Bab 51 Cara Kematiannya Pun Sudah Ia Bayangkan
Mata Mo Nianchu memerah, menatap tajam ke arah pria di depannya. "Menghentikan proyek itu karena kondisi ibuku sudah memenuhi syarat, dan kalian tidak butuh dia sadar, bukan?"
"Gu Shaoting, kamu sangat keji, tidak tahu malu, dan lebih rendah dari binatang." Ia mencaci maki dengan penuh kebencian.
Pria itu menarik selembar tisu untuk menutupi luka yang berdarah, lalu menunduk menatapnya. "Ini adalah hutang keluarga Mo padanya."
"Selalu saja kami yang berhutang padanya, apa dia tidak berhutang pada kami?"
Ia berteriak dengan suara parau.
Segala keluh kesah selama bertahun-tahun ini datang menghantamnya bagaikan badai yang menenggelamkan.
Ia hanya tahu bahwa dirinya kini telah hancur berkeping-keping, hancur hingga ingin membunuh orang.
Mo Nianchu mundur dua langkah, lalu jatuh bersimpuh di lantai.
"Kalian algojo, kalian semua adalah algojo."
"Tidak terima?" Pria itu berjongkok setengah badan, menatap wanita tersebut. "Mo Nianchu, sekarang yang bisa menyelamatkan ibumu hanya kamu. Jika kamu bersedia masuk ke Grup Gu dengan baik..."
"Asalkan aku pergi ke Grup Gu, kamu bisa membiarkan ibuku tetap hidup dan tidak mengambil organnya?" Bibirnya bergetar hebat.
Ia rela dianiaya, ia rela menuruti semua permintaannya, asalkan pria itu berhenti menyakiti ibunya. "Gu Shaoting, ibuku tidak bersalah, kalian tidak boleh memperlakukannya seperti ini."
"Aku berjanji."
Suaranya terdengar sangat ringan.
Terdengar tidak begitu sungguh-sungguh.
Namun, apa lagi yang bisa ia tuntut darinya?
"Baiklah, aku akan pergi." Ia memejamkan matanya dengan putus asa. "Aku akan pergi bekerja di Grup Gu."
Suaranya semakin lama semakin melemah di setiap kalimatnya.
Ia akan menuruti apa pun perkataannya.
Takut isak tangisnya terdengar, ia memasukkan tangannya sendiri ke dalam mulut.
Hidupnya sudah porak-poranda, dendam sebanyak apa pun harus ia telan mentah-mentah.
Ia menggigit telapak tangannya sendiri dengan kuat, hingga darah menetes satu demi satu.
Gu Shaoting baru sadar setelah beberapa saat dan mencoba melepaskan giginya. "Tidak tahu sakit ya? Begitu kejam pada diri sendiri."
Ia dengan paksa menarik tangan wanita itu dari giginya.
"Bibi Wang, bawakan kotak obat ke sini."
Mo Nianchu tersenyum, dan seiring senyumannya, air matanya jatuh bagaikan mutus yang putus dari benang.
Pada akhirnya ia menangis juga.
Pada akhirnya ia memang tidak berdaya.
Kepala pelayan membawakan kotak obat ke atas, dan tanpa berani bertanya banyak, ia langsung mundur keluar.
Gu Shaoting membuka sebotol alkohol, lalu menuangkannya langsung ke telapak tangan wanita itu. "Akan terasa sakit, tahanlah. Jika benar-benar tidak tahan, gigitlah aku."
Mo Nianchu bagaikan sebuah boneka kayu.
Ia tadinya mengira ia tidak akan merasakan rasa sakit apa pun.
Namun, saat cairan alkohol itu mengalir di atas lukanya, ia tetap menarik tangannya karena kesakitan.
"Tenanglah, sebentar lagi juga selesai."
"Gu Shaoting, enyah kamu, aku tidak butuh kamu, enyah sana..." Ia kembali kehilangan kendali.
Tanpa ekspresi, pria itu membersihkan luka, mengoleskan obat, lalu membalutnya dengan kain kasa. Dengan tenang, hampir menyerupai sikap dingin, ia menatapnya. "Beristirahatlah lebih awal, besok pagi langsung melapor ke Grup Gu."
Seiring dengan tertutupnya pintu kamar tidur.
Mo Nianchu menangis sejadi-jadinya.
Malam itu, Mo Nianchu terus duduk di lantai, menatap langit malam sambil menangis sepanjang malam.
Beberapa kali ia berniat untuk langsung melompat turun dari lantai dua.
Bahkan posisinya sudah ia bayangkan, kepala di bawah.
Namun, terlalu banyak orang yang belum bisa ia lepaskan.
Ia tidak boleh bersikap egois seperti itu.
Setelah membuka mata hingga fajar menjelang.
Ia membasuh wajahnya, lalu menatap bayangan dirinya di cermin. Padahal usianya baru kepala dua, namun ia tampak begitu kelelahan bagaikan buruh tani yang baru pulang dari pasar tenaga kerja.
Setelah turun ke lantai bawah.
Kepala pelayan telah menyiapkan sarapan.
Meskipun tidak memiliki banyak nafsu makan, ia tetap duduk dan mengambil roti panggang untuk mulai makan.
Gu Shaoting dan Lin Xiaowan keluar dari lift.
Mereka berdua kompak menatap wanita yang sedang sarapan tersebut.
"Nianchu, selamat pagi," sapa Lin Xiaowan dengan ceria.
Namun disambut dengan tatapan tajam bagaikan pisau es dari Mo Nianchu.
Merasa sedikit canggung, ia menatap Gu Shaoting dengan manja. "Shaoting, aku dengar Nianchu mau bekerja di perusahaanmu. Aku juga ingin ikut, carikan aku pekerjaan juga ya."
"Kakimu sedang tidak nyaman, kamu harus memulihkan diri dan menunggu operasi. Cukup istirahat saja di rumah, jadilah anak yang baik," bujuk pria itu dengan suara lembut.
"Tidak mau, aku tidak mau hidup dari belas kasihanmu, aku ingin mencari uang sendiri." Dengan manja, ia memeluk lengan Gu Shaoting. "Meskipun kakiku pincang, hatiku tidak. Aku ingin mandiri, aku ingin bekerja."
Pria itu tidak mengiyakan, namun juga tidak menolak.
Di mata Lin Xiaowan, sikap itu sama artinya dengan setuju.
"Nianchu, sebentar lagi kita akan menjadi rekan kerja," ucapnya karena terlalu senang, sekaligus bermaksud ingin memamerkannya di depan Mo Nianchu.
Mo Nianchu menghabiskan roti panggang di tangannya, lalu menatap wanita itu dengan dingin. "Grup Gu sekarang sudah menerima lulusan SMA?"
"Apa maksudmu?" Lin Xiaowan paling benci jika ada orang yang menyerangnya lewat latar belakang pendidikannya. "Aku kehilangan kesempatan ikut ujian masuk universitas hanya karena kakiku terluka."
Mo Nianchu tidak ingin meladeninya.
Ia menyambar tasnya dan bersiap pergi melapor ke Grup Gu.
Gu Shaoting melangkah cepat mengejarnya dan mencengkram pergelangan tangannya. "Ayo pergi bersama."
"Aku naik taksi sendiri." Ia menepis tangan pria itu dan berjalan keluar.
Alis pria yang berwajah rupawan itu sedikit mengerut, lalu ia berbalik menuju mobilnya sendiri.
Begitu duduk di dalam mobil, semakin dipikirkan ia semakin kesal. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Mo Nianchu. "Selama di perusahaan, tidak boleh membongkar hubungan kita, atau tanggung sendiri akibatnya."
Mo Nianchu membaca pesan itu dengan dingin.
Lalu mengangkat tangannya dan langsung memasukkan Gu Shaoting ke dalam daftar hitam.
Tanpa perlu diingatkan pun ia tahu.
Gu Shaoting tertegun sejenak, lalu kembali mengambil ponselnya untuk mengirim pesan lagi. "Maksudku, nanti akan tidak nyaman saat bekerja."
Pesan tidak terkirim, pihak penerima menolak pesan Anda.
Diblokir lagi?
Pria itu kesal hingga membanting ponselnya ke kursi penumpang.
Setelah melapor ke bagian personalia.
Mo Nianchu pergi sendirian ke departemen desain dan menemui atasannya, Kak Mao.
"Halo, aku pegawai baru, namaku Mo Nianchu."
Kak Mao merosotkan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya, mengamati Mo Nianchu sejenak. "Kamu pegawai baru?"
"Iya."
"Cantik sekali." Kak Mao paling takut pada pegawai baru yang cantik namun tidak punya kemampuan asli, takutnya mereka adalah orang-orang titipan dari para petinggi perusahaan. "Siapa yang merekomendasikanmu masuk?"
"Memasukkan lamaran sendiri."
Kak Mao menatap wajahnya dengan pandangan ragu selama beberapa detik. "Begitu ya."
Ia tidak banyak bicara lagi dan membawa Mo Nianchu ke meja kerjanya. "Kamu duduk di sini saja. Akhir-akhir ini departemen kita sedang sibuk mendesain tampak depan perusahaan untuk keperluan promosi. Meskipun kamu baru masuk, kamu bisa mencoba ikut berpartisipasi."
"Baik."
Mo Nianchu sangat pendiam, selama jam kerja ia jarang bangun dan berjalan-jalan.
Kak Mao sengaja keluar untuk melihat beberapa kali, dan setelah mendapati gadis itu tidak memiliki kebiasaan buruk, ia pun merasa lega.
Siangnya, staf dari bagian personalia datang bertanya apakah ia membutuhkan asrama karyawan.
"Ini adalah fasilitas perusahaan. Semua karyawan lajang bisa mengajukan satu kamar asrama. Ada kamar berdua, bertiga, dan ada juga kamar sendiri. Kamar bertiga gratis, kamar berdua biayanya tiga ratus sebulan, sedangkan kamar sendiri biayanya lima ratus sebulan yang akan dipotong langsung dari gaji. Biaya air, listrik, dan internet di dalam semuanya gratis."
Kamar sendiri tentu lebih nyaman, dan lima ratus sebenarnya tidak terlalu mahal.
Ditambah lagi biaya air, listrik, dan internet yang gratis, benar-benar sangat menguntungkan.
"Kalau begitu, aku ajukan kamar sendiri saja."
Bagian personalia mencatatnya dengan serius. "Peminat kamar sendiri cukup banyak, tergantung kesempatan. Nanti jika ada kamar kosong, kami akan memberitahumu."
"Baiklah, terima kasih."
Tidak lama setelah staf personalia pergi, Kak Mao berjalan mendekat dengan cepat. "Xiao Mo, pergilah ke ruang sekretariat direktur. Minta kepada Sekretaris Zhong draf asli desain citra perusahaan yang diserahkan oleh departemen desain kita tahun lalu."
"Baik, Kak Mao."
Belum sampai di departemen sekretariat.
Mo Nianchu sudah mendengar suara tawa Zhong Xue. "Nona Lin, Anda pandai bercanda, masih minta tolong saya untuk mengurusnya? Nanti Anda akan menjadi Nyonya Direktur, justru saya yang harus minta tolong agar Anda sering-sering membimbing saya."