Bab 88: Hati Diliputi Kebingungan
Para buruh tetap bersikeras menolak permintaan Liu Zhibing, karena hal itu jelas merugikan mereka sendiri. Di rumah, persediaan makanan pun nyaris habis, membuat mereka benar-benar terdesak hingga terpaksa mencari Liu Zhibing dengan cara seperti ini.
Bayangkan saja, sudah bekerja berbulan-bulan tapi upah tak kunjung diterima; siapa yang tak akan gusar? Kalaupun mereka sendiri masih bisa bersabar, apakah orang tua dan anak-anak di rumah bisa menahan lapar begitu saja? Haruskah mereka membiarkan keluarga menunggu tanpa kepastian hingga kelaparan?
Chen Ping yang diam-diam mendengarkan percakapan mereka dari belakang, mulai memahami duduk perkaranya. Ia pun menerobos kerumunan dan mendekati Liu Zhibing.
“Bos Xiao Ping, mengapa Anda datang ke sini?” tanya Liu Zhibing terkejut melihat kedatangannya, lalu segera merasa tak enak hati. Ia tahu, kejadian hari ini pasti akan mengganggu proses renovasi toko waralaba milik Chen Ping.
“Berapa banyak lagi yang masih ditunggak oleh pemilik proyek yang menahan pembayaran kalian?” tanya Chen Ping.
Beberapa pria di ruangan itu memandang Chen Ping dengan heran, bertanya-tanya siapa gerangan orang ini.
“Itu dari Perusahaan Konstruksi Tianzi. Saya mengerjakan renovasi satu blok di Perumahan Huarui milik mereka. Proyeknya sudah selesai sejak setengah tahun lalu, tapi Direktur Tang Wensheng dari perusahaan itu selalu mencari-cari alasan untuk menunda pembayaran,” jelas Liu Zhibing.
“Mereka berdalih kualitas pekerjaan tidak memenuhi standar, tidak lolos inspeksi mereka. Tapi buktinya rumah-rumah itu sudah terjual dan kini sudah ditempati. Bukankah aneh kalau dibilang kualitasnya buruk?” lanjut Liu Zhibing, kesal. Ia sudah berusaha menemui Tang Wensheng dengan berbagai cara, bahkan beberapa kali membawa orang untuk menuntut haknya. Namun apalah daya, jaringan kekuasaan dan relasinya jauh di bawah Tang Wensheng. “Masih ada sisa pembayaran enam ratus juta yang belum dibayarkan.”
Tang Wensheng begitu berani menahan pembayaran secara terang-terangan, karena ia yakin Liu Zhibing tak punya kekuatan untuk melawan.
“Enam ratus juta?” Chen Ping terbelalak. Bagi orang biasa, itu jumlah yang sangat besar, mungkin seumur hidup pun tak akan mereka peroleh.
“Benar,” Liu Zhibing menghela nafas. Dulu, saat mendapat proyek satu blok di Huarui, ia sangat bahagia, berharap bisa meraih keuntungan besar. Tak disangka, bukan hanya tak mendapat uang, ia malah harus nombok tiga ratus juta.
“Sungguh keterlaluan! Hanya seorang direktur, berani berlaku sewenang-wenang. Apakah jajaran manajemen Perusahaan Konstruksi Tianzi tidak peduli?” Chen Ping menahan amarah.
“Mereka itu perusahaan hitam! Atasan hingga bawahan sama-sama busuk, bersekongkol menipu orang,” ujar Liu Zhibing dengan mata menyala penuh amarah. Ia bahkan berpikir, andai bisa, ingin sekali membawa bom dan mengajak semua orang di perusahaan Tianzi itu lenyap bersama.
Mendengar itu, Chen Ping makin paham. Rupanya bukan hanya Liu Zhibing yang jadi korban, kemungkinan banyak kontraktor lain yang juga belum dibayar.
“Kau tanya-tanya begini buat apa? Siapa kau sebenarnya? Apa urusanmu dengan masalah ini?” potong salah satu pria bertubuh kekar, merasa tidak puas dengan pertanyaan Chen Ping. Sedari tadi ia mendengarkan percakapan mereka, sampai-sampai hampir lupa pada tujuan utamanya, yaitu menagih uang.
Ucapan pria itu memicu keributan di antara para buruh lainnya. Kini, tanpa upah, kata-kata saja tak ada gunanya.
“Saudara-saudara, kalian masih ingin mendapatkan upah kalian, bukan?” tanya Chen Ping.
“Tentu saja mau! Atau kau mau membayar kami?” sahut salah seorang pria dengan suara keras. Sudah setengah tahun berlalu sejak proyek selesai, sementara ia baru menerima sepertiga dari upahnya. Setiap hari ia bermimpi bisa menerima sisanya.
“Kalau kalian memang ingin mendapat upah, aku punya satu cara,” kata Chen Ping sambil menatap mereka. “Tapi kalian harus kompak dan bersatu.”
“Kau punya cara?” tanya seorang pria dengan wajah heran. Melihat Chen Ping yang masih muda, ia meragukan ucapannya. Berani-beraninya mengaku bisa mengurus pembayaran proyek, apa ia kira membual itu bukan masalah?
Yang lain pun tampak tidak percaya.
“Liu adalah mandor kalian, memang sudah seharusnya ia yang membayar upah. Tapi kini ia pun belum menerima bayaran proyek, seluruh tabungannya pun sudah ia keluarkan untuk membayar kalian,” lanjut Chen Ping. “Kalau sekarang kalian memaksanya pun, ia tak akan bisa membayar. Satu-satunya jalan adalah menagih langsung ke Perusahaan Tianzi.”
“Bagaimana caranya?” Para buruh menatap Chen Ping, ada yang merasa lucu. Bicara memang mudah, membual pun mudah, tapi melaksanakan jauh lebih sulit.
Sebelumnya mereka sudah berkali-kali mendatangi Perusahaan Tianzi, hasilnya nihil, malah sering diusir.
“Tentu saja dengan datang langsung ke perusahaan itu!” jawab Chen Ping mantap. “Kalau kalian percaya padaku, kabari semua yang belum menerima upah, kita datangi bersama-sama.”
“Kami sudah pernah mencobanya,” sahut seorang pria, tak ingin lagi mengalami penghinaan yang sama.
“Itu karena kalian belum cukup besar dalam bertindak. Kalau ingin menuntut, buatlah keributan yang besar, sampai seluruh media di kota ini memperhatikan masalah kalian,” ujar Chen Ping dengan tenang. “Percayalah sekali saja padaku. Kalau besok kalian masih tidak mendapat upah setelah menuntut, aku yang akan membayar upah kalian.”
“Kau yang akan bayar...?” Tujuh delapan orang itu menatap Chen Ping, merasa ia sama sekali tidak seperti orang yang punya tiga ratus juta.
Bocah ini berpura-pura kaya, tapi gayanya cukup meyakinkan.
“Kalian tidak percaya aku bisa menyediakan tiga ratus juta?” Chen Ping menatap mereka satu per satu. “Kalian tahu kedai malam Yushang Siji dan supermarket Pinggou? Itu semua milikku.”
“Halah, lanjutkan saja bualanmu!” Mereka semakin tak percaya, tapi diam-diam terkejut mendengar pengakuan Chen Ping. Benarkah ia pemilik dua usaha besar itu?
Sungguh membingungkan!
Chen Ping yang melihat mereka tak juga percaya, hanya bisa mengelus dada. Dalam hati ia mengumpat, dasar orang-orang yang tak bisa menilai orang.
Apakah setiap bos harus berpenampilan mewah? Harus bertubuh tambun dan berwajah sombong? Mereka tak tahu, justru para bos besar biasanya sangat rendah hati dalam bertindak.
“Memang dia pemilik kedai Yushang Siji dan supermarket Pinggou,” Liu Zhibing akhirnya angkat bicara.
“Tapi, bukan soal aku bos atau bukan yang penting sekarang. Yang terpenting adalah bagaimana caranya agar kalian semua bisa mendapatkan upah yang seharusnya. Besok, kita lihat saja hasilnya. Kalau uangnya tetap tak bisa didapat, kalian masih bisa menagih ke Liu Zhibing yang memang tak akan lari ke mana-mana,” ucap Chen Ping dengan tenang.
“Baik, kami percaya padamu kali ini. Besok kita datangi Perusahaan Konstruksi Tianzi!” kata beberapa orang serempak. Tak ada pilihan lain selain percaya pada Chen Ping, karena mengejar Liu Zhibing saja jelas tak akan membawa hasil.
Dalam hati mereka sebenarnya sudah lama muak dengan perusahaan Tianzi yang licik itu, apalagi setelah upah mereka ditahan dan bahkan sempat dipukuli. Rasa sakit hati itu benar-benar menyesakkan, dan mereka sangat ingin membalas semua perlakuan itu.
“Kalau begitu, silakan pulang dulu. Besok pagi kita kumpul di depan kantor Perusahaan Tianzi,” ujar Chen Ping lega melihat semua setuju. “Tolong kabari sebanyak mungkin orang, semakin banyak yang datang akan semakin baik.”