Bab Satu: Giok Kuno Berwarna Hitam
Kota Jiang, pusat kota, sebuah apartemen kecil di Komplek Ziwei.
Ketika sinar matahari pertama pagi hari menembus kaca dan masuk ke kamar tidur, Xiao Yang membuka matanya dengan samar, mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar asing.
“Di mana ini?”
Ia melihat sekeliling.
Ini adalah sebuah apartemen tipe studio yang tidak terlalu luas, namun dekorasinya cukup rapi, dengan sebuah boneka beruang cokelat besar di sisi kepala ranjang.
Bagaimana dia bisa ada di sini?
Xiao Yang mengusap kepala yang masih terasa sakit, samar-samar mengingat kejadian yang terjadi sore kemarin.
Kemarin sore, saat ia mengantarkan pesanan dengan sepeda listrik untuk toko tempatnya bekerja, tiba-tiba ia diserempet sebuah mobil sedan merah yang muncul entah dari mana, lalu ia kehilangan kesadaran.
Xiao Yang berusaha bangkit dari tempat tidur, namun saat tangannya terulur, ia merasakan sesuatu yang lembut dan tipis.
Eh? Apa ini?
Dengan penuh rasa ingin tahu, ia mengambil benda tipis berwarna hitam itu, dan ketika ia melihat lebih dekat, nyaris saja darahnya muncrat dari hidungnya.
Ternyata itu adalah pakaian dalam wanita.
Ringan dan transparan, tipis seperti sayap capung, menguar aroma harum wanita yang lembut dan menyegarkan hati.
Saat Xiao Yang masih memegang benda kecil berwarna hitam itu, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, dan seorang wanita keluar dengan tubuh terbalut handuk mandi.
“Ah!”
“Ah!”
Mereka berdua berteriak bersamaan.
Setelah terkejut, wanita itu menatap Xiao Yang dengan pipi memerah, lalu bertanya dengan suara malu, “Kamu... kamu sudah bangun?”
Xiao Yang menatap lekat-lekat wanita di depannya; alis matanya indah, kulitnya seputih salju, dadanya menonjol tinggi—walau tertutup handuk, tapi jelas sekali asetnya sangat berlimpah.
“Ini di mana? Kenapa aku bisa ada di sini?”
Wanita cantik itu menatapnya dengan perasaan bersalah, lalu berkata, “Baiklah, sepertinya aku perlu memperkenalkan diri dulu. Namaku Lou Xiaoxiao, ini rumahku. Kemarin sore... aku menabrakmu, jadi aku membawamu pulang.”
“Jadi kamu yang menabrakku?” Xiao Yang mengusap hidungnya, dan gerakannya itu membuatnya langsung membeku.
Karena ia baru sadar, ia masih memegang pakaian dalam wanita itu, yang masih hangat karena suhu tubuh pemiliknya.
“Dasar mesum, kembalikan barangku!” Lou Xiaoxiao melihat apa yang dipegang Xiao Yang, pipinya langsung merona hingga ke telinga.
Tadi, karena terburu-buru mandi, ia asal saja meletakkan pakaian dalam itu di atas ranjang. Siapa sangka pria itu sudah bangun, dan malah memegang barang pribadinya...
“Eh, aku cuma penasaran, ingin tahu ini apa...” kata Xiao Yang sambil tersenyum kikuk.
Lou Xiaoxiao hanya bisa tersenyum getir, merebut pakaiannya dengan cepat lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian ia keluar dengan pakaian lengkap, pipinya masih bersemu merah.
Ia menatap Xiao Yang, matanya berkilat, lalu menyerahkan sebuah kartu ATM. “Ada sepuluh juta di dalamnya. Kemarin aku menabrakmu, anggap saja ini sebagai ganti rugi.”
“Mau apa?” Xiao Yang menatapnya, “Aku kan nggak terluka, buat apa aku terima uangmu?”
Lou Xiaoxiao menjawab lirih, “Kalau-kalau ada efek samping nanti, dan sepertinya kau memang butuh uang, jadi terimalah.”
“Simpan saja dulu,” Xiao Yang tersenyum, menolak kartu itu dan mengambil tas di atas meja lalu menyandangnya.
“Kamu mau pergi?” tanya Lou Xiaoxiao.
“Kenapa? Kakak berat melepas aku?” goda Xiao Yang.
“Kalau nggak godain aku, kamu nggak bisa diam ya?” Lou Xiaoxiao membalas dengan mata melotot.
Xiao Yang tergelak, lalu melangkah menuju pintu. Namun, tiba-tiba ia berhenti.
Ia menoleh, memandang Lou Xiaoxiao dan bertanya, “Kakak cantik, rasanya ada yang aneh.”
“Hmm? Apa itu?”
“Kemarin waktu aku ditabrak, aku yakin kakiku pasti cedera parah, tapi kenapa sekarang tidak ada bekas luka sedikit pun?” Xiao Yang masih ingat jelas, setelah tertabrak mobil, tulang keringnya patah sampai menembus kulit, bahkan ujung tulangnya terlihat jelas. Rasa sakit yang luar biasa itu tak mungkin ia salah ingat.
Tapi setelah bangun tadi, ia sudah memeriksa kakinya. Kedua kakinya utuh tanpa luka, bahkan bekas luka sekecil apa pun tak ada.
Lou Xiaoxiao mengernyit, “Sebenarnya waktu kamu tergeletak kemarin, aku juga lihat kakimu berdarah deras. Tapi waktu dokter datang, mereka nggak menemukan satu pun luka.”
“Eh, jangan-jangan aku berubah jadi manusia super gara-gara tertabrak mobilmu?” Xiao Yang menggeleng tak percaya.
“Kemarilah, aku mau kasih tahu satu hal aneh.” Lou Xiaoxiao mengisyaratkan dengan jarinya, suaranya penuh rahasia.
Xiao Yang tersenyum, melangkah mendekat hingga nyaris menempel di dadanya yang tinggi itu. “Sekarang boleh kasih tahu aku?”
“Seriuslah, ini penting.”
Lou Xiaoxiao meninju dadanya pelan dan menatapnya dalam, “Kemarin setelah aku menabrakmu, melihat kakimu berdarah aku panik, langsung turun dari mobil. Tapi waktu aku sampai di sampingmu, tiba-tiba kulihat ada cahaya keemasan berkedip di dadamu, dan tubuhmu bergetar hebat seperti tersengat listrik. Setelah sekitar setengah menit, kamu baru kembali normal.”
“Setelah dokter datang, mereka heran kenapa celanamu penuh darah, padahal mereka periksa kakimu dan nggak menemukan luka sama sekali.”
Mengingat kejadian aneh itu, hingga kini Lou Xiaoxiao masih merasa cemas. Padahal jelas-jelas ia melihat kakinya patah, tapi setelah itu tak ada bekas luka. Sungguh tak masuk akal.
“Dada, cahaya keemasan?” Xiao Yang tertegun, lalu buru-buru membuka bajunya, memperlihatkan sebuah liontin batu giok hitam berbentuk naga yang kuno.
Syukurlah, batu giok itu tak apa-apa.
Kalau sampai batu itu pecah, ia pasti sangat sedih.
Tapi entah kenapa, batu giok itu kini tampak lebih suram dari biasanya.
Apa mungkin batu itu memang menyimpan keanehan?
Xiao Yang memandangi batu giok hitam di dadanya, melamun.
“Itu penting sekali bagimu?” tanya Lou Xiaoxiao lembut, melihat ada kesedihan di mata Xiao Yang.
“Ya,” jawab Xiao Yang singkat. “Batu giok ini satu-satunya peninggalan ayahku.”
Sepuluh tahun lalu, ayah dan kakak perempuannya menghilang secara misterius, tak pernah ada kabar hingga kini. Batu giok inilah satu-satunya peninggalan sang ayah.
Xiao Yang pun tak tahu apa keistimewaan batu itu, ia hanya tahu sejak lahir batu itu sudah menggantung di lehernya, tak pernah dilepas.
Lou Xiaoxiao berdiri di samping, memandangi pemuda yang tadi terlihat nakal itu, kini tampak diliputi aura melankolis, sorot matanya pun berubah lembut.
Saat keduanya terdiam, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu keras dari luar.
Lou Xiaoxiao mengernyit. Siapa pagi-pagi begini mengetuk pintu dengan kasar? Apa pihak pengelola apartemen menagih iuran?
Ia berjalan membuka pintu, dan mendapati beberapa pria bertubuh kekar berdiri di depan, dipimpin seorang pria berwajah gelap, bertubuh tinggi besar, dengan sebatang rokok di mulut dan sorot mata tajam penuh ancaman.
Beberapa pria itu langsung menatap Lou Xiaoxiao, mata mereka berbinar, senyum cabul tak bisa ditahan di wajah mereka.
Pria berwajah gelap itu menatap dada Lou Xiaoxiao, lalu berkata dengan suara berat, “Kamu Lou Xiaoxiao?”
“Kalian siapa?” tanya Lou Xiaoxiao dengan waspada, sama sekali tak mengenali mereka.
“Tak kusangka Lou Gang punya putri secantik ini,” pria itu tertawa mesum, menghembuskan asap kelabu dari hidungnya.
Mendengar nama Lou Gang disebut, wajah Lou Xiaoxiao seketika pucat pasi.
“Mau apa kalian?” hatinya tiba-tiba tak tenang, karena setiap nama itu disebut, pasti ada masalah besar yang menyusul.
Pria berwajah gelap itu memandangnya dengan mata sipit, lalu setelah beberapa detik menghembuskan asap rokok, ia berkata pelan, “Ayahmu berutang seratus juta padaku, aku datang menagih utang itu padamu.”
“Dia bukan ayahku, kalian salah orang,” jawab Lou Xiaoxiao dingin, lalu berusaha menutup pintu, tapi tangan pria itu menahannya.
“Tak salah, kamu memang anaknya. Ayahmu bahkan pernah memperlihatkan fotomu padaku. Sebulan lalu ia pinjam seratus juta, ini surat utangnya.”
Ia mengacungkan selembar kertas di tangannya, dan Lou Xiaoxiao mengenali tulisan tangan ayahnya di sana.
“Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya, dia bukan ayahku, aku juga bukan putrinya! Percuma kalian cari aku, silakan pergi!” Lou Xiaoxiao membalikkan badan, ingin menutup pintu, namun pria itu kembali menariknya dengan kasar.