Bab 099: Ingin Pergi ke Istana Agung Langit?
Jangan-jangan kisah ini adalah pengalaman nyata dari Meng You? Meng You melanjutkan ceritanya, “Sang Penggembala Sapi mengikuti saran Sapi Tua, dan benar saja, ia melihat para bidadari sedang bermain air di sungai. Diam-diam ia mengambil pakaian milik bidadari tercantik. Setelah mandi dan hendak kembali ke kahyangan, si bidadari menyadari pakaiannya hilang, sehingga ia tak punya pilihan selain tetap tinggal dan akhirnya bersama dengan penggembala itu…”
Sembari bercerita, Meng You memperhatikan reaksi Bidadari Ketujuh. Ia melihat wajah bidadari itu memerah, lalu ia berkata dengan dingin, “Konyol sekali, kalau hanya kehilangan jubah bidadari, apa tidak bisa kembali ke kahyangan? Apakah ilmu dewa hanya lelucon? Kalau aku yang mengalaminya, sudah pasti orang itu akan kubunuh, lalu kurebut kembali jubahku…”
Mendengar itu, Meng You dalam hati menghela napas. Untung saja ia tidak mengikuti saran Sapi Tua untuk mencuri jubah bidadari, kalau tidak, mungkin jasadnya sudah terkapar di padang liar. Benar saja, legenda rakyat itu kebanyakan hanya karangan belaka, tak bisa dipercaya!
Walaupun Bidadari Ketujuh bicara dengan penuh keyakinan, ia tetap mengingat-ingat kembali detail cerita barusan. Ia membayangkan, jika itu terjadi padanya—pakaian hilang, hatinya jadi panik, lalu tiba-tiba bertemu lelaki asing, pikirannya menjadi kacau, kekuatan dewanya mendadak lenyap—bisa jadi ia benar-benar tak berdaya dan jatuh ke tangan lelaki itu…
Menyadari hal itu, wajah Bidadari Ketujuh kembali memerah. Untung saja ia sendiri tidak pernah mengalami kejadian memalukan seperti itu.
…
Kawasan Surga Kolam Giok terletak di lapisan langit pertama, sangat jauh dari Istana Langit yang berada di langit ke-33. Apalagi, Bidadari Ketujuh tidak terburu-buru dalam perjalanan, sehingga awan pelangi yang mereka tumpangi baru tiba di langit ke-33 setelah tiga sampai empat hari, di mana tempat itu seluruhnya diselimuti awan keberuntungan.
Aneh, suasananya mirip dengan panggung dalam serial klasik “Perjalanan ke Barat” yang pernah ditonton Meng You… Rupanya para sineas generasi tua punya imajinasi yang sangat kaya!
…
“Langit ke-33 ini sangat luas. Para dewata dari Istana Langit menguasai sebagian besar wilayah, tetapi di luar pengaruh mereka masih banyak daerah tak bertuan, dihuni oleh para dewa pengembara, siluman dewata, binatang suci, bahkan siluman iblis…”
“Seringkali Istana Langit mengirim dewa-dewi untuk membersihkan kejahatan di langit ke-33, tapi tetap saja ada yang terlewat. Dan yang tersisa biasanya adalah makhluk-makhluk yang sangat sulit ditaklukkan. Jadi, kalau nanti kau berjalan-jalan di langit ke-33, kau harus berhati-hati…”
Tanpa sadar, Bidadari Ketujuh mulai menjelaskan pada Meng You, namun ia segera menyadari, Meng You adalah reinkarnasi Dewa Emas, mana mungkin tidak tahu hal-hal dasar seperti itu?
Kalau bicara terlalu banyak, malah bisa jadi bahan ejekan! Pikirnya sedikit gugup.
Sambil berpikir begitu, Bidadari Ketujuh diam-diam melirik Meng You untuk mengamati reaksinya. Meng You tampak kebingungan, “Kenapa tiba-tiba berhenti bicara? Lanjutkanlah ceritanya! Aku kan baru pertama kali datang ke sini, banyak hal yang belum kuketahui!”
Bidadari Ketujuh sempat tercengang, dalam hati ia menggerutu, “Orang ini pasti sedang pura-pura bodoh! Dia pasti ingin melihat aku salah bicara, dasar menyebalkan!”
“Tidak usah! Kau lihat saja sendiri,” jawab Bidadari Ketujuh dengan bibir sedikit cemberut, tampak kesal.
Eh? Apa salahku lagi ya? Meng You benar-benar heran. Apa mungkin dia sedang kedatangan tamu bulanan? Tapi, aku juga tidak tahu, apakah siklus tamu bulanan para bidadari itu sama seperti wanita di dunia fana? Wah, topik ini menarik untuk diteliti. Mungkin bisa dijadikan bahan penelitian ilmiah…
Eh, melantur lagi. Meng You segera mengalihkan perhatian, mulai mengamati suasana langit ke-33.
Karena dalam benaknya tertanam perintah “menyelidiki”, kekuatan batinnya yang luar biasa pun otomatis menyebar ke segala penjuru. Dalam sekejap, seluruh langit ke-33 terselimuti oleh kekuatan batinnya yang tak kasat mata…
Detik berikutnya, berbagai informasi tentang cuaca dan geografi langit ke-33, percakapan batin para dewa di ruang hampa, juga letak berbagai formasi dan penghalang magis, semuanya membanjiri benaknya. Ia pun sempat kehilangan akal.
Ibarat komputer yang mendadak hang, kekuatan batin Meng You yang tertekan tak sanggup memproses arus data sebesar itu, pikirannya pun langsung macet.
Butuh waktu lama hingga akhirnya Meng You bisa bernapas lega, “Astaga, hampir saja aku mati ketakutan. Langit ke-33 ini sungguh luas!”
“Apa yang terjadi padamu?” tanya Bidadari Ketujuh heran.
“Tidak apa-apa, cuma iseng jalan-jalan dengan kekuatan batin saja,” jawab Meng You santai.
Bidadari Ketujuh mengangguk pelan. Dalam hati ia berkata, “Tahu kan, tadi kau bilang tidak kenal langit ke-33 pasti cuma pura-pura. Ternyata kau ketahuan juga! Sudah bisa keliling-keliling dengan kekuatan batin, masih bilang tak paham?”
Tanpa diketahui Meng You, aksinya yang baru saja menyelimuti langit ke-33 dengan kekuatan batinnya telah menarik perhatian banyak tokoh penting.
…
Istana Prabu Dewa.
Sang Prabu Dewa yang sedang membelai Sapi Biru kesayangannya, tiba-tiba mengelus jenggot panjangnya dan tertawa kecil, “Siapa lagi ini murid baru yang datang? Sifatnya keras juga, baru tiba di Istana Langit sudah langsung unjuk gigi pada kami para tua bangka. Untung aku orangnya sabar, anggap saja tidak tahu saja!”
…
Istana Langit, Balairung Kemuliaan.
Sang Maharaja Langit, mengenakan busana kebesaran emas dan mahkota tinggi, sedang menerima para dewa bawahannya, tiba-tiba mengernyitkan dahi.
“Siapakah pemilik kekuatan batin ini? Tiba-tiba saja muncul seorang makhluk sakti hampir setara dewa suci di dunia, sungguh langka! Apa maksud kedatangannya ke langit ke-33 ini?”
…
Selain Sang Prabu Dewa dan Maharaja Langit, beberapa kekuatan batin kuat dari tempat tersembunyi juga sempat saling berkomunikasi singkat, memastikan bahwa tidak ada kejadian besar yang mencurigakan. Setelah yakin semuanya aman, mereka pun kembali tenang.
…
“Kita mau ke mana sekarang? Ke Balairung Kemuliaan, atau ke pasar dewa?” tanya Meng You santai.
Menurutnya, Bidadari Ketujuh adalah putri Maharaja Langit, dan sudah susah payah datang ke langit ke-33, jadi sebaiknya menghadap ayahnya dulu. Kalau Bidadari Ketujuh ingin menemui Maharaja Langit, ia tinggal menunggu sebentar.
“Ke Balairung Kemuliaan? Memangnya ada urusan apa yang harus kau selesaikan di sana?” tanya Bidadari Ketujuh heran.
“Tidak ada urusan apa-apa, aku hanya tanya, apakah kau ingin bertemu ayahmu?” jawab Meng You santai.
“Oh… dia… dia sangat sibuk…” nada suara Bidadari Ketujuh terdengar gugup, jelas ia enggan membicarakan topik itu. “Kita pergi ke pasar dewa saja.”