Bab Tiga Puluh Lima: Atas dasar apa kau memperlakukanku seperti ini?!
Halaman (1/3)
Lima menit lagi sebelum pelajaran dimulai.
Lapangan sekolah.
Suara seorang gadis yang penuh amarah memecah kesunyian pagi.
Yuan Shuwen menatap Wu Wei yang sudah berbalik pergi dengan wajah murka. Entah mengapa, tiba-tiba ia merasa begitu teramat tersakiti hingga matanya mulai memerah.
Di sampingnya, Fei Yangyang berdiri kebingungan.
Bukankah Wu Wei dan dirinya adalah rival dalam urusan cinta? Mengapa dia malah memberinya petunjuk dan menyemangatinya?
Selain itu, sekarang sang pujaan hati sudah mulai berbicara dengan Wu Wei dan alur cerita pun terpicu. Sementara dirinya malah dibiarkan sendirian tanpa dipedulikan. Pergi bukan pilihan, tetap di sana juga canggung. Sungguh situasi yang serba salah.
“Kau! Berhenti!!”
Melihat Wu Wei masih terus berjalan ke arah toilet, Yuan Shuwen meninggikan suaranya.
Sebelumnya, ia selalu tidak percaya bahwa Wu Wei benar-benar sudah tidak menyukainya. Namun sekarang, sejujurnya, ia mulai meragukannya.
Kencing...
Kata menjijikkan semacam itu tidak pernah diucapkan Wu Wei di hadapannya dulu!
Apalagi sampai memberikan saran kepada para lelaki lain yang mengejarnya!
Karena itu,
Yuan Shuwen mulai panik.
Di depan sana, Wu Wei mendengar teriakannya. Ia menghentikan langkah, lalu perlahan menoleh.
Ia melihat Yuan Shuwen yang mengenakan seragam sekolah berdiri seorang diri di atas rerumputan lapangan. Bibirnya terkatup rapat, sementara setetes air mata telah mengalir dari sudut matanya yang kemerahan menyusuri pipinya. Kedua tangannya yang terkulai di sisi tubuh terkepal erat. Saat itu, angin yang agak dingin berembus dan rambutnya berkibar tertiup angin.
Pada saat itu, waktu seolah membeku. Berbagai kenangan dari kehidupan sebelumnya melintas di benaknya.
Semuanya berkaitan dengan Yuan Shuwen.
Ada tangis, ada tawa, dan tentu saja yang paling penting: pemandangan Yuan Shuwen menggandeng lelaki lain lalu memperkenalkannya kepada Wu Wei sebagai pacarnya.
Sejujurnya, melihat Yuan Shuwen yang begitu menyedihkan hingga membuat orang iba, hati Wu Wei masih tak kuasa menahan gejolak. Namun, hanya sebatas itu. Rasa iba maupun penyesalan, semuanya sudah menjadi masa lalu.
Karena itu...
“Ada apa?”
Wu Wei bertanya dengan tenang.
Tubuh Yuan Shuwen gemetar. Entah karena marah atau sedih.
“Kenapa... kau tidak datang menghiburku?”
“Menghibur?”
Wu Wei mengernyitkan dahi, lalu menunjuk Fei Yangyang di sampingnya.
“Bukankah sudah ada orang yang menjilatmu?”
Hah?
Saudaraku,
Memang aku berterima kasih karena tadi kau memberiku petunjuk, tapi aku tidak suka kau bicara seperti itu, ya.
Apa maksudnya menjilat?
Itu jelas namanya menghibur!
Menjadi pria hangat, tahu?!
Bibir Fei Yangyang bergerak-gerak, sementara dalam hati ia mengalami berbagai pergulatan batin. Namun, semua itu tidak benar-benar ia ucapkan.
“Tapi dia bukan kau!” Yuan Shuwen mulai panik. “Dulu kau tidak pernah memperlakukanku seperti ini. Apa hakmu memperlakukanku seperti ini?!”
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Ia seperti seorang putri yang sudah terbiasa dimanja setiap saat, lalu tiba-tiba suatu hari hewan peliharaan kesayangannya menghilang. Ia pun menjadi sangat cemas dan ingin menemukannya kembali.
Saat berbicara, Yuan Shuwen kembali teringat pada berbagai kejadian yang berkaitan dengan Wu Wei belakangan ini.
Ketika datang ke kelas dua untuk mencari Bai Luyi, Wu Wei sama sekali mengabaikan keberadaannya.
Sikap acuh tak acuhnya saat mereka berpapasan sepulang sekolah pada hari Jumat.
Dan barusan, di hadapannya, Wu Wei malah memberikan petunjuk kepada lelaki lain yang sedang mengejarnya.
Semakin dipikirkan, hatinya semakin sedih.
Pada saat yang sama, ia juga semakin marah.
Di sisi lain, Wu Wei juga sudah tidak tahan lagi.
Pertama, ucapan Yuan Shuwen yang egois dan sama sekali tidak masuk akal itu membuat nilai kemarahannya langsung penuh.
Kedua...
Sialan, aku benar-benar hampir tidak tahan lagi!
Wu Wei langsung memaki dengan kesal, “Gila, kau benar-benar menganggap dirimu seorang bintang terkenal, ya? Semua orang harus berputar mengelilingimu? Terlalu banyak berkhayal. Kau cuma siswi SMA sialan yang wajahnya sedikit lumayan, itu saja. Ada banyak gadis yang lebih cantik darimu... Sudahlah, buat apa aku mengatakan semua ini kepadamu? Bicara denganmu sama saja seperti bermain kecapi di depan kerbau.”
“Hei, tidak bisakah kau bicara yang baik-baik?” Fei Yangyang lebih dulu marah setelah mendengar ucapan itu.
Ia menunjuk Wu Wei dengan sikap seolah-olah hendak maju dan berkelahi.
Begitulah kelakuan anjing penjilat.
Kemampuan pasif untuk melindungi majikan terpicu secara otomatis.
Wu Wei malas melanjutkan perkataan apa pun. Ia kembali berbalik dan berjalan menuju toilet.
“Sialan kau, berhenti di sana!”
Ini kesempatan emas untuk menunjukkan dirinya. Yuan Shuwen baru saja dimarahi. Jika ia membelanya, ia pasti bisa mendapatkan kesan baik dari sang pujaan hati.
Fei Yangyang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
Ia terus memaki Wu Wei, “Bangsat, jangan paksa aku menghajarmu! Kembali dan minta maaf kepada pujaanku!”
Wu Wei sama sekali tidak menggubrisnya dan terus berjalan.
“Sial.”
Sang pujaan hati berada di sampingnya. Jika Wu Wei sampai pergi begitu saja, ia pasti tidak akan pernah bisa mengangkat kepala lagi.
Fei Yangyang mengumpat pelan, lalu segera mengejarnya.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, ia mendengar suara Yuan Shuwen yang penuh amarah.
“Cukup!”
Yuan Shuwen menatap lelaki berkacamata itu dengan marah sekaligus tak berdaya.
“Kau siapa? Aku bahkan tidak mengenalmu! Ini urusanku dengan Wu Wei, tidak ada hubungannya denganmu, mengerti? Tolong jangan ikut campur lagi!”
Hahahaha.
Wu Wei hampir tertawa sampai mengompol saat mendengarnya.
Meskipun tidak berbalik untuk melihat, hanya dari ucapan Yuan Shuwen itu saja ia sudah bisa membayangkan betapa menariknya ekspresi Fei Yangyang.
Saudaraku, kau benar-benar badut sejati!
Namun, bagaimana kelanjutan kisah Yuan Shuwen dan Fei Yangyang setelah itu sudah tidak ada hubungannya dengan Wu Wei.
Ia berjalan masuk ke toilet seorang diri.
Buang air kecil.
Ketika keluar, keduanya sudah tidak terlihat. Pelajaran sebentar lagi dimulai, dan lapangan pun sudah hampir kosong. Wu Wei lalu berjalan menuju kelas...
...
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
...
“Gila, kau benar-benar menganggap dirimu seorang bintang terkenal, ya? Semua orang harus berputar mengelilingimu...”
Suara Wu Wei terus bergema di benak Yuan Shuwen.
Yuan Shuwen memasuki kelas.
Ia mengamati dengan hati-hati tatapan orang-orang di dalam kelas yang tertuju kepadanya. Namun...
Yah, ternyata tidak banyak yang memperhatikannya. Semua orang sedang mempersiapkan pelajaran. Hanya satu atau dua orang yang tanpa sadar mengangkat kepala dan meliriknya, lalu segera kembali menunduk. Tidak ada ejekan sedikit pun dalam tatapan mereka.
Hatinya pun sedikit lebih tenang.
Ia kembali ke tempat duduknya.
Yuan Shuwen mengenang dalam diam kejadian yang baru saja berlangsung di lapangan.
Jadi... perkataan Wu Wei hari itu tentang memutuskan hubungan sepenuhnya bukanlah candaan, apalagi siasat untuk membuatnya mengejar balik.
Perkataan sang ahli yang ditemuinya di pasar malam memang benar.
Wu Wei benar-benar sudah tidak menyukainya lagi.
Kalau tidak, Wu Wei tidak mungkin memberikan petunjuk kepada lelaki lain yang sedang mengejarnya. Ia juga tidak mungkin mengucapkan kata “kencing” di hadapannya, apalagi memakinya dengan kata-kata yang begitu terus terang.
...Namun, kenapa?
Kenapa Wu Wei tiba-tiba tidak menyukainya lagi?
Apa penyebabnya?
Yuan Shuwen memejamkan mata dan mulai mengingat-ingat.
“Memutuskan hubungan sepenuhnya.”
Ia mengatakannya pada Kamis sore.
Apakah ada sesuatu yang terjadi pada hari-hari itu?
Tidak ada.
Hari-hari itu berjalan seperti biasa. Mereka belajar dengan normal. Ketika Wu Wei datang mencarinya atau memintanya menemuinya karena ada urusan, percakapan mereka juga berlangsung dengan wajar. Tidak pernah terjadi pertengkaran apa pun.
Kalau harus menyebut satu-satunya hal yang berbeda, itu adalah malam Rabu, ketika Wu Wei tiba-tiba mengunggah sebuah status di ruang sosialnya:
“Besok aku pasti akan menyatakan perasaanku kepadanya!”
Kemudian, pada Kamis sore, Wu Wei mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya.
Karena selama setahun Wu Wei terus mengejarnya, Yuan Shuwen sewajarnya mengira bahwa Wu Wei hendak menyatakan cinta.
Namun hasilnya...
“Memutuskan hubungan sepenuhnya.”
Yang ia tunggu pada sore itu bukanlah pengakuan cinta, melainkan pemutusan hubungan.
Dahi Yuan Shuwen berkerut rapat.
Itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin perubahan sebesar itu terjadi dengan begitu mendadak? Pasti ada sesuatu yang tidak diketahuinya telah terjadi di antara mereka.
Apa gerangan?
Tiba-tiba,
Yuan Shuwen menyadari sesuatu.
Ia menoleh ke arah Bai Luyi.
Halaman (3/3)