Bab 001 Sumber Rasa Sakit Adalah Penyesalan
Tiga keberuntungan pria paruh baya: naik jabatan, kaya raya, dan ditinggal mati istri.
Han Ning adalah pria itu, sementara Meng Shulan adalah istri yang dikhianati hingga tewas tersebut.
Tahun saat vonis kanker dijatuhkan, hidup Meng Shulan sudah dipastikan tak akan lama. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa dirinya tidak akan mati karena penyakit, melainkan dibekap dengan bantal oleh Han Ning hingga tewas.
Di saat-saat terakhir, pria itu masih berucap, "Shulan, aku salah. Kita tidak jadi bercerai ya, sampai mati pun jangan bercerai..."
Meng Shulan tidak habis pikir. Pria itu berselingkuh selama bertahun-tahun, bahkan membawa selingkuhannya bermesraan tepat di samping ranjang rumah sakitnya. Ia hanya ingin bercerai, mengapa pria itu sampai tega membunuhnya?
Sesuatu berkelebat di benak Meng Shulan, ia merasa seolah dirinya telah ditipu mentah-mentah.
Segala kenangan masa lalu muncul bak tayangan slide tua yang penuh bintik-bintik. Meng Shulan ingin menyingkap kabut ini untuk mencari kebenaran nasibnya.
Namun, itu terlalu sulit. Rasa sesak seperti tenggelam menyapu pikirannya. Nyeri di tubuhnya, keputusasaan sepanjang hidupnya, kenangan yang terasa seperti bilah pisau yang menyayat sarafnya—semuanya begitu menyakitkan.
Seseorang pernah berkata padanya bahwa penderitaan berakar dari penyesalan.
Meng Shulan berpikir, rupanya ia benar-benar menyesal!
Sebenarnya, pria yang ia sukai dari lubuk hati terdalam saat itu bukanlah dia. Hanya saja, Han Ning pandai bersandiwara, mulutnya penuh dengan kepalsuan, dan ia tahu betul cara memanipulasi orang. Begitu saja, Shulan terperangkap dalam tipu dayanya.
Di zaman itu, para gadis berpikiran konservatif. Menjalin hubungan selalu bertujuan untuk menikah. Kedua pihak merasa cocok dan tidak ada masalah prinsipil, maka terjadilah pernikahan itu.
Hari pernikahan, kakaknya bertanya secara pribadi, "Ini hari bahagia, kenapa kau tidak terlihat senang?"
Meng Shulan tidak tahu harus berkata apa, ia hanya merasa ada sesuatu yang ganjil di hatinya.
Kakaknya menasihati, "Perasaan itu perlu timbal balik. Han Ning orangnya baik, dia sangat perhatian padamu. Tersenyumlah, hari-hari ke depan tidak akan terlalu buruk."
Meng Shulan menuruti nasihat itu. Bagaimanapun, pernikahan sudah terjadi, jalani saja hidup dengan baik.
Selama bertahun-tahun, ia telah melakukan semua kewajibannya. Benih cinta pun tumbuh. Tepat saat ia mulai merasa bahwa Han Ning sebenarnya cukup baik, realitas menghantamnya dengan kejam ke gerbang neraka.
Ternyata, perasaan bisa dipalsukan, dan nasib bisa mempermainkan manusia.
Han Ning, saat menikahinya, ternyata sudah memiliki wanita lain di luar sana.
Bagaimana bisa ada manusia yang begitu tidak tahu malu!
Meng Shulan tidak mengerti, dan ia pun tidak ingin memikirkannya lagi. Cahaya di matanya meredup, pupilnya melebar, dan otaknya terasa kosong.
Ia tahu dirinya akan mati.
Saat segalanya kembali menjadi debu, Meng Shulan tidak pergi ke surga atau neraka seperti yang dibayangkannya. Sebaliknya, ia merasakan kehangatan dan aroma pangsit.
"Pangsit?"
"Benar, isinya daging babi. Shulan, cobalah satu."
Sesuatu disodorkan ke bibirnya.
Saat itu juga, pikiran Meng Shulan yang tadi tercerai-berai kembali menyatu layaknya berkas cahaya. Cahaya itu melintasi matanya, segala sesuatu di sekitarnya perlahan menjadi jelas. Ia melihat wajah munafik itu, wajah yang membuatnya jijik.
Namun, mengapa wajah ini tampak lebih muda?
Tampan, lugu, dengan kacamata berbingkai hitam di batang hidungnya, dan gaya rambut pendek yang rapi. Ini bukan Han Ning di usia tiga puluh empat tahun, ini adalah Han Ning di usia delapan belas atau sembilan belas tahun.
Meng Shulan mengerutkan kening, hatinya terguncang.
Apa-apaan ini, apakah dia sudah gila?
Namun, ketika tawa dan celoteh terdengar, ia menoleh ke sekeliling dengan bingung. Ia baru menyadari bahwa dirinya sedang duduk di sebuah ruang kelas tua.
Ini adalah bangunan bergaya Soviet yang dibangun pada tahun lima puluhan, gedung dua lantai dari beton bata dengan dinding yang dilapisi kapur putih.
Melihat potret tokoh besar yang tergantung di dinding serta slogan-slogan khas zaman itu, beberapa pemikiran aneh dan absurd muncul di benak Meng Shulan.
Apakah dia kembali?
Ini adalah ruang kelas tempatnya mengulang pelajaran dulu. Saat ini adalah musim gugur tahun 1980.
Setelah menyimpulkan hal itu, Meng Shulan berdiri dengan tiba-tiba.
Gerakannya terlalu kasar, kursi di belakangnya terjatuh dengan suara dentuman keras, dan pinggangnya membentur sudut meja hingga terasa nyeri.
Namun, semakin sakit, Meng Shulan justru semakin senang.
Ia kembali, ia benar-benar kembali!
Ternyata kematian bukanlah akhir, melainkan kelahiran kembali.
Saat itu, sebuah suara tiba-tiba terdengar di telinganya.
"Shulan, ada apa?"
Meng Shulan mendongak.
Di sampingnya, Han Ning menatapnya dengan cemas. Ruang kelas yang tadinya ramai kini menjadi sunyi. Semua orang di kelas, wajah-wajah yang familiar namun terasa asing itu, menatap ke arahnya dengan pandangan mengejek dan bingung.
Hati Meng Shulan bergetar. Ia membongkar ingatan yang sudah lama terkubur dan akhirnya memahami situasi saat ini.
Hari inilah saat Han Ning membawakannya sekotak pangsit dari kantin, yang secara tidak langsung mengukuhkan hubungan mereka.
Sebenarnya, itu hanya sekotak pangsit, dan setelahnya ia pun sudah mengganti uangnya. Mengapa pada akhirnya hal itu dianggap sebagai persetujuannya untuk menjalin hubungan?
Semua ini karena pria brengsek Han Ning terlalu pandai berhitung. Ia telah menyebarkan rumor tentang mereka berdua sebelumnya, itulah sebabnya orang-orang menonton dan bersorak.
Dan dirinya di kehidupan sebelumnya terlalu lugu, tidak mengerti cara menjelaskan intrik-intrik tersebut, sehingga di mata orang lain hal itu dianggap sebagai persetujuan diam-diam.
Sekarang jika dipikir-pikir, nasib buruknya di kehidupan lalu bukan sepenuhnya karena nasib, melainkan karena kebodohannya di awal.
Meng Shulan menata ingatannya yang sudah jauh berlalu. Keheningannya membuat seisi kelas terjebak dalam kesunyian yang ganjil.
Han Ning melihat tatapan para siswa laki-laki yang tadinya iri kini berubah menjadi tatapan mencemooh. Ia nekat dan menjulurkan tangan untuk menarik lengan Meng Shulan.
Namun, Meng Shulan dengan sigap mengambil buku di atas meja dan menepis tangannya.
"Menjijikkan, kotor! Han Ning, jangan sentuh aku!!!"
Setiap kata yang diucapkan Meng Shulan penuh penekanan. Matanya sedingin es, dan setiap kali ia menyelesaikan satu kata, rahangnya terkatup rapat—itu adalah usahanya menahan amarah yang meluap.
Kematian dan kelahiran kembali. Dua menit yang lalu, pria ini baru saja membekapnya dengan bantal. Siapa yang tidak akan benci dan marah?
Jika bukan karena zaman damai dan masyarakat yang berlandaskan hukum, Meng Shulan tidak bisa menjamin apa yang akan ia lakukan.
Tatapan matanya begitu dingin, bahkan samar-samar memancarkan niat membunuh.
Han Ning tertegun, berdiri mematung dengan canggung.
Ruang kelas itu begitu sunyi hingga suara jarum jatuh pun terdengar. Orang-orang bahkan menahan napas, merasa ada seutas benang tak kasat mata yang menegang di udara, siap putus jika tersentuh.
Tiba-tiba, sesosok gadis berbaju merah muda berdiri, menunjuk Meng Shulan dengan nada tidak puas.
"Shulan, bagaimana bisa kau memperlakukan Han Ning seperti itu? Kau tahu berapa banyak kata manis yang dia ucapkan kepada koki kantin demi seporsi pangsit ini? Jika kau tidak menginginkannya, berikan saja padaku. Kenapa harus membuat Han Ning begitu malu?"
Gadis remaja itu sengaja melengkingkan suaranya, suara yang mirip penggoda, manja dan lembut, sungguh menjengkelkan.
Meng Shulan mengerutkan kening, menoleh ke samping, dan pandangannya terhenti.
Tadi ia terlalu sibuk dengan si pria brengsek sampai lupa pada si pelakor ini.
Meng Shulan tertawa kecil, menatapnya dengan penuh penghinaan, seolah sedang melihat badut yang menyedihkan. "Ye Ran, tentu saja kau menginginkannya. Lagipula, pangsit ini sebenarnya dibeli oleh kakakmu khusus untukmu, hanya saja kau memberikannya kepada Han Ning, dan Han Ning membawanya ke hadapanku."