Meng Fan dulunya hanyalah seorang penyintas yang berjuang di lapisan terbawah dunia yang dilanda kiamat. Namun, ia harus menerima kenyataan pahit ketika dikhianati oleh rekan-rekannya, hingga akhirnya digigit oleh zombie. Dalam keputusasaan, ia nekat menelan inti kristal zombie. Ketika terbangun, ia tidak hanya selamat, tetapi juga telah berevolusi dan membangkitkan Sistem Evolusi Dewa! Berbagai seni bela diri tingkat tinggi, kekuatan supranatural, serta informasi penting tentang dunia kiamat bermunculan dari sistemnya. Di saat itu pula, ia berubah total dan memulai jalan menuju kekuatan sejati. Membalas dendam, membalas budi, mencari keluarga—kali ini, biarkan aku yang menjaga dunia yang kacau ini!
Aroma kematian terasa begitu panjang, seolah jauh namun juga begitu dekat.
Meng Fan terduduk lemas di sudut ruang penyimpanan, wajahnya yang kekuningan dan mata tanpa cahaya, serta luka-luka menganga di lengannya akibat gigitan zombie, membuat penampilannya tampak sangat memilukan.
"Sialan benar dunia kiamat ini... Sudah berjuang begitu lama, tetap saja tidak bisa lepas dari takdir digigit zombie!"
Meng Fan bersandar tak berdaya ke dinding, mengerang pelan. Tak pernah ia sangka, kebaikan hatinya saat menolong rekan kerja justru berujung pada pengkhianatan, hingga akhirnya ia terluka parah oleh zombie.
Rasa sakit yang menyengat dari lukanya dengan cepat melahap syarafnya. Tubuh Meng Fan bergetar menahan nyeri, berulang kali ia mencoba bangkit, namun selalu gagal.
Menatap luka yang kini menghitam akibat infeksi, pandangannya mulai kabur, pikirannya kembali melayang ke tiga bulan lalu.
Tiga bulan sebelumnya, Kota Hutan masih merupakan kota metropolitan yang damai dan tenteram.
Tak ada bencana, kematian, penyakit, apalagi teror mengerikan dari zombie.
Meng Fan masih ingat betul, segalanya bermula pada pagi yang sangat biasa, cerah dan hangat, tiga bulan silam.
Di atas Kota Hutan, mendadak menggantung awan tebal penanda hujan yang mengubah langit menjadi kelabu.
Tak seorang pun tahu dari mana awan itu datang, sebab ramalan cuaca tak pernah menyebutkan hujan hari itu.
Awalnya, warga kota menganggapnya biasa saja, bahkan banyak yang naik ke gedung tinggi untuk mengabadikan awan itu.
Awan-awan itu berwa