapan orang lain, ia hanya menatap Li Lu dengan pandangan acuh tak acuh.
"Ayah, dia sahabat baikku, Li Lu, orang yang pernah kuceritakan pada Ayah."
Shang Xingyuan mengangguk kecil.
"Nona Li sangat memerhatikan putriku, terima kasih. Tapi aku melakukan ini demi kebaikan Wanwan. Di seluruh Kota Dong, hanya keluarga Huo yang kekayaannya menandingi negara. Betapa banyak orang yang ingin menikah dengan Huo Dongming namun gagal.
Keluarga kita sedang mengalami kemunduran dan tidak bisa memberikan apa pun pada Wanwan. Hanya dengan menikah ke dalam keluarga Huo ia bisa terus menikmati kehidupan yang layak. Aku yang telah bersalah padanya."
Mendengar perkataan Shang Xingyuan tersebut, Li Lu justru merasa sungkan untuk menyalahkannya.
Wajah pucat Shang Wanwan sedikit kehilangan warna.
Ayahnya tidak pernah mengucapkan kata-kata seperti itu kepadanya.
Li Lu mencoba menahan kesabarannya.
"Paman, apakah Paman pernah bertanya pada Wanwan? Bisa jadi ia sebenarnya hanya ingin menjalani kehidupan orang biasa."
Bahkan untuk urusan memiliki anak pun Shang Wanwan tidak bisa menentukan pilihannya sendiri. Li Lu merasa begitu iba melihat keadaannya dan berniat membujuk Shang Xingyuan.
Jika Shang Xingyuan bersedia menerima Shang Wanwan kembali ke rumah, maka gadis itu tidak perlu lagi hidup bersama Huo Dongming, dan tidak perlu bersusah payah menyembunyikan kehamilannya.
"Orang biasa? Sejak ia melangkah masuk ke dalam keluarga Huo, takdirnya sudah ditentukan untuk tidak akan pernah bisa menjadi orang biasa."
Wajah Shang Xingyuan mulai menunjukkan ekspresi ketidaksenangan.
"Wanwan, Ayah sangat senang kau datang menjengukku, tapi Ayah lelah sekarang. Pulanglah. Cukup Ibumu saja yang merawatku di sini."
Shang Xingyuan mengusir mereka secara halus. Shang Wanwan merasa tidak berdaya, sementara Li Lu merasa geram di dalam hati.
"Paman, tidak bisakah Paman sedikit saja memposisikan diri di tempat Wanwan dan memikirkan perasaannya?"
Ini adalah kali pertama ia melihat orang tua yang begitu egois.
"Li Lu, ayo kita pergi."
Shang Wanwan tidak ingin memperpanjang pertengkaran dengan ayahnya. Shang Xingyuan pun langsung memalingkan wajahnya, menunjukkan keengganan untuk melanjutkan percakapan.
Li Lu dan Shang Wanwan meninggalkan rumah sakit. Setibanya di pintu keluar, Li Lu menghentikan langkahnya.
"Wanwan, kenapa kau tidak mengatakan saja tentang kehamilanmu itu?"
Bagaimana bisa seorang gadis berusia awal dua puluhan sepertinya menghadapi semua ini sendirian? Apakah ia benar-benar harus tinggal di rumah kontrakan berukuran kecil dengan perut buncit tanpa membawa sepeser pun uang?
Pandangan mata Shang Wanwan meredup.
"Kau juga melihat sendiri sikap Ayah. Dia sama sekali tidak ingin aku meninggalkan keluarga Huo."
Li Lu merasa sangat marah.
"Sebenarnya kau ini anak kandung mereka atau bukan? Jelas-jelas tahu itu adalah lubang neraka, tapi mereka malah dengan tega mendorongmu masuk ke dalamnya."
Shang Wanwan bergumam pelan.
"Aku ingat saat masih kecil, Ayah dan Ibu sangat baik kepadaku. Apa pun yang kuminta selalu dibelikan. Kakak juga sangat memanjakanku."
Entah sejak kapan semuanya berubah. Peristiwa mengerikan yang dilakukan oleh Shang Xingyuan telah memberikan pukulan telak bagi keluarga Shang. Jika bukan karena janjinya untuk membantu setelah ia menjalin hubungan dengan Huo Dongming, keluarga Shang pasti sudah hancur sejak lama.
"Tapi bukan berarti mereka harus mengorbankan kebahagiaan seumur hidupmu demi menyelamatkan diri mereka sendiri!"
Li Lu tidak tahan melihat Shang Wanwan menderita.
Dulu, ketika Li Lu hanyalah seorang berandalan jalanan, Shang Wanwan-lah—gadis dari keluarga kaya raya itu—yang menyelamatkannya, melunasi utang judi mantan kekasihnya, sehingga ia tidak sampai tewas dikeroyok orang.
Bahkan nyawanya ini bisa dibilang adalah milik Shang Wanwan.
"Ini bukan soal pengorbanan, anggap saja ini sebagai caraku membalas budi atas jasa mereka membesarkanku."
Shang Wanwan berkata dengan nada acuh tak acuh. Dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Huo Dongming kepadanya, sedikit kelicikan dari kedua orang tuanya itu bukanlah apa-apa.
Li Lu menghela napas. "Jika kau mengalami kesulitan, datanglah padaku kapan saja. Jangan sungkan."
Shang Wanwan naik ke mobil Li Lu. Begitu melihat mobil mereka berlalu sepenuhnya, Chen Yao baru kembali melangkah masuk ke bangsal.
"Gadis sialan itu, apa akhir-akhir ini dia sedang ada masalah dengan Tuan Muda Huo? Sering sekali kembali ke sini untuk mencari-cari perkara."
Shang Xingyuan merasa ada sesuatu yang janggal. Dulu Shang Wanwan tidak pernah sesering ini berkunjung; meskipun ia sedang sakit, menelepon beberapa kali saja sudah cukup. Lagi pula, putrinya itu datang dengan nada menuntut.
Kecuali jika ia benar-benar sudah berselisih paham dengan Huo Dongming, bagaimana mungkin ia bisa mengetahui kejadian tiga tahun lalu?
"Soal itu aku kurang begitu paham, suami istri bertengkar adalah hal yang lumrah."
Wajah Chen Yao menyiratkan kekhawatiran. "Yang penting ia tidak mengetahui masalah itu."
Shang Xingyuan mendengus dingin. "Lalu kenapa kalau tahu, apa dia berani membuat keributan?"