Ketika segala kesedihan sirna, kekuatan jahat pun berubah menjadi naga, semua itu hanya demi cinta yang mendalam. Kayang memilih jalan ketenangan, memiliki tubuh dewa dan iblis, serta kekuatan tiada tanding. Mari kita bersama Wu Di menyaksikan pertempuran dahsyat yang mengguncang dunia dan kisah cinta yang lembut serta penuh ketulusan.
Kakekku, Li Sembilan Kati, adalah seorang yang sangat misterius. Aku tidak tahu mengapa ia diberi nama seperti itu, juga tidak tahu apa pekerjaannya. Yang aku tahu, ia sering bepergian keluar desa untuk mengurus pemakaman orang, dan setiap bulan selalu mengirimkan sejumlah uang untuk keluarga. Sampai saat ini, aku baru dua kali bertemu dengannya: pertama, saat kakek dari pihak ibu meninggal dan ia pulang untuk memimpin pemakaman, dan kedua, ketika aku diterima di universitas dan keluarga mengadakan syukuran. Saat itu, kakek pulang membawa dua botol arak Maotai dari Guizhou, memberiku sebuah liontin giok untuk dipakai, lalu menyerahkan sebuah bungkusan pada ayahku dan bergegas pergi lagi.
Kemudian, belum genap sebulan aku masuk kuliah, tiba-tiba ayah menelepon dan mengatakan ada hal mendesak sehingga aku harus pulang. Aku pun segera mengajukan cuti tiga hari dan buru-buru pulang. Setibanya di rumah, aku baru tahu bahwa kakek telah wafat. Keluarga sedang menyiapkan segala sesuatu agar kakek segera dimakamkan dengan tenang.
Melihat aku pulang, ayah segera menarikku ke samping dan berkata, "Petinya kakekmu tidak bisa diangkat. Ada belasan pria kuat dari desa yang mencoba, tapi tetap saja tak bisa terangkat. Mungkin hatinya masih kepikiran kamu, jadi belum mau pergi. Cepatlah ganti pakaian duka dan beri hormat padanya."
Tanpa banyak bicara, aku mengambil pakaian duka dan masuk ke kamarku. Pakaian duka itu sebenarnya hanya dua lembar kain putih; satu berlobang sebesar bola di tengah untuk diselubungkan ke badan dengan kepala menyembul keluar, dan sa