Bab 51 Jika Otakmu Sakit, Pergilah Berobat
"Kakak perguruan, Jiang Han dia..." Pandangan Liu Hanyue sedikit kabur.
"Apakah dia masih bisa kembali?"
Ekspresi Mo Qiushuang terlihat begitu pilu, ia menggelengkan kepalanya hingga beberapa butir air mata jatuh, suaranya terdengar bergetar:
"Hanyue, apakah kau ingin dia kembali?"
Liu Hanyue dengan penuh tenaga memaksakan air matanya keluar, "Kamilah yang membuat Jiang Han menjadi seperti ini."
"Dulu dia begitu bergantung pada kita. Bagaimana pun cara kita memperlakukannya, dia tidak pernah menyalahkan kita. Terlebih lagi, jika ada hal yang bagus, orang pertama yang ada di dalam benaknya adalah kita."
"Dulu dia begitu bersusah payah mencoba mengambil hati kita, memperlakukan kita sebagai kerabat terdekatnya, tetapi kita justru..."
Pandangannya kembali kabur, "Kita justru terus-menerus merundungnya, memfitnahnya, memukulnya, dan memarahinya!"
"Kamilah yang telah memaksa dia pergi! Kamilah yang membuatnya menjadi seperti sekarang ini! Aku harus membawanya kembali."
Liu Hanyue melangkah maju dan menggenggam tangan Mo Qiushuang, air matanya menitik turun membasahi pipi.
"Kakak perguruan, aku harus membawa Jiang Han kembali! Aku akan melipatgandakan kompensasi untuk menebus semua hutang budiku padanya di masa lalu!"
Mendengar kata-kata itu, kesedihan yang mendalam menghujam hati Mo Qiushuang, membuat rasa duka di dadanya tak lagi mampu ia bendung, hingga akhirnya ia terisak menangis.
"Hiks..." Dulu ia juga berpikir demikian, bahkan telah mencoba banyak sekali cara untuk mewujudkannya. Namun, yang ia dapatkan hanyalah cacian dan kemarahan dari Jiang Han.
"Hanyue, pernahkah kau berpikir, bagaimana caranya agar Jiang Han bisa kembali?"
Liu Hanyue tertegun sejenak. Ia tiba-tiba teringat bahwa sebelumnya mereka pernah berniat menjemput Jiang Han, tetapi pemuda itu justru memarahi mereka habis-habisan.
Ia menatap Mo Qiushuang dengan pandangan kosong, tidak tahu harus berkata apa.
"Hanyue, hambatan terbesar bagi kembalinya Jiang Han sebenarnya adalah Guru!"
"Guru?!" Mo Qiushuang membelalakkan matanya.
Mo Qiushuang memasang ekspresi penuh duka, "Kau mungkin tidak tahu, meskipun Jiang Han sering membawakan hadiah untuk kita, orang yang sebenarnya paling ingin ia beri hadiah adalah Guru!"
"Setiap kali sebelum datang menemui kita, dia pasti pergi ke tempat Guru terlebih dahulu. Jika ia tidak dapat menemukan Guru, barulah dia datang menemui kita."
"Namun, Guru selalu menutup diri untuk berkultivasi sepanjang tahun. Jika Guru tidak sengaja mencarinya, Jiang Han sama sekali tidak akan bisa melihatnya, jadi dia terpaksa hanya bisa mencari kita."
"Lagi pula, setiap kali selesai diundung oleh kita, dia pasti akan pergi ke luar gua pertapaan Guru. Karena tidak bisa menemui Guru, dia hanya bisa duduk di tempat yang sangat jauh dari pintu masuk gua."
"Sepertinya hanya di sanalah dia bisa mendapatkan sedikit ketenangan."
"Setiap kali, dia bisa duduk di sana selama sangat, sangat lama, sering kali bahkan semalaman suntuk."
"Dia tidak berani mengganggu Guru, jadi betapa pun sedihnya dia, dan betapa pun sakit tubuhnya, dia harus menahannya dengan sekuat tenaga dan tidak berani menangis bersuara."
Mo Qiushuang tiba-tiba menutup matanya, air mata terus mengalir melalui sela-sela jarinya.
"Jiang Han mungkin benar-benar menganggap Guru sebagai keluarga kandungnya sejak kecil. Dia ingin Guru menegakkan keadilan untuknya, dia juga ingin mendapatkan pelipur lara dari Guru, dia ingin Guru membujuknya, dan ingin tumbuh dewasa seperti anak normal pada umumnya."
Pandangan Liu Hanyue menjadi hampa, tubuhnya terhuyung-huyung, sementara air matanya mengalir deras bagaikan bendungan yang jebol.
Ia tidak pernah tahu bahwa Jiang Han pernah melakukan hal sememilukan itu. Saat itu, ketika ia bersembunyi sendirian di luar gua pertapaan sambil menangis diam-diam, betapa putus asanya perasaan pemuda itu?
"Namun Guru, tidak pernah sedikit pun memedulikannya. Setiap kali dia datang, Guru tahu, Beliau tahu semuanya, tetapi Beliau sama sekali tidak pernah mempedulikannya. Beliau sama sekali tidak ingin mengindahkan Jiang Han!"
Mo Qiushuang melepaskan kedua tangannya, menatap Liu Hanyue dengan mata yang basah oleh air mata.
"Hanyue, tahukah kau bagaimana aku bisa mengetahui hal ini?"
Liu Hanyue terkejut, bahkan air matanya sampai berhenti mengalir. Ia tiba-tiba teringat pada sebuah kemungkinan yang mengerikan, membuat suaranya ikut bergetar.
"Apa... apa itu?"
Mo Qiushuang tiba-tiba berjongkok dan kembali terisak menangis.
"Hiks... adalah Guru, Guru yang menyuruhku membawa Xiao Xuan pergi ke sana, untuk melihat wujud Jiang Han yang menderita dan bersedih. Beliau ingin Xiao Xuan melihat, inilah akhir nasib seorang sampah!"
"Guru? Guru..." Liu Hanyue menoleh dengan kaku ke arah Ji Yuchan, tetapi yang ia lihat hanyalah seorang Guru berwajah muram yang sedang menatap Jiang Han dengan kemarahan meluap-luap.
Mo Qiushuang membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya, isak tangisnya terdengar teredam dan berat.
"Selama Guru masih ada, dia selamanya tidak akan pernah bisa kembali, dia tidak akan pernah kembali!"
"Jika dia benar-benar kembali, Guru pasti tidak akan melepaskannya!"
Seluruh tubuh Liu Hanyue bergetar, rasa dingin yang menusuk tulang seketika membekukannya.
Ia mendengarkan sorak-sorai di arena, mendengar teriakan yang mengelu-elukan Jiang Han sebagai murid nomor satu di generasinya, serta melihat Jiang Han yang dikelilingi dan diberi selamat oleh para murid dari berbagai sekte.
Serta senyuman yang mekar di hadapan Lei Qingchuan—alangkah murninya senyuman itu, pemuda itu pasti, benar-benar merasa bahagia, bukan?
Hati Liu Hanyue berdenyut nyeri. Sebenarnya apa saja yang telah dialami oleh Jiang Han?
Rasa sakit dan keputusasaan seperti itu, apakah benar-benar bisa ia lupakan?
Apakah ia benar-benar mampu membawa pemuda itu kembali?
Jiang Han mengikuti di belakang Lei Qingchuan, berjalan menuju kapal perang. Sepanjang perjalanan, para murid dari berbagai sekte terus-menerus membungkuk hormat, mengucapkan selamat kepadanya karena berhasil merebut posisi puncak.
Alam Rahasia Lingyuan telah berakhir, dan Sekte Pedang Zixoxu berhasil meraih posisi pertama sesuai harapan, mendapatkan tambang batu spiritual yang tak terhitung jumlahnya, tanah berkah surgawi, serta kota-kota manusia.
Sepuluh tahun ke depan akan menjadi masa perkembangan pesat bagi Sekte Pedang Zixiao: menyerap sumber daya tambang dan terus menyaring murid-murid jenius dari kota-kota manusia.
Jiang Han juga dapat pergi ke berbagai tanah berkah surgawi untuk mencari peluang agar dapat segera menerobos ke alam Nascent Soul.
Segala hal yang dibutuhkan oleh Gua Pemangsa Roh telah dipersiapkan. Ia hanya perlu kembali untuk memantapkan kultivasinya sebentar, lalu bisa pergi untuk memahami ranah niat melahap.
"Jiang Han!" Sebuah bentakan keras tiba-tiba terdengar dari depan.
Jiang Han menghentikan langkahnya dan mendongak. Tampak Ji Yuchan memimpin Mo Qiushuang dan yang lainnya berjalan menghampiri, dengan wajah suram bagai air mendung yang menyimpan amarah.
"Jiang Han, sampai kapan kau mau bersembunyi!" Ji Yuchan merasa begitu geram setiap kali melihat Jiang Han, sehingga ia langsung membentak dengan suara lantang.
Jiang Han tersenyum sinis. Benar saja, ini adalah rasanya yang begitu familiar. Setiap kali Ji Yuchan melihatnya, entah ada urusan atau tidak, kalimat pertamanya pasti berupa amarah dan bentakan.
"Bersembunyi? Senior ini mengapa menuduh junior secara sembarangan? Kita bahkan tidak saling kenal, kapan aku pernah bersembunyi darimu?"
Ji Yuchan tertegun sejenak mendengarnya, lalu wajahnya berubah drastis dan membentak dengan marah:
"Apa yang kau katakan? Dasar bajingan yang tidak tahu aturan, bahkan tidak mengenali gurumu sendiri?!"
"Guru?" Jiang Han tersenyum dingin, lalu membungkuk hormat kepada Lei Qingchuan.
"Merepotkan Guru."
Lei Qingchuan menerima penghormatan itu dan mengangkat kedua tangannya secara simbolis untuk menegakkan tubuh Jiang Han.
"Kita adalah satu keluarga, apa repotnya atau tidak."
Ia menatap Ji Yuchan dengan angkuh, "Urusan muridku adalah urusanku juga. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan, selagi Guru ada di sini, tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu!"
Mendengar kata-kata itu, hati Jiang Han terasa hangat dan hidungnya mendadak terasa perih. Perasaan dilindungi seperti ini benar-benar terasa sangat menyenangkan.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh untuk menatap Ji Yuchan.
"Guru saya adalah Pemimpin Sekte Pedang Zixiao, kapan senior ini menjadi guru saya?"
"Atau jangan-jangan, kau ini sudah gila? Kalau tidak, bagaimana mungkin mulutmu terus meracau mengucapkan omong kosong?"
"Jiang Han! Omong kosong apa yang sedang kau ucapkan!"
Ji Yuchan sangat murka. Ia melangkah maju, dan tekanan spiritual dari dalam tubuhnya meledak seketika, langsung menyelimuti area seluas seratus mil. Para murid dari berbagai sekte yang belum sempat naik ke kapal perang semuanya terhempas oleh gelombang tekanan itu, dan dalam sekejap menghilang dari pandangan.
Tekanan yang menghantam Jiang Han adalah yang paling berat, tetapi sebelum tekanan itu mendekat, terdengar dehaman dingin dari Lei Qingchuan. Sebuah aura tajam turut melesat keluar, seketika menghancurkan tekanan spiritual Ji Yuchan hingga buyar, lalu berputar dengan lembut untuk melindungi sisi tubuh Jiang Han.
Jiang Han berdiri di tempat tanpa bergerak sedikit pun. Tatapannya yang penuh penghinaan menghujam tajam ke dalam diri Ji Yuchan. Ia mencibir, lalu berkata:
"Senior ini, apakah pendengaranmu sedang terganggu?"
Suaranya tiba-tiba meninggi, mengerahkan kekuatan spiritual di dalam tubuhnya hingga bergema ke seluruh penjuru alam:
"Aku bilang, apakah kau sedang sakit! Mengapa bicaramu melantur tidak keruan! Kalau otakmu sedang tidak beres, pergilah berobat, jangan di sini menebar jijik pada orang lain!"