Bab 68: Apakah Kau Sudah Gila?
“Kakek, apakah Kakek pernah mendengar jurus tangan ini?” tanya Long Kai dengan penasaran saat melihat Long Tiankui terdiam.
Pada saat itu, sosok yang sudah lama tak ditemuinya muncul di benak Long Tiankui, membuat hatinya bergolak hebat. Namun raut wajahnya tetap tenang, lalu ia berkata, “Jurus ini disebut Tangan Seribu Buddha, kekuatannya luar biasa.”
Tangan Seribu Buddha…
Long Kai tampak sedikit terpana, menggumam pelan.
“Kakek, apa Kakek punya cara untuk mengalahkan jurus tangan itu?” tanya Long Kai penuh harap.
Tak disangka, Long Tiankui justru menggeleng. “Kai, arah pikiranmu keliru.”
“Salah? Kenapa?” tanya Long Kai bingung.
“Sebenarnya, setiap ilmu bela diri punya keunggulannya masing-masing, tapi seberapa besar kekuatannya bisa dikeluarkan, sangat bergantung pada kekuatan tenaga dalam si penggunanya. Jurus hanyalah bentuk luar, memang ada kelasnya, tapi yang paling utama tetaplah kekuatan tenaga dalam. Kai, mengerti?”
Long Tiankui menatap Long Kai dengan tenang.
Long Kai merenung sejenak, lalu berkata, “Maksud Kakek, aku kalah karena tenaga dalamku kalah darinya?”
“Benar,” jawab Long Tiankui sambil mengangguk.
“Jadi Kakek yakin aku pasti akan kalah dalam pertarungan besok?” wajah Long Kai tampak sedikit pucat.
Sebagai pemimpin Aula Long di SMA Mingde, sekaligus salah satu dari Empat Elit Jiangcheng, nama Long Kai sudah sangat terkenal. Jika sampai kalah dari Xiao Yang besok, kehormatannya akan tercoreng. Bagaimana dia akan menegakkan kepala di sekolah nanti?
Pertarungan? Mendengar kata itu, sorot mata Long Tiankui langsung tajam.
“Kai, pertarungan apa yang kau maksud?” tanya Long Tiankui.
Long Kai pun menceritakan soal pertarungannya dengan Xiao Yang besok, tentu saja bagian tentang dirinya membully Xiao Yang tak ia ceritakan.
“Kai, kau harus menang dalam pertandingan besok.” Tatapan Long Tiankui tiba-tiba menjadi tajam. Sebagai kepala keluarga Long, ia sangat menjaga nama baik keluarga. Pertarungan besok mewakili keluarga Long, ia tak akan membiarkan Long Kai kalah.
“Kakek, lalu apa yang harus kulakukan? Bukankah tadi Kakek bilang kemenangan ditentukan oleh tenaga dalam? Kalau tenagaku kalah, bagaimana aku bisa menang?” Long Kai tampak putus asa.
“Hehe, bocah bodoh.” Long Tiankui tersenyum, “Yang tadi kukatakan berlaku ketika perbedaan tenaga dalam sangat besar. Tapi antara kau dan dia, tenaga dalam kalian seharusnya berimbang. Dalam kondisi seperti itu, kemenangan ditentukan oleh siapa yang menguasai jurusnya dengan lebih baik.”
Long Tiankui berhenti sejenak, lalu berkata, “Kai, Kakek akan mengajarkan jurus kedua Kaki Naga padamu, malam ini kau harus berlatih dengan sungguh-sungguh.”
Long Kai sangat gembira. Sebelumnya ia sudah beberapa kali meminta, namun selalu ditolak. Tak disangka, kali ini Kakek sendiri yang menawarkan.
“Baik, Kakek! Aku akan berlatih sampai menguasainya, meski harus begadang semalaman!”
…
Di Jiangcheng, Vila Biyun.
Sore itu, sepulang sekolah, Xiao Yang langsung pulang ke vila di Biyun tanpa mampir ke mana pun.
Begitu masuk, Bibi Liu sudah menyambut dengan senyum ramah.
“Tuan Muda, sudah pulang.”
Xiao Yang mengangguk, lalu bertanya penasaran, “Bibi Liu, Mo Han belum pulang?”
Bibi Liu menjawab sambil tersenyum, “Nona sempat pulang sebentar habis kerja, ganti baju, lalu pergi lagi.”
“Pergi? Ke mana?” tanya Xiao Yang heran.
Bibi Liu menepuk dahinya, “Seingat saya, Nona bilang mau makan malam dengan kakak kelasnya di Restoran Barat Notting… Aduh, makin tua, makin pelupa.”
Mendengar itu, hati Xiao Yang langsung terasa aneh.
Kakak kelas? Restoran Barat Notting?
Jangan-jangan Lin Mo Han sedang berkencan dengan pria lain?
Rasa cemburu mulai membuncah. Xiao Yang kembali ke kamar, mengeluarkan ponsel, dan menelepon Lin Mo Han.
“Halo, kamu di mana?” tanya Xiao Yang langsung tanpa basa-basi.
Di seberang, suara Lin Mo Han terdengar hati-hati, “Aku ada urusan di luar, makanlah di rumah, suruh Bibi Liu masak untukmu. Sudah ya, aku tutup.”
Telepon pun langsung diputus.
Sial...
Xiao Yang hampir saja meledak karena kesal.
Apa maksud Lin Mo Han? Pergi makan malam dengan pria lain, malah menutup teleponnya.
Ada yang tidak beres. Pasti ada sesuatu.
Dengan perasaan tak enak, ia mengambil kunci mobil dari atas meja, lalu bergegas keluar dari kamar.
“Tuan Muda, tidak makan di rumah?” teriak Bibi Liu saat melihat Xiao Yang terburu-buru.
“Aku tidak makan, Bibi Liu makan saja,” jawab Xiao Yang tanpa menoleh, lalu meluncur ke garasi bawah tanah, masuk ke dalam Mercedes-AMG C63, menyalakan mesin, dan segera melesat pergi.
Restoran Barat Notting adalah restoran barat paling mewah di Jiangcheng, terletak di dekat kawasan pejalan kaki. Setiap akhir pekan, restoran ini selalu dipenuhi orang-orang kelas atas, deretan mobil mewah berjajar di depannya.
Malam ini, karena bukan akhir pekan, tak banyak mobil terparkir di depan restoran. Namun ada dua mobil yang sangat mencolok: sebuah Rolls-Royce hitam dan sebuah Maybach hitam.
Di dalam restoran, pengunjung malam itu tidak banyak, hanya beberapa pasangan asyik menikmati makan malam.
Di antara mereka, sepasang muda-mudi tampak sangat mencolok. Pemuda itu tampan dan gagah, sementara gadisnya luar biasa cantik, kecantikannya menyaingi siapa pun di ruangan itu.
Mereka adalah Lin Mo Han dan kakak kelasnya—Sun Guosheng.
“Mo Han, anggur Lafite ini rasanya luar biasa. Malam ini kamu harus minum lebih banyak,” kata Sun Guosheng dengan tatapan membara.
Lin Mo Han tersenyum tipis, lalu menolak dengan halus, “Kakak, aku sudah minum cukup banyak tadi.”
“Mo Han, jangan buat aku kecewa. Aku baru saja pulang dari luar negeri, dan hal pertama yang kulakukan adalah menemuimu. Masa kamu belum juga tahu perasaanku?” Sun Guosheng tak lagi menahan perasaannya, ia blak-blakan mengungkapkan isi hatinya.
“Kakak, kamu mabuk…” Lin Mo Han tahu perasaan Sun Guosheng padanya. Dulu saat kuliah di luar negeri, Sun Guosheng pernah menyatakan cinta, tapi ia tolak. Sejak itu, hubungan mereka tetap sebatas teman kampus. Tak disangka malam ini dia mengungkit lagi masalah itu.
Saat itu juga, tiba-tiba muncul seseorang di hadapan mereka.
Melihat sosok itu, Lin Mo Han terkejut, “Xiao Yang? ...Kenapa kamu ke sini?”
Xiao Yang tersenyum tanpa berkata apa-apa. Ia memandang Sun Guosheng, lalu melihat meja yang sudah dihias indah. Sinar lilin yang berkelap-kelip menerpa wajah mereka, membuat Xiao Yang merasa dirinya seperti orang asing yang mengganggu kencan mereka.
Hati Xiao Yang terasa perih, pikirnya, adakah yang lebih romantis dari makan malam diterangi lilin?
“Mo Han, ini siapa? Sepupumu?” tanya Sun Guosheng sopan, berdiri dan memandang Xiao Yang lalu menoleh ke Lin Mo Han.
Wajah Lin Mo Han sedikit memerah, menatap Xiao Yang, bibirnya bergerak pelan, “Dia adalah...”
“Aku suaminya,” potong Xiao Yang cepat sebelum Lin Mo Han sempat bicara.
“Suami?” Sun Guosheng mengulang, menatap Xiao Yang penuh keraguan. “Bocah, jangan asal bercanda.”
“Bercanda?” Xiao Yang tersenyum tipis, memperhatikan Sun Guosheng, lalu menyadari ada keanehan.
Jari telunjuk kanan Sun Guosheng tampak ada sisa serbuk putih.
Apa itu? Xiao Yang merasa curiga. Saat matanya melirik ke saku Sun Guosheng, raut wajah Sun Guosheng langsung berubah panik.
“Anak muda, menatap orang seperti itu kurang sopan,” ucap Sun Guosheng sambil tersenyum kecut.
“Xiao Yang, pulanglah,” kata Lin Mo Han dengan nada tak senang. Kehadiran Xiao Yang membuat suasana jadi canggung. Menurut Lin Mo Han, meski Sun Guosheng punya perasaan padanya, ia tetaplah kakak kelasnya saat di luar negeri, dan langsung menemuinya setelah kembali. Hal itu membuatnya terharu.
Tingkah Xiao Yang malam ini sungguh mengecewakan baginya.
Mungkin hanya pria kekanak-kanakan seperti Xiao Yang yang berani bertindak nekat seperti ini.
Namun Xiao Yang tak menghiraukan Lin Mo Han. Ia justru perlahan berjalan ke arah Sun Guosheng.
Begitu sampai di depannya, ia tiba-tiba menghantam dada Sun Guosheng dengan satu pukulan.
“Ugh!”
Sun Guosheng menjerit kesakitan, wajahnya langsung pucat pasi.
“Xiao Yang, kamu gila?!” teriak Lin Mo Han marah, alisnya mengerut, bibirnya menggigit, wajahnya penuh kekecewaan.
Xiao Yang tak peduli pada Lin Mo Han. Ia merogoh saku atas jas Sun Guosheng secara diam-diam, dan sebungkus kecil serbuk putih berpindah ke telapak tangannya tanpa diketahui siapa pun.