Bab Enam Belas: Tidak Memedulikannya

Lúcida Entrega Li Yu 2431kata 2026-08-01 04:52:43

Halaman (1/3)

“Apa alasanku memercayai ucapanmu? Setiap hari aku menerima sedikitnya sepuluh panggilan penipuan semacam ini.”

Pria itu berjalan mendekati Gu Rihan dan mengancam, “Kalau ingin tetap hidup, bicaralah. Suruh dia membawa uang untuk menyelamatkanmu.”

Menatap ponsel yang telah tersambung di hadapannya, Gu Rihan tidak tahu harus berkata apa. Nada suara Gu Jingchen saat mendengar bahwa dirinya diculik terdengar begitu datar. Tampaknya, pria itu benar-benar tidak peduli kepadanya. Kalau begitu, apa artinya ia berbicara atau tidak?

“Bicara!”

Kesabaran pria itu habis. Ia mencengkeram dagu Gu Rihan dan memaksanya mendongak.

Gu Rihan mendengus tertahan karena kesakitan.

“Aku menyuruhmu bicara!”

“Sudah kubilang, jangan sentuh aku!”

Suaranya tidak keras, tetapi cukup terdengar oleh orang di seberang telepon.

Pria itu kembali mengambil ponsel. “Tuan Gu, aku tidak berbohong, bukan? Kau pasti bisa mengenali suara keponakanmu!”

Begitu ia selesai berbicara, sambungan telepon itu langsung diputus dengan kejam.

Kenyataan kembali menghunjam hatinya seperti sebilah pisau. Hatinya telah begitu sakit hingga mati rasa.

Namun, sekarang bukan saatnya bersedih. Ia harus mencari cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.

Bawahan pria itu berkata, “Ternyata kau, nona besar keluarga Gu, juga tidak seberapa. Tidak disayangi, sampai-sampai Gu Jingchen pun tidak rela mengeluarkan uang sebanyak itu untukmu.”

Benar. Orang luar saja bisa melihat bahwa pria itu tidak peduli kepadanya. Lalu, apa lagi yang masih ia harapkan?

Pria itu mengamati wajah Gu Rihan yang murni dan menawan. Ia tidak percaya ada orang yang bisa begitu dingin hingga tidak peduli pada hidup dan mati keluarganya sendiri. “Terus telepon dia!”

Di kantor polisi.

“Kapten Li, mobil itu memakai pelat nomor palsu. Kami tidak bisa melacak pemiliknya.”

Kapten Li melirik Gu Jingchen yang wajahnya muram. “Periksa rekaman kamera pengawas satu per satu. Cari tahu apakah di arah yang mereka tuju ada tempat yang bisa digunakan untuk bersembunyi.”

“Baik!”

Mata Gu Jingchen memerah karena kemarahan.

Beberapa panggilan sebelumnya sengaja tidak ia jawab. Semakin lama ia mengulur waktu, semakin aman Gu Rihan.

Kalaupun ia menjawab, ia tidak boleh menunjukkan kepedulian yang berlebihan. Semakin ia terlihat peduli, semakin besar kemungkinan para penculik itu menyakitinya untuk mengancam dirinya dan mencapai tujuan mereka.

Halaman (1/3)

Halaman (2/3)

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gu Jingchen diliputi rasa tak berdaya dan panik. Ia tak mampu lagi mempertahankan ketenangan di permukaan. Ia berdiri dan hendak pergi mencarinya sendiri.

Ponselnya terus berdering tanpa henti. Entah panggilan dari Tuan Besar Gu ataupun dari Shen Ruo, ia sama sekali tidak berhasrat menjawabnya.

Berdasarkan panggilan telepon tadi, polisi segera mulai melacak lokasi ponsel tersebut.

“Brak!”

Suara dentuman keras menggema di dalam pabrik yang telah ditinggalkan itu. Karena Gu Jingchen tidak mengangkat telepon, pria tersebut mengamuk dan menendang tong besi hingga terjungkal ke lantai.

Tiba-tiba, tatapan pria itu jatuh ke arah Gu Rihan dengan niat buruk. Matanya dalam dan sulit ditebak, membuat hawa dingin menjalar dari telapak kaki Gu Rihan. Tubuhnya tak kuasa menahan gemetar. Ia ketakutan.

Tampaknya Gu Jingchen tidak menyetujui tuntutan mereka.

Dalam benaknya terlintas bayangan Gu Jingchen dan Shen Ruo yang bersikap begitu mesra. Tatapan pria itu begitu lembut, kelembutan yang tak pernah ia tunjukkan ketika memandangnya.

Pria itu mengangkat dagu Gu Rihan dan meneliti wajah mungilnya. “Gu Jingchen tidak akan menyelamatkanmu. Cepat atau lambat kau tetap akan mati. Jadi, sebelum mati, biarkan aku bersenang-senang dan merasakan bagaimana rasanya dilayani oleh seorang nona besar.”

Bawahannya segera memahami maksudnya. “Aku akan berjaga di luar untukmu.”

“Cepat pergi!”

“Aku pergi sekarang. Tapi setelah Kakak selesai bermain, bolehkah adik juga menikmatinya nanti malam?”

“Boleh!”

Bawahannya segera berlari keluar dan berjaga di depan pintu.

Pria itu menatap rakus bibir Gu Rihan yang merah merekah. Ia menunduk hendak menciumnya, tetapi Gu Rihan memalingkan wajah dan menghindar.

Dengan marah, pria itu mencengkeram rambutnya dan menariknya kuat-kuat ke belakang. “Sebaiknya jangan melawan. Kalau tidak, kau sendiri yang akan terluka.”

Kulit kepala Gu Rihan terasa kebas karena tarikan itu. Air mata menggenang di matanya yang jernih dan berkilau, semakin membangkitkan kegilaan pria tersebut.

Ia harus mencari cara untuk melepaskan ikatan terlebih dahulu. Hanya dengan begitu ia memiliki kesempatan untuk melarikan diri.

Pria itu merobek kemejanya dengan kasar, memperlihatkan sebagian besar kulitnya yang putih seperti susu, lalu menunduk dan menghirup aromanya.

Saat pria itu hendak menciumnya, Gu Rihan berkata, “Bukankah tidak menyenangkan kalau aku terus diikat seperti ini?”

“Kau ingin bagaimana?”

“Lepaskan aku, tentu saja. Aku yang akan berinisiatif.”

Pria itu memang tertarik, tetapi tidak bodoh. “Kau menganggapku bodoh? Kalau kulepaskan, kau pasti akan kabur.”

“Bukankah orangmu berjaga di luar? Bagaimana mungkin aku bisa melarikan diri? Lagi pula, meski sekarang kau tidak melepaskanku, sebentar lagi toh kau tetap harus melepaskanku.”

Halaman (2/3)

Halaman (3/3)

Pria itu menatapnya beberapa saat dan merasa perkataannya masuk akal. Dalam keadaan terikat seperti itu, Gu Rihan hanya seperti sebatang kayu sehingga ia pun tidak bisa menikmatinya. Lagipula, sebagai seorang pria dewasa, masa ia tidak mampu mencegah seorang perempuan lemah melarikan diri?

Ia berjalan ke belakang Gu Rihan dan melepaskan tali yang mengikatnya. “Kuperingatkan, jangan macam-macam.”

Begitu talinya terlepas, pria itu langsung menerjang dengan tak sabar. Gu Rihan mendorongnya menjauh dengan sikap seolah menolak, tetapi sebenarnya menggoda. “Di sini tidak nyaman.”

“Di tempat buruk seperti ini, kau masih ingin pergi ke mana?”

Gu Rihan mengedarkan pandangan, mengamati keadaan di sekelilingnya. Ia menyadari bahwa di dalam toilet terdapat sebuah jendela. Meski tidak besar, tubuhnya masih bisa melewatinya. Selain itu, toilet tersebut cukup jauh dari pintu masuk, sehingga suara apa pun yang terjadi di dalam tidak mudah terdengar oleh orang-orang di luar.

Ia mengangkat dagu. “Di sana saja!”

Pria itu mengangkat tangan Gu Rihan dan menciumnya. “Ternyata kau menyukai tempat seperti ini. Ruang sempit, cukup menggairahkan.”

Gu Rihan menahan rasa mual dan pergi bersamanya ke toilet. Setelah masuk, ia mengunci pintu dari dalam dengan bunyi klik.

Pria itu mengamati tubuhnya dari atas ke bawah dengan tatapan rakus. Gu Rihan sedikit menurunkan pakaian yang telah dirobeknya, memperlihatkan bahu yang bulat dan putih. Pemandangan itu cukup untuk merangsang pria tersebut hingga tergila-gila.

Ia membungkuk dan bertumpu pada tangki toilet. Tubuhnya yang elok membentuk lekuk menggoda. Pria itu menelan ludah, lalu tak sabar memeluknya dari belakang.

Ia benar-benar sudah tidak mampu menahan diri. Namun, tepat ketika ia tengah menghirup aroma tubuh Gu Rihan dengan rakus, sebuah tutup porselen menghantam kepalanya dengan keras.

Gu Rihan mengerahkan seluruh tenaganya. Pria itu seketika pingsan dan terjatuh menindih tubuhnya. Dengan jijik, ia menyingkirkannya, lalu perlahan menurunkan kembali tutup tersebut. Ia tidak berani mengeluarkan suara karena takut mengejutkan orang-orang di luar.

Tanpa berani menunda sedetik pun, ia mendorong jendela hingga terbuka dan melompat keluar.

Ia berlari sekuat tenaga menuju jalan raya tanpa berani menoleh ke belakang.

Dalam perjalanan, ia menerobos semak-semak berduri. Pakaian tipis yang dikenakannya terkoyak, kulitnya dipenuhi goresan besar dan kecil. Ia bahkan tidak merasakan sakit. Sepatunya entah kapan telah terlepas. Semak belukar dan ranting-ranting pohon di sepanjang jalan menusuk kulitnya yang lembut hingga berlumuran darah. Pemandangan itu begitu mengerikan.

Pada saat yang sama, polisi berhasil mengunci lokasi Gu Rihan. Setelah menerima pemberitahuan, Ye Jiayan, Mo Xiaochen, dan Gu Jingchen segera melaju ke tempat tersebut.

Gu Rihan berlari sampai ke tepi jalan. Tak jauh dari sana, sebuah mobil melaju kencang ke arahnya. Menguatkan tekad, ia menerjang ke tengah jalan, memejamkan mata, lalu merentangkan kedua tangan dan mempertaruhkan nyawanya.

Suara rem yang melengking, tajam seperti cakar, mencabik kesunyian langit malam.

Gu Rihan perlahan membuka mata. Begitu melihat siapa yang datang, ia tak mampu bertahan lagi dan jatuh pingsan.

Halaman (3/3)