Bab 59 Kau Hanya Perlu Bekerjasama Nanti

Senhorita Nan, pare de torturar, o Sr. Shen já foi destruído Palavras gentis e calorosas 2844kata 2026-08-01 04:56:46

Nan Qian mengalami demam tinggi hingga kelopak matanya terasa sangat berat dan tak sanggup dibuka, meski ia sudah berusaha keras untuk mengangkatnya.

Di dalam telinganya, suara dengung tinnitus berdering kencang, membuatnyasulit mengenali suara orang di dekatnya.

Namun, ia bisa menangkap arti dari apa yang diucapkan pria itu, lalu bergumam kecil tanpa sadar.

"Hanzhou, bukankah itu kau?"

Nada bicara Nan Qian yang lembut dan manja itu terdengar seperti sebuah kekecewaan di telinga Shen Xiyan.

Kekecewaan karena orang yang datang bukanlah Mu Hanzhou, melainkan dirinya!

Shen Xiyan merasakan dadanya naik turun di luar kendalinya.

Kemarahan yang entah dari mana datangnya bergemuruh di dalam hatinya, membuat tanpa sadar ia mempererat dekapannya pada sosok di dalam pelukannya.

"Sebegitu besarkah kecintaanmu pada Mu Hanzhou!"

Orang yang masih bisa diingat bahkan dalam keadaan tidak sadar, pastilah seseorang yang dicintai dan disembunyikan di lubuk hati terdalam.

Hanya saja, Shen Xiyan tidak menyangka Nan Qian akan begitu mencintainya, hingga dalam keadaan demam tinggi pun ia tetap merindukannya.

Nan Qian, yang semakin pusing dan kebingungan, hanya samar-samar mendengar nama Mu Hanzhou, sehingga ia mengira pria itu menjawab, Akulah Mu Hanzhou.

Ia pun dengan tenang membenamkan kepalanya ke dalam pelukan sang pria, lalu bermanja-manja menggesekkan lehernya seperti saat mereka masih kecil.

"Hanzhou, aku tidak mau ke rumah sakit..."

Wajah Shen Xiyan begitu suram, tetapi ia tidak membuang orang yang ada di dalam pelukannya. Sebaliknya, ia mencengkeram tubuh wanita itu dengan kuat dan membawanya melangkah keluar.

Merasakan guncangan, Nan Qian sadar bahwa pria itu berniat membawanya ke rumah sakit bertentangan dengan kehendaknya, maka ia buru-buru mengulurkan tangan dengan susah payah untuk mencengkeram pakaian pria itu.

"Jangan bawa aku ke rumah sakit..."

"Tidak ke rumah sakit, mau menunggu mati?!"

Shen Xiyan menegurnya dengan dingin dan ketus, namun langkah kakinya tidak berhenti, bahkan semakin dipercepat.

Sosok di dalam pelukannya menurunkan tangannya yang lemas dengan rasa bersalah, lalu mengeluh kecil padanya seperti di masa lalu.

"Kau pernah bilang, tidak akan pernah membawaku ke rumah sakit lagi..."

Jika menuruti sifat Shen Xiyan yang biasa, ia sudah pasti akan melepaskannya dan tidak peduli.

Namun kali ini, ia menahan amarahnya, memasang wajah dingin, lalu melangkah masuk ke dalam lift.

Setelah menekan tombol lift, pria itu kembali menundukkan pandangannya yang dingin untuk melirik wanita di sisinya.

Melihat wanita itu begitu menderita hingga membuka mulut kecilnya dan meracau tak jelas karena kebingungan, rasa sesak di dadanya tiba-tiba sedikit mereda.

"Syukurilah!"

Ia mengutuk pelan, lalu tanpa sadar menggerakkan telapak tangan besarnya ke bagian belakang kepala wanita itu, menekannya dengan lembut ke ceruk lehernya sendiri.

Nan Qian bersandar di ceruk leher pria itu, menyerap sensasi sejuk yang terpancar dari kulitnya, sembari samar-samar mencium aroma yang menyegarkan.

Aroma samar bagaikan salju yang mencair, berpadu dengan wewangian lembut dari pakaian yang disetrika, merasuk ke dalam indra penciumannya, sedikit mirip dengan aroma khas Shen Xiyan.

Dalam kesadarannya yang kabur, ia dengan susah payah membuka mata. Di dalam pandangannya yang buram, ia tidak bisa melihat wajah orang tersebut secara jelas, dan hanya mampu menangkap bayangan samar.

Apakah itu Shen Xiyan?

Seharusnya bukan.

Shen Xiyan mana peduli apakah dia hidup atau mati.

Mungkin karena demamnya sudah terlalu parah sampai ia salah mengenali orang.

Pria yang memeluknya itu melihat tubuh Nan Qian yang memerah karena demam tinggi. Dengan kening berkerut dingin, ia berjalan cepat keluar lift dan melangkah buru-buru ke arah mobilnya terparkir.

Mu Hanzhou, yang bersiap keluar dari mobilnya, melihat pria itu menggendong seseorang dan buru-buru masuk ke dalam mobil. Ia sempat tertegun sejenak, lalu perlahan menarik kembali tangannya yang hendak mendorong pintu mobil...

Shen Xiyan membawa wanita itu ke rumah sakit kota, memanggil beberapa dokter untuk melakukan pemeriksaan gabungan, dan setelah memastikan bahwa itu hanya demam biasa tanpa infeksi paru-paru, ia langsung meminta tindakan penurun panas.

Pria berjas rapi itu berdiri di depan ruang rawat dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana, menatap wanita yang terbaring di atas ranjang rumah sakit selama beberapa detik dalam keheningan, lalu berbalik dan melangkah pergi.

Saat turun ke lantai bawah, ia berpapasan dengan Mu Hanzhou yang sedang naik ke atas. Langkah kaki kedua pria itu terhenti sejenak, lalu yang satu melanjutkan perjalanan ke atas, sementara yang lain ke bawah.

Saat berpapasan, Shen Xiyan mendengus dingin.

"Tuan Mu ternyata sangat pandai memungut sisa."

Mu Hanzhou dengan tenang dan tanpa beban menarik sudut bibirnya.

"Lalu, mengapa Tuan Mamberi kesempatan padaku untuk memungutnya?"

Wajah Shen Xiyan yang tampan tanpa cela memancarkan sedikit cibiran.

"Kau memang hanya layak mendapatkan hal seperti ini."

Setelah melontarkan kalimat itu, Shen Xiyan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, lalu berjalan turun dengan langkah anggun yang dingin dan angkuh.

Menatap punggung yang tegap itu, sepasang mata dalam Mu Hanzhou perlahan-lahan dipenuhi oleh kepekatan yang suram.

Ketika Nan Qian terbangun dari kesadarannya yang kabur, hari sudah menunjukkan pagi keesokan harinya.

Demamnya sudah turun, pikirannya jauh lebih jernih, hanya saja masih ada jarum infus yang tertancap di lengannya.

Ia mengikuti selang infus yang panjang itu dengan pandangan matanya, lalu menoleh ke samping.

Ia melihat Mu Hanzhou sedang duduk di depan ranjang rumah sakit, menopang dagunya dengan satu tangan sambil memejamkan mata dan beristirahat.

Seakan merasakan tatapannya, Mu Hanzhou perlahan-lahan membuka mata tajamnya.

Melihatnya sudah sadar, sepasang mata yang bagaikan mata air jernih itu perlahan-lahan mengusir sisa-sisa kekhawatiran.

"Masih ada yang terasa tidak nyaman?"

Nan Qian menggelengkan kepalanya, lalu tanpa sadar mengedarkan pandangan mengitari ruang rawat.

Aroma segar yang akrab itu seolah tidak pernah ada.

Bahkan tidak ada sedikit pun sisa aroma tersebut di dalam ruangan.

Ternyata ia benar-benar salah mengenali orang, Shen Xiyan tidak mungkin datang mencarinya.

Nan Qian menarik kembali pandangannya yang meredup, lalu menatap pria berwajah datar di sampingnya.

"Hanzhou, aku meneleponmu sebelumnya hanya ingin bertanya, kapan kau berencana membiarkanku putus dengan Shen Xiyan?"

Jari-jari Mu Hanzhou yang sedang memegang handuk basah sedikit terhenti, lalu dengan gerakan natural ia menyeka kening wanita itu.

"Beberapa hari ini."

Ia merawatnya seperti merawat seorang anak, usai menyeka kening, ia beralih menyeka wajahnya, lalu leher yang dipenuhi oleh bekas ciuman...

Tatapan pria itu saat mengamati lehernya tampak sedikit meredup, membuat Nan Qian teringat sesuatu dan buru-buru menutupinya dengan tangan.

"Setelah selang infus ini selesai dan aku kembali, aku akan mandi bersih."

Mu Hanzhou merapatkan bibirnya dengan ekspresi tenang.

"Sedang sakit, tidak boleh mandi."

Dengan sedikit keras kepala, ia menyingkirkan tangan Nan Qian dan menyekahnya dengan lembut berulang kali.

Seolah-olah dengan cara ini, ia bisa menghapus jejak yang ditinggalkan oleh Shen Xiyan.

Namun hanya mereka berdua yang tahu, hal itu adalah sebuah ketidakmungkinan.

Bahkan jika saat ini mereka menyerah pada tujuan mereka dan kembali ke New York.

Hubungan di antara mereka berdua tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.

Keduanya sama-sama menundukkan pandangan tanpa berbicara satu sama lain.

Hingga Mu Hanzhou menarik kembali tangannya, Nan Qian baru mendongak dan menatapnya kembali.

Pria itu seolah tahu apa yang ingin ia tanyakan, sehingga ia membuka suara lebih dulu.

"Selama beberapa waktu ke depan, aku akan mengejarmu, saat itu kau hanya perlu bekerja sama."

Setelah sadar sepenuhnya, pikiran Nan Qian berputar jauh lebih cepat.

"Jadi karena itulah kau mengirimiku hadiah?"

Mu Hanzhou mengangguk kecil, lalu mengambil sedotan, memasukkannya ke dalam gelas air, dan membawanya ke bibir wanita itu.

Nan Qian menyesapnya beberapa kali, membuat bibirnya yang kering dan tenggorokannya yang terasa seperti terbakar sedikit mereda.

"Cara seperti ini... apakah akan berhasil?"

Emosi yang terpancar di dasar mata Mu Hanzhou terasa rumit dan sulit dimengerti.

"Akan berhasil pada Shen Xiyan."

Nan Qian merasa kurang begitu paham, namun Mu Hanzhou menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan.

"Ikuti saja pengaturanku."

Pria itu selalu pandai memegang kendali atas segalanya, setiap rencana yang dibuatnya tidak pernah gagal, sehingga Nan Qian pun berhenti bertanya.

Karena demamnya sudah turun, ia tidak perlu lagi tinggal di rumah sakit dan bisa beristirahat di rumah, jadi ia meminta Mu Hanzhou untuk mengurus prosedur kepulangan.

Begitu prosedur selesai, infus pun hampir habis. Setelah perawat mencabut jarumnya, Mu Hanzhou membawanya pulang ke rumah.

Memapahnya ke tempat tidur dan membiarkannya berbaring, Mu Hanzhou tidak langsung pergi. Sebaliknya, ia membuka lemari pakaian, mengambil selimut, dan bersiap tidur di kamar tidur kedua.

Nan Qian sebenarnya sedikit takut ketahuan oleh Shen Xiyan, tetapi setelah dipikir-pikir, ia Toh akan segera pergi juga, jadi apa yang perlu ditakutkan.

Lagi pula, apartemen ini dibeli oleh Mu Hanzhou, ia berhak tinggal di sini, dan lagipula pria itu tinggal karena mengkhawatirkan kondisinya.

Setelah menenangkan dirinya sendiri, Nan Qian berbaring miring.

Ia tadinya ingin memejamkan mata untuk tidur, tetapi punggungnya menimpa ponselnya yang terasa dingin, mengingatkannya bahwa ia belum mengambil cuti kerja.

Ia buru-buru mengambil ponselnya dan mengusap layar untuk membuka kunci.

Wakil direktur yang baru diangkat, serta rekan-rekan kerja dari bagian hukum, telah meneleponnya berkali-kali.

Ada juga banyak pesan yang menanyakan apakah terjadi sesuatu padanya karena tidak masuk kerja hari ini.

Setelah membalas pesan mereka satu per satu, ia keluar dari aplikasi dan melihat pesan singkat dari Shen Xiyan.

Dibandingkan dengan kekhawatiran rekan-rekan kerjanya, pesannya hanya berisi beberapa patah kata yang dingin:

[Kalau belum mati, cepat ngesot ke kantor dan bekerja]