Bab 150: Panci Panas Super Pedas

Raja Surgawi Keluar dari Penjara Jejak Jalan 2539kata 2026-03-30 05:45:26

Syuting kembali dilanjutkan.

Ye Chen pun mengurungkan niatnya untuk menginterupsi jalannya syuting, dan bersiap untuk berbincang-bincang secara serius dengan Yang Nana setelah pengambilan gambar selesai.

Wanita itu datang untuk menjadi juru bicara Grup Pertama memang atas tekanan keras dari Ye Chen, tanpa bayaran sama sekali. Namun, status tanpa bayaran itu adalah ulahnya sendiri, jadi dia tidak bisa menyalahkan siapa pun!

Jika dia terus bersikap angkuh dan sengaja mempersulit para karyawan Grup Pertama, Ye Chen selaku penanggung jawab utama Hiburan Keluarga Su tidak akan pernah membiarkan perilakunya.

"Bagus! Adegan terakhir film iklan Grup Pertama, mulai!"

Seiring dengan teriakan sang sutradara utama, suasana di seluruh lokasi langsung menjadi tenang.

Kemampuan akting Chu Leyao dan Yang Nana sama-sama sangat mendalam, dan Chu Leyao sama sekali tidak kalah dari bintang besar tersebut!

Setelah adegan mengupas apel selesai, awalnya dijadwalkan ada adegan menampar wajah. Adegan tamparan dalam dunia akting sebagian besar disiasati menggunakan teknik sudut kamera. Bagaimanapun, menampar wajah seseorang secara langsung adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Jika menggunakan teknik sudut kamera, para aktor harus saling memberikan aba-aba terlebih dahulu, lalu aktor yang dipukul cukup memalingkan kepala untuk menghindar.

Namun kali ini, Yang Nana sama sekali tidak memberikan aba-aba kepada Chu Leyao. Tamparan itu mendarat dengan telak di wajah Chu Leyao!

Terdengar suara "plak" yang sangat nyaring!

Pipi putih mulus Chu Leyao seketika memerah dengan bekas cetakan tangan, dan matanya langsung berkaca-kaca.

Kendati demikian, profesionalisme dasar seorang aktor adalah selama sutradara belum berteriak 'cut', maka adegan belum dianggap selesai.

Chu Leyao hanya bisa menahan rasa sakit yang luar biasa dan melanjutkan aktingnya hingga tuntas!

Ye Chen melihat kejadian itu dengan sangat jelas; Yang Nana ini benar-benar sengaja menindas aktris pendatang baru!

"Bagus! Cut! Sempurna! Terima kasih atas kerja keras Guru Yang Nana! Dengan ini, iklan Grup Pertama resmi selesai!"

Tepat saat sang sutradara berbicara, papan dekorasi di latar belakang panggung tiba-tiba mengeluarkan suara berderit!

Saat itu, di tengah lokasi syuting, hanya ada Yang Nana dan Chu Leyao!

Ye Chen langsung berteriak, "Orang-orang di dalam, cepat menghindar!"

Chu Leyao tertegun sejenak, lalu secara tidak sadar berlari beberapa langkah ke depan. Ia selalu menjadi pribadi yang lembut dan terbiasa mempercayai perkataan orang lain.

Namun, Yang Nana selalu bersikap arogan. Mendengar teriakan tersebut, ia justru tetap memasang ekspresi meremehkan!

Tak lama kemudian, tepat saat Chu Leyao berhasil berlari sejauh tiga langkah, papan dekorasi yang sudah tidak mampu menahan beban itu terlepas dan jatuh langsung ke tengah lokasi syuting!

"Bum!"

Seluruh orang di lokasi berseru kaget!

Yang Nana sama sekali tidak sempat bereaksi. Pasan dekorasi seberat dua ratus kati itu menimpa kepalanya secara langsung. Bahkan sebelum sempat mengeluarkan jeritan, ia langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri!

Chu Leyao menatap pemandangan di belakangnya dengan jantung yang berdegup kencang. Untung saja ia menuruti peringatan dan berlari beberapa langkah ke depan. Jika tidak, ia pasti sudah tertimpa benda tersebut!

Para kru di lokasi syuting tertegun sejenak sebelum bergegas maju untuk menyelamatkan Yang Nana yang tertimbun.

Yang Nana segera dinaikkan ke dalam ambulans dan dilarikan langsung ke rumah sakit.

Wajah sang sutradara utama tampak sangat buruk. Ia langsung memanggil kru panggung yang bertanggung jawab atas penataan lokasi dan memarahinya habis-habisan hingga pekerja tersebut tidak berani mengangkat kepala.

"Ye Chen, terima kasih. Kalau tidak, aku mungkin sudah masuk rumah sakit juga!" kata Chu Leyao kepada Ye Chen dengan sisa-sisa rasa takut di hatinya.

"Tidak apa-apa," jawab Ye Chen sambil tersenym, tidak terlalu memusingkan masalah itu.

Yang Nana memang pantas mendapatkannya!

Jika tidak, dia pun berniat memberi wanita itu pelajaran. Namun, sebelum sempat melakukannya, Yang Kuasa rupanya sudah tidak tahan melihat kelakuan wanita itu.

Ye Chen sama sekali tidak merasa kasihan pada wanita tersebut. Wanita itu sangat kejam, angkuh, sombong, dan gemar bertingkah seperti bintang besar!

Jika bukan karena popularitasnya yang tinggi serta efek ketenaran gratis, Ye Chen bahkan merasa jijik menjadikannya juru bicara Grup Pertama.

Lagi pula, film iklannya sudah selesai dan Yang Nana tidak lagi berguna. Sekalipun wanita itu mati tertimpa, Ye Chen tidak akan repot-repot meliriknya dua kali.

"Apakah sakit?" Ye Chen mengelus pipi Chu Leyao dengan lembut.

"Tidak sakit." Saat tangan Ye Chen menyentuhnya, Chu Leyao sempat menarik napas karena perih, tetapi ia tetap bersikeras menjawab, "Tidak sakit kok."

"Tangan Yang Nana keterlaluan sekali! Kenapa memukul sekuat itu!" Ye Chen merasa kesal.

"Dunia perfilman memang seperti ini," jawab Chu Leyao yang sudah terbiasa dengan hal tersebut. "Aktris kecil tidak punya hak asasi."

"Tidak apa-apa, yang penting hasil videonya bagus. Tamparan ini tidak sia-sia."

"Hah," Ye Chen menggelengkan kepalanya. Chu Leyao ini terlalu baik dan lembut.

"Ayo pergi! Syuting sudah selesai, tugasku hari ini sudah beres! Siang ini aku traktir kamu makan hotpot!"

Chu Leyao bisa melihat kekhawatiran di mata Ye Chen, lalu merangkul lengan pria itu sambil menghibur.

"Baiklah, setelah makan hotpot, kamu harus langsung pulang dan istirahat." Ye Chen menyetujuinya.

Lima belas menit kemudian, Ye Chen membaca tulisan pada papan nama di hadapannya dan tanpa sadar menelan ludah.

Hotpot cita rasa Sichuan.

Ye Chen menatap kulit putih bersih Chu Leyao, lalu menggelengkan kepalanya, "Kamu sudah bergadang semalaman, wajahmu sebentar lagi pasti akan berjerawat!"

"Kalau ditambah makan makanan pedas, perawatan kulitmu pasti gagal total!"

"Cari tempat lain saja ya!"

Chu Leyao mengerucutkan bibirnya. "Ye Chen, kamu meremehkan siapa sih! Aku ini kan gadis Sichuan asli! Yang kutakutkan justru hotpot di Binhai ini tidak cukup pedas!"

Barulah Ye Chen teringat akan daerah asal Chu Leyao, sehingga ia hanya bisa mengangguk pasrah. "Baiklah! Hari ini aku temani kamu sampai tuntas!"

Sebenarnya dia juga suka makanan pedas, tetapi jika terlalu pedas, dia pasti tidak akan sanggup menahannya.

Restoran hotpot Sichuan itu sangat ramai. Ye Chen dan Chu Leyao memilih meja di dekat jendela. Meja tersebut adalah bilik untuk dua orang, jenis tempat duduk yang biasanya hanya dipilih oleh pasangan kekasih.

Begitu Chu Leyao melangkah masuk, pesonanya seketika menerangi seluruh ruangan!

Mau bagaimana lagi, Chu Leyao memang sangat cantik, ditambah dengan bentuk tubuhnya yang memesona, benar-benar membuat siapa saja terpesona. Restoran hotpot ini sudah lama sekali tidak kedatangan wanitacantik, rasanya bagaikan melihat seorang bintang televisi yang berjalan keluar dari layar kaca ke dunia nyata!

Dan Chu Leyao memang ditakdirkan menjadi seorang bintang besar di masa depan! Terutama kelembutan pembawanya, membuat setiap orang di sana merasa seolah diselimuti angin musim semi.

Ye Chen sendiri sudah terbiasa dengan tatapan-tatapan seperti itu. Sejak keluar dari penjara, ia selalu ditemani oleh wanita-wanita cantik. Tatapan penuh iri dari orang-orang di sekitarnya sudah sangat biasa baginya.

"Dua orang mau kuah apa?" tanya pelayan pria sambil membawa buku menu. Karena terus menatap Chu Leyao, pelayan itu hampir saja tersandung kakinya sendiri.

"Pesan kuah yuan yang (dua rasa) saja!" ucap Ye Chen spontan.

Namun Chu Leyao mengerucutkan bibirnya, lalu menoleh menatap Ye Chen. "Ye Chen, kamu tahu tidak apa yang dikatakan seorang gadis Sichuan ketika sudah merasa sangat kecewa pada seorang pria?"

"Hm?" Ye Chen tertegun sejenak.

"Dia akan bilang, 'Kalau begitu pesan kuah yuan yang saja!'"

Chu Leyao tersenyum dan berkata, "Kuah yuan yang, separuh merah dan separuh putih, itu artinya yin dan yang terpisah! Kalau kita makan kuah yuan yang, itu berarti orang yang makan bersama tidak akan pernah bisa bertemu lagi untuk selama-lamanya di dunia ini!"

Ye Chen terdiam seribu bahasa. "Kalian orang Sichuan benar-benar menghalalkan segala cara demi menipu pendatang agar mau makan pedas!"

"Baiklah! Kalau begitu kita pesan tingkat kepedasan ekstrem!"

Ye Chen menantang Chu Leyao dengan tatapan menggoda. "Sekarang masih sempat kalau kamu mau menyesal! Aku tadinya memesan kuah yuan yang demi menjaga kulitmu!"

"Hihi! Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, yang kutakutkan justru kamu sendiri yang tidak sanggup!" balas Chu Leyao dengan senyuman lembut dan wajah yang menggemaskan.

Seorang pria tidak boleh dikatakan tidak sanggup! Terutama di hadapan seorang wanita cantik!

"Baiklah! Kalau begitu kita pesan satu panci super pedas!"

Hari ini, Ye Chen benar-benar nekat!