Bab 61: Orang yang Menyebalkan dan Orang yang Menggemaskan
“Kebetulan, aku memang cukup ahli dalam lagu berbahasa Inggris. Single-ku sebelumnya, ‘LIKE’, baru saja dirilis dan langsung menduduki puncak tangga lagu luar negeri. Kalau kau ingin belajar lagu Inggris, aku bisa mengajarkanmu. Jujur saja, menurutku lagu-lagumu sama sekali tidak terdengar internasional.” Tatapan Han Bo dipenuhi rasa meremehkan. Entah orang lain percaya atau tidak, yang jelas ia sendiri sudah meyakini ucapannya itu. Ia berhasil meyakinkan dirinya sendiri.
Ekspresi Xu Wenruo hanya menampakkan senyum samar, menatap Han Bo dengan bingung. Ia benar-benar tak mengerti apa maksud dari Han Bo, dari mana muncul rasa superioritas hanya karena bisa menulis lagu Inggris?
“Aku bukan tidak bisa bahasa Inggris, mungkin kau tidak tahu, Han Bo. Saat ini aku kuliah di Universitas Beijing, nilai bahasa Inggrisku saat ujian masuk universitas adalah 130, dan pada bulan Desember tahun lalu aku sudah lulus ujian tingkat empat.”
“Aku juga tidak mengerti kenapa sebagai mahasiswa jurusan Sastra Mandarin aku harus lulus ujian bahasa Inggris tingkat empat untuk dapat ijazah. Tapi aku sudah lulus ujian itu di semester pertama tahun pertama.”
“Sebenarnya aku bicara panjang lebar bukan untuk apa-apa, hanya ingin menjelaskan pada Han Bo. Mungkin kau belum pernah kuliah jadi tidak tahu, sekarang ini syarat wajib kelulusan di universitas dalam negeri adalah lulus ujian bahasa Inggris tingkat empat.”
Semakin Xu Wenruo berbicara, raut wajah Han Bo yang tadinya penuh kebanggaan perlahan berubah menjadi suram, seperti seorang maestro opera Sichuan yang sedang berganti topeng; ekspresinya sangat hidup dan jelas. Sementara di sampingnya, Yu Chao menahan tawa sekuat tenaga, wajahnya yang memerah menunjukkan betapa ia hampir tak bisa menahan tawa.
“Aku bukannya tidak bisa menulis lagu Inggris, dan aku juga tidak berpikir dengan menambahkan beberapa kalimat bahasa Inggris dalam lirik akan membuat lagu itu jadi lebih keren. Aku bisa menulis lagu Inggris, namun tidak merasa perlu. Aku tidak peduli pendapat orang lain, aku hanya ingin menciptakan musik versiku sendiri.”
“Soal lagu Inggris-mu yang pernah menduduki puncak tangga lagu luar negeri, maaf, aku belum pernah mendengarnya, jadi aku tidak bisa berkomentar, dan aku juga tidak tertarik belajar menulis lagu darimu. Aku punya gaya sendiri.”
Sikap Xu Wenruo tenang dan tidak merendah, ucapannya sama sekali tidak memberi muka pada Han Bo, bahkan bisa dibilang benar-benar menampar wajah Han Bo. Usai mendengar jawaban itu, wajah Han Bo berubah sangat buruk, ia tampak berada di ambang kemarahan.
Melihat situasi yang memanas, Yu Chao segera maju untuk meredakan keadaan, sehingga pertengkaran yang hampir terjadi di atas panggung berhasil dicegah. Namun semua orang tahu, saat keadaan sudah seperti ini, tak ada ruang untuk berdamai. Konflik antara Xu Wenruo dan Han Bo hanya akan semakin memburuk, hingga salah satu mengalah atau tumbang. Xu Wenruo yakin bahwa orang itu pasti bukan dirinya.
“Kau hebat sekali di atas panggung tadi, aku tak menyangka kau benar-benar berani melawan Han Bo. Aku sungguh meremehkanmu sebelumnya.”
Begitu Xu Wenruo turun dari panggung, Wu Xuan langsung mengacungkan jempol padanya. Tak banyak peserta yang berani melawan juri, apalagi Han Bo, idola papan atas, yang hanya dengan kekuatan fans-nya sudah bisa ‘mengguncang’ banyak selebritas. Para penggemar idola kelas atas memang sangat militan.
“Apa yang perlu ditakuti? Dia sudah terang-terangan menamparku, masak aku harus berlutut minta ampun? Aku hanya menghormati orang yang pantas dihormati, orang sepertinya tak layak mendapat hormat dariku.”
Ekspresi Xu Wenruo tetap dingin. Ia pun tak memahami kenapa Han Bo begitu memusuhinya. Dari sudut pandang Xu Wenruo, ia tak pernah punya masalah dengan Han Bo, bahkan Xu Wenruo bukan tipe pembuat onar.
Walaupun Xu Wenruo biasanya tampak tertutup, kecerdasannya dalam bergaul tidak bisa diremehkan. Setidaknya selama ikut acara ini, para senior yang ditemuinya selalu memperlakukannya dengan baik. Ada guru profesional seperti Wu Yue dan Zhou Qingyang, serta mentor selebritas seperti Yu Chao dan Qin Sen, bahkan tokoh-tokoh yang hanya sempat bertemu sekali seperti Huang Shi dan Huang Bo pun selalu mendukung Xu Wenruo.
Hal itu membuktikan bahwa hubungan Xu Wenruo dengan orang-orang sebenarnya baik. Ia tidak terlalu suka bersosialisasi, namun bukan berarti ia tidak paham etika sosial. Setidaknya, di depan para senior dunia hiburan, sikapnya selalu sopan. Namun jika ada yang ingin mengandalkan status senior untuk menggurui, Xu Wenruo tak akan membiarkannya begitu saja.
Orang seperti Han Bo, jika diberi muka, justru akan makin menjadi-jadi. Cara paling bijak adalah langsung melawannya begitu ia mulai mencari gara-gara, pukul balik dengan keras, supaya di kemudian hari ia jadi lebih berhati-hati. Tipe orang seperti itu memang hanya berani pada yang lemah dan takut pada yang kuat.
“Keren, hanya orang sepertimu yang punya bakat luar biasa berani melawan dia. Kalau kami yang mengalami, pasti tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa diam dimarahi tanpa berani membantah.”
Wu Xuan menghela napas pelan. Ia membayangkan dirinya di posisi Xu Wenruo, dan sadar ia benar-benar tak bisa berbuat apa-apa. Wu Xuan juga ingin melawan juri seperti Xu Wenruo, namun ia tahu diri, ia tidak punya talenta sehebat Xu Wenruo.
“Yang paling ku benci adalah orang yang tidak punya kemampuan tapi suka menekan orang dengan dalih pengalaman. Baru dua tahun lebih dulu terjun ke dunia hiburan saja sudah sok, karya terkenal saja tidak punya, tapi sudah merasa paling hebat. Lihat saja Yu Chao dan Qin Sen, posisi mereka jauh di atas Han Bo, tapi tetap rendah hati pada peserta lain.”
Menanggapi ucapan Wu Xuan, Xu Wenruo pun ikut mengeluh. Ia benar-benar tidak suka dengan tipe orang seperti Han Bo, bukan karena ia ditekan secara pribadi, melainkan karena memang tak tahan melihat perilaku seperti itu.
“Tak apa, bakatmu sehebat ini, meskipun dia ingin menekanmu, tetap saja tak akan bisa. Kau itu seperti bulan di langit malam, cahayamu tak bisa disembunyikan. Aku percaya padamu.”
“Apa yang terjadi padamu hari ini? Kenapa mendadak bicaramu aneh?” Mendengar ucapan Wu Xuan, Xu Wenruo merasa ada yang janggal. Biasanya mereka berbicara dengan saling meledek, meski pada awalnya Wu Xuan bukan seperti itu. Ia anak yang sopan dan terpelajar, tapi setelah lama akrab dengan Xu Wenruo, gaya bicaranya pun jadi suka menyindir.
Xu Wenruo sudah terbiasa bertukar sindiran dengan Wu Xuan. Meskipun Wu Xuan selalu kalah, Xu Wenruo harus mengakui, dalam hal sindiran Wu Xuan punya bakat, bahkan mungkin lebih berbakat daripada dalam menyanyi dan menari. Ke depan, ia pasti bisa menjadi ‘ahli sindiran’ seperti Xu Wenruo.
Karena itulah, Xu Wenruo langsung sadar ada sesuatu yang berbeda dari nada bicara Wu Xuan kali ini, bukan karena marah atas perlakuan Han Bo, justru lebih seperti ada beban pikiran.
Mendengar pertanyaan Xu Wenruo, Wu Xuan tiba-tiba terdiam. Ia tak menyangka Xu Wenruo begitu peka, langsung menyadari suasana hatinya yang sedang tidak baik. Wu Xuan tersenyum agak getir, tak berniat menyembunyikan kekhawatirannya dan langsung mengungkapkannya.
“Tak ada apa-apa, hanya tiba-tiba merasa mungkin di episode selanjutnya aku akan tereliminasi. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan program ini, awalnya cuma ingin coba-coba saja. Tapi kalau benar-benar tereliminasi, entah kenapa tetap terasa berat.”
Mendengar jawaban Wu Xuan, Xu Wenruo pun terdiam sejenak. Setelah menonton penampilan Wu Xuan sebelumnya, ia memang sudah punya firasat seperti itu. Dengan sistem seleksi dari empat puluh jadi dua puluh besar, tanpa kemampuan luar biasa, mustahil bisa bertahan. Peserta seperti Wu Xuan yang baru belajar setengah jalan, jika tidak beruntung, sangat sulit untuk lolos.
“Mau aku coba bantu agar kau bisa bertahan?” Xu Wenruo bertanya hati-hati setelah lama terdiam, karena ia sendiri juga tidak tahu bagaimana cara membantunya.
“Bagaimana caramu membantuku? Jujur saja, aku sudah sangat puas bisa sampai sejauh ini. Kemampuanku memang belum layak masuk dua puluh besar, aku akui itu.”
“Aku bisa bantu lewat pengumpulan suara, sekarang suaraku sudah berlebih. Aku bisa minta fans-ku lewat StarInfo untuk memberikan suara lebih pada kamu, jadi kamu bisa lolos ke babak selanjutnya.”
“Tak ada gunanya, tak perlu repot. Kalaupun aku lolos, apa gunanya? Kalau tidak kuat, tetap saja akan tereliminasi. Kalau kemampuan tidak sebanding posisi, tidak mungkin bisa bertahan.”
“Di babak selanjutnya aku bisa menulis lagu untukmu, setidaknya bisa memperpanjang langkahmu dua babak lagi.” Ucapan Xu Wenruo sangat sungguh-sungguh. Ia benar-benar mengutamakan persahabatannya dengan Wu Xuan daripada satu-dua lagu ciptaan.
Mendengar itu, ekspresi Wu Xuan jelas terkejut. Ia benar-benar tidak menyangka Xu Wenruo akan berkata demikian, bahkan rela berbagi lagu ciptaan sendiri. Lagu ciptaan Xu Wenruo sangat berharga, Wu Xuan sangat menyadari itu.
“Serius? Aku benar-benar tersanjung.” Wu Xuan menatap Xu Wenruo lama, lalu mengangkat alis dan akhirnya tersenyum lega.
“Tentu saja serius. Beberapa hari lagi aku bisa berikan lagu baru padamu, tidak akan mengganggu latihanmu.”
Xu Wenruo sangat yakin akan hal itu. Bagaimanapun, sekarang ia punya dua kesempatan “pesanan khusus” setiap minggu, memberi satu untuk Wu Xuan bukan masalah besar.
“Mendengar ucapanmu saja aku sudah lebih bahagia daripada lolos ke babak berikutnya. Bisa mengenalmu adalah pencapaian terbesarku di pelatihan ini. Tak perlu membantuku mengumpulkan suara, aku akan berusaha lolos dengan kemampuanku sendiri. Kalau pun harus tereliminasi, aku rela dan tidak akan menyalahkan siapa pun.”
“Tapi...”
“Aku sangat menghargai niat baikmu, tapi kalau aku harus membebani kamu, itu terlalu egois. Lagi pula, aku juga belum tentu tereliminasi, siapa tahu aku benar-benar bisa lolos dengan kemampuanku sendiri?”
Selesai bicara, Wu Xuan menepuk pundak Xu Wenruo. Pada akhirnya, Wu Xuan tetap menolak tawaran Xu Wenruo. Seperti yang ia katakan, Wu Xuan memang tidak peduli soal lolos atau tidak. Ia tahu betul, dengan bantuan Xu Wenruo, setidaknya ia bisa masuk sepuluh besar.
Namun Wu Xuan tetap memilih untuk mundur. Ia memang berkata ingin mengandalkan kemampuan sendiri, tapi sebenarnya ia tidak ingin membebani Xu Wenruo. Sebagai sahabat, ia tahu betul tekanan besar yang ditanggung Xu Wenruo.
Setengah dari peserta pelatihan menjadikan Xu Wenruo sebagai sasaran, setengahnya lagi sebagai saingan. Xu Wenruo bisa dibilang musuh semua orang. Dalam kondisi seperti ini, mana mungkin Wu Xuan menambah beban Xu Wenruo. Ia bukan tipe orang seperti itu, dan dari situ juga bisa dilihat bahwa Wu Xuan memang tidak pernah mengejar ketenaran dan keuntungan.