Bab Empat Puluh Tujuh: Tak Bisa Diperlakukan Sembarangan (Bagian Tiga)
Setelah memeriksa hasil yang didapat dari Menara Langit, dan tidak menemukan hal lain, Qiao Shan pun secara iseng membuka panel Obrolan di sampingnya.
Ia ingin melihat apa yang dibicarakan orang lain tentang Menara Langit...
“Ada yang curang, ya? Kenapa peringkat satu bisa menaklukkan lantai sembilan?!”
Baru saja masuk ke Obrolan, Qiao Shan langsung melihat ada yang mengeluhkan dirinya.
“Bukannya sudah lihat sendiri, nama samaran peringkat satu itu si Panah Kayu. Kau lupa, Menara Langit itu kan diaktifkan oleh si Panah Kayu.”
“Menara Langit diaktifkan oleh si Panah Kayu?”
“Iya, kau lupa bagaimana teks bercahaya di awal bilang apa?”
“Bukannya bilang ada yang berhasil melewati gelombang ketujuh, terus Menara Langit yang seharusnya muncul seminggu sekali jadi aktif lebih awal?”
“Iya, terus siapa yang berhasil melewati gelombang ketujuh itu?”
“Gak tahu…”
“Itu si Panah Kayu, dia juga yang ngasih peringatan soal bos di gelombang kelima, terus gelombang ketujuh bisa jadi ada monster terbang juga!”
“Hah!? Serius, aku nggak tahu!”
“…..”
Baru baca dua baris, arah obrolan sudah mulai melenceng.
“Ngomong-ngomong soal bos, tadi di lantai lima Menara Langit aku juga ketemu bos, kuat banget!”
Untungnya, topik yang melenceng itu langsung ditarik kembali oleh seseorang yang anonim bercerita soal pengalamannya di Menara Langit.
Qiao Shan paham, jika sudah pernah bertemu bos lantai lima Menara Langit, berarti orang anonim itu pasti masuk dalam 57 besar peringkat.
“Para suhu, jangan ngomongin itu terus, aku pengen tahu hadiahnya peringkat! Tolong bagi infonya!”
“Kamu nggak dapat?”
“Dapat apaan, cuma sepuluh besar yang dapat hadiah, aku aja nggak masuk daftar…”
“Gak bisa dikasih tahu gitu aja~~~~, bayar dulu dong!”
“Coba aja jangan pakai anonim!!!”
“Guru Zhuo, ada di sini gak? Bagi dong hadiah peringkat tiga!!”
“Guru Zhuo, tolong share.”
“Guru Zhuo, keluar dong!”
“Guru Zhuo, aku kan udah kasih dua barang bagus ke kamu buat dilelang, dukung kamu loh, ayo bagi infonya.”
“Bagi dong! Jangan mikir jualan mulu!”
“Bagi!”
...
Qiao Shan sedikit ikut mengarahkan topik di Obrolan.
Dengan cepat, topik pun diarahkan ke Guru Zhuo yang tidak memilih anonim.
“Aku dapat hadiah peringkat tiga, berupa cetak biru perlengkapan tombak tingkat satu, siapa pun yang bawa bahan, aku bisa buatkan gratis!”
Setelah banyak orang mendesak, Guru Zhuo akhirnya muncul dan bicara juga.
Entah memang sebelumnya dia diam-diam memantau, atau baru datang setelah diberi tahu asistennya.
“Wah! Keren banget, memang pantas jadi Guru Zhuo!”
“Mantap!”
“Bos dermawan!”
“Iya, nggak kayak yang jual busur atau golok gede itu, padahal sama-sama orang sekampung, masih aja narik bayaran!”
“Bener, harusnya tiru Guru Zhuo, kita protes sama yang lain!”
“Setuju, boikot busur panjang dan golok besar, kita tim tombak!”
...
Begitu Guru Zhuo bicara, pujian pun mengalir seperti gelombang.
Dengan satu kalimat saja, Guru Zhuo sudah bisa meredam situasi.
Qiao Shan cuma bisa bilang, “Luar biasa!”
...
“Guru Zhuo, boleh tahu nggak, hadiah lain dari Menara Langit yang kamu dapatkan?”
Setelah beberapa obrolan lagi, ada yang sopan bertanya pada Guru Zhuo.
“Tiga lantai pertama hadiahnya nggak seberapa, satu-satunya barang bagus yang kudapat di lantai empat, setengah batu permata elemen tingkat dasar.”
Sudah membangun citra dirinya sebagai orang baik dan suka menolong di depan semua orang, Guru Zhuo pun dengan cepat menjawab pertanyaan itu.
“Sambil promosi, lelang kedua akan diadakan sepuluh jam lagi, silakan ikut. Sebenarnya mau agak lama jedanya, tapi setelah Menara Langit, pasti banyak barang baru masuk.”
“Jadi aku putuskan untuk mempercepat lelangnya.”
“Ngobrol aja, aku pamit dulu, mau bersiap-siap!”
Setelah menjawab pertanyaan, Guru Zhuo langsung menyisipkan promosi, lalu kabur.
Melihat Guru Zhuo dengan alasan persiapan lelang, langsung berhenti menjawab pertanyaan, Qiao Shan benar-benar kagum.
Bukan hanya bisa mundur dengan elegan dan tak perlu menjawab lagi, dia juga sekalian promosi.
Alasannya sangat masuk akal.
Guru Zhuo memang licik.
Qiao Shan sendiri sudah paham.
Dia tahu Guru Zhuo hanya mengarang alasan.
Barang-barang baru Menara Langit lah, atau harus mempersiapkan diri lebih awal lah, semua cuma omong kosong.
Sebenarnya, karena sudah ada pesaing, Guru Zhuo ingin mempertahankan keunggulan dengan mempercepat lelang kedua.
Tadi di grup obrolan, selain bicara soal Menara Langit, ada juga beberapa orang yang mulai promosi.
Mereka bilang ingin jadi pedagang profesional, jadi perantara pertukaran barang.
Sebenarnya, ya hanya main jual beli.
Qiao Shan tadinya tak memperhatikan para pedagang ini, tapi saat Guru Zhuo mempercepat lelang, ia langsung sadar.
Para pedagang ini ternyata memberikan pengaruh besar.
Mereka membuat Guru Zhuo merasa terancam.
Soal pembuatan perlengkapan gratis yang diklaim Guru Zhuo, Qiao Shan tidak terlalu peduli.
Barusan di Menara Langit, dia juga mendapatkan dua potongan cetak biru perlengkapan tingkat satu.
Kini potongan itu sudah bergabung menjadi satu.
Satu cetak biru baru untuk perlengkapan tingkat satu kini diam-diam tersimpan di dalam Tas...
Kebetulan, cetak biru yang didapat Qiao Shan juga berupa tombak.
...
“Aku cuma sampai lantai tiga, dapat 6 poin pengalaman, percaya nggak...”
“Cuma dapat angin..., nggak ada hadiah lain?”
“Hadiah-hadiah lainnya itu cuma bisa dipakai di dalam Menara Langit, nggak lolos lantai empat, semua barangnya hilang waktu keluar...”
“Hahaha, turut prihatin tiga detik.”
“Kalau aku beda, aku malah dapat 6 koin perak~”
“...”
Setelah Guru Zhuo pergi, orang-orang pun mulai pamer barang yang didapat dari Menara Langit.
“Gak tahu deh, kapan Menara Langit berikutnya, aku sudah lumayan ngerti polanya, kali ini pasti bisa lolos lantai empat.”
“Bukannya tadi di layar cahaya bilang, Menara Langit muncul seminggu sekali?”
“Iya, aku tahu. Maksudku, seminggu ke depan itu dihitung dari hari ini, atau dari kita pertama kali menyeberang ke sini? Kan katanya kali ini diaktifkan lebih awal!”
“Bener juga.”
“Pertanyaan bagus.”
“Patut dibahas.”
...
Orang yang bertanya waktu itu menjelaskan kebingungannya, yang lain pun mengangguk setuju.
Tapi tak ada satu pun yang tahu jawabannya...
“Mana nih Tuan Kota Li, bagi juga dong hadiahnya, kamu kan peringkat enam!!”
Tak lama, setelah tak menemukan jawaban, orang-orang mulai mencari nama lain yang tak anonim—Li Hanqiang.
“Hanqiang suhu?”
“Tuan Kota Li, keluar!”
“Li Hanqiang!”
“Keluar!”
“Kemana orangnya?”
“Sialan, aku kan sempat beli cangkul besimu, balikin duitku!!”
“Li Hanqiang, balikin uangku!”
...
Awalnya masih sopan, tapi karena Li Hanqiang tak kunjung muncul, kata-kata kasar pun bermunculan.
Entah kenapa, Li Hanqiang tetap tak membalas...
Kata-kata jahat pun mengutuknya habis-habisan.
Melihat orang-orang mulai menyorot nama-nama di peringkat yang tak anonim, Qiao Shan merasa bersyukur memilih nama samaran.
Dari perilaku mereka, ada yang memilih merespons, ada yang cuek saja!
Kerumunan itu seperti gerombolan perusuh dunia maya, saling serang di grup Obrolan.
Kisruh luar biasa.
Yang lain hanya bisa menjauh.
...
Terhadap perilaku mereka, Qiao Shan tidak menghakimi.
Yang penting menjaga diri sendiri.
Entah mereka begitu karena tekanan dunia gelap ini, atau memang wataknya buruk.
Tak ada urusan dengan Qiao Shan.
Selama tidak menyeret dirinya, tak masalah...
Melihat peringkat 78 yang tak anonim, tampaknya seorang pemain perempuan, akhirnya menangis di Obrolan karena diperlakukan buruk.
Qiao Shan menghela napas, lalu keluar dari panel Obrolan.
Suasananya terlalu penuh kemarahan, nanti saja kembali!
Tak mau cari masalah!
.....
PS: Selamat akhir pekan untuk para pembaca yang budiman!