Bab Dua Puluh Dua: Lin Xiaoxiao Menjadi Agen Rahasia
“Chen Ping, apakah ini ada hubungannya denganmu?”
“Kalau memang ada hubungannya denganku, lalu kenapa? Kalau tidak, aku juga ingin tahu, apa yang akan kau lakukan?”
Chen Ping sengaja menjawab dengan nada menggantung. Mendengar ucapannya, Lin Xiaoxiao semakin putus asa. Ia langsung meraih bahu Chen Ping dan berkata dengan suara bergetar,
“Chen Ping, aku tanya sekali lagi, anggap saja aku memohon padamu, tolong katakan yang sebenarnya, beritahu aku apakah ini semua ada kaitannya denganmu.”
“Iya, akulah yang melakukannya.”
Chen Ping menjawab dengan dingin. Mendengar itu, Lin Xiaoxiao seketika hancur, air matanya mengalir deras. Melihat Lin Xiaoxiao menangis, sejenak timbul rasa iba di hati Chen Ping, namun ia segera teringat pada ucapan menyakitkan Lin Xiaoxiao tempo hari. Seketika rasa iba itu sirna. Melihat Lin Xiaoxiao tak sanggup berkata apa-apa, ia melanjutkan,
“Hanya karena satu unggahan saja kau jadi seperti ini. Kalau nanti ada satu lagi yang lebih buruk dan membuatmu ingin mati, apa yang akan kau lakukan?”
“Jangan, tolong, aku mohon padamu. Hari itu aku yang salah, aku tidak seharusnya berkata seperti itu padamu. Kumohon, lepaskan aku.”
“Aku sudah memberimu kesempatan untuk meminta maaf saat itu, tapi kau yang menolaknya. Sekarang caramu bicara seolah-olah aku yang bersalah.”
Chen Ping tetap bicara dengan dingin. Mendengar itu, Lin Xiaoxiao menyeka air matanya, menatap Chen Ping dengan penuh harap.
“Chen Ping, kumohon maafkan aku. Aku benar-benar tidak bermaksud berkata seperti itu padamu. Kumohon, ampuni aku, aku mohon, sungguh-sungguh aku mohon.”
Lin Xiaoxiao sendiri tak tahu apa yang harus diucapkan, ia hanya terus memohon pada Chen Ping, entah mengharapkan Chen Ping memaafkannya atau agar Chen Ping mau menghapus unggahan di internet itu.
“Kenapa aku harus memaafkanmu? Waktu itu, saat aku memintamu menarik ucapanmu, kau menolaknya. Sekarang kau bicara seolah-olah aku yang salah.”
“Chen Ping, aku benar-benar menyesal. Aku hanya berharap kau bisa bersikap besar hati dan tidak mempermasalahkan kesalahanku. Kumohon, maafkan aku. Tidak… kumohon, lepaskan aku.”
Lin Xiaoxiao terisak sambil bicara, air matanya kembali mengalir. Melihatnya seperti itu, Chen Ping tidak ingin lagi menyakitinya dengan kata-kata. Ia sadar, jika seseorang terlalu tertekan, ia bisa melakukan hal-hal di luar dugaan yang sulit diselesaikan. Maka ia berkata,
“Aku bisa memaafkanmu.”
Lin Xiaoxiao menatapnya dengan bingung, entah menunggu ucapan selanjutnya atau terkejut karena Chen Ping mau memaafkannya.
“Tapi ada syaratnya.”
“Syarat apa? Katakan saja, aku akan menuruti semuanya.”
Sekarang Lin Xiaoxiao hanya berharap Chen Ping mau memaafkannya dan tidak lagi memusuhinya di sekolah. Apa pun syarat Chen Ping, ia akan menurut.
“Syaratnya tidak sulit. Mulai sekarang, apa pun yang kau lakukan di sekolah harus mengikuti aturanku. Selain itu, apa pun yang terjadi di sekolah, kau harus mencari tahu untukku dan melaporkannya dengan jujur.”
“Baik, aku setuju.”
Tanpa berpikir panjang, Lin Xiaoxiao langsung menyetujuinya. Ia sendiri tak tahu apa yang sebenarnya ia takutkan.
“Tapi…”
Chen Ping kembali bersuara, membuat jantung Lin Xiaoxiao seketika berhenti berdetak. Begitu melihat perhatian Lin Xiaoxiao sudah tertuju padanya, Chen Ping berkata,
“Tapi kalau aku tahu ada satu saja kebohongan dalam laporannmu, maka aku akan melakukan sesuatu yang tak pernah kau bayangkan. Bisa saja membuatmu ingin mati, atau bahkan benar-benar mati.”
Mendengar ancaman Chen Ping, tubuh Lin Xiaoxiao langsung bergetar hebat. Ia tak menyangka seorang pemuda berusia dua puluhan bisa memiliki tekanan mental sebesar itu. Seumur hidup, Lin Xiaoxiao tidak pernah merasa takut pada siapa pun, tapi hari ini Chen Ping berhasil membuatnya gentar.
“Tenang saja, aku pasti akan berkata jujur.”
Chen Ping mengangguk puas, dan Lin Xiaoxiao pun segera meninggalkan sekolah.
“Chen Ping, kau murid miskin, sok dingin di sekolah, untuk apa?”
“Benar. Kau bukan orang kaya. Oh iya, dulu kau memang anak orang kaya, tapi sekarang sudah jatuh miskin. Kalau sudah jatuh, jangan lagi sok seperti dulu.”
Chen Ping mendengar ejekan mereka dengan tenang. Meski hatinya kesal, ia tahu kalau sekali saja ia melawan, akan ada seribu kali balasan. Karena itu, ia memilih menundukkan kepala dan membaca buku.
Salah satu dari mereka, merasa diabaikan, tiba-tiba merampas buku Chen Ping dan berkata dengan marah,
“Chen Ping, kau tidak dengar aku bicara padamu? Apa karena aku belum pernah menyentuhmu, jadi kau pikir aku mudah dipermainkan?”
Orang itu mengangkat tangan, hendak menampar wajah Chen Ping. Chen Ping sudah bersiap untuk menghindar, namun tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara seseorang,
“Berhenti!”
Chen Ping menoleh lewat kerumunan, ternyata yang berdiri di ambang pintu adalah Lin Xiaoxiao. Ia membawa beberapa buku, seolah hendak mengajar di kelas lain. Melihat itu, bukannya merasa berterima kasih, Chen Ping justru menganggap Lin Xiaoxiao bodoh. Ia hanya bisa menghela napas dalam hati. Kemudian terdengar Lin Xiaoxiao, berjalan masuk dan berkata,
“Kalian tidak boleh memperlakukan Chen Ping seperti ini. Jika kalian tidak berhenti sekarang juga, aku akan melaporkannya pada kepala sekolah, dan kalian akan dihukum.”
“Bu Guru, sepertinya anda tidak pantas bicara seperti itu. Bukankah terakhir kali anda juga ikut menjelekkan Chen Ping?”
“Benar, Bu. Apa anda yakin pantas berdiri di depan saya sekarang?”
Salah satu dari mereka menatap Lin Xiaoxiao dari atas sampai bawah. Lin Xiaoxiao merasa tidak nyaman, wajahnya sempat berubah panik. Chen Ping menggeleng, merasa Lin Xiaoxiao tidak hanya bodoh, tapi juga pelupa.
“Meskipun waktu itu aku bicara buruk tentang Chen Ping, aku tetap guru di sini. Aku punya hak menegur. Kalian hanya murid, berkata seperti itu padanya adalah penghinaan terhadap nama baiknya.”
“Bu Guru, soal nama baik, sepertinya…”
Salah satu dari mereka menatap Lin Xiaoxiao penuh arti. Lin Xiaoxiao paham maksudnya. Matanya mulai berkaca-kaca, hampir saja ia pergi, namun ia sadar sudah terlanjur mengambil tindakan. Jika mundur sekarang, ia akan semakin sulit dihormati oleh murid-muridnya.
Pada akhirnya, para siswa itu meminta maaf pada Lin Xiaoxiao, karena Chen Ping menggunakan kekuatan khusus untuk membantunya.
“Maaf, Bu. Kami tidak seharusnya berkata seperti tadi.”
“Betul, Bu. Tolong maafkan kami.”
Lin Xiaoxiao tertegun, tidak tahu harus menjawab apa. Banyak perasaan aneh memenuhi hatinya. Padahal ia sudah menyiapkan jawaban untuk membalas mereka, tapi tiba-tiba mereka malah minta maaf.
Melihat Lin Xiaoxiao terdiam, para siswa itu melanjutkan,
“Bu Guru, jangan diam saja. Apa anda tidak mau memaafkan kami?”
“Benar, Bu. Tolong jangan berpikir macam-macam. Kami mengakui kesalahan dan mohon maaf anda.”
Chen Ping sebenarnya tidak ingin Lin Xiaoxiao terus dipermalukan di depan umum, juga tidak ingin mereka terus menyerangnya dengan kata-kata. Itulah sebabnya ia menggunakan kekuatannya untuk membantunya. Ia tidak tega melihat Lin Xiaoxiao semakin tertekan tanpa tahu cara membalas.