Bab 139: Pengepungan (Bab Tambahan untuk 700 Langganan)
"Kira-kira cuma kamu saja yang bisa terbang?"
Setelah melesatkan Panah Hitam Kematian, Li Yao seketika memanggil Elang Api. Begitu muncul, burung gagah itu langsung menerkam ke arah Singa Gryphon yang sedang meluncur ke hadapan mereka.
Meskipun belum mengetahui atribut sang Elang Api, dalam dunia para Dewa Kuno, penampilan luar pada umumnya berbanding lurus dengan kekuatan. Ia langsung menarik kesimpulan bahwa dirinya hampir mustahil untuk bisa menandingi Elang Api tersebut.
Kendati demikian, kecepatan Elang Api pada dasarnya memang luar biasa, ditambah lagi kedua makhluk itu terbang saling mendekat dari arah berlawanan. Kini, sudah terlambat bagi Singa Gryphon itu jika ingin berbalik arah.
Penindasan dari sesama makhluk tingkat pemimpin terhadap monster tingkat elit sangatlah fatal, terlebih lagi lawan yang dihadapinya bukanlah sekadar monster elit biasa.
Bagai elang menyergap kelinci!
Saat Singa Gryphon berniat kembali ke sisi tuannya untuk mencari bala bantuan, Elang Api menubruk turun bagaikan sambaran petir.
*Sret...*
-785
Hujan darah seketika memercik ke udara. Serangan Elang Api bahkan jauh lebih ganas daripada Li Yao. Sisa poin kesehatan dan pertahanan druid Meng Xin tidak begitu menonjol, sehingga ia langsung tewas seketika hanya dalam satu serangan.
Aula pertandingan kembali meledak riuh. Pekikan terkejut dan sorak-sorai penonton bergelombang susul-menyusul.
Jika sebelumnya orang-orang hanya menyaksikan teknik Li Yao yang mendominasi, maka kali ini yang mereka lihat adalah dominasi dari kekuatan mutlak.
Tak seorang pun menyangka Elang Api ini akan begitu buas dengan daya serang yang sungguh di luar nalar. Makhluk itu mampu merobek seorang pemain elit menjadi dua bagian hidup-hidup—sungguh tajam sekaligus kejam.
"Ini adalah peliharaan tingkat pemimpin," seru Xiao Ze takjub.
"Sialan, hanya berbekal peliharaan ini saja dia sudah layak dikukuhkan sebagai pemain elit. Kenapa pula kemampuan teknisnya masih sebagus itu? Mau ditaruh di mana muka para pemain lain," ucap KB dengan nada agak tertekan.
...
"Cepat, berpencar! Kemampuan serangan area peliharaan ini sangat berbahaya."
Mendengar perintah Kota Sepi, kedelapan pemain yang tersisa mulai berhamburan mengambil jarak. Mengingat kembali video yang pernah ia tonton sebelumnya, ingatan pria itu langsung tertuju pada sang Elang Api.
"Riwayatmu juga sampai di sini saja," ucap Kota Sepi dingin sambil menyeka cipratan darah yang mengotori tubuhnya.
"Benarkah? Kalau begitu, coba kalian lihat apa yang ada di belakang kalian."
"Apakah kamu berniat menggunakan—" Ucapan Kota Sepi terpotong saat ia mendengar jeritan ngeri sang pendeta.
Beberapa pemain yang tadinya mengabaikan Li Yao di kejauhan sontak menoleh ke belakang. Di sana, mereka melihat kaki sang pendeta sedang dililit oleh seekor ular logam.
Sementara itu, sesosok kerangka yang memegang sebuah menara perisai besar dari tulang menghantamkan perisai raksasa tersebut tepat ke wajah sang pendeta.
Jeritan ngeri pendeta itu pecah pada detik itu juga, bahkan melafalkan mantra pun ia tak sempat. Tubuhnya terpental jauh akibat hantaman menara perisai tulang yang masif tersebut.
-215
Poin kesehatan sang pendeta langsung menyusut separuh dalam sekejap. Namun, sebelum rekan-rekan setimnya sempat bereaksi, sesosok Domba Bom Bunuh Diri melesat keluar dari balik semak-semak dan menabrak tubuh sang pendeta hingga meledak.
-285
Bahkan tanpa sempat mengeluarkan skill elit miliknya, pendeta itu langsung tumbang seketika.
Tujuh pemain yang tersisa tertegun dungu. Situasi macam apa ini? Sosok berpostur kekar pembawa perisai besar itu memang berwujud kerangka, tetapi bentuk tubuh serta perisainya terasa begitu familiar.
*Plak...*
Tak lama kemudian, mereka mendengar suara seperti kantung air yang meledak. Saat mengalihkan pandangan, mereka melihat tubuh Elf Kuno yang terkapar di tanah tiba-tiba hancur berkeping-keping di tengah cipratan darah.
Sesosok kerangka baru bangkit berdiri dari sana. Namun, keterkejutan mereka belum usai ketika melihat tubuh kerangka tersebut mengalami perubahan bentuk dan bermutasi menjadi seekor Singa Gryphon Kerangka.
Nyawa jiwa berwarna perak yang menyala di mata Singa Gryphon Kerangka itu tampak begitu menyilaukan mata.
Elit Perak!
Siapa yang bisa menjelaskan kepadaku apa sebenarnya yang sedang terjadi di sini?
Para pemain yang tersisa semakin kebingungan. Seluruh penonton di arena turut terpaku bisu, begitu pula kedua komentator dan sang pembawa acara. Tak seorang pun mengerti apa yang sedang berlangsung.
Layar utama menampilkan beberapa patah kata penjelasan.
Penjuru Bayangan!
Sejak zaman purba hingga kini, kaum Elf Tinggi selalu memiliki para penjuru yang bertindak sebagai kekuatan militer utama dalam melindungi Kerajaan Elf Tinggi.
Pemimpin yang menaungi para penjuru tersebut adalah Jenderal Penjuru, yang menjabat sebagai perwira militer tertinggi di Kerajaan Elf Tinggi.
Sang Ratu Mayat Hidup pada masa hidupnya pernah menjabat sebagai Jenderal Penjuru Elf Tinggi. Dalam pertempuran mempertahankan ibu kota, ia dibunuh oleh seorang tokoh kuat menggunakan artefak sihir hingga berubah wujud menjadi sesosok banshee.
Kelak, berkat tekadnya yang baja, sang Ratu tidak hanya berhasil melepaskan diri dari kendali Raja Lich, tetapi juga memimpin gerombolan besar mayat hidup untuk mendapatkan kembali kebebasan mereka.
Ketika jiwa telah menyatu kembali dengan raga, sang Ratu Mayat Hidup turut membangkitkan kekuatan kegelapan dan dinobatkan sebagai Raja Penjuru Bayangan. Para bawahannya yang gugur bersama dalam pertempuran kala itu, serta para bawahan yang masih hidup dan bersumpah setia mengikutinya, mewarisi kekuatan untuk memadukan maut dan kegelapan ke dalam panah mereka. Orang-orang inilah yang kemudian dikenal sebagai Penjuru Bayangan.
Meski masih belum ada rincian sifat maupun skill yang dipaparkan, sudah sangat jelas bahwa Li Yao telah mewarisi garis keturunan Penjuru Bayangan.
Latar belakang Penjuru Bayangan saja sudah begitu mencengangkan karena diturunkan langsung dari sang Ratu Mayat Hidup. Mengingat kembali bagaimana Li Yao sempat berada di sisi sang Ratu pada awal kemunculannya, orang-orang seketika menjadi paham.
Bahkan orang awam yang tidak bermain gim pun akan merasa sangat iri, apalagi para pemain yang mendedikasikan diri mereka untuk gim ini dan sangat memahaminya—mereka jauh lebih tahu betapa besar keuntungan menjalin hubungan baik dengan seorang NPC yang begitu kuat.
"Ada yang tidak beres."
"Ada yang aneh."
Xiao Ze dan KB bersuara secara bersamaan.
Xiao Ze menarik napas dalam-dalam lalu berkata, "Bukankah kelas elitnya seharusnya adalah Pemburu Mekanik? Kenapa tiba-tiba berubah menjadi Penjuru Bayangan?"
KB mengerutkan kening dan berujar, "Mungkinkah dia mengambil dua kelas elit sekaligus?"
Xiao Ze menggelengkan kepalanya dan menjawab dengan nada pasti, "Hal itu mustahil. Satu-satunya kemungkinan adalah, kelas Pemburu Mekanik sebenarnya bukanlah kelas elit."
"Jangan-jangan ini berkaitan dengan suatu item khusus? Tapi, bagaimana cara dia menjinakkan hewan peliharaan mekanik itu?" Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan di benak mereka, namun tak satupun dari teka-teki itu yang membuahkan jawaban.
Sementara itu, para penonton biasa dan pemain umum tidak ambil pusing memikirkan hal tersebut. Yang lebih mereka pedulikan adalah bagaimana cara Li Yao memecahkan situasi pelik di hadapannya, sebab jika dianalisis dari konstelasi pertempuran, Li Yao masih berada di pihak yang dirugikan.
Meskipun kedua monster Elit Perak itu sangat tangguh, mereka tetap bisa dililit oleh para pemain elit, menyisakan empat orang pemain lain yang leluasa untuk membereskan Li Yao.
Walau belum mengetahui efek pastinya, para pemain elit tersebut sangat paham bahwa begitu Li Yao tewas, baik hewan peliharaan maupun kerangka yang ia panggil akan serta-merta lenyap.
"Akting kalian lumayan juga," ucap Li Yao datar sambil menatap ke arah Kota Sepi. "Sengaja berhenti untuk mengecohku, padahal sebenarnya pencuri itu sudah menyusup ke sini, ya."
Li Yao seketika mengaktifkan Arus Arcane.
*Plak...*
Sebuah gelombang kejut energi arcane melesat keluar berporos pada diri Li Yao. Sesosok pencuri yang sedang mengendap-endap tampak tertegun menatap Li Yao dari jarak dekat.
Namun, ia langsung tersadar pada detik berikutnya.
Lenyap! Pencuri itu seketika melepaskan diri dari status pertempuran, lalu berguling sambil kembali memasuki mode menyusup.
"Tahan dia, kami akan segera tiba!"
Usai mengeluarkan perintah, Kota Sepi berubah wujud menjadi seekor serigala raksasa. Sambil melenguh buas dengan tubuh diselimuti cahaya merah, ia menerjang ke arah Li Yao.
Seorang pemain warlock memanggil sesosok iblis untuk mencegat kerangka pembawa perisai, sementara ia sendiri terus-menerus menembakkan Panah Bayangan dari lini belakang.
Seorang Kesatria Kematian memanggil sesosok ghoul untuk memancing perhatian Singa Gryphon Kerangka.
Di saat yang sama, seorang summoner mulai merapal mantra untuk memanggil para peri elemen secara berturut-turut guna menghadang laju Elang Api.
Tiga pemain tersisa tetap meluncur menyerang Li Yao.
Li Yao dengan sigap menancapkan tiga buah menara panah di sekelilingnya, disusul dengan memasang Domba Bom Bunuh Diri dan berbagai perangkap.
"Kali ini kamu pasti mati."
Pencuri itu seolah melihat secercah harapan untuk menghabisi Li Yao.
Langkah Bayangan!
Pencuri itu tiba-tiba sudah berada tepat di punggung Li Yao dalam sekejap mata.
Sergapan!
Sergapan tersebut berhasil telak, membuat Li Yao jatuh ke dalam status pingsan selama tiga detik.
"Serang!"
Secercah kegembiraan terpancar di mata sang pencuri. Belati di genggamannya berkilau dingin, bersiap melancarkan serangan Tusukan Punggung dilanjutkan dengan Gorok Leher untuk menghabisi Li Yao seketika dalam satu kombo.
Para penonton sontak menjerit kaget, tanpa sadar memposisikan diri mereka sebagai Li Yao. Banyak di antara mereka yang tidak habis pikir, situasi yang tadinya tampak baik-baik saja tiba-tiba berubah menjadi jurang keputusasaan dalam sekejap.
"Selesai sudah." KB tampak sedikit kecewa, namun di sisi lain ia juga terlihat seolah baru saja menarik napas lega. "Legenda ini akhirnya harus berakhir..."
(Bersambung.)