Bab 43: Ditinggalkan oleh Dunia
Fei Luo mengerutkan kening dan membantah.
“Jangan sembarangan menjelekkan aku. Aku bersih, suci, dan menjaga diri layaknya batu permata.”
—Apa-apaan sih istilah aneh itu.
Pemuda itu merasa kehabisan kata-kata, namun tetap saja menatapnya dengan tidak percaya.
“Jangan bilang kau sampai sekarang belum pernah punya pacar satu pun?”
Fei Luo mengangguk di bawah tatapan tak percaya pemuda itu, yang justru membuatnya semakin terkejut.
“Serius? Mana mungkin...”
Dari segala sisi, itu rasanya tidak mungkin.
“Perempuan yang menyukaimu banyak sekali, mana mungkin kau belum pernah punya pacar?”
“Kau sendiri yang bilang ‘banyak yang menyukaiku’, bukannya ‘aku menyukai banyak orang’. Apa karena mereka suka padaku, aku harus setuju pacaran dengan mereka?”
—Perkataanmu ada benarnya juga...
“Tapi bukankah sebelumnya kau lama tinggal di luar negeri? Bukankah orang asing itu rata-rata lebih terbuka dan dewasa lebih cepat?”
“Tapi aku orang Tiongkok.”
—Eh? Benar juga, ya.
“Tapi...”
Namun, dia tetap saja sulit percaya.
Melihat bocah itu masih belum puas dengan jawabannya, Fei Luo pun berkata,
“Kau hanya menyorot aku saja, lalu kau sendiri? Yang menyukaimu lebih banyak, tapi kau juga belum pernah menjalin hubungan.”
“Mana kau tahu aku belum pernah?”
Fei Luo menaikkan sebelah alis.
“Kau pernah?”
“Belum.”
—Tentu saja tidak mungkin pernah, karena semuanya sudah ia selidiki dengan jelas, dan dibereskan sampai bersih.
“Jadi, kita ini sama saja.”
Quan Haoyan berpikir sejenak, mendadak tak bisa menemukan argumen untuk membantah.
“Siapa yang sama denganmu? Aku tidak pacaran karena menjaga diri untuk orang yang kusukai!”
—Lagi-lagi ‘orang yang kusukai’!
“Apa kau tahu aku juga bukan begitu?”
Bocah itu tiba-tiba teringat.
“Oh iya, kau memang pernah bilang kau punya orang yang kau suka... Siapa? Kau tak pernah bilang padaku, sungguh tidak adil.”
“Kau juga tak bilang siapa yang kau sukai, jadi impas.”
Quan Haoyan tiba-tiba tertawa, lalu merangkul bahu Fei Luo.
“Aduh, kawanku, kalau kau mau tahu siapa yang kusukai, tanya saja langsung. Mana mungkin aku sembunyikan darimu. Akan kukasih tahu, dia itu...”
Belum sempat selesai, tangan Fei Luo sudah menepis tangannya dari bahu.
“Tak mau dengar, tak ingin tahu.”
“Hah?”
Melihat Fei Luo bersikap tegas, Quan Haoyan tak memaksa lagi, malah mengganti topik pertanyaan.
“Kawan, kau kan tak pernah belajar akting, juga tak punya pengalaman, apa benar semua ini karena bakat?”
“Kau memang ingin tahu?”
Bocah itu mengangguk mantap.
“Tak apa, kuberitahu saja.”
Quan Haoyan langsung memasang wajah serius.
“Tadi malam aku sempat belajar kilat dengan menonton drama romantis, meneliti pola interaksi antara tokoh utama pria dan wanita dalam berbagai situasi.”
Itu memang benar.
Kemampuan belajar Fei Luo adalah keahliannya yang paling menonjol. Dengan menonton lebih banyak drama romantis, dia bisa memahami pola hubungan antara sepasang kekasih. Ia meniru perilaku tokoh utama wanita di drama, lalu memasukkan perasaannya sendiri pada bocah itu, hampir tak bisa dibedakan mana nyata mana sandiwara.
Lagipula, tidurnya memang tidak pernah nyenyak, jadi dibanding tidur, lebih baik melakukan sesuatu yang berguna.
“Kawan, hari ini kan kau ada lomba matematika olimpiade.”
Pertanyaan yang tiba-tiba membuat Fei Luo agak kaget.
“Ya, lalu kenapa?”
“Jadi, besoknya ada lomba, malamnya bukannya belajar serius, malah begadang nonton drama?”
—Benar juga sih.
“Nanti kalau kau dapat juara lagi, aku takut kakakku yang perfeksionis itu bisa nangis lagi.”
Entah sejak kapan, penyebutan Quan Haoyan pada Quan Yatong sudah bukan dengan nama lengkap atau sekadar “perempuan itu”, ini perubahan yang baik, tanda dia mulai menerima kehadiran kakaknya itu.
“Ada dua hal yang harus kuluruskan. Pertama, yang terakhir membuat dia menangis itu kau, bukan aku. Malahan aku yang menenangkannya. Kedua, juara satu pasti kudapat, kecuali ada yang bisa nilai sempurna juga, baru mungkin ada juara bersama.”
“...”
Nah, ke mana citra cowok sempurna anak ini?
Kenapa sekarang jadi bikin gemas ingin cubit?
Berdebat dengan seseorang yang selalu dipihak keberuntungan rasanya percuma, jadi Quan Haoyan pun menyerah. Tepat saat itu, sutradara Chen bersuara.
“Pengambilan gambar hari ini cukup sampai di sini, besok kita lanjut untuk pengambilan gambar luar ruang.”
Kalau sutradara berbicara, tentu semua menurut. Setelah memberikan instruksi untuk besok, pria itu pun menyuruh mereka pulang.
——————
Seperti biasa, Mo Haoyu yang mengantar mereka pulang.
Di dalam mobil, Quan Haoyan bertanya pada Fei Luo.
“Kawan, kau sudah sangat membantuku kali ini, bahkan mengorbankan banyak hal. Sebagai balas jasa, kau boleh minta apa saja padaku, selama aku bisa, pasti kupenuhi.”
“Tak usah.”
Fei Luo langsung menolak tanpa pikir panjang, sebab baginya, sesungguhnya ia tak merasa berkorban apa pun. Walaupun hanya akting, bisa punya pengalaman menjadi ‘pasangan’ dengannya sudah cukup membahagiakan bagi Fei Luo. Dia tak pernah memaksa ke mana hubungan mereka akan berkembang. Cukup sekali ini saja, biarlah hanya menjadi kenangan dalam hatinya sendiri, itu sudah cukup.
Ingatannya sangat baik, setiap detail hari ini akan ia simpan, menjadi kenangan untuk dikenang.
Sejak hari-hari pertemuan ulang mereka sepulang dari luar negeri, semua hari baginya adalah kenangan yang layak disimpan. Hanya dengan itu, kepulangannya kali ini sudah terasa sangat berharga.
“Tidak bisa begitu, ayo cepat pikirkan satu permintaan. Kalau tidak, aku tak akan tenang.”
...Memangnya ada yang memaksa orang lain meminta balasan?
“Benar-benar tidak perlu. Lagi pula bukan masalah besar. Anggap saja sebagai balasan karena selama aku sakit, kau menjagaku.”
Sebenarnya ia hanya ingin menenangkan bocah itu, karena dirinya sendiri memang tak pernah meminta imbalan apa pun atas semua yang ia lakukan. Namun siapa sangka, baru saja ia mengucapkan itu, tiba-tiba wajah Quan Haoyan berubah kesal, seperti ada yang menyalakan amarahnya.
“Aku menjaga kau? Apa yang kujaga? Mengganti perban juga tak boleh, memeriksa luka juga tak boleh, yang jaga kau itu Kakek Zhong, apa hubungannya denganku!”
“...”
Sudah lama berlalu, bahkan perban di perutnya pun tak perlu ia pura-pura lagi, kenapa bocah ini masih saja ingat dendam?
“Bukannya aku tidak mau merepotkanmu.”
“Heh, yang ada kau merasa aku merepotkan!”
Bahkan sampai sekarang, bicara soal itu, Quan Haoyan masih penuh uneg-uneg.
“Apa pun yang kukatakan tak didengar, maunya sendiri, aku mau bantu juga ditolak, maunya ke Kakek Zhong... Kakek Zhong memang lebih bisa diandalkan, ramah, baik hati, masakannya juga enak...”
Tunggu, kenapa terdengar seperti mereka pasangan gelap saja, usia mereka saja beda jauh! Ia sering mencari Kakek Zhong karena hampir semua rahasianya diketahui oleh beliau, sedangkan ia tak berani membiarkan Quan Haoyan tahu. Jadi ia meminta bantuan Kakek Zhong untuk menutupi.
Tapi hal itu tak mungkin ia jelaskan.
“Baik, baik, baik... Akan kuberi balasan, belum pernah ada yang dipaksa minta balasan seperti ini... Asal aku minta apa saja, kau setuju?”
“Ya, selama bisa kulakukan dan tak berlebihan.”
“Kalau begitu, masaklah untukku. Aku ingin makan masakan buatanmu sendiri.”
Kalau mau berandai-andai, bocah itu dulu memang belajar masak demi dia, meski sekarang ia sendiri sudah lupa.
Tapi permintaan itu justru membuat pemuda itu terkejut.
Sebab seharusnya gadis kecil ini sudah bisa menebak hubungannya dengan Grup Huari. Kalau sudah menebak, mestinya tahu dengan posisinya, ia bisa meminta lebih dari sekadar sepiring makanan. Jangan kan masak, kalau minta dihadiahi hotel pun bisa. Sungguh sama sekali tidak memanfaatkan peluang, kalau dia berbisnis pasti rugi.
“Kenapa tak minta yang lebih, misalnya bonus lebih besar, atau yang lainnya...”
“Aku tidak butuh uang.”
“Kau tinggal di apartemen kecil itu saja bilang tidak butuh uang? Kalau tidak butuh uang, kenapa tidak pindah ke tempat yang lebih layak?”
Bocah itu waktu terakhir berkunjung saja sudah banyak protes soal apartemennya, tak sangka sekarang pun masih ingat. Andai daya ingatnya dipakai untuk hal yang lebih bermanfaat.
“Aku tinggal sendiri, kalau rumah terlalu besar terasa sepi.”
Selain itu, juga tak sesuai dengan citra ‘mahasiswa miskin’ yang ia bangun di luar. Meski pada bocah itu ia tak pernah sembunyikan apa pun, tapi hanya pada dia saja.
Namun Quan Haoyan tidak memahami makna di baliknya. Dalam hatinya ia justru yakin kawannya ini pasti orang yang takut kesepian, kalau tidak, mana mungkin berkata seperti itu. Maka ia semakin bertekad, harus lebih sering menemaninya, jangan sampai kawannya sendirian, kesepian, dan kedinginan.
“Tapi, meski tidak mau uang, kau bisa minta yang lain. Mumpung ada kesempatan, kenapa pikiranmu cuma soal makan?”
“Kau tak ingin masak untukku?”
“Aku belajar masak itu memang untuk orang yang kusukai, bukan untuk jadi koki, bukan untuk sembarang orang.”
Orang yang disukai... lagi-lagi orang yang disukai...
Hati Fei Luo seolah runtuh dalam sekejap, seperti ditinggalkan dunia, sendirian tanpa pegangan, dunianya meninggalkannya demi merengkuh orang lain.
Padahal dulu ia pernah berjanji akan memasak untuknya seumur hidup, tapi sekarang justru berkata ingin memasak untuk orang lain dan menolak dirinya.
Fei Luo tahu seharusnya ia tak perlu marah, ini bukan salahnya, tak bisa menyalahkan siapa pun. Karena bocah itu memang tidak tahu apa-apa—dia hanya lupa.
Lupa masa lalu mereka, lupa janji yang pernah ia ucapkan padanya.
Tapi mau salahkan siapa? Salahnya sendiri juga, karena dulu ia yang memilih pergi.
Ia yang meninggalkannya, jadi dilupakan pun pantas baginya.
Tangan Fei Luo yang terkulai di sisi tubuh, jemarinya mencengkeram telapak tangan hingga berdarah, namun rasa sakit itu hanya sekejap, telapak tangannya segera pulih seperti semula.
Tapi perih itu justru membuat pikirannya jadi lebih jernih.
“Kalau tak mau, ya sudah.”
Ketika ia bicara lagi, suaranya sudah datar tanpa cela.
Kepura-puraan yang begitu sempurna dan tenang, kadang membuat Fei Luo sendiri merasa geli. Seolah dirinya telah terbelah menjadi dua, apapun yang bergelora di dalam, di permukaan tetap wajah tanpa ekspresi.
Ia begitu tenang, hingga dirinya sendiri merasa takut.