Bab 123: Rasa Penasaran Tang Fei
Sebelum kiamat, Meng Fan hanyalah seorang pemuda rendahan yang berjuang di lapisan bawah masyarakat. Ia tidak pernah menjalin asmara, apalagi memiliki kesempatan untuk mengenal banyak wanita cantik.
Dalam ingatannya, Xia Xi sudah dianggap sebagai wanita tercantik yang pernah ia temui. Sayangnya, wanita ini adalah tipe yang tidak tahu berterima kasih. Ia tidak hanya mengabaikan kebaikan yang telah lama diberikan Meng Fan, tetapi juga mengkhianatinya di masa kiamat dengan membocorkan informasi tentang dirinya kepada keluarga Wang.
Pengalaman pahit itu membuat Meng Fan memiliki trauma psikologis terhadap wanita-wanita yang disebut cantik. Ia selalu merasa bahwa makhluk yang semakin menawan di alam ini justru semakin berbahaya, seperti laba-laba, kupu-kupu, atau wanita-wanita yang mengandalkan penampilan untuk memikat.
Tak lama kemudian, di bawah bimbingan Qian Peng, Meng Fan berjalan menuju sebuah bangunan yang cukup megah. Inilah Klub Bintang yang legendaris. Sebelum kiamat, tempat ini adalah kelab mewah khusus untuk bersosialisasi dan hiburan bagi kalangan atas. Seluruh gedung dibangun dengan sangat megah dan didekorasi dengan mewah, menyerupai istana dalam legenda.
Jika di masa sebelum kiamat, Meng Fan tentu tidak memiliki kualifikasi untuk masuk ke sini. Mungkin baru saja sampai di depan pintu, ia sudah diusir oleh satpam kelab.
Namun sekarang, situasinya berbeda. Kelab hiburan yang dulunya bintang lima ini kini telah berubah menjadi reruntuhan yang mengenaskan. Selain noda darah di mana-mana dan retakan dinding yang menganga, tidak ada lagi jejak kemewahan yang tersisa.
Meng Fan melangkah menaiki tangga yang hancur menuju pintu masuk klub. Belum sempat ia benar-benar memasuki lobi, terdengar suara dingin yang membentak dari samping, "Berhenti! Qian Peng, siapa orang yang ada di belakangmu itu?"
Meng Fan tertegun, lalu menoleh ke arah sumber suara. Dari dalam kegelapan, muncul seorang wanita cantik yang mengenakan gaun panjang berwarna biru muda, dengan penampilan yang anggun dan berwibawa seperti seorang putri dari keluarga terpandang.
"Bos, namanya Meng Fan. Dia teman yang kutemui di jalan," jawab Qian Peng. Begitu melihat wanita itu, ia segera memasang senyum menjilat dan berlari kecil menghampirinya.
"Wanita ini adalah Tang Fei?"
Meng Fan mengikuti punggung Qian Peng dan memusatkan perhatiannya pada wanita itu. Matanya sedikit berbinar. Tidak bisa dipungkiri, Tang Fei memang wanita yang sangat cantik. Postur tubuhnya yang elegan dengan lekuk badan yang sempurna, ditambah sepasang kaki jenjang yang memukau, membuat pesonanya sulit disembunyikan meski ia mengenakan gaun panjang. Selain itu, wanita ini memiliki wajah bak malaikat; kulit putih bersih, bulu mata lentik, dan proporsi wajah yang sangat halus tanpa cela.
Meng Fan bukannya belum pernah melihat wanita cantik. Xia Xi dan Kak Yang pun termasuk kategori wanita yang sangat menawan. Namun, dibandingkan dengan wanita di depannya ini, baik Xia Xi maupun Kak Yang masih kurang memiliki aura dingin dan elegan. Ini bukan soal wajah, melainkan kepercayaan diri dan keanggunan yang terpancar secara alami.
"Memang wanita yang sangat cantik," batin Meng Fan sambil tersenyum tipis. Namun, ia segera memalingkan pandangan dan menggelengkan kepala. Sejujurnya, Tang Fei memang memikat, seperti bunga teratai salju yang angkuh di puncak gunung, yang akan membuat pria mana pun terpesona.
Akan tetapi, Meng Fan sudah melewati fase "terbutakan oleh nafsu". Baginya, semakin cantik seorang wanita, semakin berbahaya dia. Menghadapi wanita seperti ini, lebih baik menjaga jarak.
Saat Meng Fan memperhatikan Tang Fei, wanita itu pun sedang menatapnya dengan pandangan curiga. Tak lama kemudian, tatapan Tang Fei berubah serius. Ia seolah menangkap aura yang tidak biasa dari pria yang tampak biasa saja ini. Ia menyipitkan matanya yang indah, lalu melangkah perlahan mendekati Meng Fan dan bertanya, "Mengapa kau datang ke sini?"
Sebelum Meng Fan sempat menjawab, Qian Peng yang berada di sampingnya menjelaskan dengan polos, "Bos, dia datang untuk mencari keluarganya."
"Keluarga?" Tang Fei terkejut dan bertanya siapa keluarga yang dicari Meng Fan.
Meng Fan berdeham, lalu menjawab dengan sopan dan tenang, "Orang yang kucari adalah adik perempuanku. Namanya Meng Xiaolan. Tubuhnya sedikit lebih pendek darimu dan dia adalah mahasiswi Universitas Barat..."
Setelah Meng Fan mendeskripsikan penampilan adiknya, Tang Fei tampak terperangah dan berkata, "Ternyata kau adalah kakak kandung Xiaolan. Tidak disangka, orang yang terus-menerus dirindukan gadis itu masih hidup dan benar-benar datang mencarinya."
"Kau mengenal adikku?" Jantung Meng Fan berdegup kencang. Ia mendongak menatap Tang Fei dengan suara yang sedikit bergetar.
"Kenal. Setengah bulan lalu, saat tim kami melewati Distrik Barat, kami tidak sengaja menemukan adikmu. Saat itu dia sedang dikejar monster. Karena rasa iba, aku menyelamatkannya. Sejak saat itu, dia hidup bersama timku." Tang Fei mengangguk, memberikan jawaban pasti. Namun, ia sempat terdiam sejenak, wajahnya menunjukkan ekspresi penyesalan yang mendalam. "Seandainya kau muncul lebih awal, mungkin hal ini tidak akan terjadi..."
"Apa maksudmu? Apakah terjadi sesuatu pada adikku?" Hati Meng Fan mencelos, rasa sukacita yang baru saja dirasakannya langsung jatuh ke dasar jurang.
Tang Fei menghela napas, "Beberapa hari lalu, tim kami diserang monster. Banyak orang tewas dan terluka. Adikmu tidak sengaja tergigit monster dan terinfeksi virus yang sangat langka. Dia sudah koma selama beberapa hari, demam tinggi, dan pikirannya kacau. Aku sudah menugaskan dua orang untuk merawatnya, tapi virus itu terlalu mengerikan. Aku khawatir dia..."
"Di mana dia? Segera antar aku melihatnya!" Sebelum Tang Fei menyelesaikan kalimatnya, mata Meng Fan membelalak lebar. Tatapan matanya yang tajam bak singa membuat Tang Fei terkejut hingga mundur selangkah. "Kau..."
"Maaf, emosiku terlalu meluap. Kuharap kau tidak keberatan." Meng Fan tersadar bahwa ia lepas kendali, segera menenangkan diri dan menunduk meminta maaf.
"Tidak apa-apa, aku mengerti. Ikutlah denganku, tempat Xiaolan dirawat ada di lantai tiga!" Tang Fei menggelengkan kepala, lalu berbalik dan memimpin Meng Fan masuk ke dalam lobi klub.
Meskipun wajahnya tetap terlihat tenang dan dingin, saat menaiki tangga, ia terus melirik pria di sampingnya dengan ekor matanya. Ia merasa sangat tertarik pada Meng Fan. Baru saja, sorot mata yang ditunjukkan Meng Fan benar-benar tajam dan penuh intimidasi.
Sebagai pemimpin tim, Tang Fei memiliki bakat yang luar biasa. Ia telah menembus batas kemampuan manusia dan berevolusi ke tingkat yang cukup tinggi. Meski sesama pengguna kemampuan, kekuatan tempur setiap orang berbeda-beda, dan Tang Fei termasuk tipe yang berbakat. Ia bahkan bisa menghadapi dua lawan sekelas Qian Peng dengan tenang.
Justru karena itulah ia mampu mengendalikan seluruh tim dan membuat semua orang bersedia mengakuinya sebagai "Bos". Namun, saat pertama kali melihat Meng Fan, Tang Fei sudah menangkap aura yang sangat mendalam dan mengerikan dari pria ini. Matanya begitu dalam, seperti jurang tak berdasar yang sulit ditebak. Intuisi Tang Fei mengatakan bahwa Meng Fan sangat kuat, bahkan mungkin melampaui dirinya sendiri. Hal itulah yang membuatnya semakin tertarik.