Bab 146
"Penculikan?" Gong Zhuoxi tampak bingung, sama sekali tidak mengerti situasi apa yang sedang terjadi saat ini.
Kapan dia menculik Yang Yuduo?
Apakah dia separah itu sampai harus menculik Yang Yuduo?
Jika dia benar-benar ingin melakukan sesuatu, untuk apa repot-repot menculik? Cukup pingsankan orangnya, seret pergi, lalu cari tempat sepi untuk melenyapkannya!
"Sebenarnya apa yang kauinginkan dariku? Aku bahkan sudah menyetujui pertunangan ini! Apa lagi yang kauprakarsai..."
Di ujung telepon, Qian Xu menangis tersedu-sedu hingga hanya menyisakan isakan tertahan, bagaikan suara putus asa dari seekor anak binatang yang terjebak, meronta sekian lama namun tak berdaya.
Alis Gong Zhuoxi berkerut. Ia kembali membela diri, "Aku tidak menculik siapa pun. Qian Xu, di mana kau?"
"Kau keparat! Sampai sekarang masih tidak mau mengaku. Di dunia ini, selain kau, siapa lagi yang punya kemampuan sebesar itu? Siapa lagi yang bermasalah dengan Kak Senior Yang?"
"Kalau begitu, ada banyak." Gong Zhuoxi tertawa hambar. Sejujurnya, musuh Yang Yuduo tidak sedikit.
"Kau!" Qian Xu menggertakkan gigi karena marah. Salah satu tangannya mengepal erat. Pada akhirnya, tatapannya memancarkan kilau kebencian yang mendalam. "Baiklah, bukankah tujuanmu adalah agar aku dengan sukarela bertunangan denganmu? Boleh! Jika kau ingin aku membuktikannya, akan kubuktikan padamu. Besok petang, apakah kau punya waktu luang? Kita berkencan!"
Nada bicara Qian Xu yang terdengar nekat saat mengucapkan "kita berkencan" membuat Gong Zhuoxi merasa heran.
Namun, memikirkan bahwa Qian Xu saat ini mungkin sedang berada dalam kondisi syok, Gong Zhuoxi tidak mengatakan apa-apa lagi. Lagipula, mana mungkin dia menolak jika Qian Xu ingin memberikan "keuntungan" padanya? Berkencan ya berkencan, dia menyetujuinya.
Setelah menutup telepon, Gong Zhuoxi menoleh ke arah Chen Yuanchen yang duduk di kursi penumpang depan dan memberi perintah, "Segera selidiki, bagaimana situasi sebenarnya tentang penculikan Yang Yuduo."
Ia tidak akan membiarkan urusan orang lain begitu saja ditimpakan pada dirinya. Instingnya mengatakan ada kejanggalan di balik semua ini.
Setelah memberikan perintah itu, Gong Zhuoxi kembali melanjutkan pekerjaannya. Yang tersisa di pikirannya kini hanyalah hal yang paling dinantikannya: kencannya dengan Qian Xu keesokan hari.
Qian Xu duduk terdiam di dalam mobil sejenak, menyeka air matanya, dan merapikan penampilannya. Setelah matanya tidak lagi merah, baru ia naik ke lantai atas.
Usai makan malam, ia bersembunyi di kamarnya, merenungkan secara mendalam bagaimana cara menunjukkan ketulusannya agar Gong Zhuoxi percaya bahwa ia benar-benar ingin bertunangan.
Hal ini tidak boleh diulur-ulur lagi. Sebelumnya ada Perusahaan Keluarga Qian, dan sekarang ada Yang Yuduo. Qian Xu tidak tahu siapa lagi yang akan terseret ke dalam masalah ini.
Setelah membuat rencana terperinci, Qian Xu mencatat apa saja yang harus dilakukannya esok hari serta barang-barang apa yang perlu dibeli. Ia sempat menangis lagi di kamarnya, tetapi kemudian merasa bahwa menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Sudahlah, lebih baik berhenti menangis.
Ia menelepon Yang Yuduo. Panggilan pertama tidak ada yang mengangkat, membuat hati Qian Xu terasa teriris. Ia segera menelepon sekali lagi. Kali ini panggilannya tersambung, tetapi begitu Qian Xu mendengarkan, ia langsung mendengar suara laki-laki yang garang dari latar belakang telepon Yang Yuduo membentak, "Diam!" Suara itu membuatnya terkejut.
"Xiao Xu." Suara Yang Yuduo akhirnya terdengar dari ujung telepon.
Qian Xu dengan cemas langsung bertanya, "Kak Senior, bagaimana keadaanmu sekarang? Di mana posisimu?"
"Xiao Xu, aku baik-baik saja sekarang. Xiao Xu, apa pun syarat yang diajukan oleh Gong Zhuoxi, jangan kau turuti. Dia bukan orang baik. Xiao Xu, jangan khawatirkan aku... *Bruk*."
Begitu saja, sambungan telepon langsung terputus.
"Kak Senior!" Saat Qian Xu memanggil lagi, sudah tidak ada balasan dari seberang sana.
Jangan turuti permintaannya... Kak Senior, dengan kondisimu yang seperti ini, bagaimana mungkin aku tidak menururinya...
Semua ini terjadi karena dirinya, semua orang ikut terseret dan menderita karenanya...
Keesokan harinya, Qian Xu bangun pagi-pagi sekali. Bisa dibilang ini adalah pertama kalinya dalam sepuluh hari terakhir Li Meihua melihat putrinya bangun begitu pagi. Li Meihua mengamati Qian Xu dengan rasa penasaran dan menggoda, "Ada apa dengan Xiao Xu kita hari ini? Salah minum obat?"
Karena Ayah dan Kakaknya menyembunyikan masalah perusahaan dari Li Meihua, wanita itu sampai sekarang belum tahu apa-apa.
"Eh, tidak kok, Mami. Hari ini aku ada janji kencan. Mami, hari ini tidak usah memasak jatah makan untukku ya. Aku mau pergi kumpul-kumpul bersama Weiwei dan yang lainnya, tidak janji jam berapa pulangnya."
"Keluar lagi. Coba lihat, sejak pulang liburan kamu langsung jadi orang sibuk sungguhan. Pergi kumpul-kumpul terus, setiap hari ada janji temu dan pesta. Pesona Qian Xu kita memang luar biasa," omel Li Meihua beberapa patah kata.
"Aduh, Mami, besok aku di rumah saja menemanimu!" Qian Xu memeluk Li Meihua. Li Meihua tersenyum dan berkata, "Baiklah, baiklah. Cuaca di luar sedang panas, ingat beli air minum dan jaga diri baik-baik."
"Baik."
Ada cukup banyak hal yang harus dikerjakan hari ini.
Qian Xu pergi ke apotek terlebih dahulu, lalu ke klinik kecil. Ia mendatangi dua hingga tiga tempat secara beruntun sebelum berhasil membeli barang-barang yang diinginkannya.
Setelah itu, ia pergi ke pusat perbelanjaan. Berkeliling selama lebih dari satu jam, ia memasukkan semua barang incarannya ke dalam tas.
Terakhir, ia pergi ke pasar grosir dan berhasil mendapatkan se gulung tali tambang tebal dan kokoh seperti yang dibutuhkannya.
Sambil duduk di dalam mobil, ia mengirim pesan kepada Gong Zhuoxi untuk memberitahukan lokasi kencan mereka. Gong Zhuoxi membalas dengan satu kata: "Baik."
Merasa bosan, ia memainkan ponselnya sebentar lalu menelepon Luo Yunwei: "Weiwei, ada satu hal yang ingin kuminta tolong padamu. Nanti malam sekitar pukul sepuluh, tolong bantu aku menelepon ke rumah dan katakan bahwa aku mabuk jadi menginap di rumahmu malam ini dan tidak pulang."
"Hah? Ada apa ini?" Luo Yunwei yang masih malas-malasan di atas tempat tidur langsung merasa waspada begitu mendengar nada bicara Qian Xu yang tidak biasa.
Tidak pulang ke rumah, dan masih harus meminta bantuan untuk membuat alibi? Si gadis berhati lembut ini, jangan-jangan sedang tertimpa masalah?
"Aduh, begini. Kelompok departemen humas kami hari ini bilang mau pergi mendaki gunung, BBQ, dan menginap di vila di kota sebelah, jadi malam ini tidak bisa pulang. Aku takut kalau mereka yang bilang pada mami, mami tidak akan percaya dan malah khawatir, jadi aku hanya bisa meminta tolong padamu." Qian Xu mencari-cari alasan secara sembarangan.
Karena Qian Xu memang memiliki catatan buruk dalam hal semacam ini sebelumnya, Luo Yunwei langsung mempercayai tujuh hingga delapan puluh persen ucapannya.
"Baiklah kalau begitu. Kamu tidak membohongiku, kan? Eh, aku dengar dari Kak Bingcheng kalau harga saham perusahaan kalian akhir-akhir ini berfluktuasi, apakah semuanya baik-baik saja?" Luo Yunwei teringat akan hal lain dan buru-buru bertanya.
"Aduh, itu urusan dady dan kakakku. Aku tidak tahu dan tidak mau pusing. Kamu juga tidak usah khawatir, paling-paling kalau aku jatuh miskin nanti aku akan menyeretmu dan memintamu membiayaiku." Qian Xu pura-pura menunjukkan sikap acuh tak acuh dan tak kenal takut, yang berhasil membuat Luo Yunwei tertawa senang.
"Sudahlah, tidak usah ngobrol lagi. Kami mau berangkat sekarang, dadah."
"Baik, hati-hati di jalan."
Setelah akhirnya menutup telepon, hampir seluruh urusan Qian Xu sudah beres.
Langkah selanjutnya, ia pergi ke lokasi kencan hari ini: sebuah hotel mewah terkenal yang terletak di pusat kota dengan harga tanah selangit.
Ia meminta buku menu, memesan hidangan, lalu menyewa sebuah kamar suite mewah sebelum naik ke kamar untuk memeriksa situasi.
Bagaimanapun, ini akan menjadi tempat untuk menjalankan misi besar. Kamar ini bahkan tidak boleh dipesan menggunakan kartu pemberian dady atau kakaknya; Qian Xu membayarnya menggunakan uang saku miliknya sendiri. Sekarang setelah melihatnya, ia merasa cukup puas.
Dulu sekali, dalam sebuah kelas prakarya, guru kerajinan tangan Qian Xu pernah mengajari mereka berbagai cara membuat simpul tali.
Namun sayangnya karena sudah terlalu lama, saat Qian Xu mencoba meraba-raba sendiri di kamarnya, ia tetap tidak bisa membuatnya dengan benar.
Setelah mencarinya secara daring di internet, Qian Xu merasa seolah-olah pintu dunia baru telah terbuka baginya. Internet memang sangat hebat; berbagai macam simpul bertebaran, mulai dari simpul pita, simpul Cina, hingga simpul hidup dan simpul mati.
Qian Xu membalik belasan halaman dan akhirnya menemukan metode membuat simpul yang paling aman.
Ia mencoba sendiri di lantai selama setengah hari dan akhirnya berhasil menyelesaikannya. Setelah itu, ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar, mensimulasikan seluruh rangkaian rencana yang harus dilakukannya nanti.