Bab 23: Penularan Mematikan (8)
Dua pesan pribadi lainnya juga menanyakan hal yang sama, yakni meminta obat. Memang dia punya obat itu. Tapi jika dia memberikannya, bukankah akan ada lebih banyak orang yang datang bertanya? Bukankah itu sama saja menunjukkan bahwa dia menyimpan banyak barang berharga? Jika nanti semua orang datang untuk membeli atau meminta, memaksanya secara moral, bahkan sampai melakukan hal yang membahayakan dirinya, bagaimana? Prinsip Chu Yi’an adalah boleh menolong orang, tapi tidak dengan mengorbankan keselamatan sendiri. Dia berpikir sebentar, lalu menolak permintaan mereka.
“Maaf, waktu itu aku juga tidak sempat membeli obat. Apa di rumahmu masih ada cairan disinfektan? Di rumahku sudah hampir habis, dan drone hanya bisa terbang beberapa kali saja.”
Setelah mengirim pesan itu, dua orang tidak membalas sama sekali, sedangkan satu orang lagi membalas dengan kata-kata yang sangat kasar, melampiaskan emosi kepada orang asing yang bahkan belum pernah ditemuinya.
Hal ini semakin meyakinkan Chu Yi’an bahwa keputusannya tadi sudah benar.
Ketika ia hendak meletakkan ponsel, tiba-tiba muncul lagi permintaan pertemanan. Awalnya Chu Yi’an tidak berniat menerima, tapi saat melihat isi pesannya bertuliskan “Sebrang, Lu”, ia pun langsung menyadari—Lu Qingyuan?
Secara refleks ia menoleh ke pintu rumahnya yang terkunci rapat, lalu segera menyetujui permintaan itu.
Tak lama kemudian, orang di seberang langsung mengirim pesan, “Jangan keluarkan drone, itu akan membuatmu terlalu mencolok.”
Chu Yi’an sempat tertegun membaca pesan itu. Apakah dia sedang mengingatkannya?
Tapi memang benar yang dikatakan, sudah ada tiga orang yang datang mencari obat. Dia hanya seorang perempuan, meskipun tidak lemah sama sekali, tetap saja tak sekuat pria dewasa. Ditambah lagi ia menyimpan banyak persediaan, jika sampai ketahuan, entah berapa banyak orang yang akan iri.
Saat nyawa sudah tak dapat dijaga, orang-orang pun tak lagi peduli pada aturan. Orang yang sedetik lalu memohon dengan penuh belas kasihan, mungkin sedetik berikutnya akan segera bertindak nekat.
Menyadari itu, Chu Yi’an bersyukur bahwa ia tidak mengatakan ia punya obat tadi.
“Terima kasih,” balasnya singkat.
“Ya,” balas orang di seberang, tetap dingin seperti biasa. Namun hubungan mereka seolah mulai mencair sedikit. Makan siang yang ia kirim beberapa hari lalu ternyata tidak sia-sia.
Sore harinya,
Tiba-tiba Chu Yi’an mendengar suara erangan pilu dari gedung seberang, disusul isak tangis yang menyayat hati. Ada yang meninggal.
Salah satu keluarga di seberang.
Suasana kompleks perumahan yang sudah menekan kini semakin kelam, udara dipenuhi kesedihan, keputusasaan, dan juga virus. Namun ini baru permulaan. Seperti yang ia lihat di video kemarin, orang yang terinfeksi, tanpa obat, paling lama hanya bisa bertahan sampai hari kelima. Banyak keluarga di kompleks yang sudah terinfeksi beberapa hari lalu, malam itu saja tiga sampai empat orang meninggal.
Namun tak satu pun mobil pengangkut jenazah yang datang. Sejak mobil kecil menabrak pohon kemarin, tidak ada lagi kendaraan yang mengambil jenazah. Mayat pun terpaksa dibiarkan di rumah.
Musim panas yang panas, ditambah lendir dari tubuh jenazah, membuat pembusukan berlangsung sangat cepat. Bau busuk jasad memenuhi rumah, keluarga yang tinggal bersama korban bahkan tak sempat bersedih, yang ada hanya keputusasaan.
Karena mereka juga sudah terinfeksi.
Beberapa keluarga yang kemarin nekat keluar rumah tidak ada yang kembali, informasi yang beredar di ponsel simpang siur, sulit dibedakan mana yang benar. Warga di kompleks semakin panik, terutama yang keluarganya sakit atau mereka sendiri terinfeksi, tak bisa lagi diam menunggu ajal. Daripada menunggu mati di rumah, lebih baik coba peruntungan di luar.
Mereka seperti binatang yang telah lama terkurung, mengendarai mobil, meraung-raung menembus kegelapan malam keluar dari kompleks. Jika sebelumnya pintu gerbang masih dijaga, kali ini setelah didobrak, tak ada seorang pun yang datang menghalangi.
Pintu gerbang yang didobrak itu pun bergoyang diterpa angin sepanjang malam.
Hari kedelapan
Ada lagi yang pergi keluar.
Namun, orang-orang yang pergi pagi itu sudah kembali pada siang hari. Chu Yi’an melihat dari lantai atas, mereka pulang membawa bungkusan besar, tampaknya berhasil membeli sesuatu di luar. Grup WeChat pun langsung ramai, banyak yang bertanya-tanya.
“Bagaimana situasi di luar?”
“Tetangga yang keluar, tolong ceritakan dong.”
…
Obrolan grup penuh dengan pertanyaan.
“Di jalan tidak banyak orang, semuanya berkumpul di supermarket, mall, atau apotek.”
“Obat sama sekali tidak ada yang bisa dibeli, makanan juga sangat susah didapat. Kami sudah cukup lama di luar, hanya bisa membawa pulang sedikit saja, harganya sangat mahal, sepuluh sampai dua puluh kali lipat dari biasanya…”
“Di luar sangat kacau, kalau mau keluar sebaiknya jangan sendirian, harus ramai-ramai.”
Kabar bahwa masih bisa membeli barang di luar memberi secercah harapan bagi warga yang cemas. Sore itu makin banyak orang yang keluar bersama, baru malam hari mereka kembali. Kali ini, cukup banyak yang membawa barang, dan grup pun ramai membicarakan rencana keluar besok.
Hari kesembilan
Ada lagi yang pergi keluar dari kompleks.
Kali ini rombongan lebih besar dari sebelumnya, menandakan semakin banyak yang mencari barang di luar. Namun, ketika semua orang, termasuk Chu Yi’an, mengira akan semakin banyak yang keluar, ternyata sore itu jumlah orang yang berani pergi menurun drastis.
Sebab, orang-orang yang keluar kemarin ternyata terinfeksi penyakit menular.
Kemarin masih bersuka cita, hari ini sudah berduka. Makanan memang masih bisa dibeli di luar, tapi obat, sama sekali tak terlihat. Ada keluarga yang masih bisa bertahan dua minggu hanya dengan makan nasi, tapi kalau sudah terinfeksi penyakit ini, tanpa obat, tak akan bertahan lima hari.
Orang-orang yang kemarin masih membicarakan belanja di luar, hari ini sudah keliling grup bertanya siapa yang punya obat penurun panas. Chu Yi’an kembali ditanya lewat WeChat apakah dia punya obat, tapi saat ini ia hanya bisa menjawab maaf.
Keluar sekali saja sudah bisa terinfeksi, menandakan betapa ganasnya virus ini.
Obat yang dimilikinya harus ia simpan untuk berjaga-jaga jika dirinya sendiri tertular. Semakin terasa betapa berharganya obat-obatan itu, Chu Yi’an akhirnya memutuskan semua obat penurun panas harus dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan khusus.
Di saat yang sama, melihat persediaan makanannya yang semakin menipis, ia kembali menghitung dengan teliti.
Beras: awalnya 10 kilogram, kini sisa sekitar 6 kilogram;
Mie: dari 2,5 kilogram, masih ada dua bungkus besar;
Buah: 5 apel, 3 pir, 6 jeruk;
Sayur: 2 kilogram kentang (8 buah), 0,5 kilogram kacang polong, 1 buah labu musim dingin (1 kilogram), 1 bungkus jamur kuping kering (200 gram), 1 bungkus jamur shitake kering (250 gram), 4 buah paprika;
Daging: 0,5 kilogram daging sapi, 2 kilogram daging babi, 1,5 kilogram paha ayam (3 potong), 0,25 kilogram udang kupas;
Sayur awetan: 4 botol;
Camilan: …sudah habis dimakan!
Chu Yi’an menyusun rencana dengan saksama. Jika tetap menyisihkan satu porsi makan siang untuk tetangga seberang, bahan-bahan itu masih cukup untuk sepuluh hari lebih. Apalagi makanan pokok seperti mie dan nasi sangat mengenyangkan.
Selain itu, ia juga menyimpan mie instan, nasi instan, makanan kaleng, cokelat, dan biskuit kompresi. Persediaan ini disimpan khusus untuk bekal ketika nanti harus mencari obat mujarab.
Setelah mengecek ulang semua persediaan, ia yakin tak akan kelaparan.
Bukan hanya tidak akan kelaparan, ia bahkan menemukan satu kantong besar jeroan sapi, kerongkongan sapi, daging sapi iris, dan sosis beku di sudut kulkas—stok yang dulu dibeli untuk makan steamboat, tapi setelah melihat ada orang muntah di restoran, ia jadi kehilangan selera dan akhirnya dibiarkan begitu saja di sana.