Bab 65 Suhu Sangat Tinggi (6)
Dari pukul sepuluh pagi hingga pukul dua siang, suhu terus melonjak naik. Suhu di luar kini telah mencapai empat puluh enam derajat. Walaupun mereka berada di tepi sungai, gelombang panas terus-menerus menyapu. Pepohonan di pinggir jalan telah menguning karena terik matahari, sementara orang-orang duduk di bawah jembatan, kepanasan dan kehausan.
Air yang semula dibawa Chu Yi'an untuk menurunkan suhu menjadi sangat berguna di saat seperti ini. Ia membuka sebotol air mineral, menengadahkan kepala, dan meneguk setengah botol sekaligus. Suara air yang diminumnya terdengar jelas, membuat tenggorokan orang di sekitarnya bergerak naik turun, seolah-olah dengan begitu, air dingin itu pun akan membasahi kerongkongan mereka yang kering dan mengembalikan cairan tubuh yang telah menguap.
Panasnya sungguh tak tertahankan.
Akhirnya, seorang pria paruh baya yang berpakaian rapi mendekat, melihat tumpukan air di dalam mobilnya, lalu mengeluarkan selembar uang seratus ribu. “Nak, air itu dijual tidak? Beri saya dua botol,” katanya.
Chu Yi'an tertegun melihat uang pecahan besar itu, lalu menjawab, “Saya tidak punya uang kembalian.”
Pria itu tampaknya sudah tidak tahan lagi dengan panas dan jelas bukan orang yang kekurangan uang. “Seratus ribu untuk dua botol air mineral, tidak usah dikembalikan,” ujarnya.
Benarkah semudah itu?
Pria itu bahkan tak menunggu Chu Yi'an ragu, langsung melemparkan uang ke dalam jendela mobil yang terbuka. Melihat itu, Chu Yi'an pun menyerahkan dua botol air mineral.
Rasanya terlalu sedikit hanya memberikan dua botol air mineral untuk seratus ribu rupiah, Chu Yi'an pun menunduk, hendak mengambil dua botol lagi untuknya. Namun, pria itu sudah pergi, dan orang-orang lain yang kehausan mulai berdatangan mengerubunginya.
“Ada air lagi tidak? Saya juga mau satu botol.”
“Aku juga mau dua botol.”
“Air mineral lima puluh ribu sebotol, kejam sekali, masih saja kalian beli, sudah gila apa?”
Mobil kecil Chu Yi'an pun dikelilingi orang-orang. Ada yang memprotes harga air terlalu mahal, tapi ada pula yang tetap mengacungkan uang, rela membayar lima puluh ribu hanya demi sebotol.
Beberapa botol air mineral cepat habis direbut orang. “Air mineral habis, tinggal enam botol minuman. Empat botol soda, dua botol teh susu. Masih mau?”
“Mau, mau!”
Enam botol minuman terakhir pun ludes dalam sekejap.
Chu Yi'an sendiri tidak menyangka, niat awalnya hanya untuk berteduh di bawah jembatan, kini malah mendapatkan ratusan ribu rupiah dari menjual air. Ia kini hanya menyisakan tiga botol air mineral untuk dirinya sendiri. Meski ada yang terus berdatangan menanyakan air, Chu Yi'an hanya menggeleng dan berkata sudah habis.
Memang benar-benar sudah habis.
Pukul empat sore, suhu di luar turun menjadi empat puluh empat derajat. Meski turun dua derajat, rasanya tak jauh berbeda dengan saat tengah hari.
Orang-orang di bawah jembatan, sebagian besar sudah berada di sana sejak pukul sebelas pagi, dan hingga saat ini banyak yang belum minum setetes pun, apalagi makan. Tak sedikit yang sudah tak tahan dan bersiap untuk pergi.
Orang-orang memang sudah lama ingin pulang. Bila ada yang pertama pergi, pasti akan diikuti yang kedua, ketiga, dan seterusnya.
Seorang wanita menerima telepon. “Belum pulang sekarang.”
“Duh, cuaca panas sekali, aku terjebak di bawah jembatan, tahu tidak.”
“Belum makan, di sini juga panas sekali. Kalian di rumah saja, nyalakan pendingin ruangan, jangan keluar, aku sebentar lagi pulang.”
Sambil berbicara, wanita itu mendorong sepeda listriknya keluar. Dudukan sepeda yang menyerap panas terasa sangat panas, begitu ia duduk langsung terlonjak kaget. Namun itu tak menghalangi tekadnya untuk pulang, ia pun menantang terik matahari, berjalan oleng di jalan.
Chu Yi'an, yang masih berjongkok di tempat teduh, memperhatikan kepergian wanita itu. Ia sendiri hanya sarapan sedikit, dan siang hanya minum air, kini perutnya sudah keroncongan. Ia pun berdiri, bersiap meninggalkan tempat itu untuk pergi ke kota, membeli sesuatu, sekaligus makan.
Namun, saat itu juga, tiba-tiba sepeda listrik yang belum jauh dari jalan memancarkan cahaya. Bukan pantulan sinar matahari dari kaca, melainkan sepeda listrik itu terbakar sendiri.
“Turun, cepat turun!”
“Sepedanya terbakar!”
“Cepat lari!”
Orang-orang di bawah jembatan dan di jalan sama-sama berteriak. Demi menolong, banyak yang berlari keluar dari bawah jembatan. Wanita itu juga terkejut, namun sulit melepaskan diri dari sepeda yang mulai terbakar. Orang di barisan terdepan berlari, menariknya turun dari sepeda. Begitu berhasil, sepeda itu langsung diselimuti api.
Terbakar, lalu meledak.
Semua terjadi hanya dalam hitungan detik.
Ledakan mendadak itu membuat semua orang terkejut, beberapa detik kemudian, barulah wanita itu menjerit kesakitan.
“Ah—!”
Ia mengalami luka bakar. Ternyata tadi ia bukan takut turun, melainkan kulitnya sudah menempel pada logam sepeda karena suhu tinggi. Orang yang menolongnya pun menariknya dari logam panas itu, sekaligus mengoyak kulit di pahanya.
Pahanya melepuh, bahkan di pangkal paha kulitnya terkelupas cukup besar.
Ambulans dan pemadam kebakaran baru datang setelah beberapa saat, wanita itu dibawa ke rumah sakit, sementara sepeda listriknya kini tinggal rangka.
Sepeda saja bisa terbakar, sungguh menakutkan.
Niat Chu Yi'an untuk segera pulang pun sirna seketika. Demi keselamatan, ia memutuskan tetap bertahan di sana lebih lama. Sudah enam jam berlalu, menunggu satu-dua jam lagi pun tak masalah.
Bukan hanya dia yang berpikiran sama.
Pukul 17.32, Chu Yi'an meneguk air terakhir yang tersisa, akhirnya naik ke becak motornya dan menuju kota.
Hal pertama yang dilakukannya adalah mencari tempat makan.
Ia duduk di ruangan ber-AC. Di depannya, daging perut babi dipanggang hingga mengeluarkan suara mendesis. Chu Yi'an sengaja memanggil pelayan untuk membantu memanggang daging, sementara ia sendiri makan rakus seperti orang kelaparan.
Memang, ia benar-benar lapar.
Chu Yi'an menghabiskan dua piring daging babi, dua piring daging sapi, satu porsi tiram mentah, satu porsi udang besar, satu porsi kerang, dan buah serta es serut gratis dari restoran pun disantap habis-habisan.
Baru setelah kekenyangan ia berjalan keluar sambil memegangi perut.
Pukul tujuh malam.
Meskipun matahari telah tenggelam, hawa masih terasa gerah.
Chu Yi'an menyetir berkeliling, melihat sebuah pusat grosir, lalu membeli beberapa kardus air mineral. Selain itu, ia juga membeli beberapa kotak es krim stik. Ia membeli beberapa bumbu masak, juga sayuran yang ia suka—meski tak tahan disimpan lama.
Selesai belanja, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Cuaca perlahan mulai sejuk, Chu Yi'an pun bersiap pulang. Sebelum berangkat, ia mampir ke pom bensin, membeli seribu liter solar, lalu membawa semua barang itu pulang.
Dalam perjalanan pulang, Chu Yi'an menyetir cepat tapi hati-hati. Saat melewati tempat di mana malam sebelumnya ada orang menunggu ojek, ia menoleh sejenak ke sana—malam ini tempat itu kosong, ia pun tak terlalu memperhatikan, terus melaju dan berbelok ke arah rumahnya.
Beberapa ratus meter lagi, ia akan melewati proyek pembangunan yang siang tadi masih ramai.
Rumahnya sudah semakin dekat.
Namun saat ia membelokkan kendaraan, tiba-tiba terdengar suara mendesis tajam.
Bagian depan becaknya mendadak turun, kepala kendaraan sempat melayang, hampir saja menabrak pagar di samping jalan. Chu Yi'an buru-buru mengerem, hanya sedikit lagi ia pasti menabrak pagar dan menghantam lereng bukit.
Namun sebelum sempat memeriksa apa yang dilindasnya, dari sudut gelap tikungan terdengar langkah kaki tergesa-gesa, makin lama makin mendekat ke arah kendaraannya.