Bab Empat Puluh: Masih Ada Harapan?
Halaman (1/3)
"Huu, huuu."
Apa yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, meski sedikit terlambat. Kapten Zhou akhirnya tiba di lokasi kejadian bersama sekelompok orang. Saat dia sampai, Pak Tua Wang sudah sadar. Sebenarnya, Pak Tua Wang juga tidak benar-benar tidur, dan dia tahu cukup banyak hal. Misalnya, seperti apa rupa penculiknya, dan fakta bahwa Pak Guru Zhang menghilang setelah keluar. Semua ini dia sampaikan satu per satu kepada Kapten Zhou.
Setelah melakukan pemeriksaan, Kapten Zhou segera mengirim anggotanya untuk menyisir ke arah hilir sungai. Baik itu manusia bersisik yang melarikan diri maupun Pak Guru Zhang yang menghilang, terdengar sangat mungkin mereka berada di dalam sungai saat ini.
Wang Tiezhu juga berada di dekat sana untuk dimintai keterangan. Saat mendengar fakta bahwa Wang Tiezhu mengangkat mobil van untuk menghantam monster, orang-orang di sekitar langsung mengerumuninya.
"Kau benar-benar mengangkat mobil van itu?"
"Mobil van kosong yang itu?"
"Hanya sekali angkat? Semudah itu? Diangkat begitu saja?"
Wang Tiezhu terus mengangguk. Apa-apaan, fokus kalian aneh sekali. Bukankah seharusnya kalian lebih banyak bertanya tentang si penculik bersisik itu? Kenapa terus-terusan bertanya soal "mengangkat" atau tidak! Memangnya kenapa, kalian semua tidak bisa mengangkatnya?!
Pemeriksaan terhadap Wang Tiezhu tidak berlangsung lama, lagipula ada begitu banyak orang yang memotret, merekam video, bahkan ada drone yang mengabadikan momen tersebut. Tidak perlu banyak orang untuk membuktikan perbuatannya! Sekarang, jika membuka ponsel dan menggulir video pendek, orang bahkan bisa melihat sosok Wang Tiezhu yang mengangkat mobil van untuk menghantam monster. Judul videonya pun ditambah kata kunci seperti "Gadis cantik, monster, alam liar, pertarungan, menegangkan, kualitas definisi tinggi". Penontonnya pun melonjak drastis!
Setelah pemeriksaan selesai, Wang Tiezhu dan Pak Tua Wang bersandar di dekat ambulans untuk diperiksa oleh dokter. Pak Tua Wang berkata berulang kali, "Aku tidak apa-apa, tubuhku sangat sehat. Sekali kentut saja bisa merobohkan gedung lima lantai."
Dokter menimpali, "Salah satu gigimu copot, apa kau tidak menyadarinya?"
Pak Tua Wang meraba mulutnya, dan ternyata benar, satu giginya copot. Dia pun mendelik ke arah Wang Tiezhu. Rupanya, gigi itu copot saat Wang Tiezhu menariknya turun dari mobil van. Saat berada di tangan penculik dia baik-baik saja, tak disangka malah kehilangan gigi di tangan anaknya sendiri. Dasar anak durhaka!
Halaman (2/3)
Pak Tua Wang malas berdebat lebih lanjut, dia terus berceloteh kepada dokter, "Hanya satu gigi, bukan masalah besar. Tidak akan menghalangi aku menyetir Audi dengan satu tangan, kan!"
Dokter membalas, "Itu memang tidak menghalangi, tapi saat menyombongkan diri, suaramu jadi terdengar aneh."
Setelah pemeriksaan selesai, keduanya ternyata sehat bugar seperti anak sapi. Saat itulah Pak Tua Wang teringat sesuatu dan menoleh ke arah Wang Tiezhu. "Bukankah hari ini jadwal ujianmu? Bagaimana hasilnya?"
Wang Tiezhu merentangkan tangan. "Ujiannya baru separuh, aku sudah kabur. Aku menyerah!"
Pak Tua Wang terdiam sejenak mendengar hal itu. Wang Tiezhu justru tertawa. "Wajar saja. Lagipula aku memang bukan murid yang baik, menyerah pun tidak masalah."
Pak Tua Wang meliriknya. "Bukan murid yang baik, bukan berarti bukan orang baik, dan bukan berarti tidak bisa berkontribusi pada masyarakat. Ayah rasa kau punya masa depan!"
Wang Tiezhu terkejut. "Ayah, jarang-jarang Ayah bicara seperti manusia."
Pak Tua Wang langsung melotot. "Apa maksudmu jarang? Biasanya aku bicara bukan seperti manusia, lalu bicara seperti hantu? Kau ini benar-benar minta dihajar. Sudahlah, hari ini aku tidak akan memukulmu. Tidak lulus pun tidak apa-apa, cari saja pekerjaan. Lihat kekuatanmu yang begitu besar, jadi kuli bangunan pun tidak akan membuatmu kelaparan. Kalau benar-benar tidak bisa, Ayah masih bisa menghidupimu."
Pak Tua Wang tersenyum tipis, lalu tiba-tiba menyodorkan sebatang rokok kepada Wang Tiezhu. Wang Tiezhu tertegun sejenak dan hendak menerimanya. Namun, sebelum tangannya menyentuh rokok itu, Pak Tua Wang memukul tangannya dengan keras. "Kau benar-benar berani menerimanya ya. Dasar bocah nakal, kau sudah punya semua kebiasaan buruk, ya."
Pak Tua Wang menyalakan rokoknya sendiri dan menghisapnya dalam-dalam. Sembari mengembuskan asap, dia berkata, "Sekarang kau sudah jadi gadis, perhatikan citramu!"
Wang Tiezhu terkekeh dan menatap langit. Langit biru dengan awan yang berarak tenang. Hatinya terasa lega.
...
Tak lama kemudian, setelah semuanya selesai diurus, Wang Tiezhu dan Pak Tua Wang bersiap untuk pulang. Namun saat hendak berangkat, Wang Tiezhu baru menyadari bahwa sepeda yang dia pakai telah raib. Benda seperti ini pun ada yang mencuri!
Awalnya Wang Tiezhu merasa tidak masalah, hanya sepeda biasa, berapa harganya sih. Namun saat mendengar bahwa sepeda yang dicuri itu ternyata bernilai tujuh puluh ribu, Wang Tiezhu merasa dunianya runtuh. Mobil van yang dia lemparkan tadi saja harganya cuma dua puluh atau tiga puluh ribu! Selesai sudah!
Halaman (3/3)
Kali ini rugi besar! Untungnya, Kapten Zhou memberinya jaminan dengan mengatakan, "Tenang saja, pasti ketemu. Begitu si pencuri tahu bahwa sepeda yang dia curi adalah milik Wang Tiezhu si 'Manusia Van', dia pasti akan mengembalikannya dengan senang hati."
Wang Tiezhu bertanya dengan ragu, "Benarkah?"
Kapten Zhou memasang ekspresi aneh dengan sedikit nada menggoda. "Tentu saja benar. Selama dia tidak ingin mati, mati dengan cara yang mengerikan, atau mati di bawah mobil van, dia pasti akan berusaha mengembalikannya padamu. Bagaimana lirik lagu itu? 'Aku seharusnya di dalam mobil, bukan di bawah mobil, dihantam olehmu, sungguh tak berdaya...'"
Lagu itu dinyanyikan dengan nada yang fals. Namun, Wang Tiezhu hanya bisa mempercayainya, berharap memang begitu kenyataannya.
Kapten Zhou bahkan mengantar mereka pulang dengan mobilnya sendiri. Di dalam mobil, Kapten Zhou teringat sesuatu dan berkata pada Wang Tiezhu, "Wang Tiezhu, kondisi ujianmu hari ini akan kulaporkan saat aku kembali. Guru-guru lain juga akan memberimu kesaksian. Tapi untuk ujian ulang, sepertinya tidak mungkin. Dengan tingkat kerusakan yang kau buat, tidak akan ada yang mau membiayai itu. Kemungkinan besar, kau hanya akan mendapatkan nilai dari ujian praktik dan ujian komprehensif. Bersiaplah secara mental, sekolah unggulan tingkat pertama mungkin tidak bisa kau masuki, tapi sekolah tingkat dua atau tiga masih ada harapan besar!"
Wang Tiezhu yang tadinya mengira dirinya sudah tamat, tiba-tiba berdiri dari kursi belakang. "Bukankah aku sudah menyerah, apa masih bisa dapat nilai?"
"Menyerah? Apa kau menandatangani surat pengunduran diri?"
"Tidak juga."
"Berarti kau belum menyerah. Soal kau menerobos keluar dari ruang ujian, itu ada alasannya, jadi tidak akan dipermasalahkan. Oh ya, kemungkinan besar akan ada stasiun televisi yang datang ke rumahmu dalam beberapa hari ini. Kau tahu apa yang harus dikatakan, kan?"
"Tahu, tahu. Kapten Zhou yang mengatur strategi dengan brilian, di saat kritis memberi petunjuk padaku dan menyelamatkan keluargaku dari bahaya."
"Aduh, siapa bilang kemampuan bahasamu buruk? Kau bicara dengan sangat lancar. Sepertinya pelajaran resmi tidak kau kuasai, tapi omong kosongmu sungguh tidak ada habisnya!"
...
Sembari mengobrol, mereka pun sampai di Taman Hengxiao. Baru saja turun dari mobil, Wang Tiezhu melihat sepeda yang dikenalnya terparkir di depan gerbang kompleks. Wah, benar-benar dikembalikan! Sepertinya si pencuri juga takut dengan jurus lempar mobil van.
Kapten Zhou ikut turun dan menepuk sepeda itu. "Ini dia, kan? Kelihatan sekali barang mahal. Baiklah, biar aku yang mengembalikannya kepada pemiliknya, orang yang kau rampas sepedanya ini punya latar belakang yang lumayan. Oh ya, jika ada kabar tentang Pak Guru Zhang, kami akan segera memberitahu kalian."
Wang Tiezhu melihat Kapten Zhou memasukkan sepeda itu ke kursi belakang. Tiba-tiba dia bertanya, "Bisakah dilacak siapa sebenarnya yang berusaha menjebakku?"
Kapten Zhou terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Jangan tanya, percuma saja. Bisa menggerakkan dua orang berkekuatan super, kau pasti tahu seperti apa orangnya. Jika berhasil dilacak, akan kuberitahu, jika tidak..."
Kapten Zhou tidak menyelesaikan kata-katanya, dia langsung melajukan mobil dan pergi. Pak Tua Wang menepuk bahu Wang Tiezhu. "Ayo pulang."