Bab 47: Kue Kecil
Sejak meninggalkan kuil keluarga, suasana hati nenek selalu terasa berat dan tertekan.
Darah daging seharusnya menjadi orang yang paling dekat di dunia ini, namun di mata Nyonyah Chen dan Bibi Agung Wei, Gu Qinglan hanyalah seseorang yang tak berarti dan bisa mereka atur masa depannya semaunya saja, bahkan rela mengorbankan seluruh hidupnya demi perhitungan mereka sendiri.
Nenek memang tidak bisa dikatakan sangat menyayangi Gu Qinglan, apalagi hubungan mereka sudah terpaut beberapa generasi, tapi ia sendiri adalah seorang ibu dan nenek. Putrinya Jinlin dan cucunya Huan, andai bisa, ia ingin mengambil bintang dari langit untuk diberikan pada mereka.
Sebagai istri utama keluarga Gu, ia cerdas dan tegas seumur hidupnya, selalu memperhitungkan untung dan rugi, namun ia tak pernah rela demi keuntungan itu menyakiti anak-cucunya.
Dalam keluarga-keluarga terpandang, selalu saja ada begitu banyak perhitungan demi kepentingan, hingga akhirnya kasih keluarga menjadi hambar dan pertikaian antar saudara menjadi hal yang lumrah.
Sebenarnya, nenek sudah sering melihat berbagai pertengkaran di antara saudara dan ayah-anak, ia bisa memahaminya, namun tetap saja hatinya terasa tidak nyaman.
Apakah karena hidupnya di keluarga Gu terlalu mulus, atau karena orang tua memang selalu lebih banyak berpikir? Ia menertawakan dirinya sendiri.
...
Karena kejadian itu, suasana muram di kediaman Gu berlangsung hampir setengah bulan, hingga berganti bulan keempat, mendekati hari ulang tahun nenek. Nyonyah Qin pun sering datang meminta petunjuk tentang persiapan pesta ulang tahun, sementara Gu Qingwei yang mulai punya waktu luang selalu menempel pada nenek, menanyakan berbagai hal tentang bibi Gu Jinlin, hingga akhirnya raut wajah nenek kembali cerah.
Tanggal lima belas bulan keempat, adalah hari ulang tahun nenek yang ke lima puluh tujuh.
Begitu memasuki bulan keempat, nenek sudah tak sabar mengirim orang ke keluarga Chang untuk menjemput putrinya.
Rasa bahagia karena akan segera bertemu anak perempuan, akhirnya mengalahkan amarah berkepanjangan yang disebabkan oleh ulah Nyonyah Chen.
"Nenek, ibu berpesan, saat bibi kembali nanti, beliau tetap akan tinggal di Paviliun Linlang tempatnya dulu sebelum menikah. Tugas menata paviliun juga diberikan padaku. Cucu hampir tak pernah bertemu dengan bibi, jadi tak tahu apa saja kesukaannya. Nenek harus membimbing cucu dengan baik," ujar Gu Qingwei manja, bersandar di sisi nenek.
Nenek mendengar itu langsung tersenyum.
Karena selalu merindukan putrinya, selama bertahun-tahun Paviliun Linlang tetap dipertahankan seperti dahulu kala, bahkan sering dibersihkan, jadi sebenarnya tak perlu penataan khusus.
Namun nenek tahu, Huan sengaja ingin menyenangkannya, mana mungkin dia tidak menanggapinya? Ia pun menggenggam tangan Gu Qingwei, lalu mulai mengenang tentang Gu Jinlin. "Bibimu itu, sangat manja orangnya, tak tahan melihat kamarnya kotor sedikit pun. Selimut yang dipakai pun harus dijemur di bawah matahari setiap hari, katanya agar bisa mencium aroma sinar matahari. Kalau suatu hari tidak ada matahari, ia akan mengeluh tak bisa tidur nyenyak..."
Sudah lama nenek tak bertemu putri semata wayangnya, apalagi belakangan mendengar kabar ia diperlakukan tak baik di keluarga Chang, mana mungkin ia tak cemas dan rindu. Mengingat semuanya, wajahnya pun berubah haru-biru.
"Oh ya, setelah bibimu tiba nanti, kita harus undang lagi ahli kue dari Toko Kue Tua Chen. Bibimu dulu paling suka kue-kue dari toko itu," ucap nenek sambil menepuk kening, tiba-tiba teringat sesuatu.
Toko Kue Tua Chen adalah toko kue legendaris di Kota Qinghe. Karena kelezatannya, setiap pagi pasti sudah ada antrian panjang. Kalau telat sedikit, pasti pulang dengan tangan hampa.
Gu Qingwei mendengar itu tertegun sejenak.
Ia teringat, di kehidupan sebelumnya saat ia menikah, bibinya sengaja datang jauh-jauh dari keluarga Chang. Saat itu keluarga Chang sudah jatuh miskin, kalau bukan karena kerajaan masih menyisakan satu rumah tua untuk para perempuan keluarga Chang, mungkin mereka semua sudah tak bisa bertahan hidup.
Gu Jinlin saat itu sudah berubah dari gadis terpandang menjadi wanita pendiam yang penuh duka. Satu-satunya anak laki-lakinya pun karena penderitaan hidup menjadi penakut dan lemah.
Bagi Gu Jinlin yang sudah sangat miskin, ongkos pulang ke Qinghe saja harus menukar perhiasan terakhir yang dimilikinya. Saat keponakannya menikah, tentu saja ia tak mampu memberi hadiah. Maka pada hari pernikahan, Gu Jinlin pun tidak muncul.
Semua orang di keluarga Gu tahu kondisi Gu Jinlin, tak ada yang mempermasalahkannya.
Kemudian, sehari sebelum Gu Qingwei berangkat ke ibukota, Gu Jinlin tiba-tiba menemuinya, menyelipkan sesuatu ke tangannya tanpa berkata apa-apa lalu pergi.
Belakangan, saat Gu Qingwei membuka, ternyata itu adalah kotak penuh kue dari Toko Kue Tua Chen.
Kotak kue itu menemaninya sepanjang perjalanan ke ibukota, bahkan sebelum sampai, ia sudah terlebih dahulu merindukan kampung halaman lewat rasa kue-kue itu.
Selama empat puluh tahun di ibukota, Gu Qingwei tak pernah lagi mencicipi kue dengan rasa seperti yang ada dalam ingatannya.
Kini kalau dipikir, mungkin bagi bibinya waktu itu, kotak kue itu adalah pemberian terbaik yang bisa ia berikan, dan itulah makanan favoritnya sendiri. Betapa besar doa dan harapan yang tertuang di dalamnya.
Gu Qingwei tiba-tiba merasa pilu.
Di kehidupan sebelumnya, setelah pergi ke ibukota, ia tak pernah kembali ke Qinghe. Saat merindukan kampung halaman, ia selalu merasa dirinya sendirian, namun sesungguhnya, jauh di Qinghe sana, nenek, orang tua, dan para sepupu, berapa banyak pula yang merindukannya?
Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Gu Qingwei menggenggam erat tangan neneknya. "Nenek, bibi pasti akan melahirkan sepupu laki-laki dengan selamat, lalu menikah dengan pria sepuluh kali lebih baik daripada Chang Jinchou, dan menikmati kebahagiaan seumur hidupnya!"
Ia mengucapkannya dengan penuh keyakinan.
Hidup sekali lagi, bagaimana mungkin ia tak ingin membuat keluarga yang menyayanginya hidup lebih baik dari kehidupan sebelumnya?
Nenek agak terkejut, tak tahu bagaimana Gu Qingwei sampai mengaitkan kue Tua Chen dengan hal itu. Namun itu tak menghalanginya menatap lembut cucu kesayangannya, lalu mengelus rambutnya dengan penuh kasih. "Kau benar, Huan, bibimu di sisa hidupnya pasti akan hidup nyaman."
Ia sudah menikmati kemewahan seumur hidup, dikelilingi anak-cucu yang semuanya berbakti. Namun yang paling ia sayangi tetaplah putri satu-satunya dan cucu yang sejak pertama kali melihatnya sudah ia cintai.
Bisa melihat Jinlin dan Huan menikah dengan orang baik, hidupnya sudah terasa lengkap.
Sejenak, suasana di Paviliun Yan Shou berubah menjadi hening, dipenuhi kehangatan dan kasih sayang.
Nenek pun tak lama membiarkan Gu Qingwei berlama-lama menemaninya, dengan alasan menyuruhnya keluar membeli beberapa barang untuk Gu Jinlin, bahkan sengaja mengutus seseorang ke Paviliun Rong Qing untuk meminta izin, supaya Gu Qingwei bisa berjalan-jalan di luar tanpa perlu khawatir harus kembali belajar di sore hari.
Beberapa hari ini Gu Qingwei memang selalu berada di Paviliun Yan Shou, nenek pun memperhatikan itu dan khawatir ia akan bosan. Begitu ada kesempatan, ia dengan senang hati menyuruh Gu Qingwei keluar untuk menyegarkan diri.
Gu Qingwei pun memahami maksud baik neneknya, ia tidak menolak. Keluar dari Paviliun Yan Shou, ia langsung menuju ke Paviliun Qiu Di, berniat mengajak Gu Qinglan berjalan-jalan bersama.