Bab 31: Kau Masih Memanggilku Bibi
Rumah Xiao Yang terletak di lantai lima. Gedung tua seperti ini memang hanya memiliki lima lantai. Lampu di ruang tamu masih menyala, menandakan bahwa Zheng Yue Rou belum tidur. Karena Xiao Yang kadang-kadang menginap di asrama teman sekolahnya, sesekali dia tidak pulang pun, Zheng Yue Rou tidak terlalu khawatir.
Tok tok tok.
Zheng Yue Rou sedang duduk di ruang tamu, merajutkan sweater untuk Xiao Yang. Mendengar suara ketukan di pintu, ia meletakkan pekerjaannya.
"Ma, ini aku. Bukain pintu, dong," seru Xiao Yang dari luar.
Begitu mendengar suara Xiao Yang, Zheng Yue Rou pun merasa tenang dan membuka pintu tanpa ragu.
Namun, ketika pintu dibuka, ternyata bukan hanya Xiao Yang yang masuk. Di belakang putranya berdiri seorang gadis yang sangat cantik.
Gadis itu tampak lebih dewasa dari Xiao Yang, bermata bening, gigi rapi, wajah menawan, dan tubuh yang proporsional. Selain itu, Zheng Yue Rou bisa merasakan aura anggun dan mulia yang memancar dari gadis itu—sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat, hanya anak-anak dari keluarga terpandang yang memilikinya.
Menatap gadis secantik itu, Zheng Yue Rou tertegun, mulutnya sedikit terbuka, "Xiao Yang, siapa ini?"
Ditanya seperti itu, wajah Lin Mo Han seketika memerah. "Selamat malam, Tante. Nama saya Lin Mo Han, teman baik Xiao Yang."
Baru pertama bertemu, Lin Mo Han memang hanya bisa menyebut dirinya teman baik Xiao Yang. Tidak mungkin kan, langsung mengatakan bahwa dirinya adalah menantu?
Zheng Yue Rou terdiam sejenak, lalu tersenyum ramah pada Lin Mo Han, "Ayo, silakan duduk. Dasar anak ini, bawa teman tanpa bilang-bilang. Rumah berantakan begini, jangan terlalu dipikirkan ya."
Lin Mo Han tersenyum, "Tidak apa-apa kok."
Sambil mengobrol, ia memperhatikan rumah kecil seluas tujuh puluh meter persegi itu. Furniturnya sederhana: sofa kayu tua yang catnya sudah mengelupas, meja makan cat merah, dan di atas lemari TV teronggok televisi tabung yang sudah ketinggalan zaman. Namun, berkat sentuhan Zheng Yue Rou, ruangan itu terasa begitu hangat dan nyaman.
Di dinding ruang tamu tergantung sebuah foto berwarna yang sudah agak pudar dimakan waktu. Foto itu sedikit menguning. Sepasang suami istri muda, masing-masing menggendong seorang anak laki-laki dan perempuan. Si gadis tampak berusia empat atau lima tahun, anak laki-laki sekitar dua atau tiga tahun. Keluarga kecil itu terlihat begitu bahagia.
Wajah sang pria cukup tampan, raut wajahnya mirip Xiao Yang. Sementara wanita di foto itu berwajah lembut—tak salah lagi, itu pasti Zheng Yue Rou sendiri.
"Itu diambil enam belas tahun lalu. Waktu itu, ayah dan kakak Xiao Yang masih ada..." Lin Mo Han tengah memperhatikan foto itu ketika Zheng Yue Rou berkata pelan di sampingnya.
"Tante, maaf sudah mengingatkan hal yang menyedihkan," ucap Lin Mo Han lembut, tatapannya penuh empati.
"Hehe, sudah lama berlalu, aku pun sudah terbiasa." Zheng Yue Rou tersenyum, meski sorot matanya tetap menyimpan kesedihan yang sulit disembunyikan.
"Ma, bagaimana dengan lukamu? Masih sakit?" Xiao Yang mendekat, meneliti kening ibunya, tapi tidak menemukan bekas luka apa pun.
Tadi siang, saat mendengar ibunya dipukul orang, Xiao Yang hampir gila karena khawatir. Sekarang melihat ibunya baik-baik saja, hatinya pun lega.
Zheng Yue Rou mengusap keningnya, "Cuma luka kecil, sudah tidak sakit. Setelah kamu suntik aku kemarin, entah kenapa, lukanya cepat sekali sembuh. Anehnya begitu."
"Ma, aku mau bicara sesuatu," kata Xiao Yang, menatap ibunya lalu melirik Lin Mo Han.
Wajah Lin Mo Han langsung memerah, ia tahu apa yang ingin dikatakan Xiao Yang.
"Ada apa, Xiao Yang?" Zheng Yue Rou tersenyum memandang putranya.
"Ma, aku... aku sudah menikah," akhirnya Xiao Yang mengaku.
"Apa? Menikah?" Zheng Yue Rou mengira salah dengar, bertanya lagi.
Xiao Yang mengangguk mantap, "Benar, Ma. Tadi siang, aku menikah."
"Kamu... menikah dengan siapa?" Zheng Yue Rou benar-benar terkejut. Setahunya, Xiao Yang jarang punya teman dekat di sekolah, apalagi pacar. Gadis-gadis kaya dari Sekolah Menengah Mingde mustahil mau dengan anak dari keluarga sederhana seperti putranya.
"Tante, Xiao Yang menikah dengan saya," ujar Lin Mo Han, menggigit bibir, menatap Zheng Yue Rou dengan cemas.
"Kalian..." Zheng Yue Rou sulit mencerna semuanya begitu cepat.
"Tante, begini..." Lin Mo Han menggigit bibir, lalu menceritakan semua yang terjadi hari ini, menekankan bahwa ia-lah yang mengambil inisiatif menikahi Xiao Yang.
"Tante, aku harap Anda bisa mengerti..."
Zheng Yue Rou terdiam lama, ekspresinya silih berganti, akhirnya ia menghela napas dan tersenyum tipis.
Ia memandang Lin Mo Han, lalu berkata lembut, "Mulai sekarang, aku panggil kamu Mo Han, ya?"
Lin Mo Han mengangguk.
Zheng Yue Rou menatap Xiao Yang lalu Lin Mo Han, menggeleng pelan, seolah pasrah. "Anakku sudah besar, sudah punya pendirian sendiri. Selama kamu dan Xiao Yang sama-sama mau, aku tidak akan melarang."
"Tante... terima kasih," bisik Lin Mo Han. Ia merasa seperti telah 'menculik' anak yang sudah dibesarkan delapan belas tahun.
"Mo Han, masih panggil aku Tante?" goda Zheng Yue Rou sambil tersenyum hangat.
Lin Mo Han tidak menyangka akan mendengar itu. Wajahnya langsung merah padam. Ia ragu-ragu sejenak, lalu memanggil lembut, "Mama..."
Seketika, senyum lebar merekah di wajah Zheng Yue Rou, bahagia tak terbendung.
Sebenarnya, saat baru mendengar Xiao Yang menikah, ia pun sulit menerima kenyataan itu. Namun, setelah dipikir-pikir, ia pun tercerahkan.
Ia bisa melihat betapa Xiao Yang menyukai gadis di depannya ini. Meski usia gadis itu mungkin sedikit lebih tua, tapi perbedaannya tidak terlalu jauh. Selama mereka saling mencintai, itu sudah cukup.
Ditambah lagi, dengan latar belakang keluarga Xiao Yang, sangat sulit menemukan gadis secantik ini.
Zheng Yue Rou percaya, jodoh sudah ditentukan oleh takdir.
Jika jodoh anaknya sudah datang, biarlah mengikuti arus kehidupan.
"Xiao Yang, rapikan kamar tidurmu. Malam ini kalian tidur di sini," ujar Zheng Yue Rou pada putranya.
"Eh... tidak usah, kan?" bisik Lin Mo Han, bibirnya bergetar malu.
Zheng Yue Rou melirik sekilas, langsung tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
"Mo Han, malam ini kamu tidur sekamar dengan Mama. Ada yang ingin Mama bicarakan denganmu."
"Baik, tidak apa-apa," jawab Lin Mo Han lega.
Namun Xiao Yang yang duduk di seberang langsung tampak kecewa.
Ini benar-benar ibunya sendiri? Masa dia tidak tahu kalau anak laki-lakinya sangat, sangat, sangat ingin bisa tidur satu ranjang dengan menantunya?...
Tapi, karena sudah 'diperintah' sang ibu, ia juga tidak bisa memaksa. Masa iya, dia harus bertahan di kamar dua perempuan itu?
Melihat ekspresi kecewa Xiao Yang, Lin Mo Han dan Zheng Yue Rou pun tertawa pelan.
Mereka bertiga terus mengobrol di ruang tamu. Setelah itu, Zheng Yue Rou dan Lin Mo Han masuk ke kamar, sementara Xiao Yang hanya bisa menatap gadis cantik itu, dekat tapi tak bisa menyentuh.
Perasaan seperti ini... benar-benar menyiksa!
Xiao Yang kembali ke kamarnya dengan perasaan gundah, berbaring di tempat tidur, memikirkan berbagai kejadian aneh yang menimpanya belakangan ini, serasa sedang bermimpi.
Lama-lama, ia pun terlelap.
Dalam tidurnya, tiba-tiba terdengar suara tua dan berat di benaknya, "Bocah kurang ajar, kamu malah tidak latihan Kitab Naga milikku, malah memilih ilmu dalam si tua bangka itu?"
Di dalam pikirannya, muncul lagi kakek berjubah putih yang pernah ditemuinya. Ia mengenakan jubah putih, berwajah seperti pertapa, mengelus jenggot dan menatap tajam ke arahnya.
Tatapan tajam kakek itu membuat Xiao Yang merinding, seolah mampu menembus segalanya.
"Senior, bukankah Anda sudah diserap jiwanya olehku?" tanya Xiao Yang ragu.
"Hmph, hanya jiwaku yang kamu serap, bukan berarti aku tak bisa muncul di mimpimu," dengus kakek berjubah putih. "Bocah, masa Kitab Naga yang kutulis dari ribuan tahun pengalamanku, masih kalah dengan ilmu dalam zaman sekarang yang tak berguna itu?!"
Xiao Yang langsung berkeringat dingin.
Ilmu dalam yang sedang ia pelajari saat ini adalah warisan langsung dari tangan kanan ayahnya, sang Raja Tak Tergoyahkan di dunia persilatan. Nama Raja Tak Tergoyahkan sangat disegani di dunia bela diri Tiongkok saat ini, jurus 'Tangan Seribu Buddha'-nya membuat banyak orang ketakutan. Mengapa ilmu dalam itu dianggap sampah di mata kakek berjubah putih ini?
"Bocah, tahukah kamu, Kitab Naga milikku adalah ilmu dalam terkuat di dunia ini. Jika kamu mampu menuntaskan lapisan pertama saja, kekuatanmu akan berkali lipat lebih kuat dari pendekar lain di tingkat yang sama. Kitab Naga terdiri dari lima lapisan. Jika kamu menuntaskan semuanya, dunia persilatan Tiongkok akan berada di bawah kakimu!" Mata sang kakek memancarkan cahaya tajam ketika berkata demikian.
"Bocah, jangan kira aku tidak tahu. Akhir-akhir ini kamu sudah beberapa kali menggunakan Kitab Naga dengan jarum perak untuk mengobati orang. Aku tegaskan, setelah kamu melatih Kitab Naga, kemampuan pengobatanmu akan meningkat pesat. Semakin tinggi tingkat bela dirimu, semakin hebat pula pengobatanmu. Pelajari sendiri rahasianya."
Selesai bicara, sang kakek tiba-tiba berubah menjadi cahaya emas dan menghilang dari benak Xiao Yang.
Xiao Yang terbangun dengan keringat dingin. Mimpi itu terasa sangat nyata baginya.
Ia duduk bersila, kedua tangan di atas lutut, menutup mata dan berkonsentrasi. Dalam benaknya muncul kitab kuno yang memancarkan cahaya keemasan.
Dengan pikirannya, Xiao Yang membolak-balik halaman kitab kuno itu.
Setelah sekitar setengah jam, ia mulai mengerti. Kitab Naga terdiri dari lima lapisan. Setiap kali naik satu tingkat, kekuatan akan berubah sangat besar. Jika sampai pada lapisan kelima, mungkin benar-benar akan mencapai tingkat tertinggi seperti kata kakek berjubah putih itu.
Xiao Yang memejamkan mata, mengikuti petunjuk di kitab kuno. Ia mulai mengatur napas, menenangkan diri, telapak tangan menghadap ke atas, merasakan energi alam semesta...
Karena telah menyatu dengan jiwa kakek berjubah putih, pemahaman Xiao Yang terhadap Kitab Naga sangat mendalam.
Tak lama kemudian, ia merasakan pori-porinya perlahan terbuka, aliran hangat masuk ke tubuh lewat seluruh pori-pori. Awalnya sangat lemah, namun makin lama makin kuat...
Tanpa terasa, fajar pun mulai menyingsing.