Bab 38: Soal Ilmu Pedang, Aku Tidak Sebanding Dengannya
Chu Yuan mengamati keadaan kamar tamu tersebut. Luas kamarnya tidak seberapa, kira-kira dua puluh meter persegi. Perabotan seperti meja, kursi, tempat tidur, dan lemari tersedia lengkap di dalamnya, dengan jendela yang lebar dan pencahayaan yang sangat baik.
"Tidak masalah jika Ketua Yue tidak menyambutku, yang penting Nyonya Yue menyambutku, itu sudah cukup." Chu Yuan duduk santai di atas kursi bundar dengan ekspresi yang tak acuh.
Melihat tatapan Dongfang Sheng yang berubah aneh saat menatapnya, Chu Yuan baru menyadari bahwa ucapannya tadi mengandung makna ganda. Ia terpaksa menceritakan peristiwa dua belas tahun lalu pada perayaan ulang tahun ketujuh puluh Lin Yuantu, serta sebab musabab ketidaksukaan Yue Buqun terhadap dirinya.
"Begitu rupanya. Pantas saja saat aku bertemu Yue Buqun tadi, aku merasa ia bermuka dua dan tampak munafik." Dongfang Sheng merasa agak muak terhadap Yue Buqun setelah mendengar penjelasan tersebut. "Bagaimanapun juga, Saudara Chu, Anda telah membantu Sekte Huashan sekali di masa lalu. Tidak seharusnya mereka menyimpan dendam hanya karena Anda tidak terus membantu mereka saat Sekte Huashan sedang dalam kesulitan, bukan?"
"Biarkan saja dia. Aku datang ke sini hanya untuk berkelana. Jika tinggal di sini tidak nyaman, aku tinggal pergi saja," jawab Chu Yuan santai. Ia sudah lama mengetahui watak Yue Buqun, sehingga ia tidak merasa heran dengan perilaku pria itu. Selama Yue Buqun tidak menyerangnya atau menganggapnya sebagai musuh, Chu Yuan tidak peduli seberapa besar rasa tidak suka yang ditunjukkan pria itu.
"Ngomong-ngomong, Saudara Dongfang, bolehkah aku tahu apa yang Anda cari di Gunung Hua ini?" Chu Yuan menatap Dongfang Sheng. "Aku bisa membantu mencarinya, bukankah peluang menemukannya lebih besar jika ada dua orang?"
"Terima kasih atas niat baik Saudara Chu, tapi lebih baik aku mencarinya sendiri," tolak Dongfang Sheng segera setelah terdiam sesaat.
"Baiklah, semoga Saudara Dongfang mendapatkan apa yang diinginkan," ucap Chu Yuan santai. Ia sudah bisa menebak apa yang dicari Dongfang Sheng di Gunung Hua. Kemungkinan besar itu adalah *Kitab Bunga Matahari*! Ia ingat bahwa Sekte Matahari Bulan pernah menyerang Sekte Huashan secara besar-besaran dan sepuluh tetua Sekte Matahari Bulan tewas di sana demi merebut naskah *Kitab Bunga Matahari* yang sempat dicatat oleh dua murid Huashan, Yue Su dan Cai Zifeng. Sekte Iblis memang berhasil merebut naskah tersebut, sementara Yue Su dan Cai Zifeng tewas di tangan mereka.
Sebelumnya, pemimpin Sekte Emei, Pendeta Jinguang, mengatakan bahwa Sekte Iblis telah merebut kitab bela diri dari tangan Sekte Huashan. Itu pasti naskah *Kitab Bunga Matahari* yang dimaksud. Saat ini, mantan pemimpin Sekte Iblis, Ren Woxing, telah dipenjara, dan Dongfang Bubai menjabat sebagai pemimpin Sekte Matahari Bulan. Nama asli Dongfang Bubai adalah Dongfang Sheng. Gelar Dongfang Bubai diberikan oleh Ren Woxing setelah ia bergabung dengan sekte tersebut, berjasa besar, dan mendapatkan kepercayaan sang pemimpin.
"Aku penasaran, apakah Dongfang Bubai saat ini sudah memotong bagian tubuhnya?" Chu Yuan tiba-tiba berpikir. Ia menatap wajah Dongfang Sheng yang cantik seperti wanita, kulitnya yang halus dan putih, serta pakaian merah yang dikenakannya. "Kemungkinan besar sudah," simpul Chu Yuan.
Mengenai mengapa Dongfang Sheng masih datang ke Gunung Hua padahal sudah memiliki *Kitab Bunga Matahari*, kemungkinan besar ia merasa ada kekurangan dalam metode latihan kitab tersebut dan datang untuk mencoba peruntungan, berharap menemukan versi lengkapnya guna menghilangkan efek samping tersebut.
"Ada apa, Saudara Chu? Apakah ada yang aneh?" Dongfang Sheng merasa heran melihat Chu Yuan memperhatikannya dengan saksama.
"Tidak ada," jawab Chu Yuan sambil tersenyum, mengalihkan pembicaraan.
***
Malam harinya, cahaya bulan bersinar seperti air. Yue Buqun dan Ning Zhongze benar-benar mengadakan perjamuan untuk menjamu Chu Yuan dan Dongfang Bubai. Selain murid utama Linghu Chong, murid-murid Yue Buqun lainnya juga hadir. Chu Yuan melihat putri Yue Buqun dan Ning Zhongze, Yue Lingshan, serta murid-murid lainnya seperti Lao Denuo, Liang Fa, Shi Daizi, Gao Genming, Lu Dayou, Tao Jun, Ying Bairuo, dan Shu Qi.
Pada masa ini, sebagian besar murid Yue Buqun sudah diterima. Hanya saja, murid-murid seperti Tao Jun, Ying Bairuo, dan Shu Qi masih sangat muda; yang termuda, Shu Qi, baru berusia tujuh tahun.
Dalam perjamuan itu, Chu Yuan memberikan perhatian khusus pada murid kedua Yue Buqun, Lao Denuo. Ia tahu pria itu adalah mata-mata yang sengaja dikirim oleh Zuo Lengchan ke Sekte Huashan. "Entah apakah Zuo Lengchan juga menempatkan mata-mata di Sekte Qingcheng. Mengingat cara kerja Zuo Lengchan, itu sangat mungkin terjadi." Melihat Lao Denuo, Chu Yuan justru merasa khawatir terhadap sektenya sendiri. Ini bukan kekhawatiran yang tidak berdasar. Dulu, Sekte Qingcheng tidak sekuat Sekte Songshan, sehingga tidak dianggap sebagai ancaman bagi dominasi mereka. Namun sekarang, Sekte Qingcheng memiliki Chu Yuan. Pada perjamuan dua belas tahun lalu, Zuo Lengchan sempat ingin menyerangnya, tetapi terhalang oleh Chu Yuan. "Tidak bisa dibiarkan, setelah kembali nanti, aku harus memeriksa bagian dalam Sekte Qingcheng dengan saksama," pikir Chu Yuan.
Karena ini kunjungan pertama, Chu Yuan tidak memberitahu Yue Buqun dan Ning Zhongze bahwa Lao Denuo adalah mata-mata Zuo Lengchan. Jika ia bicara sembarangan, belum tentu mereka percaya, dan ia justru bisa dianggap sedang memfitnah.
Selama perjamuan, Yue Lingshan tampak sangat penasaran dengan Chu Yuan. Ia tidak hanya mencuri pandang, tetapi terus mencari kesempatan untuk berbicara dengan Chu Yuan.
"Shan'er, sebagai seorang gadis, bersikaplah lebih anggun di depan tamu," tegur Ning Zhongze melihat tingkah putrinya.
"Ibu, bukankah sebelumnya Ibu sendiri yang bilang agar aku dan kakak seperguruan belajar dari Pendeta Chu? Lagipula, aku masih anak-anak, bukan gadis remaja, untuk apa bersikap anggun!" bantah Yue Lingshan dengan tidak terima.
Semua orang pun tertawa. Suasana meja perjamuan seketika menjadi riang. Berkat bujukan diam-diam dari istrinya, Ning Zhongze, Yue Buqun tidak lagi berani menunjukkan rasa tidak sukanya, setidaknya di permukaan. Perjamuan itu pun berakhir dengan kebahagiaan bagi tuan rumah dan tamu.
***
Tanpa terasa, Chu Yuan telah berada di Sekte Huashan selama satu setengah bulan. Selain bertukar ilmu pedang dengan murid-murid muda seperti Linghu Chong dan Lao Denuo, Chu Yuan sering berkeliling puncak-puncak Gunung Hua bersama Dongfang Sheng. Pemandangan di sisi timur, selatan, barat, utara, dan tengah Gunung Hua telah mereka jelajahi. Meski sering bersama, terkadang Dongfang Sheng pergi sendirian di siang hari dan baru kembali sebelum gelap tanpa diketahui tujuannya. Selama satu setengah bulan, Dongfang Sheng tidak juga menyatakan ingin pergi dan tetap tinggal di Sekte Huashan bersama Chu Yuan.
Hari itu, Linghu Chong sedang senggang. Ia mendatangi kamar Chu Yuan untuk mengajaknya berlatih ilmu pedang di lapangan latihan. Sejak menyaksikan ilmu pedang Chu Yuan yang luar biasa, Linghu Chong selalu mencari kesempatan untuk belajar dan bertanding dengannya. Hari ini, Dongfang Sheng tidak ke mana-mana dan hanya berdiri menonton di pinggir lapangan. Yue Lingshan yang berjiwa kekanak-kanakan ikut menonton bersama murid-murid muda lainnya. Lao Denuo dan murid-murid senior lainnya juga berdiri di pinggir lapangan untuk memperhatikan.
Sekte Huashan terkenal dengan ilmu pedangnya, dan Linghu Chong sedang memamerkan teknik *Ilmu Pedang Huashan*. Gerakannya cepat dengan rangkaian serangan yang terus-menerus, menciptakan bayangan pedang yang menyelimuti Chu Yuan. Namun, Chu Yuan tidak memegang pedang. Ia hanya melangkah santai di sela-sela serangan Linghu Chong yang rapat. Ilmu pedang Linghu Chong terlihat hebat di permukaan, namun sebenarnya memiliki banyak celah. Chu Yuan tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, namun setiap langkahnya selalu tepat untuk menghindari serangan melalui celah-celah tersebut.
Di hadapan Chu Yuan, Linghu Chong tampak tak berdaya layaknya anak kecil menghadapi orang dewasa.
"Tadi itu gerakan 'Emas dan Giok Memenuhi Ruangan' terlalu lambat!"
"Sudut serangan 'Angsa Emas Membelah Langit' kurang tajam!"
"Transisi antar gerakan terlalu terburu-buru."
Linghu Chong tidak bisa melancarkan lebih dari beberapa serangan sebelum harus berhenti karena jari Chu Yuan selalu menodong tenggorokan atau dadanya. Jika jari Chu Yuan diganti dengan pedang, Linghu Chong entah sudah mati berapa kali. Namun, Linghu Chong justru menikmatinya dan tidak pernah meminta untuk berhenti.
Murid-murid lain yang menonton juga tampak sangat antusias. Adakah hiburan yang lebih menarik daripada melihat kakak seperguruan utama dihajar?
Yue Buqun dan Ning Zhongze entah sejak kapan sudah berada di pinggir lapangan. Setelah memperhatikan beberapa saat, Ning Zhongze menatap Yue Buqun, "Kakak seperguruan, bagaimana menurutmu ilmu pedang Pendeta Muda Chu?"
Yue Buqun membandingkannya dalam hati sejenak, lalu menjawab, "Dalam hal ilmu pedang, aku tidak sebanding dengannya."
Ning Zhongze mengangguk, "Benar. Lebih tepat dikatakan bahwa Pendeta Muda Chu sedang membimbing Chong'er, bukan sekadar bertanding."