Xu Wenruo sama sekali tidak pernah bermimpi menjadi seorang idola, namun takdir membawanya menjadi puncak dunia idola. Ketika Xu Wenruo menguasai separuh dunia musik, dan karya-karyanya menciptakan tren baru di industri itu, seorang veteran rock dengan penuh kemarahan berteriak, "Tidak ada yang peduli! Tidak ada yang peduli!" Saat seorang pembawa acara bertanya, "Menurutmu, dirimu adalah orang seperti apa?" Xu Wenruo menjawab, "Aku adalah perpaduan antara kecantikan dan kecerdasan, perwujudan pahlawan dan kesatria, pengubah budaya masyarakat, idola yang memikat ribuan gadis, penggerak pasar film, peningkat kualitas kaum muda, sosok elegan nan menawan." "Benarkah? Aku tidak percaya," ujar sang pembawa acara.
Di sebuah dimensi paralel.
Xu Wenruo berdiri di atas panggung yang gemerlap cahaya. Sorotan putih terang dari atas membuat matanya sedikit sulit terbuka. Ia menyipitkan mata, mengamati sekeliling. Panggung itu dipenuhi para kru yang sibuk berlalu-lalang. Beberapa membawa kamera yang diarahkan padanya, namun kebanyakan lensa justru menghadap ke seberang.
Tepat di depan panggung ada meja juri yang dihias sangat mewah dengan lima kursi berjajar. Para juri di sana memperhatikannya, namun Xu Wenruo bisa merasakan tatapan mereka terasa aneh, seolah baru saja melihat sesuatu yang menggelikan.
Xu Wenruo merasa pikirannya sedikit kosong, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, sebagai seseorang yang telah ditempa sembilan tahun pendidikan wajib, ia sangat paham bahwa saat seperti ini ia tak boleh panik. Setiap tindakan yang terlalu menonjol bisa saja membawa masalah, layaknya saat guru bertanya di kelas—lebih baik tidak bergerak atau melakukan kontak mata dengan guru.
Xu Wenruo berdiri di atas panggung tanpa memperlihatkan ekspresi, diam-diam mengamati semua yang ada di sekitarnya. Dalam hati, ia pun mulai dilanda tiga pertanyaan mendasar.
Siapa aku?
Di mana aku?
Apa yang sedang kulakukan?
Sayangnya, kenangan dalam benaknya masih sangat kacau, sulit untuk diurutkan. Tepat saat itu, seorang pria paruh baya yang duduk di kursi tengah jajaran juri mulai berbicara.
Seluruh kamera dan sorotan lampu kini tertuju pada pria itu. Dalam sekejap, ia menjadi pusat perhatian panggung.
"Peserta Xu Wenruo."
"Ya,&quo