Bab 56 Dia Menasihatinya untuk Mengurangi Merokok
Dia berharap Muhan Zhou dapat memahami situasinya yang sulit dan berinisiatif menutup telepon, tetapi pria itu tak kunjung menutupnya, yang membuat Nan Qian merasa sedikit bingung.
Berdasarkan kecerdasan Muhan Zhou, ia seharusnya bisa menebak bahwa Xiyan Shen sedang berada di dekatnya. Mengapa ia tidak menutup telepon? Mungkinkah ia ingin memanfaatkannya untuk memprovokasi Xiyan Shen agar memutuskan hubungan?
Saat ia berpikir demikian, suara Muhan Zhou yang samar-samar menyiratkan kemarahan terdengar dingin dari ujung telepon, merasuk ke telinga mereka berdua—
"Besok, akan ada sebuah hadiah yang dikirimkan ke kantormu. Ingatlah untuk menerimanya."
Setelah berkata demikian, Muhan Zhou menutup telepon. Di dalam kamar, keheningan kembali tercipta, atau lebih tepatnya, kesunyian yang amat mencekam.
Dalam suasana seperti itu, Nan Qian perlahan mengangkatbulu matanya yang basah dan bergetar, menatap pria di hadapannya yang kini telah menghentikan gerakannya.
"Aku..."
"Kamu benar-benar murahan."
Kata-kata dingin itu menghujam ke dalam lubuk hatinya, membuat tubuh Nan Qian mendadak kaku.
Wajahnya yang tadinya merona akibat gairah perlahan-lahan memudar, menyisakan rona pucat pasi.
Xiyan Shen sama sekali tidak memperdulikan perasaannya, ia tetap mencercanya dengan kata-kata tajam dan kejam.
"Bercinta denganku, tapi masih saja menggoda Muhan Zhou. Kamu benar-benar murahan sampai ke tulang-tulang!"
Nan Qian tidak menjawab, ia hanya perlahan menurunkan pandangannya, menatap tubuh yang tadi begitu ingin melebur menjadi satu dengan tubuh pria itu.
Apa yang dikatakan pria itu benar. Telah dihina sedemikian rupa, namun masih saja melayani dengan penuh gairah di bawah tubuhnya, ia memang wanita yang sangat murahan.
Namun, bukankah pria itu juga murahan?
Jelas-jelas tidak mencintainya, tetapi tetap saja mencumbunya bagaikan orang gila, bukankah itu juga puncak dari kemurahankannya?
Mata Nan Qian memancarkan secercah kilatan penuh amarah, namun ia menekan segala ketidakrasionalannya, menunduk dalam diam.
Hal yang paling penting saat ini adalah pergi, bukan berdebat tak berarti dengan Xiyan Shen...
Melihat wanita itu tetap diam meskipun telah dihina, rasa sesak dan gelisah di dada Xiyan Shen semakin menjadi-jadi.
Ia melepaskan jemari yang tadinya mencengkeram pinggang wanita itu, lalu mengusap kulit yang tuntas terbuka, merayap naik hingga ke wajahnya.
Ujung jarinya yang dingin dan sedikit basah melingkar di dagunya bagaikan ekor ular, memaksa wajah itu mendongak.
Dalam pandangan yang terpaksa terangkat itu, tampaklah sebuah wajah yang begitu terpahat sempurna dan tegas layaknya ukiran pisau.
Sepasang mata bunga persik di wajah itu menyerupai bintang-bintang di langit malam.
Memiliki daya pikat yang seolah mampu menyedot segala hal di dunia, namun hanya memantulkan bayangan dirinya seorang.
Nan Qian menatap pantulan dirinya sendiri di dalam pupil mata itu, dan tanpa alasan yang jelas, pandangannya mulai mengabur.
"Xiyan Shen, mengapa kamu memperlakukanku seperti ini?"
Tidakkah kamu bisa sedikit lebih baik kepadaku?
Kelak, saat jalan membentang panjang dan waktu berlalu, setidaknya kita bisa menyisakan kenangan yang indah.
Setidaknya agar saat teringat, semuanya tidak dipenuhi oleh tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan...
Nadanya menyiratkan kepedihan yang tak terkatakan, seolah-olah dirinyalah yang telah dikhianati oleh pria itu.
Pria yang tadinya masih berniat untuk terus menghina itu perlahan-lahan melonggarkan cengkeraman jarinya di dagu wanita tersebut.
Setelah terdiam selama beberapa detik, dengan suara yang dingin, penuh wibawa namun parau, ia balik bertanya kepada Nan Qian.
"Lalu mengapa kamu memperlakukanku seperti ini?"
Menyukai Muhan Zhou, tetapi berbohong kepadanya dan mengatakan tidak menyukainya.
Pernah tidur dengan Muhan Zhou, tetapi bersikeras tidak mau mengakuinya.
Membuat tato yang sama dengan pria lain, namun menyembunyikannya darinya selama tiga tahun.
Jelas-jelas memiliki tujuan tersembunyi yang tidak diketahui orang lain, tetapi bersikeras tidak mau memberitahukannya.
Coba katakan, pada wanita seperti ini, mengapa ia harus berbaik hati?
Menatap sepasang mata yang tertutup kabut dingin itu, Nan Qian perlahan mengerutkan keningnya.
Ia tidak menjawab pertanyaan pria itu, sama seperti pria tersebut yang tidak memberikan jawaban langsung kepadanya.
Keduanya saling menatap dalam diam, namun pikiran mereka terpisahkan oleh jurang yang terbentang bagaikan sungai Bima Sakti di tengah-tengah mereka, membuat tak satupun dari mereka mampu melangkah maju.
Saat suasana di antara mereka berdua mulai terasa semakin dingin, Nan Qian menjadi orang pertama yang mengangkat sudut bibirnya yang terasa pahit, menampilkan senyuman tipis dan hambar.
"A-Yan, setelah selesai, biarkan aku pergi."
Biarkan ia pergi, toh hubungan ini tidak akan menghasilkan akhir apapun, untuk apa terus berlarut-larut dalam ikatan ini?
Xiyan Shen menatapnya, dan setelah terdiam beberapa saat, ia menundukkan kepalanya untuk menciumnya sekali lagi.
Namun Nan Qian tidak lagi menunjukkan reaksi seperti sebelumnya. Menghadapi wanita yang diam bagaikan mayat hidup itu, sang pria pun kehilangan minatnya.
Tanpa ekspresi, ia bangkit dari tubuh wanita itu, meraih sebatang rokok, lalu bersandar di kepala ranjang seraya menyalakannya dengan pematik api.
Melalui cahaya yang berpendar redup, Nan Qian melirik sekilas ke arah pria yang kini diselimuti oleh kepulan asap rokok, namun ia tidak mengatakan sepatah kata pun dan bangkit sendiri turun dari ranjang.
Pria itu tidak berniat melanjutkan, yang berarti Xiyan Shen memutuskan untuk melepaskannya, maka Nan Qian merasa tidak ada lagi alasan baginya untuk tinggal di tempat ini.
Ia memungut pakaiannya yang basah kuyup dan mengenakannya, lalu berjalan ke arah pria itu, membungkuk untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di samping.
Ia menggenggam ponsel itu erat-erat di tangannya, berbalik berniat untuk pergi, namun tanpa sadar menghentikan langkahnya, lalu dengan nekat merampas sebatang rokok dari tangan pria itu.
"Tuan Shen, kurangi merokok, itu tidak baik untuk kesehatan."
Naluri memberitahunya bahwa setelah kejadian kali ini...
Ia dan Xiyan Shen tidak akan lagi memiliki hubungan seperti ini. Anggap saja ini sebagai salam perpisahan.
Jari-jemari Xiyan Shen sedikit membeku, seketika ia meraih tangan Nan Qian dan menggenggamnya erat-erat di dalam telapak tangannya.
Ia ingin mengatakan, "Kamu akhirnya mengingatkanku untuk tidak merokok," namun kata-kata itu tertahan di ujung lidah dan tidak mampu ia ucapkan.
Nan Qian mengikuti garis wajah pria yang begitu tampan itu, beralih menatap tangan dengan buku-buku jari yang tegas, lalu bertanya dengan nada bingung:
"Ada apa lagi?"
Hal-hal yang seharusnya dilakukan sudah dilakukan, penghinaan yang harus diberikan sudah diberikan, untuk apa lagi pria itu menarik tangannya dan melarangnya pergi?
Xiyan Shen menurunkan bulu matanya yang lebat dengan ekspresi yang sulit diartikan, menyembunyikan tatapan rumit di dasar matanya.
"Apakah menurutmu foto-foto perselingkuhan Qin Rui diunggah ke internet oleh Muhan Zhou?"
Nan Qian mengalihkan pandangannya dari tangan pria itu, perlahan mendongak untuk menatap wajah Xiyan Shen yang tidak terbaca emosinya.
"Bukankah itu ulahmu?"
Tatapan matanya seolah sedang bertanya: A-Yan, apakah tindakanmu membantuku ini berarti kamu juga menyukaiku sedikit?
Tanpa alasan yang jelas, Xiyan Shen tidak ingin wanita itu mengetahui isi hatinya, sehingga dengan nada yang terkesan dingin ia menggelengkan kepalanya.
"Bukan."
Secercah harapan di lubuk hati Nan Qian perlahan-lahan meredup.
"Benar juga, bagaimana mungkin kamu mau membantuku?"
Meminta rekaman CCTV darinya atau memintanya menahan seseorang saja ia enggan, bagaimana mungkin pria itu mau repot-repot membantunya di balik layar?
Ternyata ia hanya terlalu banyak berimajinasi dan mengira bahwa pertanyaan pria itu berarti ialah pelakunya, mungkin karena di dalam lubuk hatinya ia masih menyimpan sedikit saja harapan terhadap pria itu.
Kini, harapan kecil itu telah hancur berkeping-keping. Nan Qian meredam rasa kecewanya, menepis tangan pria itu, berbalik, dan melangkah keluar dari kamar tidur.
Menatap sosok punggung yang kian menjauh itu, Xiyan Shen tiba-tiba merasa begitu kesal. Ia meraih sebungkus rokok di sampingnya dan menyalakannya.
Namun saat rokok itu telah terselip di bibirnya, teringat akan perkataan wanita tadi, ia tertegun sejenak sebelum akhirnya tanpa sadar menurunkan rokok tersebut...
Angin musim dingin bertiup kencang dan menusuk tulang. Nan Qian mengenakan pakaiannya yang basah kuyup, menerobos gerimis hujan, melangkah demi melangkah keluar dari Hordon Manor.
Tubuhnya menggigil kedinginan hingga langkah kakinya terasa sangat lambat. Area di bagian bawah tubuhnya yang sempat membengkak juga terasa begitu perih akibat gesekan.
Menahan rasa sakit dan dingin, ia dengan susah payah melewati gerbang utama dan berniat kembali ke mobilnya, ketika sebuah mobil Ferrari berwarna merah tiba-tiba berhenti tepat di hadapannya.
Jendela mobil perlahan turun, memperlihatkan profil wajah Lu Zhi yang tampak anggun dan tenang, terpantau samar-samar di bawah temaram cahaya lampu jalan.
"Nona Nan, silakan naik."
Menghadapi sikap Lu Zhi yang begitu terbuka, Nan Qian membutuhkan waktu puluhan detik untuk beralih dari rasa terkejut menjadi rasa bersalah, hingga akhirnya ia bisa kembali bersikap normal.
"Aku..."
"Hanya mengajakmu secangkir kopi, apa yang kamu takutkan?"
Perasaan bersalah Nan Qian terpampang begitu jelas di hadapan Lu Zhi.
Setelah terdiam di tempat selama beberapa detik, ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam.
Begitu ia selesai mengenakan sabuk pengamannya, Lu Zhi melajukan mobilnya menuju sebuah kafe.