Bab 48 Panci Peang Ketemu Tutupnya
"Nyonya Gu, jangan terlalu emosional."
Zhong Xue mencoba mendorong Mo Nianchu menjauh.
Sebaliknya, Mo Nianchu justru mendorongnya dengan kuat, "Enyah kau."
Rasa sakit merobek pertahanannya, membuat air matanya tumpah tak terbendung.
Di balik tatapan putus asa itu tersimpan penghakiman yang menyiksa terhadap pria di hadapannya, "Kenapa, Gu Shaoting, kenapa?"
Pria itu mencengkeram tangan kecilnya yang tadi menarik bajunya, menggenggamnya dengan erat, matanya dingin dan tajam, "Kenapa? Apa kau tidak tahu kenapa? Apa kau tidak tahu apa yang telah kau perbuat? Mo Nianchu, kau sendiri yang mengaku telah tidur dengannya."
Ujung jari Gu Shaoting menunjuk ke arah Fei Liangzheng yang berdiri di seberang.
Fei Liangzheng tampak terkejut.
Bagaimana masalah ini bisa terseret lagi padanya?
"Shaoting, omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?"
"Aku omong kosong?" Pria itu menarik Mo Nianchu, membawanya berdiri di hadapan Fei Liangzheng, "Tanya dia sendiri, apa dia pernah bilang kalau kalian sudah tidur bersama? Fei Liangzheng, aku menganggapmu sebagai saudara, tapi kau, keparat, malah tidur dengan istriku?"
"Bagaimana mungkin aku melakukan hal seperti itu." Fei Liangzheng tidak pernah melakukannya, dan ia juga tidak percaya Mo Nianchu akan menjadikan hal semacam ini sebagai lelucon, "Pasti ada kesalahpahaman di antara semua ini, kau sangat mengenal Nianchu."
Gu Shaoting sama sekali tidak tertarik mendengarkan penjelasan Fei Liangzheng.
Ia mengangkat tangannya, mencengkeram bagian belakang kepala wanita itu, dan memaksanya menatap Fei Liangzheng, "Mo Nianchu, bentuk cinta terbaik adalah mati bersama. Biarkan ibumu mati lebih dulu untuk menemani cinta kalian."
Ia mendorongnya dengan kuat, melemparkan Mo Nianchu ke dalam pelukan Fei Liangzheng.
Fei Liangzheng buru-buru menopang tubuh Mo Nianchu, lalu bangkit dengan penuh kemarahan, "Gu Shaoting, apa kau tidak bisa berhenti? Hal seperti ini, apakah pantas dijadikan bahan mainan? Apa kau tidak merasa tindakanmu keterlaluan? Sekalipun kau dan Nianchu sedang bertengkar, bagaimanapun juga pasien itu adalah ibu mertuamu."
"Jika dia menganggapku sebagai suaminya, dia tidak akan bermain-main denganmu." Otot-otot di wajah pria itu berkedut saat ia menatap Mo Nianchu, "Kukatakan padamu, ini baru permulaan."
Permulaan?
Hanya karena ia terpaksa mengucapkan satu kebohongan saat berada di atas ranjang.
Pria itu langsung melancarkan balas dendam yang begitu gila.
Ia menatap wajah pria yang tiada duanya di dunia itu, lalu tiba-tiba tertawa.
Ia tidak pernah sebegitu membenci seseorang sebelumnya, dan ia semakin membenci ketidakberdayaan serta kelemahannya sendiri.
Ia memaksa dirinya untuk menahan air mata, menekan rasa sakit yang bergelora di dalam dadanya, lalu kembali melangkah mendekati Gu Shaoting.
"Apakah hanya dengan kematianku, kau baru akan berhenti?"
Suaranya begitu lirih, bagaikan abu kematian.
Fei Liangzheng merasa ngeri mendengarnya.
Namun, Gu Shaoting justru tersenyum dengan sangat tenang, sudut bibirnya terangkat.
Senyuman itu menyiratkan penghinaan, ketidakpedulian, bahkan remeh.
Ia tahu wanita itu memiliki terlalu banyak ikatan di dunia ini, mati bukanlah perkara yang mudah.
Ia tidak memberikan jawaban kepada Mo Nianchu.
Ia berbalik, memasukkan tangan ke dalam saku celananya, lalu pergi begitu saja.
Zhong Xue buru-buru melangkah menyusul, "Tuan Gu..."
Baru saja ia mendekat, Gu Shaoting sudah mengayunkan tangannya dan melayangkan sebuah tamparan keras serta nyaring ke wajahnya.
"Siapa yang menyuruhmu membatalkan kerja sama proyek dengan pihak luar negeri itu?"
Zhong Xue merasakan kunang-kunang menari di depan matanya akibat tamparan tersebut.
Sudut matanya memerah karena merasa diperlakukan tidak adil.
Memang benar ia mengambil keputusan itu atas kemauannya sendiri, tetapi ia pikir itu adalah hal yang cepat atau lambat akan terjadi, "Tuan Gu, aku hanya merasa..."
"Mulai sekarang, jika kau berani mengambil keputusan sendiri tanpa persetujuanku, kemasi barang-barangmu dan enyah dari sini."
"Ba-baik, aku mengerti."
Zhong Xue menutupi pipi kirinya yang membengkak kemerahan, lalu berjalan pelan mengikuti langkah Gu Shaoting keluar.
Di dalam kantor.
Fei Liangzheng menyerahkan sehelai tisu kepada Mo Nianchu, "Sekalipun proyek itu ditarik kembali dan pasokan obat dihentikan, aku masih bisa memikirkan cara lain. Jangan terlalu khawatir, aku tidak akan membiarkan Nyonya pergi begitu saja."
Mo Nianchu menatap Fei Liangzheng dengan penuh rasa terima kasih.
Namun, ia kembali menundukkan pandangannya dengan suram, "Kau sudah melihatnya sendiri, Gu Shaoting adalah seorang pria gila. Aku sangat takut, aku takut dia juga akan membalas dendam padamu. Jika itu terjadi, aku pasti akan merasa sangat bersalah sepanjang hidupku, aku tidak ingin menyeret siapapun."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, memangnya apa yang bisa dia lakukan untuk membalas dendam padaku? Paling-paling kami hanya akan berkelahi." Fei Liangzheng tumbuh bersama Gu Shaoting sejak kecil. Meskipun sekarang Gu Shaoting menjadi tidak masuk akal, pada dasarnya sifat aslinya tidak sekejam itu. Ia tersenyum kecil, "Kami berdua memiliki kemampuan seimbang."
Meskipun itu hanya sebuah kalimat gurauan.
Hati Mo Nianchu tetap merasa tidak tenang.
Setelah ia dan Fei Liangzheng pergi.
Gu Shaoting kembali seorang diri ke ruangan kantor tersebut.
Kotak timah di lantai masih ada di sana, dan kue-kue kering yang belum tumpah dari dalam kotak itu masih terbaring tenang di dalamnya.
Ia mengangkat tangannya dan mengambil kotak timah tersebut.
Kotak kecil berwarna merah muda dengan hiasan kartun itu memancarkan nuansa kekanak-kanakan yang kuat.
Kue-kue kartun di dalamnya memiliki berbagai warna, mata dan telinga kue tersebut dibuat dengan sangat hidup, sepertinya wanita itu telah mencurahkan banyak usaha untuk membuatnya.
Jika bukan karena kejadian hari ini.
Apakah wanita itu akan muncul di hadapannya, menyerahkan kue kering itu dengan penuh bujuk rayu, lalu mengucapkan kata-kata yang bisa membuatnya merasa lebih baik?
Ia mengambil sepotong kue kering dan memasukkannya ke dalam mulut.
Aroma yang kaya seketika memenuhi seluruh rongga mulutnya.
Ia mengunyahnya dengan rasa puas.
Secercah senyuman samar terukir di sudut matanya.
Sisa kue kering di dalam kotak itu ia rapikan, lalu membawanya pergi bersama dirinya.
Setibanya di kediaman keluarga Gu.
Mo Nianchu mengeluarkan kembali surat perjanjian perceraian yang telah ia cetak sebelumnya.
Menatap beberapa patah kata yang tertera di atas kertas tersebut.
Hatinya terasa begitu tenang secara tidak wajar.
"Wah, sudah pulang rupanya," suara sinis Lin Xiaowan terdengar.
Mo Nianchu memasukkan kembali surat perjanjian perceraian itu ke dalam tasnya, lalu mengangkat pandangannya, "Ini rumahku."
"Sebentar lagi bukan lagi." Lin Xiaowan berjalan dengan bertumpu pada tongkat, wajahnya dipenuhi dengan pancaran kegembiraan, "Kukatakan yang sebenarnya padamu, hari ini Tuan Gu sudah menemuiku. Dia meminta seorang peramal untuk mencocokkan tanggal lahirku dengan Shaoting, dan peramal itu bilang aku adalah wanita yang membawa keberuntungan bagi suami."
"Baguslah itu, panci peang bertemu tutupnya yang somplak." Mo Nianchu mencemooh dengan nada mengejek.
Lin Xiaowan mendelik dengan marah, "Kau iri saja! Oh, tidak, maksudku, bersiaplah saja menunggu ajalmu tiba. Waktu bagi Tuan Besar membutuhkan transfusi darah sudah semakin dekat, tunggu saja sampai seluruh darahmu dikuras, lalu mati!"
Sumpah serapah Lin Xiaowan.
Sama sekali tidak dihiraukan oleh Mo Nianchu.
Jika sumpah serapah bisa membuat seseorang mati, Gu Shaoting pasti sudah mati ratusan kali.
"Lin Xiaowan, selama aku belum mati sehari pun, kau selamanya hanyalah seorang wanita simpanan yang tidak berani menampakkan diri di siang hari."
"Kau..."
Gu Shaoting melangkah masuk.
Lin Xiaowan seketika memasang wajah seolah-olah hendak menangis dan berseru, "Shaoting, kau sudah pulang."
"Hm."
Pria itu sama sekali tidak mempedulikan ekspresi wajah Lin Xiaowan yang begitu kaya, sebaliknya, ia mengalihkan pandangannya ke wajah Mo Nianchu.
"Ikut aku ke ruang kerja, ada yang ingin kubicarakan denganmu mengenai proyek ibumu."
Jarang sekali Gu Shaoting bersikap serius.
Mo Nianchu yang awalnya sama sekali tidak berniat menghiraukannya, tertegun sejenak, namun pada akhirnya tetap mengikuti langkah pria itu.
"Tutup pintunya," titahnya.
Mo Nianchu berbalik dan menutup pintu dengan rapat, dan ketika ia berbalik kembali, pria itu sudah berdiri tepat di hadapannya.
Pria itu berdiri sangat dekat dengannya, begitu dekat hingga napas mereka saling berhembus.
Mo Nianchu memalingkan wajahnya, "Bukankah Tuan Gu bilang ingin membicarakan masalah proyek ibuku?"
"Kau membenciku?"
Ia merasa hal itu sangat menggelikan, "Bukankah membencimu adalah hal yang sangat wajar?"
"Seandainya, kukatakan padamu bahwa aku bisa membantu memulai kembali proyek itu? Apakah kau masih akan membenciku?"
Mo Nianchu tertegun seketika.
Apa maksudnya?
Proyek itu dimulai kembali?
Begitu sebuah proyek dihentikan, mustahil untuk bisa dihidupkan kembali dengan mudah. Jika memang harus dimulai kembali, biaya yang harus dikeluarkan bukan lagi sekadar uang ganti rugi pelanggaran kontrak, melainkan juga membutuhkan banyak tenaga dan sumber daya material.
"Kau pikir aku akan mempercayaimu?"