Bab 43: Justru kamu yang mengalami itu
Aku menatapnya dari atas sampai bawah, lengannya lengkap, kakinya juga ada, tampaknya tubuhnya tidak terluka. Secara fisik tidak ada masalah, berarti ini soal perasaan? Apa dia sudah berpaling hati? Rasanya tidak juga! Selama ini kami tiap hari saling menelepon, tidak ada tanda-tanda aneh, apalagi kalau memang berpaling, mana ada orang yang menangis sampai matanya bengkak seperti panda? Sampai membuat dirinya tampak seperti bukan manusia, bukan pula hantu, seolah habis dilecehkan?
Tunggu, “dilecehkan”? Begitu kata itu terlintas di benakku, langsung teringat pada fotografer berambut panjang itu. Jangan-jangan dia yang berbuat jahat pada Jiang Xi? Sial, semakin kupikirkan, semakin masuk akal. Kalau bukan karenanya, kenapa Jiang Xi sebelumnya baik-baik saja, lalu pulang mendadak tak mau bicara denganku, sekarang bahkan sampai begini keadaannya?
“Jiang Xi, apa fotografer itu… dia menyakitimu? Jangan takut, jangan khawatir, meski pun benar itu terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu. Kalau kau mau lapor polisi, aku akan menemanimu. Kalau tidak, aku akan menahan semuanya bersamamu. Dalam hidup, kadang kita mengalami hal buruk, tapi bagaimanapun, aku akan selalu ada di sisimu.”
Mungkin aku terlalu ingin menunjukkan ketulusanku pada Jiang Xi, sampai tanpa ragu mengutarakan semua yang ada di benak. Kupikir, setelah aku bersikap setulus ini, Jiang Xi pasti akan tersentuh dan menangis.
Ternyata…
Jiang Xi menatapku dengan geram setelah mendengar ucapanku, lalu mengambil bantal di tempat tidur balkon dan melemparkannya ke arahku, “Apa-apaan sih yang kau ucapkan! Kau yang dilecehkan! Mau bikin aku marah sampai mati ya! Huu…”
Setelah beberapa kali memukulku, Jiang Xi menghentakkan kakinya dengan kesal, lalu seperti bendungan yang jebol, air matanya mengalir deras, suaranya pun pecah tak tertahankan.
Bukan karena itu? Lalu apa sebenarnya? Apa yang membuatnya begitu sedih, sampai menangis seperti aku ini sudah mati?
Saat aku masih bingung dan merasa iba, tiba-tiba ibu Jiang Xi menyodorkan selembar kertas padaku sambil menyeka air mata, bergumam, “Sebelum pulang, Jiang Xi menemani temannya medical check-up, dia sekalian juga periksa. Sebenarnya dia tidak mau memberitahumu, katanya mau langsung putus begitu kau pulang. Tak kusangka kau ternyata sangat setia, kurasa ini tak seharusnya disembunyikan lagi darimu. Lihat saja ini, kau pasti mengerti kenapa.”
Aku segera mengambil kertas itu—hasil laboratorium. Di situ tertulis: Antigen permukaan hepatitis B positif.
Kalau biasanya kita tidak terlalu paham istilah medis, mungkin tidak langsung paham apa artinya itu. Tapi di bawahnya, ada catatan dokter: Disarankan berobat ke rumah sakit khusus, rumah sakit kami tidak menerima pembawa virus hepatitis B.
Kulirik lagi nama di lembar itu: Jiang Xi, tertulis dengan jelas.
Jadi, Jiang Xi tertular virus hepatitis B?
Aku ingat, dulu topik hepatitis B sempat sangat sensitif. Sampai sekarang pun dunia medis belum bisa mengatasinya. Pembawa virus hepatitis B akan membawa virus itu seumur hidup, tak bisa benar-benar sembuh.
Waktu muda mungkin tidak terlalu terasa, tapi ketika usia bertambah, risikonya terkena penyakit hati jauh lebih besar dibanding orang sehat. Jika sudah sampai tahap hepatitis B kronis, penularannya sangat tinggi.
Dulu di kampungku ada satu keluarga, menantu perempuannya ternyata pembawa hepatitis B. Awalnya tak ada yang tahu, tapi belakangan seluruh keluarga tertular, bahkan anak-anak. Uang yang mereka kumpulkan habis untuk berobat, tetap saja tak cukup.
Karena itu, penderita hepatitis B sering didiskriminasi. Hidup, sekolah, dan pekerjaan mereka sangat terpengaruh. Perempuan yang mengidapnya jika ingin punya anak harus mendapat suntikan khusus untuk menghambat penularan, tapi itu pun tidak menjamin seratus persen. Para penderita seperti perahu kecil terombang-ambing di lautan, tidak berani mengaku bahwa dirinya pembawa virus.
Belakangan pusat pengendalian penyakit menggalakkan kepedulian pada pembawa virus hepatitis B, mengajak masyarakat untuk tidak mendiskriminasi. Bahkan sempat mengangkat seorang selebritas sebagai duta, yang dengan lantang berkata, “Saya pembawa virus hepatitis B, tolong berikan perhatian pada penderita hepatitis B.”
Benar, selebritas itu memang pembawa virus hepatitis B. Tapi dia seorang bintang, biaya pengobatan tak masalah, banyak suplemen untuk menjaga kesehatan. Tapi bagaimana dengan orang biasa?
Hal ini memang serba salah. Di kampungku, pernah ada seorang gadis pembawa virus hepatitis B, takut didiskriminasi, dia memilih tak pernah memberitahu siapa pun. Sahabatnya sangat dekat, mereka sering makan bersama memakai alat makan yang sama. Sampai suatu ketika, sahabatnya menangis karena baru didiagnosis hepatitis B. Barulah si gadis sadar mungkin selama ini dia sudah menularkan tanpa ia tahu.
Jadi, virus hepatitis B memang menakutkan, setidaknya sampai sekarang dunia medis belum bisa menyembuhkannya.
Setelah semua pemahaman tentang hepatitis B itu berkelebat di kepalaku, aku langsung bereaksi pada Jiang Xi.
Aku berkata, “Jiang Xi, pertama, ini kan baru pemeriksaan pertama, kamu harus pastikan lagi di rumah sakit khusus penyakit hati, penyakit ini seperti kanker, harus diperiksa beberapa kali untuk memastikan.”
Air mata Jiang Xi langsung jatuh, “Ini juga rumah sakit resmi, pasti benar. Aku memang sudah tertular virus hepatitis B, huu…”
Jiang Xi yang biasanya tegas, matang, pintar, dan kuat, saat ini seperti kembali menjadi gadis muda yang polos, lemah, dan tak berdaya. Ia menangis dengan sedih, membuatku benar-benar iba.
Aku melangkah mendekatinya, hendak memeluknya, tapi ia terkejut dan langsung mundur ke dalam balkon, lalu mengunci pintu.
Dari dalam ia berteriak, “Pergilah, jauhi aku! Virus hepatitis B bisa menular lewat cairan tubuh, jangan sampai aku menularkan lewat air liur atau air mata. Kalau aku sampai menulari kamu, aku tak akan pernah memaafkan diriku sendiri. Aku sangat mencintaimu, mana mungkin tega menyakiti kamu! Jiang Dong, aku tidak bisa lagi bersama denganmu, aku tak mau menyeretmu dalam masalah ini. Carilah gadis sehat yang baik, aku akan mendoakanmu, tidak akan menyalahkanmu, huu…”
Awalnya aku hanya merasa kasihan pada Jiang Xi, tapi setelah mendengar kata-katanya, air mataku pun tak bisa kutahan lagi.
Aku berdiri di dalam balkon, menggenggam gagang pintu, berkata, “Jiang Xi, aku sudah memutuskan, seumur hidup aku hanya untukmu. Jangan coba-coba mengusirku dengan berbagai cara, bagaimanapun keadaanmu, kau tetap wanita yang paling berharga dalam hidupku, kau mengerti?”
Ia menangis semakin keras, “Pergilah, kumohon. Jangan bodoh, virus hepatitis B itu seumur hidup. Kalau aku harus melihatmu menderita karenaku seumur hidup, aku tidak sanggup. Lagi pula, kita belum menikah, kalau sudah menikah bertahun-tahun, mungkin aku tidak akan terlalu bingung, tapi kini kamu masih muda, masih bisa mengejar hidup yang lebih baik. Hidupku sudah hancur, tak perlu menyeretmu ke dalamnya. Pergilah, kumohon, pergilah!”