Bab 12 Orang Ini Sepertinya Terlihat Familiar

Kakak Jahat Menguasai Rumah: Asalkan Tidak Malu, Setiap Makan Bisa Menikmati Daging Bagaimanapun juga, aku memang tidak punya uang. 2290kata 2026-02-09 14:38:35

“Nenek, sekarang kita mau ke mana? Apa kita akan mengunjungi Bibi dulu?” tanya Si Si sambil memeluk kendi tanah liat di pelukannya. Ia merasa membawa benda ini sangat merepotkan, lebih baik segera mengantar daging kelinci ini ke rumah Bibi terlebih dahulu.

“Benar, kamu ikuti saja nenek, kita akan ke rumah bibimu dulu.”

“Nanti kamu harus bisa menahan emosi, kalau ibu mertuanya Bibi mencari gara-gara, kamu jangan pedulikan dia, paham?” pesan Nenek Zhou.

Begitu menerima ingatan dari tubuh aslinya, Si Si tahu bahwa ibu mertua Bibinya bukan orang yang mudah diajak bergaul. Ibu mertua itu selalu merasa anaknya, seorang lelaki terpelajar, menikahi gadis desa adalah hal yang memalukan, dan sering kali melontarkan kata-kata merendahkan, merasa anaknya lebih tinggi derajatnya.

Menurut Si Si, orang yang berani dan setia sering berasal dari golongan rakyat biasa, sementara para terpelajar yang berhati busuk jumlahnya tak sedikit. Banyak juga yang belajar sampai bodoh, tidak tahu bertani, malas bekerja, apa pun tidak bisa, makannya pun rakus!

Sifat Bibinya memang terlalu penurut, padahal ia sendiri heran kenapa nenek dan bibi tertua begitu galak, justru bibi yang satu ini berbeda jauh sifatnya.

“Nenek, tenang saja, aku janji akan menutup mulut rapat-rapat.”

Si Si memang berkata begitu, tetapi dalam hatinya ia punya pikiran lain. Ia memang janji tidak bicara, tapi tidak janji tidak bertindak.

Semoga saja ibu mertua Bibi hari ini tidak kelewat bicara, kalau tidak, bisa-bisa ia dihajar olehnya.

Mereka berdua berjalan beriringan, Si Si pun menikmati pemandangan di jalanan zaman kuno ini.

Negeri Da Yu ini sama sekali tidak pernah muncul dalam sejarah, bahkan jika saat pelajaran sejarah dulu ia sempat tertidur, tidak mungkin ia melewatkan satu dinasti, kan?

Sudahlah, toh sudah terlanjur sampai sini, lebih baik menikmati saja. Lagi pula, jika kembali ke dunia asal, ia hanya akan jadi bangkai, sekarang setidaknya ia hidup, bisa makan, minum, berlari, dan melompat, bahkan usianya pun jadi muda lagi. Bukankah itu menguntungkan?

Kota Si Shui tampak ramai, di kiri-kanan jalan penuh dengan pedagang kecil yang menggelar dagangan, suara mereka bersahut-sahutan, suasana begitu hidup.

Orang-orang berlalu lalang, berbagai macam ragamnya. Si Si bahkan melihat ada orang yang mendorong kambing ke jalan, beberapa kereta kuda hilir mudik di depannya, membuatnya iri setengah mati. Kapan ia bisa punya kereta kuda sendiri, supaya pantatnya tidak perlu menderita begini?

“Tidak punya uang, berani-beraninya ke rumah bordil! Cepat enyah dari sini!”

Tiba-tiba suara lelaki membuat nenek dan cucu itu berhenti dan menoleh ke sumber suara, terlihat seorang lelaki berpakaian hijau dilempar keluar dari rumah bordil, jatuh terguling di depan pintu.

Si Si terkejut, pagi-pagi begini sudah ke rumah bordil? Orang ini niat banget, ya? Ia pun melangkah maju, ingin melihat siapa sebenarnya orang aneh ini, benar-benar luar biasa!

“Panggilkan Nona Yan Hong! Aku mau bertemu dengannya!” teriak lelaki berpakain hijau itu sambil menepuk-nepuk debu di bajunya di depan pintu rumah bordil.

“Kamu itu kere, masih berani-beraninya ingin bertemu Nona Yan Hong? Mimpi kali!” balas seseorang dari dalam.

“Kalau berani teriak-teriak lagi di depan pintu, jangan salahkan kami kalau dihajar!”

“Saudara-saudara, ambil pentungan!”

Begitu perintah diberikan, belasan tukang pukul keluar dari rumah bordil dengan membawa tongkat. Mereka adalah para penjaga yang biasa dipelihara rumah bordil, setiap ada keributan, mereka yang bertindak.

“Tunggu saja, kalian!” Lelaki berbaju hijau itu takut dipukuli, langsung pergi dengan mengibaskan lengan bajunya.

Si Si hanya memutar bola mata. Dasar penakut, kirain jagoan, ternyata hanya begitu saja?

Tapi, kenapa wajah penakut ini terasa familiar? Bukankah dia suami Bibinya? Wah, gawat kalau benar!

Benar saja, saat ia menoleh, dilihatnya wajah Nenek Zhou sudah hitam legam seperti ingin meneteskan tinta, makin yakinlah ia bahwa lelaki tadi adalah Tang Anping, suami Bibinya.

“Nenek, itu suami Bibi, ya?” tanya Si Si dengan mata membelalak, merasakan kalau neneknya sebentar lagi akan meledak.

“Ikuti dia!” Nenek Zhou menggertakkan gigi, lalu berjalan cepat mengikuti lelaki tadi.

Si Si pun segera mengekor di belakang, ia harus siap-siap menahan, jangan sampai neneknya marah lalu benar-benar membunuh Tang Anping.

Nenek Zhou benar-benar murka, ia tak menyangka, niatnya yang hanya ingin menengok putri bungsunya malah menyaksikan menantunya pagi-pagi sudah ke rumah bordil.

Ini benar-benar aib besar, apa sebenarnya yang dipikirkan Tang Anping tentang putrinya? Mengaku terpelajar, tapi ilmunya seperti masuk ke perut anjing saja.

Setiap hari mengaku sebagai sarjana, tapi bertahun-tahun tetap saja cuma sarjana, tidak ada semangat maju, sekarang malah ke rumah bordil, entah putrinya tahu atau tidak, kalau tahu pasti sangat sakit hati.

Dua orang itu terus mengikuti Tang Anping sampai ke sebuah rumah kecil. Tang Anping mengetuk pintu dengan keras.

“Istriku, bukakan pintu! Aku pulang!” teriaknya.

“Ayo cepat, aku capek sekali, cepat buka pintunya!”

Karena merasa tidak ada respons, Tang Anping mulai menendang-nendang pintu dengan tidak sabar. Begitu pintu terbuka sedikit, ia langsung memaki orang yang membuka pintu.

“Kamu tuli, ya? Sudah teriak keras-keras masih saja tidak dengar?” omelnya.

“Lebih baik telingamu dipotong saja!” serunya sambil mengulurkan tangan ingin mencubit telinga orang itu.

“Suamiku, tadi aku di halaman belakang sedang mencuci baju, sungguh aku tidak dengar. Ibu yang memanggilku, baru aku tahu kamu sudah pulang, langsung aku buka pintu. Jangan marah padaku, ini salahku, seharusnya aku lebih cepat membukakan pintu,” ujar perempuan yang membuka pintu, ialah Yin Hua, bibi Si Si sekaligus putri bungsu Nenek Zhou.

“Kamu perempuan sialan, masih berani membantah! Jadi maksudmu ibu dengar tapi tidak mau membukakan pintu untukku, malah menyuruhmu? Berani-beraninya kamu memecah belah aku dengan ibuku, awas saja, kubuat mampus kamu!”

Setelah berkata demikian, Tang Anping mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Yin Hua.

“Tang Anping, coba saja kamu berani memukul! Kalau hari ini kamu benar-benar berani, jangan harap tanganmu masih utuh!” teriak Nenek Zhou dengan mata berapi-api. Melihat anak perempuannya hendak dipukul, ia langsung melompat, menarik rambut Tang Anping sekuat tenaga hingga menyeretnya ke hadapannya.

“Ibu, kenapa Ibu datang?” tanya Yin Hua terkejut.

“Ibu mertua, kenapa Anda tiba-tiba datang?” Tang Anping pun ketakutan.

Keduanya sama-sama melihat Nenek Zhou, tapi nada mereka berbeda, satu penuh kegembiraan, satu penuh ketakutan.

“Andaikan Ibu tidak datang, mana bisa melihat sandiwara ini? Dasar anak bodoh, hidup macam apa yang kamu jalani? Cepat kemasi barang-barangmu, ikut Ibu pulang, Ibu masih sanggup menafkahimu!”

Nenek Zhou memandang pilu putri bungsunya yang kini makin kurus dibanding terakhir kali bertemu. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Jika yang ia lihat saja sudah seperti ini, entah yang tidak terlihat, berapa banyak lagi penderitaan yang harus ditanggung putrinya.