Bab 39: Fotografer Tampan dalam Khayalan Itu Benar-Benar Ada
Jiang Xi memutar mata dengan sangat lebar, “Mana mungkin sih? Menulis naskah baru dari awal malah lebih gampang, tahu! Sekarang aku tiap hari cuma bisa menulis adegan di mana pemeran wanita nomor delapan dan pria nomor delapan makan ubi lalu kentut, aku cuma bisa menulis adegan-adegan remeh yang nggak ngaruh ke alur utama, biar nggak merusak karakter. Kalau dipaksa ubah, karakter mereka bakal hancur, mending nggak usah diubah sekalian…”
“Kamu tahu nggak, ternyata si sutradara dan pemeran wanita nomor delapan nggak puas. Katanya, walaupun aku menulis lebih banyak adegan antara pemeran wanita nomor delapan dan pria nomor delapan, paling banter dia cuma naik jadi pemeran wanita nomor tujuh. Makanya mereka maunya aku tambahin adegan dia dengan pemeran pria utama. Masalahnya, pemeran pria utama itu kakak iparnya si wanita nomor delapan. Kalau adegannya terlalu polos, nggak bakal seru. Kalau mau seru, jadinya cinta segitiga. Padahal karakter wanita nomor delapan itu anak gadis umur lima belas, sekarang malah dipaksa naksir kakak iparnya…”
Astaga! Dengar ceritanya saja aku sudah pusing, kenapa semua orang begitu licik dan rumit sih!
Aku merangkul Jiang Xi, mengelus dahinya dengan penuh sayang, “Pasti kamu capek banget, ya?”
Jiang Xi memegang tanganku, manja, “Capek sih nggak masalah, cuma rasanya bener-bener nggak seru. Sekarang kamu tahu kan kenapa di TV banyak banget sinetron jelek? Kalau nggak jelek, itu baru ajaib.”
“Bener banget! Anak orang kaya itu juga bikin masalah aja!”
“Eh?” Jiang Xi menimpali dengan nada berlawanan, “Dari semua orang itu, justru aku paling suka si anak orang kaya. Coba pikir, dia bisa saja pulang ke rumah dan mewarisi harta triliunan, tapi malah ngotot minta penulis skrip kecil kayak aku nambahin peran untuk dia. Dia nggak mau adu kekayaan, malah maunya adu akting?”
Jiang Xi tertawa, lalu melanjutkan, “Aku punya teman perempuan yang juga kayak gitu. Bapaknya raja properti, tapi dia sangat sederhana di luar, sampai orang-orang nggak tahu kalau dia anak orang kaya. Dia nggak pernah adu kekayaan, hidupnya sederhana, tapi dia suka sekali adu kecerdasan sama orang lain. Lucu, kan? Nanti kamu pasti ketemu sama dia, anaknya manis banget.”
Topik ini benar-benar membuatnya bersemangat, dia terus bercerita tanpa henti, “Contohnya lagi, ada penulis novel anak orang kaya yang aku kenal. Padahal dia bisa saja rebahan di rumah sambil hitung uang, tapi malah mati-matian minta pembaca berlangganan dan kasih hadiah, tiap hari begadang menulis sampai capek banget. Menurutmu, mereka nggak lucu? Mereka inspiratif banget, seharusnya dihargai!”
Mendengar penjelasannya, aku jadi merasa masuk akal juga. Anak orang kaya seperti itu tentu lebih baik daripada yang suka melanggar hukum, sewenang-wenang, dan meresahkan orang baik. Ada semacam perasaan, “Orang lain lebih kaya dari aku, tapi juga lebih rajin.”
Bertahun-tahun kemudian, ketika di bawah nama Jiang Xi sudah ada belasan apartemen, aku teringat ucapannya hari ini. Saat itu pun, tiap hari ia masih begadang menulis novel hingga dini hari, lalu menanti komentar pembaca satu per satu, membalas dengan saksama.
Jika ada komentar pujian, ia langsung tertawa bahagia. Tapi jika ada komentar buruk, hatinya langsung gusar, bingung ingin menghapus atau tidak agar tidak mempengaruhi pembaca baru yang belum pernah membaca.
Tingkahnya seperti pengemis yang sudah bertahun-tahun memakai mangkuk minta-minta, mengharap-harap belas kasihan para pembaca, “Kawan-kawan, langgananlah, lima koin juga nggak masalah, kasih hadiah dong, seribu juga senang, apalagi seratus ribu, cuma bisa jadi mimpi. Yang penting, jangan kasih komentar buruk, hatiku nggak kuat, komentar buruk itu seperti menusuk jantungku! Mohon, kasihanilah aku!”
Orang seperti ini, bukankah benar-benar menggemaskan? Berjuang demi impian sendiri, tidak ada hubungannya dengan kaya atau miskin. Manusia, seharusnya memang punya impian. Seperti kata Pak Ma, siapa tahu suatu hari berhasil terwujud?
………………
Keesokan paginya, Jiang Xi harus pergi ke lokasi syuting bersama tim. Dia bertanya padaku, mau ikut melihat para artis atau tidak. Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan syuting maupun artis, tapi saat aku ragu, aku melihat dari pintu kamar yang terbuka seorang pria berambut sedang melintas di koridor. Tingginya sekitar satu meter delapan puluh dua, tubuh tegap, wajah tampan, mirip model.
Tapi dari cara berpakaiannya yang penuh saku, aku yakin dia bukan aktor, juga bukan model. Lalu, pemuda yang kemarin mengantarkan tas laptop untuk Jiang Xi berjalan ke arah pria itu dan memanggilnya, “Kak Tang, aku sudah mengisi penuh enam baterainya.”
Aku melihat pemuda itu menenteng kamera profesional besar, aku pun menyimpulkan pria itu adalah juru kamera. Dan, dia benar-benar cocok dengan gambaran juru kamera tampan yang aku bayangkan.
Pasti dia, yang kemarin mengajak Jiang Xi makan, kan? Pantas saja anak buahnya baik-baik pada Jiang Xi, membantu membawakan tas laptop dan kursi. Baguslah!
“Aku ikut kamu ke lokasi!” kataku pada Jiang Xi, lalu segera bangun untuk bersiap-siap.
Ketika semua sudah berkumpul di depan hotel, aku mendengar pemuda kemarin memanggil Jiang Xi, “Kak Xi, hari ini naik mobil kita lagi ya? Asyik banget ngobrol sama kakak.”
Jiang Xi tersenyum, menjawab, “Hari ini nggak dulu, terima kasih undangannya. Aku bawa pasangan, jadi nggak muat kalau berdua.”
Si pemuda itu tertegun, lalu menoleh ke Kak Tang, juru kamera itu. Setelah itu dia seperti tidak rela dan berkata, “Kita bisa kok, berdua juga muat.”
Jiang Xi tetap tersenyum, “Nggak, pacarku orangnya pendiam, nanti kalian malah bikin dia takut, haha!”
Ucapan setengah bercanda Jiang Xi itu membuat si pemuda agak canggung. Dia tersenyum malu, “Ah, kakak ini, kayak kami macan saja. Tim kamera kami terkenal ramah dan tampan, tahu!”
Dalam hati aku berkata, tidak ke semua orang juga ramah, kan?
“Sudah, lain kali aku traktir kalian makan ya!” kata Jiang Xi.
“Deal, Kak Xi yang janji ya, aku ingat lho.”
“Janji ya!” Jiang Xi membalas dengan sopan, lalu menarikku ke mobil kru tata rias dan kostum.
Bukan aku lebay, tapi saat Jiang Xi menarikku naik ke mobil, mataku secara refleks melirik ke mobil kamera, tepat ke arah Kak Tang yang duduk di kursi depan. Kebetulan, dia juga sedang menatapku. Meski jaraknya agak jauh, aku bisa melihat jelas, dia memandangiku cepat, lalu pura-pura tidak peduli dan memalingkan wajah.
Kemudian kulihat dia menyalakan rokok, asapnya mengepul, dan aku harus mengakui, pria ini memang benar-benar tampan dan berkarisma.
Walaupun aku belum bisa membuktikan ada apa-apa antara Jiang Xi dan Kak Tang, hatiku tetap gelisah, sensitif sendiri, merasa tidak nyaman. Aku menunduk, diam.
Jiang Xi yang sangat peka, begitu duduk di kursinya langsung menyadari ada yang aneh padaku. Karena di dalam mobil banyak orang, dia mendekat ke telingaku dan berbisik pelan.
“Kamu kenapa, kok nggak kelihatan senang?”