Bab 38: Kejamnya Hati
Sepanjang perjalanan menuju Aula Panjang Umur, hati Ny. Qin masih dipenuhi kebingungan. Hari ini Gu Jinyuan sedang tidak sibuk, sehingga pasangan suami istri itu jarang-jarang bisa makan siang bersama. Mereka sedang duduk berbincang ketika salah satu pelayan melapor bahwa Nyonya Tua memanggil, lalu mereka pun langsung menuju Aula Panjang Umur.
Begitu masuk dan melihat Gu Qingwei yang berwajah tegas serta Gu Qinglan yang berlutut di lantai, hati Ny. Qin langsung terasa berat.
Melihat situasinya, sepertinya telah terjadi masalah besar.
Sementara itu, sejak pagi hari Ny. Chen menunggu di halaman namun Jinxiu tak kunjung mengantar barang yang dimaksud. Hatinya sudah gelisah, dan sejak mendapat kabar bahwa Nyonya Tua memanggilnya ke Aula Panjang Umur, ia merasa semakin waswas. Saat melihat mata Gu Qinglan yang membengkak karena menangis dan Jinxiu yang tampak lesu, hatinya langsung berdebar kencang.
Celaka!
Ny. Chen memang bukan tipe orang yang hanya duduk menunggu nasib. Maka, meski tahu masalahnya sudah terbongkar, dia tetap berusaha memikirkan cara agar dirinya bisa lolos dari perkara ini.
“Ada apa ini, Qinglan, apa kau lagi-lagi membuat Nenek marah? Kau ini anak ...”
Belum selesai berbicara, tiba-tiba ia merasakan sakit luar biasa di kening, seolah ada darah hangat mengalir dari pelipisnya.
Ia pun menatap sapu tangan yang tadi dipakai menutup kening, kini ternoda merah darah. Sejenak ia nyaris tak percaya.
“Diam kau!” Mata Nyonya Tua yang biasanya penuh kasih dan kebijaksanaan, kini hanya menyisakan kemarahan dan ketajaman. Seolah hanya dengan satu tatapan, ia mampu menembus hati siapa pun. “Perempuan keji, dulu aku pikir karena putra ketigaku sendiri yang memilihmu, barangkali setelah menikah kau bisa hidup baik di keluarga Gu. Tak kusangka, hanya karena sebuah kelengahan, ternyata aku membiarkan wanita berbisa seperti kau masuk ke rumah ini!”
Selama puluhan tahun menjadi Nyonya Gu, demi nama baik sendiri dan keluarga, bahkan kepada kedua anak tiri pun Nyonya Tua tak pernah berbuat jahat. Tak disangka, menantu tiri yang dulu dibiarkan menikah masuk justru seekor ular berbisa.
Keluarga Gu memang jarang memiliki anak perempuan, namun generasi ini ada delapan gadis, salah satunya adalah Huan yang paling disayang Nyonya Tua.
Begitu membayangkan nama baik para gadis Gu hampir saja tercoreng oleh perbuatan perempuan keji ini, Nyonya Tua rasanya ingin melahap dagingnya hidup-hidup!
Mendengar makian itu, Ny. Chen hampir saja kehilangan akal.
Dari ucapan Nyonya Tua, tersirat bahwa ia berniat menceraikannya.
Bagaimana mungkin ia terima?
Dulu, ia bisa mengalahkan kakak kandung dan masuk keluarga Gu, meski hanya menjadi istri anak tiri, namun tetap saja pernikahan itu sudah cukup membuatnya bersinar di antara para saudari di keluarga asal. Jika benar-benar diusir dari keluarga Gu, mengingat sikapnya selama ini yang selalu bersikap dingin pada keluarga sendiri, mungkinkah keluarga asal masih mau menampungnya?
Tubuh Ny. Chen bergetar kedinginan. Ia sudah tak peduli pada harga diri, segera merangkak dan memeluk kaki Nyonya Tua, menangis tersedu-sedu, “Ibu, jika menantu telah berbuat salah, Ibu mau memukul atau memarahi, menantu sama sekali tidak berani mengeluh, asalkan jangan suruh Tuan menceraikan menantu, itu sama saja membunuh menantu ...”
Seorang perempuan yang dahulu selalu membanggakan martabatnya, kini menangis meraung-raung tanpa memedulikan penampilan. Kalau ada orang luar yang tak tahu duduk perkaranya, mungkin akan merasa iba.
Namun di ruangan itu, selain yang sudah tahu duduk persoalannya, hanya ada Ny. Qin yang meski belum paham semua, namun cukup bijak membaca situasi. Tak ada satu pun yang merasa kasihan pada Ny. Chen.
Terutama Nyonya Tua. Melihat sikap Ny. Chen, ia hanya merasa muak, langsung menendang dada Ny. Chen, “Perempuan keji! Kalau menceraikanmu sama saja membunuhmu, kenapa kau tak pernah berpikir bahwa dengan menyuruh orang menyerahkan pakaian dalam Qinglan pada Wei Yaozu, kau sama saja membunuh putri kandungmu?!”
“Apa?!”
Walaupun Ny. Qin sudah sangat terlatih menghadapi situasi genting, ia tetap saja tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Ny. Chen memang tidak setuju Qinglan menikah dengan Yan Congbai, itu ia ketahui. Ia juga tahu Ny. Chen ingin Qinglan menikah ke keluarga Wei. Namun setelah pertunangan Qinglan dan Yan Congbai benar-benar ditetapkan, Ny. Qin pun merasa tenang, mengira adik iparnya meski tak puas tetap akan menahan diri. Tak disangka, Ny. Chen sampai hati melakukan hal seperti ini!
Apa yang terpikir oleh Nyonya Tua, sudah pasti juga terpikir oleh Ny. Qin.
Keluarga Wei dikenal licik. Jika mereka benar-benar mendapat pegangan seperti itu, entah masalah apa yang akan timbul. Kalau rahasia itu sampai tersebar, bagaimana nasib gadis-gadis Gu yang lain?
Sebagai perempuan utama keluarga Gu, Ny. Qin tentu harus menjaga nama baik gadis-gadis di keluarganya. Sebagai seorang ibu, ia juga takkan membiarkan putrinya tercemar nama baiknya hanya karena perkara ini.
Karenanya, pandangan Ny. Qin pada Ny. Chen kini sedingin bilah pisau.
Ia takkan membiarkan siapa pun menyakiti anak-anaknya!
Ny. Chen terjatuh usai ditendang, dada terasa nyeri, sambil memegangi dada ia merangkak hendak memohon pada Ny. Qin, namun langsung tertumbuk pada tatapan sedingin es dari Ny. Qin.
Hatinya langsung ciut, sehingga ia pun akhirnya terdiam.
Nyonya Tua tersenyum mengejek, “Kau bilang tak tahu salahmu apa, ya sudah, dengarkan saja bagaimana Jinxiu menceritakannya.”
Nyonya Tua pun memerintahkan Jinxiu untuk menceritakan semua dari awal hingga akhir, dan menekankan agar Jinxiu mendeskripsikan dengan jelas semua perintah dari Ny. Chen.
Setelah mendengarkan semuanya, hati Ny. Qin terasa dingin membeku. “Adik ipar, betapa kejamnya hatimu. Harimau pun tak memangsa anaknya sendiri, tapi kau tega mendorong anak kandung ke jurang maut. Aku benar-benar kagum pada kekejamanmu.”
Gu Qinglan yang sejak tadi berlutut seperti boneka di depan Nyonya Tua, mendengar ucapan itu, air matanya langsung mengalir di pipi pucatnya.
Tapi Ny. Chen tidak terima mendengar tuduhan itu.
Ia sadar, sejak Jinxiu bicara, ia tak bisa membela diri. Namun dituduh mendorong anak sendiri ke kematian, mana mungkin ia sekejam itu?
Dengan susah payah berdiri, Ny. Chen membantah Ny. Qin, “Kakak ipar bicara apa sih? Aku memang tidak suka Qinglan, tapi tidak mungkin aku tega mendorongnya mati. Aku hanya ingin dia membatalkan pertunangan dengan putra keluarga Yan, hanya itu, membatalkan pertunangan, apa hubungannya dengan kematian? Wei Yaozu memang tak sebaik putra Yan, tapi toh dia masih keluarga jauh, dan ada keluarga Gu yang mendukung, apa keluarga Wei berani menindas Qinglan?”
Bagian awal memang isi hati Ny. Chen, tapi bagian akhir hanyalah pembelaan diri, seberapa jujur ucapannya hanya dia sendiri yang tahu.
Gu Qingwei hanya bisa tersenyum sinis dalam hati.
Keluarga Wei takkan berani menindas kakak Qinglan? Itu sungguh lelucon terbesar!
Hanya Ny. Chen sendiri yang percaya omong kosong seperti itu.
Jika memang benar, mengapa di kehidupan sebelumnya kakak Qinglan dijebak hingga kehilangan seluruh mas kawinnya, pulang ke rumah Gu dalam keadaan lemah sehabis keguguran tanpa perawatan, lalu akhirnya tak tahan dan kembali ke keluarga Gu?
Rekomendasi bacaan menarik dari sahabat: “Api dan Bunga”, novel berlatar masa Republik, bagi yang berminat bisa membaca.