Bab Sebelas: Apakah ibumu tidak pernah mengajarkanmu?
Xiao Yang pun menyadari bahwa ucapannya mudah menimbulkan salah paham. Ia tertawa canggung dua kali, namun tidak memberi penjelasan lebih lanjut.
Lima belas menit kemudian, sebuah Porsche biru safir berhenti di depan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Jiangcheng. Xiao Yang dan Lan Xinrui turun dari mobil dan berjalan menuju gedung rawat inap.
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Jiangcheng adalah rumah sakit terbaik di kota itu, setara dengan rumah sakit papan atas di kota-kota besar seperti Yanjing. Saat ini, rumah sakit penuh sesak, para pasien yang tampak murung dan petugas medis yang sibuk lalu-lalang melewati Xiao Yang. Di tengah obrolan, sebuah ambulans berhenti tergesa-gesa di depan gedung IGD, beberapa dokter dan perawat dengan sigap mendorong pasien ke ruang gawat darurat.
Ketika Xiao Yang dan Lan Xinrui hendak masuk ke dalam rumah sakit, mereka mendapati di depan IGD telah berkumpul kerumunan orang yang sangat banyak. Dari tengah kerumunan terdengar tangisan dan makian yang cukup berlebihan.
Xiao Yang berdiri di pinggir taman, penasaran mengintip ke dalam.
Di tengah kerumunan itu, ada belasan pria dan wanita mengenakan kain putih di kepala, berpakaian duka lengkap. Di depan mereka diletakkan sebuah tungku pembakaran kertas duka. Suara tangisan dan makian barusan berasal dari mereka.
Saat itu, belasan pria dan wanita tersebut tampak sangat emosional, mereka dengan marah mengerumuni seseorang, seolah sedang memperdebatkan sesuatu.
Xiao Yang bergeser mencari sudut pandang, ternyata orang yang mereka kerumuni adalah seorang wanita cantik berbaju putih, tampaknya seorang dokter di rumah sakit itu.
Seorang wanita setengah baya berkain putih di kepala menunjuk dokter muda itu dengan marah, berkata, “Perempuan inilah yang membuat suamiku mati! Suamiku tadinya baik-baik saja, tapi setelah dia periksa, esok harinya meninggal di rumah sakit! Dasar dokter bodoh, pembawa sial, hari ini akan kupukul kau sampai mati...”
Sambil berkata, wanita itu menerjang ke arah sang dokter. Untung saja orang-orang disekitar segera menahannya.
Sang dokter jelas ketakutan, hampir menangis, “Bukan seperti itu, suami Anda memang sudah punya penyakit jantung parah, kematiannya karena tidak segera dibawa ke rumah sakit, bukan salah saya...”
“Tentu saja rumah sakit tak mau mengaku salah, tapi adikku memang meninggal di rumah sakit kalian, masa tidak ada tanggung jawab? Kau sebagai dokter pun harus bertanggung jawab! Kalian harus memberi ganti rugi atas kematian adikku!” seru seorang pria setengah baya berbadan besar, namun matanya tampak cerdik.
Keributan di rumah sakit... dua kata itu melintas di benak Xiao Yang.
Walaupun kedua belah pihak saling bersikeras, Xiao Yang lebih percaya pada dokter muda itu. Dari sorot matanya yang jernih, tampak ia tidak berbohong. Sebaliknya, wanita dan pria yang mengaku keluarga korban itu tampak gelisah, jelas ada yang disembunyikan.
“Maaf, saya juga sedih atas kematian adik Anda, tapi memang bukan kesalahan rumah sakit. Jadi...” sang dokter menggigit bibir, “saya tidak bisa memenuhi permintaan kalian.”
“Bagus! Kau sudah membunuh orang, rumah sakit pun menolak ganti rugi!” wanita itu berteriak histeris, lalu menunjuk dokter perempuan itu, “Lucuti bajunya! Kalau rumah sakit tak mau bayar, kita telanjangi perempuan jalang ini di sini!”
Seketika wanita itu menerjang ke arah dokter dan mulai merobek pakaiannya dengan kasar...
Beberapa pria memandang ragu, namun akhirnya ikut mengerumuni dan mencolek tubuh sang dokter.
Xiao Yang dengan jelas melihat dua tangan pria itu mulai meraba bagian tubuh dokter yang indah dan memikat.
Dalam waktu singkat, jas dokter perempuan itu sudah terlepas, menyisakan pakaian ketat berwarna putih di dalamnya. Tubuh indahnya terpampang, membuat para pria terpesona.
Dokter itu berusaha menahan pakaian, memohon dengan pilu, namun para pria seperti kesetanan, terus merobek pakaiannya...
Mungkin tak sampai setengah menit lagi, dokter muda itu akan telanjang bulat di depan umum.
“Mereka sungguh keterlaluan, bagaimana bisa memperlakukan wanita seperti itu!” Lan Xinrui berdiri di samping Xiao Yang, memanyunkan bibirnya dengan kesal, alis indahnya berkerut.
“Mau aku bantu?” Xiao Yang berkedip pada Lan Xinrui.
“Cepat, tolong kakak itu, cepat!” Lan Xinrui mendesak.
Beberapa pria sedang asyik dengan perbuatan mereka, sebentar lagi pakaian dokter muda itu pasti terlepas. Wajah mereka begitu bersemangat.
Tiba-tiba, suara pemuda terdengar dari belakang mereka.
“Hai, kalian para lelaki, masa tidak tahu kalau membuka baju wanita cantik itu harus lembut?” suara Xiao Yang terdengar tenang, namun mengandung nada bercanda.
Mendengar suara itu, para pria langsung menghentikan aksi mereka, memandang Xiao Yang dengan tajam.
“Kau siapa?” tanya pria yang mengaku kakak mendiang itu, menatap Xiao Yang dengan sinis.
“Siapa aku tidak penting, yang penting kalian ini, para pria dewasa, bahkan tidak tahu cara membuka baju wanita dengan benar. Cara kalian salah, sudah besar masa masih harus kuajari satu-satu?” balas Xiao Yang.
Kerumunan tertawa mendengar ucapannya.
Lan Xinrui pun tertawa geli, wajahnya memerah, manja berkata, “Dasar nakal.”
Pria setengah baya itu pun geram mendengar sindiran Xiao Yang, “Anak muda, jangan ikut campur urusan orang! Ibukmu tak pernah mengajarkan itu?”
Xiao Yang tertawa, “Ibuku justru mengajarkan, kalau melihat wanita cantik diganggu pria nakal, harus berani maju. Kalau aku diam saja, bisa-bisa kalian yang untung, dasar pengecut.”
Mendengar mereka dihina, para pria itu langsung naik pitam, menatap Xiao Yang dengan penuh kemarahan.
“Kau berani menghina kami?!” Di antara mereka, seorang pria bertubuh besar dengan wajah penuh bekas luka berdiri dan menunjuk Xiao Yang. “Berani, aku patahkan kakimu!”
Tentu saja Xiao Yang tak gentar, ia menjawab enteng, “Silakan coba.”
Pria berwajah luka itu pun langsung mengayunkan tinjunya. Xiao Yang menghindar dengan mudah, lalu membalas dengan tendangan ke samping. Pria itu pun langsung terjatuh.
Kerumunan terkejut, tak menyangka Xiao Yang begitu tangguh.
Melihat rekannya tumbang, wajah para pria itu langsung pucat. Pria berwajah luka itu yang paling kuat di antara mereka, bahkan jika beberapa orang digabung pun belum tentu menang. Tak disangka, ia begitu mudah dikalahkan seorang pelajar.
“Aku kasih saran ya,” ujar Xiao Yang sambil menepuk-nepuk debu di bajunya, “Walaupun kalian ingin mencari uang, jangan menyusahkan dokter cantik ini. Dia hanya dokter biasa. Kalau mau ribut, langsung saja ke ruang direktur, buat keributan sebesar-besarnya, makin heboh makin bagus. Kalau direktur sudah tak tahan, pasti akan menyerah dan memberi ganti rugi. Benar, kan?”
Belasan pria dan wanita itu saling pandang, tak ada yang berani menjawab. Membuat keributan di ruang direktur, mereka tak punya nyali.
“Sudah, pesanku sudah cukup, silakan kalian tentukan sendiri. Tapi dokter cantik ini, akan aku bawa pergi,” kata Xiao Yang, lalu mendorong beberapa pria di depannya. Ia berjalan mendekati dokter muda itu, melihat wajahnya yang masih basah air mata, matanya bening seperti air musim gugur, Xiao Yang pun merasa iba.
Pakaian dokter itu sudah berantakan, leher jenjangnya memperlihatkan kulit putih sehalus salju.
Dokter muda itu merasa malu mendapat tatapan Xiao Yang, buru-buru merapikan pakaiannya.
Xiao Yang tersenyum, kemudian menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari kerumunan.
Belasan pria dan wanita pembuat onar itu hanya bisa memandang Xiao Yang membawa sang dokter, nyaris meledak amarahnya, namun tak berani berbuat apa-apa, hanya bisa melihat mereka pergi.
Xiao Yang dan Lan Xinrui membawa dokter muda itu ke tempat aman. Setelah memastikan tak ada yang mengikuti, mereka pun berhenti.
“Terima kasih banyak,” ujar dokter muda itu, berusaha tersenyum meski wajahnya masih pucat dan air mata masih membasahi pipinya, jelas ia masih syok. “Kalau kalian tidak datang tepat waktu, aku benar-benar tak tahu apa yang akan terjadi...”
Lan Xinrui mencoba menenangkan, “Kak dokter, orang-orang itu benar-benar keterlaluan. Tapi kenapa saat mereka ribut di depan rumah sakit, tak ada yang keluar membantumu?”
“Dalam situasi seperti ini, semua orang lebih memilih menghindar, siapa pula yang berani keluar membantu...” jawab dokter muda itu pasrah, matanya tampak putus asa. Ia menghela napas, lalu memandang Xiao Yang dan Lan Xinrui, “Ngomong-ngomong, namaku Su Xiaowan, baru saja lulus dari Akademi Kedokteran Jiangcheng. Kalian bisa panggil aku Kak Wan.”
“Aku Xiao Yang, ini Lan Xinrui, kami siswa SMA Mingde Jiangcheng,” Xiao Yang memperkenalkan diri.
“Kak Wan, kau sudah punya pacar belum?” tiba-tiba Xiao Yang bertanya.
“...Belum,” Su Xiaowan sedikit terkejut, “Kenapa tanya begitu?”
Xiao Yang terkekeh, menggaruk-garuk kepala, “Soalnya, tadi aku sudah membantu Kak Wan keluar dari masalah besar. Kalau Kak Wan punya pacar, mungkin dia harus traktir kami makan sebagai ucapan terima kasih?”
Su Xiaowan pun tertawa geli, dadanya yang penuh ikut bergetar, menambah pesonanya.