Bab 23 Festival Musim Bunga
Li Haoxiu melintasi lorong panjang keluarga Ning yang kaya raya. Ia mendengar para pelayan sedang membicarakan bahwa utusan pembawa titah kerajaan telah datang. Ia berpikir lebih baik pergi lewat pintu belakang, jangan sampai bertemu dengan utusan itu, apalagi ia membawa banyak barang berharga milik keluarga Ning yang hendak disita.
Li Haoxiu pun berjalan ke bagian paling terpencil dari kediaman Ning, berniat jika tidak menemukan pintu belakang, ia akan memanjat tembok untuk keluar. Kini utusan kerajaan sudah tiba, seluruh rumah menjadi kacau balau sehingga tak ada yang memperhatikannya.
Baru saja ia melihat pintu belakang rumah Ning, tiba-tiba terdengar suara bentakan, “Berhenti! Tangkap dia, jangan biarkan dia kabur!”
Li Haoxiu mempercepat langkahnya. Toh ia bukan orang keluarga Ning, masak hanya karena ada yang menyuruh berhenti, ia harus menurut?
Tak disangka, dari ujung lorong yang lain tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang berlari kencang. Li Haoxiu belum sempat menghindar, tubuhnya sudah bertabrakan dengan sosok itu.
Benturan keras itu membuatnya jatuh ke tanah, dan surat-surat kepemilikan rumah dan tanah yang ia sembunyikan di lengan bajunya berhamburan keluar.
Celaka!
Habis sudah.
Dengan sigap, Li Haoxiu segera memunguti surat-surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam lengan bajunya. Ia mendongak, hendak memaki orang yang menabraknya, namun tak disangka orang itu lebih dulu bicara, “Istriku, sakit sekali.”
“Apa?!”
Siapa yang jadi istrimu?
Begitu menengadah, Li Haoxiu sampai tertegun. Dari mana datangnya makhluk secantik ini, bagaimana bisa ada orang yang begitu tampan?
Pemuda yang duduk di tanah itu memiliki paras seindah lukisan, bibir merah dan gigi putih, matanya jernih dan polos seperti mata air, menatapnya dengan penuh kepolosan. Bibirnya yang merah merekah berkata, “Istriku, tanganku sakit.”
Sambil berkata begitu, ia mengulurkan tangan yang terluka akibat jatuh tadi.
Tangan itu... putih bersih, panjang dan ramping, seindah giok muda. Sungguh luar biasa.
Yang lebih mengejutkan lagi bagi Li Haoxiu, di atas kepala pemuda tampan yang seolah baru keluar dari lukisan itu, muncul angka kekuatan mental: 9+???????????
Setelah angka 9, deretan tanda tanya mengikuti. Berapa banyak kekuatan mental yang dimilikinya? Tak bisa diperkirakan?
Sejak sistem itu muncul, Li Haoxiu belum pernah menemukan kekuatan mental pada siapa pun!
Kenapa manusia bisa memiliki kekuatan mental?
Layar besar sistem: Terdapat kekuatan mental 9+++++++ di tangan, mohon segera transfer ke sistem.
Transfer kepala kau! Bukan hanya aku belum berniat meningkatkan level, meskipun benar-benar ingin, ini orang hidup, bagaimana caranya mentransfer?
Mendidihkan air, lalu memasaknya?
Atau dikukus atau dipanggang arang?
Dibumbui jintan atau daun ketumbar?
Sekalipun masakannya selezat apa pun, aku tetap tak bisa menelannya!
Tapi, entah bisa dimakan atau tidak, pemuda tampan di hadapannya ini jelas adalah harta karun yang luar biasa.
“Istriku, sakit, istriku, tiupin.” Pemuda tampan itu mengulurkan tangan panjangnya yang seputih giok ke hadapan Li Haoxiu.
Ada yang aneh, pemuda ini kelihatannya sudah berusia tujuh belas atau delapan belas tahun, tapi cara bicaranya seperti anak kecil polos.
Siapa juga yang jadi istrimu, jangan sembarangan mengaku keluarga! Sudah sebesar ini masih minta ditiupin!
“Aku bukan istrimu, jangan panggil sembarangan. Kau yang menabrak aku sampai jatuh, aku juga sakit.”
Jangan kira karena wajahmu tampan bisa semena-mena. Untuk lelaki yang sudah menikah, aku sama sekali tak tertarik. Huh, jangan harap bisa memikatku dengan wajahmu.
“Istriku, kau memang istriku, istriku, aku sakit, tiupin.” Pemuda tampan itu langsung bersandar ke pelukannya, wajah cantik dan penuh pesona itu menggesek dadanya, sementara satu tangannya diulurkan ke bibirnya.
Li Haoxiu sampai melongo. Ia sudah sering melihat gadis-gadis licik yang demi memikat pria rela melakukan apa saja, bahkan naik ke ranjang. Tapi baru kali ini ia bertemu lelaki yang begitu tak tahu malu.
Berlaku polos dan manis seperti domba kecil suci, aku tidak tertarik sama sekali.
Namun saat ia menunduk lagi, menatap mata bening penuh harap itu, Li Haoxiu akhirnya meniup tangan pemuda itu dua kali, “Sudah, tidak sakit lagi.”
Sial, ternyata menyenangkan juga.
“Istriku, ada yang mau menangkapku, aku takut.”
“Ada yang ingin menangkapmu, apa urusanku?” Li Haoxiu berdiri, tapi mendapati tangannya digenggam erat oleh tangan seputih giok itu.
Lengket sekali!
Tapi dia ini harta karun, punya begitu banyak kekuatan mental.
“Tangkap dia! Jangan biarkan dia kabur!”