Bab Tujuh Puluh Lima: Ular Hitam
Titik akupuntur ini adalah salah satu yang paling menyakitkan saat akupunktur pada tubuh manusia. Xiao Yang tidak percaya, pria playboy seperti Sun Guosheng mampu menahan siksaan semacam itu.
"Ah!!"
Dalam sekejap, Sun Guosheng seolah-olah mengalami penyiksaan paling kejam di dunia. Kurang dari setengah menit, ia sudah menjerit sambil berlinang air mata dan ingus, memohon ampun.
"Lepaskan aku... aku mohon lepaskan aku... Aku akan memberitahumu di mana Mo Han berada."
"Cepat katakan, di mana Mo Han?" Xiao Yang mencabut jarum perak dari titik Hegu di tangan Sun Guosheng. Pria itu seperti kehilangan seluruh tenaganya, terengah-engah, ketakutan sampai ke tulang karena rasa sakit yang luar biasa.
"Lin Mo Han dibawa pergi oleh Liang Feng. Sekarang dia seharusnya berada di salah satu gudang dekat pelabuhan, yang ditempati Liang Feng," kata Sun Guosheng dengan suara gemetar.
"Orang yang memintamu membius Mo Han semalam, itu juga Liang Feng, bukan?" Xiao Yang menatap tajam, bertanya dengan suara dingin.
Tatapan Sun Guosheng berkedip-kedip, tersenyum kecut. "I-iya, Liang Feng yang menyuruhku mengajak Lin Mo Han keluar, lalu membius dan membawanya ke dia."
Xiao Yang terus menatap Sun Guosheng, pikirannya bekerja cepat. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Ada begitu banyak gudang di pelabuhan, gudang mana yang digunakan Liang Feng untuk menyembunyikan Mo Han?"
Sun Guosheng menggeleng panik. "A-aku benar-benar tidak tahu... Aku hanya tahu garis besar rencananya, tapi gudang mana yang dipakai Liang Feng untuk menyembunyikan Lin Mo Han, aku sungguh tidak tahu..."
Xiao Yang mengerutkan kening, hatinya masih diliputi kebingungan. "Kenapa Liang Feng harus repot-repot menyembunyikan Mo Han di gudang dekat pelabuhan? Apa dia punya rencana lain?"
Wajah Sun Guosheng seketika menjadi pucat pasi. Dia tampak tak berani menatap Xiao Yang, menundukkan kepala dan dengan suara lirih bergetar berkata, "Aku... aku dengar Liang Feng bilang, dia mungkin mau menjual Lin Mo Han ke Asia Tenggara..."
"Apa?!" Mata Xiao Yang membelalak. Orang bernama Liang Feng itu benar-benar gila. Karena cintanya pada Lin Mo Han tidak terbalas, ia sampai tega menculik dan hendak menjualnya!
Tangan Xiao Yang mengepal kuat-kuat, matanya hampir menyala karena amarah.
"Kakak Xiao Hu, kau tahu berapa banyak gudang milik keluarga Liang di pelabuhan?" tanya Xiao Yang dengan suara tergesa.
Wang Xiao Hu menggeleng. "Bisnis keluarga Liang di pelabuhan sangat besar, aku juga tidak tahu persis berapa banyak gudang yang mereka miliki."
Otak Xiao Yang kembali berputar cepat. Ia tiba-tiba memikirkan sebuah celah. Jika benar Liang Feng menyembunyikan Lin Mo Han di gudang, pasti gudang itu jarang digunakan, atau mungkin bahkan sudah tak terpakai lagi.
"Kakak Xiao Hu, suruh semua saudara kita cari gudang yang sudah lama tak dipakai atau tak digunakan di pelabuhan. Aku akan segera menelepon polisi, minta mereka segera datang!"
Wang Xiao Hu mengangguk, "Baik, akan segera kuatur."
Xiao Yang melemparkan Sun Guosheng, lalu melihat sisa bubuk putih di atas meja, ia menggeleng pelan.
Jika seseorang sudah terjerat narkoba, maka hidupnya boleh dibilang sudah tamat.
Di dalam sebuah gudang tua yang sudah lama tidak digunakan di pelabuhan Jiangcheng, seorang wanita cantik luar biasa dengan rambut sedikit berantakan, kedua tangan terikat, mulutnya disumpal kain lap kusam. Ia meringkuk di sudut gudang, matanya memancarkan ketakutan yang sangat. Pakaiannya agak acak-acakan, rok pendeknya tersingkap lebar karena posisi duduknya, memperlihatkan kaki putih mulus yang menggoda.
Sementara itu, di luar gudang, beberapa pria berwajah bengis sedang mengintip dari celah pintu, menatap penuh nafsu ke arah wanita cantik di dalam sana.
"Astaga, cewek ini benar-benar cantik, kalau aku bisa tidur dengannya, mati pun tak apa..."
"Enam, jangan aneh-aneh! Wanita itu bukan untukmu, dia adalah milik Tuan Muda Liang..."
"Bang, aku tidak mengerti. Kalau dia wanita yang diincar Tuan Muda Liang, kenapa malah mau dijual ke Asia Tenggara?"
"Itu bukan urusan kita. Tugas kita hanya menjaga dia sampai waktunya. Setengah jam lagi, orang Tuan Muda Liang akan datang menjemputnya, lalu kita ambil uang, urusan lain biarkan saja. Kalian semua dengar?"
"Siap, Bang!"
"Mengerti, Bang!"
"Nanti setelah terima uang, abang akan ajak kalian bersenang-senang di luar. Mau perempuan secantik apa pun bisa, tapi ingat, jangan pernah menyentuh wanita di dalam itu!"
Pria yang memberi perintah itu adalah pemimpin kelompok hitam di kawasan pelabuhan, kepala geng Ular Hitam.
Biasanya, ia membawa beberapa anak buahnya melakukan berbagai kejahatan. Kadang mereka pergi ke laut menjadi bajak laut, kadang juga melakukan perdagangan manusia yang keji.
Polisi sudah beberapa kali melakukan operasi besar-besaran untuk memburu mereka, tapi orang-orang Ular Hitam sangat licik. Mereka bukan penjahat biasa, pernah menjadi tentara bayaran di Asia Tenggara, lihai bertarung, bergerak cepat, dan pandai bersembunyi. Polisi pun tak punya banyak cara untuk menangkap mereka.
Namun, dalam dua tahun terakhir, Ular Hitam jarang terlihat. Uang hasil kejahatan mereka sudah habis, jadi kini mereka muncul lagi untuk melakukan satu pekerjaan besar.
Kebetulan, seorang perantara mendatangi mereka, menawarkan tugas dengan imbalan tinggi, dua juta jika pekerjaan selesai.
Orang-orang Ular Hitam meminta perantara itu menjelaskan detail tugas dari pemberi kerja. Begitu tahu tugasnya hanya menculik direktur utama Grup Lin, lalu menahan dan menjualnya ke penyelundup manusia Asia Tenggara, mereka pun langsung setuju.
Bagi kelompok Ular Hitam, ini bukan tugas yang sulit.
Bagi Liang Feng, menyerahkan tugas ini pada Ular Hitam juga jauh lebih aman. Jika sampai ketahuan, Liang Feng bisa cuci tangan. Lagipula, dia tidak pernah muncul di lokasi penculikan, dan meski Ular Hitam tertangkap, tak ada bukti bahwa dia adalah dalang di balik semua ini.
Seharusnya, segala sesuatu sudah diatur. Saat waktunya tiba, seseorang akan datang untuk membawa Lin Mo Han pergi.
Namun, di dalam hati Liang Feng, tiba-tiba tumbuh rasa penyesalan.
Wanita secantik ini, primadona Kota Jiangcheng, wanita yang dulu ia idam-idamkan, masa mau begitu saja dijual ke Asia Tenggara? Liang Feng tak rela!
Demi wanita ini, Liang Feng sudah menghabiskan banyak tenaga dan pikiran. Kariernya sebagai bintang seharusnya cemerlang, namun sejak jatuh cinta pada Lin Mo Han, ia seperti kerasukan, melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya.
Akhirnya, demi membuat wanita itu menyerah, ia bahkan nekat memakai ratusan miliar dana keluarga untuk menjatuhkan Grup Lin. Jika saat itu berhasil, begitu ia menawarkan bantuan, Lin Mo Han pasti akan menerimanya.
Namun, pada akhirnya Liang Feng gagal.
Setelah rencananya gagal, keluarga mengetahui ia menggunakan uang dalam jumlah besar tanpa izin. Walau selama ini ia adalah anak emas keluarga, setelah insiden itu, posisinya di keluarga pun jatuh drastis, dan ia tak akan pernah menerima tampuk kepemimpinan keluarga.
Meski anggota keluarga Liang lainnya juga membenci Lin Mo Han, bahkan sempat menyewa pembunuh dari Mandorla untuk membunuhnya, namun rencana penculikan Lin Mo Han kali ini sepenuhnya inisiatif Liang Feng sendiri.
Sebenarnya, semua ini hanyalah pelampiasan dendam Liang Feng!
Tidak bisa, tidak boleh wanita itu begitu saja lolos darinya!
Liang Feng menyeringai jahat. Ia memutuskan, sebelum Lin Mo Han dijual ke penyelundup Asia Tenggara, ia sendiri yang akan menodainya terlebih dahulu!
Di luar gudang pelabuhan, orang-orang Ular Hitam berpencar, berjaga-jaga dengan waspada.
Tiba-tiba, sebuah Mercedes-Benz S600 hitam melaju ke arah mereka.
Orang-orang Ular Hitam langsung memasang wajah serius, semuanya menoleh ke arah mobil itu.
Mobil mewah itu berhenti, seorang pria tampan keluar darinya.
"Itu Tuan Muda Liang." Kepala Ular Hitam pernah bertemu Liang Feng sekali; begitu melihatnya, ia pun lega.
"Tuan Liang, kenapa Anda datang?" Kepala Ular Hitam menatap Liang Feng tanpa sedikit pun senyum, hanya wajah dingin.
Mereka tidak akan bersikap manis hanya karena dibayar oleh pemberi kerja. Uang itu pun mereka dapatkan dengan nyawa sebagai taruhannya.
"Aku baru ingat, ada satu hal penting yang belum kulakukan," kata Liang Feng dengan senyum dingin.
"Tapi waktu yang dijanjikan dengan orang Asia Tenggara hampir tiba."
"Tidak masalah, aku tidak akan lama. Buka pintunya," kata Liang Feng dengan nada tergesa.
"Tuan Liang, ini agak berisiko..." Orang-orang Ular Hitam tak mau ambil resiko. Tugas segera selesai, uang juga hampir di tangan. Mereka tak mau bertindak bodoh.
Liang Feng terkekeh dingin, lalu menoleh ke arah mereka, matanya menyipit, senyum jahat tersungging di wajahnya. "Setelah aku selesai, wanita itu sepenuhnya milik kalian. Terserah kalian mau berbuat apa padanya, aku tidak peduli..."
Mendengar kata-kata Liang Feng, mata orang-orang Ular Hitam langsung dipenuhi nafsu...