Bab 41 Gadis yang Melihat Segalanya dengan Jelas
“Sudahlah, cetak saja beberapa lembar dan bagikan ke para aktor.” Rupanya sang sutradara juga tahu, naskah ini memang sulit sekali untuk ditulis.
Di lokasi, semua orang membawa laptop dan printer. Setelah Jiang Xi mencetak naskah, ia membagikan satu eksemplar kepada pemeran wanita kedua, lalu pergi mencari pemeran utama pria dan pemeran pendukung pria.
Karena bosan, aku pun menemaninya berkeliling. Saat ia memberikan naskah kepada pemeran utama pria, aku sempat melihat wajahnya dengan jelas—memang sangat tampan, hanya saja entah apakah wajah itu hasil operasi plastik atau bukan.
Setelah itu ia mencari pemeran pendukung pria. Anak orang kaya memang berbeda; pemeran utama saja tidak punya mobil rumah, tapi pemeran pendukung pria punya, bahkan sangat besar, ada tempat tidur, ruang makan, kamar mandi, bisa mandi dan memasak di dalamnya—katanya mobil rumah itu harganya miliaran.
Anak orang kaya itu awalnya bersandar santai di sisi mobil rumah, terlihat bad boy tapi tetap rupawan. Begitu melihat Jiang Xi mendekat, ia tersenyum dan menerima naskah dari tangan Jiang Xi.
Melihat ia tersenyum, aku pun refleks langsung menempel di samping Jiang Xi.
Anak orang kaya itu melirikku, lalu bertanya pada Jiang Xi, “Pacarmu, ya?”
Jiang Xi tersenyum, “Iya!”
Anak orang kaya itu berkata, “Ayo naik, aku mau bicara sedikit.”
“Oh!” Jiang Xi tampaknya tidak berpikir macam-macam, langsung mau naik.
Ia tidak mengundangku, tapi aku tetap ingin ikut naik. Anak orang kaya itu melirikku lagi, aku pura-pura tidak melihat, dalam hati sebenarnya cukup canggung. Tapi saat itu ia malah berkata pada Jiang Xi, “Ajak saja pacarmu, biar duduk di dalam.”
Eh! Malah jadi makin malu, seolah aku yang berpikiran sempit. Tapi sudahlah, aku memang ingin selalu di samping Jiang Xi.
Begitu masuk ke dalam, aku baru merasakan kemewahan orang kaya sungguhan. Mobil rumah itu seperti rumah kecil—lengkap dengan segala fasilitas, dekorasi mewah, CCTV, rak anggur, semuanya ada.
Tanpa sengaja aku menoleh ke dalam dan melihat tubuh seorang wanita sedang tidur di tempat tidur kecil, seukuran sofa. Aku sadar, pasti itu pemeran utama wanita yang sedang beristirahat karena belum ada adegannya.
“Silakan duduk, kalian berdua, jangan sungkan!”
Anak orang kaya itu bahkan menuangkan minuman untuk kami sendiri. Rasanya, dia bukan hanya kaya, tapi juga sangat ramah, seperti yang pernah dikatakan Jiang Xi—membuat orang merasa nyaman.
Kadang, kualitas seseorang memang tidak ada hubungannya dengan kekayaan. Orang kaya sejati tidak selalu sombong, justru kadang yang baru kaya merasa dirinya luar biasa.
Setelah duduk, anak orang kaya itu malah semakin lucu. Tujuan ia mencari Jiang Xi ternyata… hanya ingin menyinggung soal lama.
“Itu, Jiang Xi, kamu sudah menambah adegan untuk pemeran wanita kedelapan, tambahkan juga untukku, dong!”
Aku hampir tertawa—sudah sekaya itu, kenapa tidak investasi sendiri saja, bikin film sendiri seperti ayahnya, jadi tokoh utama, bisa puas-puasin diri sendiri. Toh, uang bukan masalah.
Jiang Xi tersenyum, baru mau menjawab, tapi pemeran utama wanita yang sedang istirahat malah lebih dulu bicara, “Kenapa sih kamu nggak ngerti-ngerti juga, bikin susah penulis naskah kecil ini nggak ada gunanya, menambah adegan juga bukan wewenangnya. Walaupun dia tulis, kalau sutradara nggak mau syuting juga percuma. Kalaupun sutradara mau, nanti di tahap editing juga bisa dipotong. Pemeran utama pria itu pilihan sutradara, hubungan mereka nggak biasa, mana mungkin adegan kamu bisa lebih banyak dari pemeran utama?”
Saat itu, anak orang kaya malah menjawab dengan manja, “Nggak peduli, syuting saja dulu, yang penting aku puas.”
Semua terdiam beberapa detik.
Jadi, dia memang cuma mau puas-puasin diri saja!
Pemeran utama wanita berkata dengan agak kesal, “Kalau cuma mau puas, minta saja ayahmu investasi, kamu jadi peran utama, beres!”
Iya, itu juga yang aku pikirkan.
Tapi anak orang kaya itu malah menjawab dengan agak malu, “Nggak bisa, aku sudah janji sama ayah, harus mengandalkan kemampuan sendiri untuk mendapat tempat di dunia film, nggak boleh pakai uang ayah.”
Wah, pemuda inspiratif!
Jiang Xi tersenyum canggung, “Hehe, aku usahakan, ya! Kalau bisa tambah, pasti aku tambah. Kalau nggak bisa, ya mau bagaimana lagi, tolong maklum. Kamu juga tahu, aku nggak bisa ubah alur utama cerita.”
Kali ini, Jiang Xi tidak sekeras sebelumnya saat menolak.
Anak orang kaya itu pun tampak senang, “Tentu saja aku mengerti, yang penting usaha, terima kasih, Jiang Xi. Malam ini aku traktir kalian makan, ya!”
“Nggak usah, sungguh nggak perlu, terima kasih! Kami mau lanjut kerja dulu,” kata Jiang Xi sambil menggandeng tanganku pergi.
Setelah keluar, Jiang Xi tertawa, “Apa kamu juga merasa anak orang kaya itu lumayan lucu?”
Aku mengangguk, memang benar.
“Dan dia juga sangat setia pada pemeran utama wanita, nggak pernah macam-macam. Kupikir mereka akan jadi pasangan.”
Harus kuakui, insting Jiang Xi memang tajam. Bertahun-tahun kemudian, pemeran utama wanita itu memang menikah dengan anak orang kaya itu. Mereka punya dua anak laki-laki, hidup bahagia, anak orang kaya itu juga tak pernah terlibat skandal.
Saat waktunya makan siang, aku juga kebagian nasi kotak bersama Jiang Xi. Aku melihat sutradara dan para bintang duduk di dalam tenda, makan di meja dengan hidangan istimewa—ayam, bebek, ikan, semua ada.
Baru saat itu Jiang Xi bercerita, sutradara dan para bintang tinggal di hotel bintang lima, beda sekali dengan mereka yang hanya “udang kecil”.
Saat makan, aku mendengar beberapa asisten makeup, kostum, dan properti bergosip. Katanya, gigi para aktor semua palsu—mahkota porselen—dan sela-selanya susah dibersihkan. Jadi, saat adegan ciuman, mulut lawan main pasti terasa bau. Mereka harus rutin ke rumah sakit buat dibersihkan agar bersih.
Aku memegang nasi kotak, tiba-tiba selera makanku hilang.
Kami, para “udang kecil”, makan cepat, sedangkan sutradara dan para bintang makan lama. Jadi, kami bisa istirahat sejenak.
Aku dan Jiang Xi mencari tempat teduh di bawah pohon untuk beristirahat. Melihat para bintang dan pemeran cilik berjalan mondar-mandir dengan kostum kuno, tiba-tiba aku bertanya pada Jiang Xi, “Pernah kepikiran jadi aktris?”
Tanpa ragu ia menjawab, “Di kampus ada jurusan seni peran, tapi aku nggak pernah kepikiran.”
“Kenapa? Kamu cantik juga, loh!”
Ia berkata, “Karena aku belum siap jadi dua jenis perempuan.”
“Dua jenis perempuan apa?”
Ia tersenyum, “Jenis perempuan yang rela disayat ribuan pisau!”
Aku mengerti maksudnya—mana ada selebriti yang tidak operasi plastik. Secantik apapun aslinya, tetap kalah dengan hasil ukiran dokter. Kalau operasinya sukses, kesempatan banyak. Kalau gagal, seperti jatuh ke neraka.
“Jenis kedua?” tanyaku lagi.
Jiang Xi tertawa, nada suaranya dalam, “Perempuan yang harus menyeberangi sungai laki-laki.”
Aku, “...” Aku rasa semua juga paham maksudnya.
Memang, Jiang Xi-ku satu ini seolah bisa melihat segala sesuatu dengan sangat jernih. Ia tahu persis apa yang ia inginkan, apa yang patut ia pertahankan.
Dengan begitu, apa lagi yang mesti aku khawatirkan? Di usia segini, banyak orang mungkin mudah tergoda oleh dunia yang gemerlap, tapi dia, hatinya sekeras berlian—teguh dan jernih, sungguh patut diacungi jempol.
………………
Syuting berlangsung sampai pukul sepuluh malam, aku pun mengikuti Jiang Xi naik mobil kru kembali ke hotel tua.
Keesokan paginya, setelah lama enggan berpisah dengan Jiang Xi, akhirnya aku meninggalkan hotel menuju stasiun kereta. Saat Jiang Xi mengantarku keluar hotel, kami berpapasan dengan fotografer berambut panjang itu. Namun, kali ini, hatiku benar-benar tenang, karena aku percaya pada Jiang Xi.
Di depan pintu, sebelum naik mobil, aku menanyakan satu hal terakhir, “Kenapa waktu aku meneleponmu dulu, kamu rasanya agak dingin? Saat aku bilang mau mengunjungimu, kamu juga tidak terlalu antusias?”