Bab 34 Laksana Burung Merak yang Memamerkan Keindahan Ekornya
Halaman 1/3
Pada musim gugur keemasan di bulan Oktober, di dalam Universitas Kyoto.
Bel tanda berakhirnya kelas berdentang nyaring. Atas perintah dosen, para mahasiswa di dalam kelas pun segera berhamburan keluar satu per satu.
Hanya dua orang yang masih santai membereskan barang-barang mereka. Setelah itu, mereka berjalan keluar dengan bergandengan tangan, langkah mereka lambat dan tenang.
“Aku dengar kampus kita akan mengadakan pertandingan bola basket persahabatan dengan Universitas Qingbei. Paman kecilku dan Zhou Ran sama-sama anggota tim basket. Kurasa mereka berdua akan ikut bertanding.”
“Tapi kudengar para pemain yang dikirim Qingbei juga hebat. Mereka bahkan cukup terkenal di kampusnya. Pagi-pagi sekali mereka sudah datang kemari, katanya untuk mengenal lapangan. Mereka juga membawa para gadis pemandu sorak.”
Jin Mumu menggandeng lengan Ruan Ke sambil terus bergosip. Ekspresi wajahnya begitu hidup, semakin tampak jelas setiap kali ia memberi jeda dalam bicaranya.
Ruan Ke yang berjalan di sampingnya hanya mengangguk pelan. Ia menundukkan mata, mengingat kembali soal pertandingan basket itu. Fu Zhiyan pernah menceritakannya.
Setelah pertandingan ini selesai, Fu Zhiyan akan lebih dulu menjalani magang di perusahaan. Sejak saat itu, ia akan semakin jarang kembali ke kampus.
Begitu kotak obrolan Jin Mumu terbuka, berbagai gosip yang didengarnya pun meluncur tanpa henti.
“Selain itu, kudengar kapten tim basket Qingbei dan kapten pemandu soraknya adalah sepasang kekasih. Gadis itu mahasiswa baru tahun pertama. Ia bergabung dengan pemandu sorak hanya untuk mengejar sang kapten basket. Di kampus mereka, keduanya bahkan dianggap pasangan serasi yang membuat banyak orang iri.”
Langkah Ruan Ke terhenti di tangga. Ia melirik ke samping, sudut matanya sedikit terangkat, lalu berkata datar, “Sepertinya kau sangat tertarik pada kedua orang itu.”
Jin Mumu terus mengangguk. Kepalanya bergerak seperti alu yang menghantam lesung, berulang-ulang dengan penuh semangat. Kedua tangannya mencengkeram ujung lengan baju Ruan Ke dan menggoyangkannya perlahan, lalu ia berkata dengan suara manja,
“Ke kecilku tersayang, nanti temani aku ke lapangan basket, ya? Kumohon, ya? Boleh, kan?”
“Kau sedang merajuk kepadaku?” tanya Ruan Ke, tidak yakin.
Di dalam tangga, Jin Mumu mengedipkan mata bulatnya yang menyerupai buah badam. Pupilnya yang bundar menatap Ruan Ke tanpa berkedip. Bukannya mengurangi sikap manjanya, ia malah semakin menjadi-jadi.
Mata Ruan Ke berkilat. Ia melangkah turun ke anak tangga di bawah, lalu melipat kedua tangan di dada sambil menatap ke atas.
Entah apa sebabnya, cara Jin Mumu bermanja dan berpura-pura imut ternyata agak mirip dengan kucing ragdoll di rumah.
Saat pertama kali melihat kucing itu, sorot matanya yang biru, jernih, dan bersih mengingatkan Ruan Ke pada Fu Zhiyan.
Halaman 2/3
Namun setelah beberapa hari tinggal bersama, kucing itu sudah sepenuhnya terbiasa dengan kehidupan barunya. Matanya yang biru berkilauan, dan ketika ia bermanja meminta makanan kaleng, tingkahnya justru agak mirip Jin Mumu.
Mungkinkah inilah kehebatan gen? Keponakan dari pihak ibu memang mirip pamannya, jadi hal itu bukan sesuatu yang aneh.
Hanya saja, Ruan Ke tidak tahu seperti apa rupa Fu Zhiyan ketika bermanja.
Ia jadi sedikit penasaran.
“Boleh, ya?” Suara manja Jin Mumu terdengar, menarik Ruan Ke kembali dari lamunannya.
Ruan Ke langsung membayangkan wajah Fu Zhiyan dengan ekspresi manja Jin Mumu. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, lalu ia menyetujui dengan lapang hati.
“Baiklah. Kita pergi sekarang.”
*
Angin berembus perlahan melintasi lapangan terbuka, meninggalkan hawa yang menyegarkan. Namun orang-orang di lapangan basket saat itu sudah basah kuyup oleh keringat.
Butir-butir keringat sebesar kacang menelusuri sisi wajah mereka mengikuti gerakan saat menembak bola, lalu jatuh ke tanah dan segera menguap.
Melihat sosok anggun yang semakin mendekat dari kejauhan, Fu Zhiyan sedikit menyipitkan matanya.
Bola basket di tangannya ia lemparkan ke udara. Gerakannya ringan dan malas, seolah dilakukan tanpa sengaja. Namun bola di belakangnya justru meluncur dengan mantap masuk ke dalam ring.
Ia mengangkat tangan dan melambai pelan kepada orang-orang di belakangnya, memberi tanda untuk beristirahat.
Ujung kaus basket hitamnya diangkat ke atas dan digunakan untuk menyeka keringat di leher. Beberapa bagian otot perutnya yang samar-samar tampak pun terlihat, mengundang jeritan beberapa penggemar perempuan di dekat sana.
Zhou Ran menyaksikan adegan itu. Sudut bibirnya tak kuasa berkedut. Gerakan tangannya saat menggiring bola pun terhenti, membuat bola basket menggelinding ke sisi lapangan.
Kenapa rasanya—
Gerakan Kak Yan hari ini begitu mencolok, seperti burung merak jantan yang sedang memamerkan ekornya. Dulu, ia sama sekali tidak pernah memamerkan tubuhnya seperti itu.
Mengapa kali ini sikapnya begitu aneh saat bermain basket? Rasanya benar-benar tidak normal.
Halaman 3/3
Ia mengikuti arah pandangan Fu Zhiyan dari belakang, lalu melihat Jin Mumu di kejauhan. Dalam sekejap, semua dugaan di kepalanya lenyap tanpa bekas. Ia langsung berlari ke arahnya—
menuju botol air yang berada di tangan gadis itu.
“Jin Mumu, Kakak ternyata tidak menyayangimu dengan sia-sia. Kau bahkan membawakan air untukku. Aku sungguh terharu.”
Ia langsung merebut botol air mineral dari tangan Jin Mumu. Tanpa menunggu gadis itu berbicara, ia menenggaknya sampai habis dengan suara tegukan yang keras.
“Hei, Zhou Ran…” Melihat air di dalam botol perlahan habis, Jin Mumu tak tahan untuk memutar bola mata. “Kau sakit, ya? Itu bukan untukmu.”
“Kalau bukan untukku, lalu untuk siapa? Untuk paman kecilmu?”
“…”
Jin Mumu menarik sudut bibirnya dan berkata pelan, “Pokoknya bukan untukmu.”
Mendengar perkataan itu, mata Ruan Ke yang berdiri di samping mereka sedikit menggelap. Ia menundukkan pandangan pada botol air mineral di tangannya.
Tadi, mereka membeli dua botol air mineral di supermarket. Ruan Ke sudah mengaturnya sejak awal: botol yang berada di tangannya akan diberikan kepada Zhou Ran, sedangkan ia meminta Jin Mumu menyerahkan botol satunya kepada paman kecilnya.
Lalu kenapa sekarang Jin Mumu berubah pikiran?
Zhou Ran terus mendesak, “Kalau begitu, untuk siapa air ini? Jin Mumu, sekarang kau sudah berani, ya?”
“Pokoknya bukan untukmu.”
Setelah melemparkan kalimat itu, Jin Mumu berlari pergi dengan wajah memerah.
Zhou Ran tak ragu sedikit pun untuk mengejarnya. Ruan Ke memandangi bayangan mereka yang saling kejar dan berselisih tanpa henti.
Ternyata perasaan mereka saling berbalas.