Bab Dua Puluh Sembilan: Habis Manis Sepah Dibuang
Gu Rixi bergeser ke samping, menghindarinya, "Itu bukan urusanmu!"
Gu Rixi hanya ingin memancing kemarahannya. Pria itu menyukai dirinya yang penurut dan manis, maka ia justru sengaja bersikap tidak masuk akal agar pria itu membencinya.
Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Gu Jingchen hanya berkata datar, "Malam ini aku ada jamuan makan, makan malamlah sendiri. Obat yang disiapkan Mbak Chen harus diminum tepat waktu."
Gu Rixi tidak menjawab.
Jamuan macam apa yang mengharuskan pria seperti dia turun tangan langsung? Tanpa perlu berpikir panjang, ia tahu itu pasti ada hubungannya dengan Shen Ruo.
Setelah Gu Jingchen pergi, Gu Rixi berjalan ke dekat jendela, menyaksikan mobil pria itu melaju pergi. Ia meraih ponselnya dan menelepon Xiang Xi. "Xi Xi, ada sesuatu yang ingin kuminta bantuanmu."
"Baik, kalau begitu sampai jumpa besok."
Saat makan malam, Gu Rixi sendirian di meja makan. Melihat hidangan yang tersaji, ia benar-benar tidak berselera. Paman Yao berdiri di sampingnya, tampak ragu untuk bicara.
"Paman Yao, apakah ada yang ingin Anda katakan?"
"Nona, Tuan Muda bukanlah orang yang pandai berkata-kata, tetapi dia sebenarnya peduli pada Anda..."
"Paman Yao, Anda tahu bagaimana hubungan kami. Terlepas dari apakah dia peduli atau tidak, kami tidak akan pernah memiliki masa depan. Lagi pula, jika aku tidak pergi, maka aku adalah orang ketiga yang merusak hubungannya dengan Shen Ruo."
Paman Yao menggelengkan kepala dengan pasrah. Keduanya jelas saling peduli di dalam hati, mengapa mereka tidak bisa mengabaikan pandangan dunia dan bersama saja?
Setelah makan, Mbak Chen datang membawa obat. Gu Rixi menarik napas, lalu meneguknya hingga habis.
Mbak Chen menyodorkan sebutir permen. "Tuan Gu bilang Anda takut pahit, jadi dia sengaja menyiapkannya untuk Anda."
Gu Rixi tidak mengambil permen itu. "Tidak perlu, rasanya juga tidak terlalu pahit..."
Kepahitan di hatinya jauh ribuan kali lipat lebih perih dari ini, rasa pahit obat ini bukanlah apa-apa!
Ketika Gu Jingchen kembali, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluh menit. Ia mendongak sejenak; kamar Gu Rixi gelap.
Ia kembali ke kamarnya sendiri, membersihkan bau alkohol dari tubuhnya, lalu langsung mengambil kunci dan menuju kamar Gu Rixi.
Ruangan itu remang-remang. Gu Rixi berbaring membelakanginya, seolah sudah terlelap. Gu Jingchen menutup pintu dengan hati-hati, berbaring di sampingnya, dan memeluk pinggangnya erat dari belakang.
Ia tahu wanita itu belum tidur.
"Sejak kapan kamu tidak takut pahit lagi?" Suaranya jernih seperti anggur, melayang lembut ke telinga wanita itu.
Gu Rixi tidak ingin berbicara dengannya, jadi ia berpura-pura tidur. Gu Jingchen sedikit mendongak menatap wajahnya. Bulu mata wanita itu bergerak sedikit, mengkhianati kepura-puraannya.
Ia tidak merasa kesal sedikit pun. Sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan tanpa disadari. Telapak tangannya yang besar dan hangat menyusup ke bawah keliman gaunnya. Kulit yang lembut dan halus membuatnya tidak tahan untuk terus menjelajah ke atas.
Gu Jingchen merasakan tubuh wanita itu sedikit gemetar. Gerakannya menjadi semakin berani, mendarat di bagian bawah perutnya.
Gu Rixi benar-benar tidak bisa berpura-pura lagi. Karena marah, napasnya menjadi sedikit tersengal. Ia menarik tangan pria itu keluar dari balik pakaiannya.
"Apa kau belum puas?"
"Tidak berpura-pura lagi?"
Suaranya yang berat mengandung nada menggoda. Napas panas pria itu menerpa telinganya. Bahkan tanpa melihatnya, ia bisa membayangkan wajah pria itu yang sedang merasa menang.
"Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?" Gu Rixi bangkit duduk dengan marah.
Alis dan matanya yang indah kini memerah karena amarah, membuat sepasang matanya yang cantik dan jernih terlihat semakin memikat.
Ibu jari Gu Jingchen mengusap sudut matanya dengan lembut. "Aku hanya ingin bicara baik-baik denganmu."
"Tidak ada yang perlu kubicarakan denganmu!"
"Kamu tidak punya, tapi aku punya. Bisakah kamu mendengarkan dengan tenang?"
Entah hanya perasaannya saja, Gu Rixi merasa tatapan dan nada bicara pria itu mengandung sedikit permohonan. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Bagaimana mungkin seorang Gu Jingchen yang angkuh memohon pada orang lain? Selama ini hanya orang lain yang memohon padanya, dan apakah ia akan mengabulkannya pun tergantung suasana hatinya.
"Aku mengantuk, ingin tidur. Jika Tuan Gu ada yang ingin dikatakan, bicarakan saja besok!"
Gu Jingchen kembali memeluknya erat ke dalam dekapan. "Ranran, mengapa kita menjadi seperti ini?"
Dulu saat bersamanya, mata wanita itu selalu penuh kebahagiaan. Sekarang, wanita itu seperti landak kecil di depannya; setiap kali ia mendekat, wanita itu segera menegakkan duri-durinya, penuh dengan kewaspadaan.
Gu Rixi sendiri pun tidak tahu.
Keesokan paginya, saat Gu Rixi turun ke bawah, Gu Jingchen sudah sedang sarapan. Ia tadinya ingin berbalik pergi, tetapi teringat bahwa hari ini ia membutuhkan bantuan pria itu, ia terpaksa menahan diri dan duduk di hadapannya.
Suara pria itu terdengar berat, "Ada yang ingin kau minta dariku?"
Gu Rixi tiba-tiba menatapnya. Gu Jingchen memandangnya dengan tatapan lembut. "Selama kamu sedikit lebih penurut, semua hal bisa dibicarakan."
Nada bicara Gu Rixi sedikit melembut. "Xi Xi mengajakku jalan-jalan hari ini. Aku ingin pergi, bisakah mereka tidak mengikutiku?"
Gu Jingchen melihat sikap patuhnya, berpikir dalam hati bahwa wanita itu benar-benar hanya bersikap manis saat membutuhkan sesuatu. Namun, jarang sekali wanita itu memohon padanya seperti ini.
"Aku akan meminta mereka menjaga jarak."
"Bisakah..."
"Ini adalah konsesi maksimal yang bisa kulakukan!"
Gu Rixi tidak lagi membuang kata-kata, ia langsung bangkit dan pergi. Gu Jingchen dibuat tertawa olehnya; wanita itu benar-benar menunjukkan arti dari pepatah "habis manis sepah dibuang".
"Tuan Gu," ujar Qi Xin, "mengapa Anda tidak menjelaskan kepada Nona bahwa alasan Anda mengikutinya adalah karena Chen Lie menghilang, dan Anda takut dia akan mencelakai Nona?"
"Sekarang, apa pun yang kukatakan, dia tidak ingin mendengarnya."
"Katakan pada mereka, dengan syarat keamanan tetap terjamin, mereka boleh menjaga jarak dan jangan mengganggunya."
"Dimengerti!"
"Bagaimana dengan keluarga Shen?"
"Jangan khawatir, semuanya berjalan lancar. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat."
"Tapi, apakah Nona bersedia melakukan hal itu?"
Sudut bibir Gu Jingchen bergetar seolah ingin tertawa, tetapi kemudian wajahnya kembali kaku. "Dia akan melakukannya. Hanya saja, mungkin saat itu tiba, dia sudah sangat membenciku."
Gu Jingchen tidak tahu apakah taruhannya ini akan membuatnya kalah telak. Ini adalah pertama kalinya seumur hidup ia tidak percaya diri. Dan ini juga pertama kalinya ia takut akan kekalahan.
Keinginan manusia benar-benar mengerikan. Ia bahkan sudah sampai pada titik kecanduan pada wanita itu.
Gu Rixi dan Xiang Xi berjanji untuk bertemu di Wanhao Plaza, sebuah pusat perbelanjaan milik keluarga Xiang. Xiang Xi sudah melihat Gu Rixi dari jauh. Penampilannya terlalu mencolok dengan lima atau enam pria berpakaian hitam di belakangnya.
Xiang Xi merangkul lengannya. "Ada apa ini? Apakah putri kaya zaman sekarang harus selalu tampil mencolok saat keluar rumah?"
"Gu Jingchen mengirim mereka untuk mengawasiku, takut aku kabur."
"Anjing itu! Kamu adalah orang yang bebas, sekarang dia menganggapmu apa? Hewan peliharaannya? Tidak ada pria yang baik di dunia ini!"
Gu Rixi tersenyum cerah. "Kurangi makianmu, siapa tahu kata-katamu sampai ke telinganya."
Di saat yang sama, Gu Jingchen yang sedang memimpin rapat di Shangyu Group bersin berkali-kali.
Gu Rixi melirik pengawal di belakangnya, lalu berbisik pada Xiang Xi, "Di mana detektif Zhang?"
"Jangan terburu-buru. Bukankah Gu Jingchen mengirim orang untuk mengawasimu? Hari ini, aku akan membiarkan dia melihat sesuatu yang nyata."