Bab Lima Puluh Enam: Pertemuan
Halaman (1/3)
Gu Jingchen dan Qi Xin langsung pergi ke tempat yang telah disepakati, Klub Mosto.
Begitu masuk, Gu Jingchen segera menjadi pusat perhatian. Beberapa tuan muda mengundangnya duduk di tengah.
Gu Jingchen bersandar pada sandaran sofa, kedua kakinya yang panjang terbujur santai. Jari-jarinya yang ramping dan pucat menjepit rokok yang asapnya mengepul perlahan. Sikapnya terlihat malas sekaligus tak terkekang.
Dengan suara datar, ia berkata, “Mengapa tempatnya diganti?”
Lin Xiao menjawab, “Direktur Lu ada urusan, jadi dia menyuruh putranya datang. Kupikir kita semua masih muda, jadi kupindahkan pertemuan ini ke sini. Lebih santai dan nyaman, tetapi pekerjaan tetap bisa dibicarakan.”
“Lu Qingchen?”
“Kau mengenalnya?”
“Tidak!”
“Nanti kuperkenalkan. Pacarnya benar-benar cantik luar biasa. Mungkin kau tidak suka mendengarnya, tetapi dia lebih cantik daripada Xu Yiran.”
Gu Jingchen meliriknya dengan dingin. Tatapan itu membuat bulu kuduk Lin Xiao meremang.
“Kenapa menatapku seperti itu? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.”
Gu Jingchen tidak menghiraukannya.
Di luar Klub Mosto, Lu Qingchen dan Gu Rihui turun dari mobil, lalu berjalan berdampingan.
Sesampainya di pintu masuk, ponsel Gu Rihui berdering. Ia melihat layar dan mendapati Xiang Xi yang menelepon.
“Kau masuk dulu. Aku mau mengangkat telepon.”
“Baik.”
Lu Qingchen masuk sendirian ke ruang privat.
Lin Xiao segera bangkit menyambutnya dan membawanya ke hadapan Gu Jingchen.
“Jingchen, kuperkenalkan. Ini Lu Qingchen.”
“Qingchen, ini Gu Jingchen, Presiden Grup Shangyu.”
Lu Qingchen mengulurkan tangan dengan sopan. “Sudah lama mendengar nama Anda. Saya Lu Qingchen.”
Gu Jingchen berdiri dan menjabat tangannya. “Gu Jingchen.”
Lin Xiao melirik ke belakangnya. “Di mana pacarmu?”
Lu Qingchen duduk di sebelah Gu Jingchen. “Rihui sedang menelepon.”
Di sampingnya, Gu Jingchen mengangkat gelas dan menyesap anggur. Pupil matanya mendadak menyempit, tatapannya menggelap dan menjadi tak terduga.
Beberapa saat kemudian, Gu Rihui mendorong pintu dan masuk.
Lu Qingchen bangkit menghampirinya, menggenggam tangannya, lalu duduk bersamanya di salah satu sisi.
Karena ruangan itu remang-remang, Gu Rihui tidak melihat Gu Jingchen. Namun, sejak ia melangkah masuk, tatapan Gu Jingchen telah melekat padanya.
Lu Qingchen menuangkan segelas jus untuknya, lalu menyibakkan rambut di dahinya ke belakang bahu.
Halaman (1/3)
“Minumlah ini. Masih hangat.”
Gu Rihui menerimanya. “Terima kasih!”
Lin Xiao menyalakan lampu utama ruang privat, dan seketika ruangan itu menjadi terang.
“Qingchen, kau tidak mau memperkenalkan pacarmu kepada kami?”
Tatapan Lu Qingchen beralih dari Gu Rihui, matanya dipenuhi kebahagiaan. “Dia pemalu. Kalian bersenang-senanglah.”
Namun, Lin Xiao tetap dengan penuh semangat menarik Gu Rihui ke tengah ruangan.
“Nona Gu yang cantik, perkenalkan dirimu. Jangan sungkan, kami semua santai.”
Lu Qingchen segera menyusul ke sisinya, suaranya mengandung sedikit teguran. “Lin Xiao!”
Melihat Lu Qingchen benar-benar tidak senang, Lin Xiao pun meminta maaf. “Salah, salah. Maaf.”
Gu Rihui menggeser pandangan, lalu melihat Gu Jingchen yang berada empat puluh lima derajat di sebelah kirinya. Mata mereka bertemu di udara. Hanya sesaat, ia buru-buru memalingkan wajah.
Kenangan dalam benaknya seketika membanjir. Tubuhnya tak kuasa menahan gemetar. Ia menunduk dan berbisik kepada Lu Qingchen, “Aku mau ke kamar kecil.”
Melihat wajahnya yang agak pucat, Lu Qingchen merasa cemas. “Aku menemanimu.”
“Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri.”
Setelah berkata demikian, Gu Rihui segera melarikan diri dari ruang privat.
Empat tahun telah berlalu. Ia mengira dirinya sudah melupakan semua itu dan tidak lagi memiliki perasaan apa pun terhadapnya. Namun, kini ia sadar bahwa dirinya belum benar-benar melepaskan masa lalu. Lelaki itu masih mampu memengaruhinya dengan begitu mudah.
Gu Rihui menampung air dengan kedua tangannya, lalu menyiramkannya ke wajah untuk memaksa dirinya tenang.
Berkali-kali ia mengingatkan diri sendiri bahwa hubungan mereka telah berakhir. Kini mereka masing-masing telah memiliki kehidupan sendiri, dan setelah ini mereka tidak akan lagi bersinggungan.
Setelah suasana hatinya sedikit mereda, ia membuka pintu. Saat tiba di sudut lorong, ia mendapati Lu Qingchen sedang menunggunya.
“Kenapa kau keluar?”
“Karena kau tidak kunjung kembali, jadi aku keluar untuk melihat keadaanmu. Kau baik-baik saja?”
Gu Rihui menggeleng. “Aku tidak apa-apa, hanya saja…”
Lu Qingchen meraih tangannya. “Mari kita pergi.”
Gu Rihui mengangkat kepala dan menatapnya.
Lu Qingchen menjelaskan, “Hari ini hanya pertemuan kecil. Kalau tetap tinggal, kita pasti harus minum lagi. Lebih baik kita pergi.”
Gu Rihui mengangguk. “Kalau begitu, ayo…”
Dari kejauhan, Gu Jingchen menyaksikan setiap gerak-gerik mereka.
Lu Qingchen telah minum. Melihat wajah Gu Rihui yang kurang baik, ia memanggil Song Ling untuk menyetir.
Gu Jingchen dan Qi Xin mengemudi mengikuti mobil mereka.
Halaman (2/3)
Song Ling menghentikan mobil di depan kompleks tempat tinggal Gu Rihui. Gu Jingchen tidak mendekat, melainkan meminta Qi Xin berhenti di bawah pohon willow di seberang jalan agar dapat mengawasi mereka dari kejauhan.
Gu Rihui dan Lu Qingchen masuk bersama ke dalam kompleks. Gu Jingchen menunggu hingga pukul sebelas malam, tetapi Lu Qingchen tak kunjung keluar.
Ia tak sanggup duduk diam lebih lama. Ia membuka pintu mobil dan masuk ke kompleks.
Sehari setelah memastikan bahwa Gu Rihui telah kembali ke dalam negeri, Gu Jingchen menyuruh Qi Xin menyelidiki alamat tempat tinggalnya.
Ia keluar dari lift dengan wajah muram, lalu berjalan lurus ke depan. Ketika berhenti di depan pintu rumah Gu Rihui, ia terkejut melihat sepasang sepatu kulit pria di sana.
Waktu telah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.
Gu Jingchen sendiri tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tindakannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya, dan ia menekan bel pintu terlebih dahulu.
Waktu berlalu detik demi detik. Ia tidak tahu sudah berapa kali menekan bel, tetapi Gu Rihui tetap tidak membukakan pintu dan tidak memberikan jawaban.
Rasa dingin merayap ke dalam hatinya. Ia terus menekan bel, semakin lama semakin tergesa-gesa. Wajahnya pun berubah pucat. Ketukan pada bel berganti menjadi gedoran keras di pintu.
Pintu itu hampir jebol ketika akhirnya terdengar suara dari dalam.
“Siapa?”
Suara yang begitu dikenalnya—suara yang sudah tidak didengarnya selama empat tahun. Hanya saja, kini terdengar agak serak.
Tubuh Gu Jingchen sedikit menegang.
“Aku.”
Meski tidak menyebutkan namanya, kesunyian di dalam rumah membuatnya tahu bahwa Gu Rihui telah mengenali suaranya.
Kembali, keheningan menyelimuti sisi dalam dan luar pintu. Beberapa saat kemudian, Gu Jingchen menekan bel lagi.
Entah sudah berapa kali ia menekannya, suara Gu Rihui kembali terdengar.
“Pergilah. Aku sudah tidur.”
Tatapan Gu Jingchen turun ke bawah, jatuh pada sepasang sepatu kulit itu. Ia menarik napas dalam-dalam, seakan udara yang dihirupnya berubah menjadi bilah-bilah baja yang menusuk dadanya.
Ia kembali menggedor pintu dua kali dengan keras.
“Buka pintunya. Aku ingin bicara denganmu. Setelah selesai, aku akan pergi.”
“Sudah larut. Tidak pantas bagi Presiden Gu masuk ke rumahku. Tidak ada yang perlu kubicarakan denganmu. Kalau kau memang harus bicara, katakan saja dari depan pintu. Setelah itu, silakan pergi, Presiden Gu.”
Nada suara Gu Rihui begitu dingin dan tegas, tanpa menyisakan celah sedikit pun. Ia benar-benar memperlakukan Gu Jingchen seperti orang asing, sekadar seseorang yang pernah singgah dalam hidupnya.
Tenggorokan Gu Jingchen tercekat. Sekali lagi, sebilah pisau seolah menancap dalam-dalam ke dadanya. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk berbicara.
“Tiga menit. Ranran, aku hanya butuh tiga menit. Setelah tiga menit, aku akan pergi.”
Entah karena alasan apa, ia menambahkan, “Aku berjanji!”
Di dalam rumah tetap sunyi, tanpa jawaban.
Tiba-tiba, Gu Jingchen samar-samar mendengar erangan lembut Gu Rihui, seolah ia sedang berusaha menahan sesuatu.
Tangan Gu Jingchen yang bertumpu pada kusen pintu mengepal erat. Telapak tangannya telah basah oleh keringat.
Apa yang sedang dilakukannya?
Halaman (3/3)