Bab 77: Sudahlah, Jangan Iri Lagi
“Nantinya, rumah-rumah yang kita jual itu benar-benar ada wujudnya, siapa saja yang ingin membeli bisa datang melihat-lihat. Kalau ada yang berminat membeli, mereka harus membayar uang muka, dan uang muka itu akan menjadi modal kita. Wilayah seluas ini juga tidak akan dibangun sekaligus, kita bangun tahap pertama dulu, kira-kira di wilayah ini...”
Li Haoxiu menunjuk bagian paling kiri pada gulungan gambar, “Saya namakan ini Wilayah Satu, saat Wilayah Satu sudah setengah jadi, orang yang sudah membayar uang muka harus melunasi sisanya. Siapa yang bayar lebih dulu, dia yang berhak memilih rumah lebih dulu. Pembangunan Wilayah Satu selesai paling juga hanya sebulan, setelah para pembeli menerima rumahnya, baru kita bangun Wilayah Dua. Asal rumah-rumah di Wilayah Satu bisa memuaskan hati orang, untuk Wilayah Dua, kita bisa langsung minta pelunasan sebelum membangun. Uangnya tentu saja tetap dari rakyat, kalau masih kurang modal, bukankah kita masih punya Perkumpulan Yuan Tersembunyi? Jadi kita tak perlu khawatir soal uang.”
“Apa yang kau katakan memang bagus, tapi pelaksanaannya belum tentu berjalan semulus yang kau bayangkan. Agar rakyat tertarik pada tempat itu, yang utama adalah membuat para bangsawan dan keluarga terpandang mau tinggal di sana. Tapi kaum bangsawan selama ini selalu enggan bergaul dengan rakyat biasa, mereka tak sudi tinggal bersama rakyat jelata.”
Li Haoxiu tersenyum, “Cukup ada Tuan Muda Su dan keluarga besar Houfu kita sebagai bangsawan, yang lain kalau mau datang, rumahnya bisa kami berikan gratis!”
“Diberikan gratis?” Su Zanghua yang biasanya tenang saja, kali ini pun terkejut oleh ucapan berani gadis kecil itu.
Rumah seluas seribu hektar begitu saja diberikan gratis?
“Benar, gratis. Tapi tidak ada sertifikat tanah, tidak ada akta rumah, cuma diberikan tempat tinggal gratis, sampai puluhan tahun pun boleh. Bagaimana, kau tertarik atau tidak? Aku sudah bicara sampai tenggorokanku kering, karena aku tahu kau orang yang berwawasan luas makanya kau yang pertama kuajak bicara. Kalau kau tak mau, aku akan cari yang lain.”
Su Zanghua mengetuk-ngetuk meja dengan jemarinya yang panjang, lalu berpikir sejenak, “Kau memang terburu-buru, izinkan aku memikirkannya semalam.”
“Baiklah, ini memang perkara besar. Gulungan gambar ini beserta buku rencana detailnya kau bawa saja untuk dipelajari, besok kau harus beri aku jawaban.”
“Nona Li, kau tak takut aku bawa ini lalu bekerja sama dengan orang lain?”
Li Haoxiu mengangkat bahu, “Seperti yang sudah kau bilang, aku memang bicara dengan baik. Tapi untuk melaksanakan tidaklah sesederhana itu. Sekalipun kau tahu rencana ini lalu bekerja sama dengan orang lain, tetap tidak akan berhasil. Tanpa aku, kalian pasti tak bisa menjalankannya. Lagi pula, tanah itu milik keluarga Houfu kami.”
Su Zanghua tertawa ringan, “Nona Li, kau memang hebat.”
“Ah, kau berlebihan.”
Dalam perjalanan pulang, Li Haoxiu mengajak Ning Fuqing dan si Dukun ke Restoran Kemakmuran untuk makan. Makanan di sana sebenarnya tidak terlalu istimewa, hanya saja bahan-bahannya sangat beragam; ada kepiting, udang, ikan, dan aneka hasil hutan serta daging binatang liar.
Li Haoxiu yang sedang gembira karena mendapat ide bisnis yang bagus, mentraktir semua orang dengan murah hati.
Ning Fuqing sangat suka makan udang kecil, Li Haoxiu memesankan sepiring besar untuknya. Tapi Ning Fuqing bukan tipe orang yang pandai mengupas udang, kulitnya terlalu keras dan tangannya terlalu halus.
Sebaliknya, Li Haoxiu sangat terampil mengupas udang. Dalam waktu singkat, ia sudah mengupas sepiring penuh dan meletakkannya di piring, “Fuqing, makanlah.”
Ning Fuqing dengan patuh menerima makanan dari istrinya, dalam hati ia berpikir, istriku benar-benar baik padaku. Karena istriku sangat suka uang, aku harus memberinya banyak uang.
Dukun itu berkata heran, “Kau benar-benar baik pada Tuan Ning.”
“Aku juga baik padamu kok. Di rumahku kau makan, minum, dan tinggal gratis, bahkan ada pelayan yang melayanimu. Jangan cemberut begitu. Nih, makan cakar beruang!”
Dukun itu memutar bola matanya, “Aku kan harus membantumu bekerja, orang sehebat aku jarang bisa dipekerjakan orang lain, tahu!”