Bab 39: Jamur Super 3 (Telah Disunting)
Yang rusak bukan hanya beras di keluarganya.
Ketika sembilan puluh lima persen penduduk kota menyadari bahwa beras di rumah mereka membusuk, apa yang akan terjadi?
Panik dan aksi borong makanan!
Banyak orang berlarian ke supermarket pada malam hari untuk membeli beras, berita dan berbagai media pun berlomba melaporkan kejadian mendadak ini.
Kabar mengejutkan tersebar: di seluruh kota terjadi pembusukan bahan pangan secara luas, pihak berwenang sedang melakukan penyelidikan.
Laporan utama menyebutkan pembusukan massal beras, tepung, dan makanan pokok lainnya, bahkan ada yang mengungkap kemungkinan kebocoran superjamur dari laboratorium.
Munculnya superjamur membuat orang-orang memborong makanan secara besar-besaran.
Sejak kabar ini mencuat hingga mencapai puncaknya, tak terhitung berapa mobil yang sudah keluar dari kompleks apartemen.
Chu Yi'an awalnya hendak makan sedikit dan beristirahat, tetapi sekarang mana mungkin dia bisa tenang. Ia buru-buru mengenakan jaket, membawa tas punggung, dan bergegas keluar rumah.
Supermarket yang pagi harinya masih lengang, kini di malam hari penuh sesak oleh orang-orang.
Hampir semua orang datang ke supermarket dengan satu tujuan: menimbun bahan makanan!
Chu Yi'an dengan sigap berhasil mendapatkan sebuah troli, lalu memanfaatkan kesempatan untuk mengambil dua kantong beras kemasan terakhir dari rak dan memasukkannya ke troli miliknya. Setelah itu ia mengambil mi instan, biskuit kompresi, cokelat—semua makanan yang dapat memberikan rasa kenyang.
Meskipun ia sudah berusaha keras, kekuatan satu orang tentu terbatas. Setiap kali ia sedikit saja menoleh atau lengah, selalu ada orang yang mengambil barang dari troli miliknya.
Karena terlalu sering kehilangan barang, ia pun tak punya tenaga untuk memperdebatkan dengan siapa pun.
Seperti kata pepatah, lebih baik satu burung di tangan daripada dua di hutan.
Chu Yi'an memilih untuk segera membayar makanan itu dan keluar dari supermarket yang semakin penuh. Namun belum jauh ia melangkah, kerusuhan tiba-tiba pecah di dalam supermarket.
“Bangsat kau! Berani-beraninya ambil barang dari troli-ku!”
“Kau sudah bawa banyak keripik, masih saja berebut dua bungkus makanan terakhir denganku.”
“Kau yang mendorong ibuku, ya? Berani kau, kubuat mampus...”
Pertengkaran dan perkelahian pecah di mana-mana, rak barang di luar supermarket pun roboh. Jeritan perempuan dan tangis anak-anak bercampur menjadi kegaduhan.
Baru setelah mobil polisi datang dan para petugas berseragam masuk, kerusuhan itu berhasil diredam.
Chu Yi'an berjalan di jalanan membawa kantong berisi makanan, angin dingin yang membawa gerimis menambah rasa dingin di tubuhnya. Ia menatap lampu jalan yang remang-remang, lalu mempercepat langkahnya meninggalkan tempat itu.
Hari ketiga permainan
Semalam ia pulang sudah larut malam, sampai-sampai belum sempat membereskan barang belanjaannya.
Beras dan mi yang dibeli dua hari lalu sudah membusuk parah, sama sekali tak layak makan. Begitu pula sayuran yang ia simpan di lemari pendingin, sebagian besar sudah ditumbuhi jamur.
Tak ada pilihan lain, Chu Yi'an mengambil kantong sampah besar dan membuang semua makanan yang sudah busuk.
Hampir semua makanan yang tidak tertutup rapat sudah ditumbuhi lapisan jamur hijau keabu-abuan. Bahkan kemasan makanan yang masih tersegel pun permukaannya sudah berdebu jamur.
Melihat kondisi seperti ini, Chu Yi'an pun merebus satu panci besar air panas di dapur.
Air panas itu sampai membuat tangannya memerah, namun ia tetap menahan sakit dan membersihkan seluruh bagian dalam dan luar kulkas dengan air mendidih.
Ia berharap suhu tinggi bisa membunuh jamur yang tidak tampak oleh mata.
Makanan dalam kemasan pun harus didesinfeksi dengan teliti sebelum dimasukkan kembali ke lemari pendingin.
Ia menghitung dengan cermat, hasil belanja dua hari lalu, ia punya stok dua puluh bungkus mi instan, tujuh belas biskuit kompresi, dua kotak cokelat berisi dua puluh empat potong, dan satu kotak permen isi dua belas. Selain itu, semua beras, mi, sayuran, dan buah-buahan telah rusak dan memenuhi satu tong sampah besar di luar, yang saat dibawa pun terasa sangat berat.
Dengan persediaan seperti itu, mempertahankan hidup tiga puluh hari terasa amat sulit.
Setelah menghitung stok makanannya, Chu Yi'an pun cemas hingga bibirnya pecah-pecah.
Pagi itu ia hanya mengisi perut dengan setengah batang biskuit kompresi lalu langsung pergi ke supermarket.
Sekarang antrean di supermarket sudah mengular panjang. Chu Yi'an berdiri di barisan paling belakang, dan merasa menunggu giliran belanja di supermarket seperti menanti tanpa akhir.
Ia ragu sejenak, lalu akhirnya memilih pergi dan bergegas menuju minimarket di sekitar.
Minimarket dan warung di pinggir jalan juga ramai, tapi tidak seheboh supermarket besar. Rak-rak mereka masih memajang mi instan, biskuit, serta makanan siap saji.
Melihat makanan-makanan itu, mata Chu Yi'an langsung berbinar. Ia mengambil keranjang belanja dan langsung memasukkan barang-barang tanpa pilih-pilih.
Aksinya itu sempat membuat para pelanggan lain kaget, bahkan pemilik toko pun terkejut.
“Adik, harga barang di sini sudah naik, ya,” kata pemilik toko buru-buru menghentikannya. “Mi instan sekarang lima belas ribu per bungkus, nasi siap saji delapan puluh ribu satu kotak, manisan buah empat puluh ribu satu botol.”
Ia melirik isi keranjang Chu Yi'an lalu menyebutkan beberapa harga sembarangan.
Kenapa rak toko ini masih ada barang? Karena harga sudah naik, barang dijual mahal. Walau pembeli tak seramai dulu, tetap saja ada yang beli.
Ia hanya khawatir gadis muda ini mengira harga di minimarket sama seperti di supermarket sebelumnya.
“Tak masalah, total saja harganya,” jawab Chu Yi'an.
Ia juga menambah tiga kotak susu ke dalam belanjaannya.
“Banyak juga yang kamu beli,” ujar pemilik toko sambil tersenyum lebar, lalu mengambil kalkulator dan menekan-nekan tombolnya. “Total semuanya dua juta tiga ratus enam puluh lima ribu.”
Harga itu, jika dibandingkan sehari sebelumnya, bisa membeli empat kali lipat barang.
Orang-orang yang ikut menyaksikan hanya bisa menggelengkan kepala, mengutuk ketamakan sang pemilik toko dan merasa kasihan pada gadis itu.
“Pak, saya sudah beli banyak barang, bolehkah saya meminjam becak di luar itu?”
Chu Yi'an bertanya sambil menenteng belanjaannya yang besar dan kecil.
“Boleh, boleh, beri saja uang jaminan dua ratus ribu, nanti kalau becaknya dikembalikan, uangnya saya kembalikan juga.”
Pemilik toko pura-pura ramah, benar-benar memperlihatkan sifat pedagang sejati.
“Baik,” jawab Chu Yi'an, lalu dengan cepat menyerahkan uang jaminan. Ia pun memuat semua barang ke atas becak, lalu mengayuhnya kembali ke toko sewa yang ia tinggali.
Setelah menutup pintu rolling, ruangan itu pun berubah menjadi tempatnya sendiri.
Ia memasukkan seluruh makanan yang baru dibeli ke dalam kotak penyimpanan emas miliknya, lalu mengayuh becak ke sebuah apotek.
Keperluannya ke apotek adalah untuk membeli vitamin.
Kekurangan vitamin bisa menyebabkan susah tidur, mental menurun, kurang nafsu makan, badan kurus, dan lemah.
Karena buah dan sayuran sangat cepat membusuk, artinya nanti mendapatkan vitamin dari kedua sumber itu akan sangat sulit.
Untuk bertahan hidup, tubuh yang sehat adalah syarat utama. Vitamin diperlukan untuk menutupi kekurangan itu.
Saat ini orang-orang belum menyadari bahwa kekurangan buah dan sayuran bisa diatasi dengan vitamin sintetis, semua orang masih sibuk berebut makanan, apotek pun sepi.
Chu Yi'an masuk ke apotek dan bertanya pada dokter berseragam putih, “Di mana letak vitamin di sini?”
“Anda butuh yang mana?” dokter itu balik bertanya.
“Eh... anak saya tidak suka makan buah dan sayur, jadi saya ingin beli vitamin untuk melengkapinya,” jawab Chu Yi'an mencari alasan seadanya.