Bab 89 Perusahaan Tidak Berhati Nurani
Menghadapi perusahaan tamak dan berkuasa seperti Tianzi, tidak mungkin menyelesaikannya tanpa mengambil langkah-langkah tak lazim.
Chen Ping menampilkan senyum bengis di wajahnya.
“Lao Liu, apa kita benar-benar harus percaya pada pemuda itu dan membawa orang-orang kembali untuk membuat keributan lagi?” Setelah keluar dari rumah sewa Liu Zhibing, salah satu pria di kelompok itu bertanya dengan ragu.
“Kalau kita tidak percaya, lantas apa yang bisa kita lakukan? Apa aku harus memaksa Liu Zhibing sampai mati? Anggap saja kita mencoba peruntungan sekali lagi! Kalau memang masih tidak mendapat upah, kita cari Liu Zhibing lagi, itu belum terlambat.”
Mereka sebenarnya tahu di dalam hati, jika kali ini upah tidak cair, Liu Zhibing yang paling dirugikan. Bukan hanya sudah keluar uang tiga ratus ribu dari kantong sendiri, dia juga harus menanggung hinaan dan makian dari semua orang.
Saat ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah itu. Mereka pun meninggalkan tempat itu dengan keluh-kesah yang berat.
“Bos Xiao Ping, sebaiknya kau tidak usah ikut campur dalam urusan ini.” Liu Zhibing tahu para pekerja itu pergi berkat bantuan Chen Ping barusan. Namun, janji untuk membawa mereka mengambil upah besok di perusahaan konstruksi Tianzi terasa sangat tidak nyata.
“Saya pasti akan ikut campur dalam hal ini.” Chen Ping dulunya sering menjumpai ketidakadilan, tapi karena lemah dan tidak berdaya, dia tak pernah bisa berbuat apa-apa.
Sekarang, ketika ia memiliki kemampuan untuk melawan ketidakadilan itu, ia merasa tidak punya alasan untuk menolak. Ia ingin menyalurkan rasa keadilan dalam hatinya, menjadi penolong bagi mereka yang butuh.
Walau pada akhirnya tidak berhasil, ia tetap harus menantang ketidakadilan, jangan sampai ketidakadilan terjadi di sekelilingnya. “Kakak Liu, tenang saja! Saya sangat yakin bisa menyelesaikan masalah ini untukmu.”
Melihat Chen Ping begitu yakin, Liu Zhibing tak bisa berkata apa-apa lagi selain merasa sangat berterima kasih.
Walaupun ia sendiri tidak percaya Chen Ping bisa mengembalikan upah mereka, kini harapannya ia gantungkan pada Chen Ping, sebagai bentuk penghiburan dan harapan bagi dirinya sendiri.
Chen Ping pun pergi keluar dan langsung menuju toko milik Liu Zhigang.
“Saudaraku, tumben kamu datang.” Liu Zhigang sedang duduk di depan toko, minum teh sambil berbincang bisnis dengan seorang teman.
“Aku ke sini ingin bertemu dengan kakak ipar, butuh bantuannya.” Chen Ping berkata, “Kakak ipar di rumah?”
“Di dalam.” Sosok perempuan tinggi dengan wajah bulat telur dan hidung yang anggun keluar menyambut. Di ujung matanya sudah tampak samar garis-garis halus, tapi sorot matanya masih menyimpan kecerdasan dan pesona. Dialah istri Liu Zhigang, Li Xiu.
Begitu mendengar suara Chen Ping, Li Xiu segera berlari keluar. Kini, ia memperlakukan Chen Ping seperti adik kandung sendiri. Tentu saja, alasannya karena Chen Ping adalah pembawa keberuntungan bagi keluarga mereka.
Selain membantu restoran mereka melewati masa-masa sulit, berkat bantuan Chen Ping pula mereka sudah membuka tiga restoran kelas menengah, bahkan kini tengah bersiap membuka yang keempat. Setengah dari keberhasilan itu adalah berkat Chen Ping.
“Kakak ipar, aku butuh sedikit bantuan.” Chen Ping langsung berkata.
“Kenapa masih sungkan sama kakak ipar sendiri, bilang saja apa maumu.” Li Xiu langsung menyanggupi tanpa tanya-tanya.
“Kakak punya kenalan reporter di media, kan? Bisa bantu hubungi mereka? Aku ingin membongkar sebuah kasus.” Ucap Chen Ping.
“Tidak masalah, sebentar lagi aku hubungi mereka.” Li Xiu menjawab dengan antusias, sembari mengeluarkan ponselnya.
“Chen Ping, sebenarnya ada masalah apa sampai harus minta tolong reporter?” tanya Liu Zhigang heran. Melihat Chen Ping ingin menghubungi wartawan, pasti masalah besar.
Chen Ping pun menceritakan tentang perusahaan konstruksi Tianzi yang menunggak upah, sekaligus mengutarakan rencananya untuk menghadapi perusahaan itu.
“Berapa banyak orang yang kamu butuhkan, aku pasti bantu carikan.” Setelah mendengar semua penjelasan Chen Ping, Liu Zhigang menepuk dadanya dengan mantap.
Ia tak menyangka Chen Ping masih punya jiwa ksatria yang berani membela yang tertindas. Apa pun itu, ia akan membantu semampunya.
“Liu-ge, kira-kira bisa mengumpulkan berapa orang?” tanya Chen Ping. Ia berharap semakin banyak orang, semakin besar dampaknya. Karena itu, harus banyak orang agar suasana semakin meriah.
Tentu saja, ia mengumpulkan orang bukan untuk menghancurkan perusahaan Tianzi atau membuat onar. Ia hanya ingin memanfaatkan keramaian agar pihak berwenang mau turun tangan.
Hanya dengan begitu, ada kesempatan perusahaan Tianzi membayar upah yang tertunda.
“Sekitar seratus orang.” Jawab Liu Zhigang. Ia paham Chen Ping tidak sedang mengumpulkan orang untuk berkelahi, hanya untuk membuat suasana lebih meriah. Jadi, seratus orang penonton masih bisa dikumpulkan.
“Terima kasih banyak.” Chen Ping berkata dengan gembira.
Ia menghitung, dari Liu Zhigang ada seratus lebih orang, dari Meng Qiang bisa mengumpulkan tujuh puluh hingga delapan puluh orang, dari Liu Zhibing ada lima puluh sampai enam puluh orang, ditambah karyawan tokonya sendiri sekitar belasan orang, total hampir empat ratus orang.
Empat ratus orang berdiri di depan kantor perusahaan Tianzi, pasti akan jadi tontonan besar.
Tentu saja, begitu keributan dimulai, pasti akan ada lebih banyak lagi masyarakat yang ikut menonton. Saat itu, pemandangannya akan sangat ramai dan megah.
Li Xiu juga berhasil menghubungi beberapa reporter media dan saluran berita. Semua persiapan sudah matang, hanya tinggal menunggu saatnya tiba.
Keesokan pagi, Liu Zhibing sesuai permintaan Chen Ping, membawa sepuluh orang lebih dan beberapa spanduk putih bertuliskan: “Perusahaan Konstruksi Tianzi Penipu, Menunggak Upah Buruh!” Tulisan hitam besar yang sangat mencolok.
“Liu-ge, kamu benar-benar percaya dengan ucapan orang itu kemarin?” tanya salah satu pria pada Liu Zhibing. Sekarang sudah pukul delapan pagi, sesuai perkataan Chen Ping kemarin, seharusnya ada tiga sampai empat ratus orang berdiri bersama mereka.
Namun, kenyataannya hanya ada tiga sampai empat puluh orang, membuatnya ragu bahwa Chen Ping hanya omong kosong.
“Tunggu saja sebentar lagi!” jawab Liu Zhibing. Hatinya juga diliputi kegelisahan. Kalau benar Chen Ping hanya berjanji kosong, bagaimana dirinya nanti.
Baru saja Liu Zhibing merasa gelisah, seorang sosok yang dikenalnya muncul di depannya. Orang itu adalah Tang Wensheng, direktur perusahaan konstruksi Tianzi, sekaligus orang yang menunggak upah mereka.
“Liu Zhibing, kau berani juga. Kemarin belum cukup kapok, masih berani datang lagi.” Tang Wensheng berkata dengan nada penuh sindiran dan meremehkan, jelas ia tidak menganggap Liu Zhibing selevel dengannya.
Bagi Tang Wensheng, Liu Zhibing tak lebih dari seekor semut. Meski membawa sekelompok semut sekalipun, ia tetap bisa menginjak mereka tanpa kesulitan.
“Jangan terlalu sombong, suatu saat kau akan mendapat balasan.” Liu Zhibing memberanikan diri membalas. Pada titik ini, jika ia masih mundur dan takut, upah mereka benar-benar tak akan kembali.
“Saya bilang, Liu Zhibing, hasil pemeriksaan proyekmu tidak lolos. Saya saja tidak menuntutmu, itu sudah bagus. Masih saja berani datang buat keributan, kamu mau saya tuntut ke pengadilan?” Ucap Tang Wensheng dengan kejam dan penuh kebohongan.
Inilah perbedaan antara kelompok lemah dan kelompok kuat.
Walaupun Tang Wensheng jelas-jelas menunggak upah, ia masih berani memutarbalikkan fakta dan mengancam dengan gugatan.
Inilah arogansi kaum berkuasa, yang merasa kebal hukum dan aturan. Sementara kaum lemah hanya bisa menahan diri dan menanggung semuanya.
“Siapa bilang akan menggugat kami ke pengadilan?” Suara Chen Ping terdengar, nadanya dingin seperti angin malam, membuat merinding siapa pun yang mendengarnya.