Bab 51: Permohonan Terakhir dari Feng Luo
Ia berpikir sejenak lalu berkata, “Paduka, bagaimana jika begini saja, berikan hamba waktu untuk menyelidiki penyebab kemerosotan keberuntungan negeri ini.”
Kaisar mengangguk puas. “Baik, aku percayakan urusan ini kepadamu. Terima kasih atas jerih payahmu.”
Hailaer menjawab sambil tersenyum, “Paduka, hamba hanya menjalankan tugas. Hamba mohon pamit.”
Setelah berkata demikian, ia memberi salam dan bangkit meninggalkan ruangan.
Begitu ia keluar, sang kaisar baru saja hendak memeriksa tumpukan dokumen ketika seorang pelayan melapor dari luar.
“Paduka, permaisuri memohon audiensi!”
Chu Anyang meletakkan dokumen. “Izinkan masuk!”
Tak lama kemudian, Wenting melangkah masuk dengan busana mewah.
“Paduka,” sapa Wenting dengan sopan.
Kaisar melambaikan tangan, memberi isyarat agar ia duduk.
“Ada urusan apa, Tingting?” tanya sang kaisar.
“Paduka, hamba mendengar adik hamba, Wenyi, sedang sakit. Hamba ingin menjenguknya, makanya datang meminta izin.”
Kaisar mengerutkan kening. “Bukankah beberapa waktu lalu dikabarkan Ningyuan Hou yang sakit? Mengapa sekarang Wenyi pula?”
“Mungkin karena penyakit Ningyuan Hou membuat Wenyi sangat letih.”
Kaisar berpikir sejenak. “Sekarang ini masa yang penuh gejolak, kondisi di luar sedang tidak kondusif. Lebih baik kau jangan keluar.”
“Jika kau benar-benar khawatir, lebih baik beri saja hadiah kepada mereka.”
“Nanti, setelah keadaan membaik, baru kau boleh keluar.”
Wenting terdiam sekejap, seberkas kilatan suram melintas di matanya, namun wajahnya tetap tersenyum manis.
“Paduka benar, hamba memang terlalu gegabah.”
Setelah berbincang sebentar, Wenting pun undur diri.
Setelah ia pergi, kaisar kembali mengerutkan dahi dan berpikir, “Mungkin apa yang dikatakan sang guru negeri ada benarnya. Beberapa tahun terakhir ini negeri tampak damai, namun pendapatan pajak semakin menurun.”
“Meski tak ada bencana besar, hasil panen terus berkurang setiap tahun.”
“Aku selalu merasa ada yang tidak beres, tapi tak bisa menemukan alasannya.”
Kaisar merenung sejenak, lalu memutuskan untuk mempercayakan penyelidikan pada sang guru negeri dan tak memikirkannya lagi.
Kini, perhatian beralih kepada Feng Luo.
Ia keluar dari istana dan dalam perjalanan pulang.
Feng Luo bersandar lelah di dalam kereta kuda, namun pikirannya tengah berbincang dengan suara di benaknya.
“Kalung giokmu itu ke mana, bagaimana bisa jatuh ke tangan Wenting?”
Suara itu pun terdengar bingung, butuh waktu lama hingga beberapa kilasan ingatan muncul.
Dalam bayang-bayang itu, tampak Wenting yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan giok itu, termasuk menindas dirinya.
Wenting, Wenyi, dan Wenrui, bertiga menekan kepalanya ke dalam air.
Saat itu, ia hampir saja kehilangan nyawanya.
Beruntung ayah Wenting datang tepat waktu.
Setelah itu, Feng Luo dikurung dalam kandang babi, bahkan mulutnya dijejali kotoran babi.
Melihat adegan itu, Feng Luo merasa sekujur tubuhnya melemah.
Ia refleks menyentuh bibirnya, lalu kenangan akan rasa kotoran babi itu menyeruak.
“Uh! Uwek!” Feng Luo pun spontan muntah-muntah.
Seluruh sarapan pagi keluar, dan ketika sudah sedikit tenang, kenangan akan rasa itu membuatnya kembali mual.
Setelah isi perutnya benar-benar kosong, Feng Luo merasa wajahnya pun sudah pucat.
“Sungguh, kau benar-benar tak berguna. Ayahmu adalah jenderal besar yang termasyhur di Negeri Qin.”
“Baik di medan perang perbatasan maupun melawan siluman, ia tak pernah gentar. Tapi mengapa akhirnya melahirkan anak selemah dirimu?”
“Hadapi saja mereka! Kalau pun harus mati bersama, itu lebih baik daripada terus-menerus ditindas!” Feng Luo menghardik penuh kecewa.
Suara di benaknya terdiam sejenak, lalu terdengar nada pilu.
“Aku harus menunggu ibuku menjemputku.”
“Selama aku masih hidup, di mana pun ibuku berada, ia pasti akan mengingatku. Ia tahu aku menderita, pasti akan datang menjemputku.”
“Tapi kalau aku mati, ia tak akan pernah kembali lagi.”
Feng Luo terdiam.
Ia pun sama—seorang anak yang tak lagi punya ibu. Sejak kecil, ia masih ingat ibunya begitu lembut, sampai akhirnya suatu hari…
Mengingat kejadian itu, hati Feng Luo pun tak kunjung tenang.
“Lalu giok itu, ke mana perginya?” ia tak tahan untuk bertanya lagi.
“Aku tak ingat, sepertinya ada sebagian ingatan yang hilang!” jawab suara itu.
Feng Luo menarik napas dalam-dalam. “Awalnya aku ingin Ningyuan Hou yang memberi pelajaran pada Wenyi, tapi sekarang aku berubah pikiran.”
“Hanya karena ia pernah memaksaku memakan kotoran babi, aku tak akan memaafkannya.”
Di mata Feng Luo, seberkas kilatan dingin yang menusuk melintas.
Inilah aturan keluarga Feng: “Balas budi dengan budi, balas dendam dengan dendam, jangan pernah membalas dendam dengan kebajikan! Perempuan keluarga Feng tak perlu berhati malaikat, cukup bertindak sesuai hati nurani sendiri!”
Setibanya di kediaman guru negeri, dua anak kecil tengah menunggunya.
“Ibu!”
Anak kedua berlari kecil penuh semangat menghampiri.
“Eh, sayangku. Rindu ibu, ya?” Feng Luo tersenyum sambil mencubit pipi anak keduanya.
“Iya, rindu sekali!”
“Oh ya? Lalu, bagaimana caranya kamu merindukan ibu?”
Anak kedua mengulurkan tangan kecilnya, memeluk leher Feng Luo, lalu mencium pipinya dengan keras.
Ciuman itu wangi susu, basah oleh liur!
Feng Luo tertawa geli. “Anak keduaku memang paling manis, harumnya luar biasa!”
“Hihi… Ibu juga baik banget, ibu paling cantik, ibu adalah ibu terbaik, anak kedua paling sayang ibu!”
Sementara itu, anak pertama berdiri di samping, tak tahan memutar bola matanya.
Setiap hari, ibu dan dua anak ini pasti bertukar kata-kata manis yang membuat orang lain geleng-geleng.
Anak pertama hendak pergi dengan wajah masam, tetapi Feng Luo melihatnya dan langsung menggendongnya.
“Aduh, sayangku yang besar, sini biar ibu cium juga.”
Tanpa peduli, ia pun mencium pipi anak pertamanya.
Anak pertama pun merona, merasa malu namun tetap bersikap gengsi.
“Duh, sudah besar tapi kelakuan masih saja begini.”
“Sudah besar pun kalian tetap anak-anakku, mau aku cium ya aku cium!”
Setelah puas, Feng Luo pun melepaskan kedua anaknya.
“Ibu!” Kali ini, anak kedua menarik-narik bajunya.
Feng Luo mengangkat alis memandang. “Ada apa, Nak?”
Ia tahu, jika anak itu tiba-tiba bersikap manja, pasti ada maunya.
“Ibu, ke mana perginya Telur Busuk? Sudah beberapa hari dia tak pulang.”
Feng Luo menghela napas. Sejak kedua anak lahir, Telur Busuklah yang paling sering menemani mereka.
Ia teringat, setelah melahirkan dan baru selesai membereskan semuanya, tubuhnya langsung tumbang karena kelelahan.
Meski saat itu ia berusaha sekuat tenaga agar tetap sadar, tetapi akhirnya tiga hari ia tertidur.
Saat terbangun, ia mendapati Telur Busuk sedang melindungi kedua anak, berhadapan dengan seekor harimau.
Waktu itu, Feng Luo baru saja menyeberang ke dunia ini, dan selama hamil kekuatannya hampir habis, tak sanggup melindungi siapa pun.
Bahkan, anak usia tiga tahun pun bisa dengan mudah menghabisinya!
Jika bukan karena Telur Busuk, mungkin kedua anak itu sudah tidak ada lagi.
Mengingat semua itu, hati Feng Luo pun melunak.
“Baiklah, hari ini ibu akan berunding dengan Telur Busuk. Kalau dia mau menurut, ibu akan membebaskannya.”
“Benarkah? Wah, hebat!” Anak kedua pun mengangguk girang.