Bab 60 Perceraian
“Memang sekarang bukan lagi masa kejayaan keluarga bangsawan, tapi keluarga Gu juga bukan sembarang orang yang bisa dipermainkan. Orang-orang Gu tidak suka menindas, tapi juga tidak boleh ditindas orang lain...”
Tubuh Chang Jinzhou langsung menegang.
Keluarga Chang sebenarnya hanyalah keluarga kecil yang punya sedikit pengaruh. Dulu Chang Jinzhou bisa menikahi putri sulung keluarga Gu, itu memang keberuntungan besar. Selama bertahun-tahun, keluarga Chang memanfaatkan hubungan pernikahan dengan keluarga Gu untuk berkembang, apalagi setelah ada pejabat tingkat dua di ibu kota yang menjadi kepala departemen, wajar saja keluarga Chang menjadi sombong.
Meskipun keluarga Chang tinggal jauh dari ibu kota, nama besar sang tuan besar sangat berguna di wilayah mereka. Dengan nama itu, keluarga Chang menjadi sangat berkuasa, tak ada yang berani mengusik. Anggota keluarga Chang pun banyak, sehingga tak terhindarkan ada yang menggunakan kekuasaan sang tuan besar untuk melakukan hal-hal terlarang.
Chang Jinzhou berusaha tetap tenang, membuka amplop dan menarik beberapa lembar kertas tipis dari dalamnya.
“Tahun sekian, bulan sekian, hari sekian, si Fulan dari keluarga Chang memaksa merebut istri orang, tanpa sengaja membunuh suaminya, lalu menyuruh pelayan kecil menanggung kesalahan. Pejabat setempat takut pada pengaruh sang Menteri Chang, sehingga kasus ditutup secara asal-asalan...”
“Tahun sekian, bulan sekian, hari sekian, si Fulan dari keluarga Chang ingin membeli toko dagang dengan harga murah, gagal, lalu membakar hidup-hidup lima anggota keluarga pemilik toko, dan akhirnya merebut toko itu...”
“Tahun sekian, bulan sekian, hari sekian, si Fulan dari keluarga Chang...”
Chang Jinzhou membaca satu per satu. Di kertas tipis itu, hampir semua kasus berkaitan dengan nyawa manusia. Pelakunya, semuanya anggota keluarga Chang.
Tangan Chang Jinzhou yang memegang kertas itu bergetar halus.
Dinasti Zhou memang baru berdiri, tapi dua generasi rajanya adalah penguasa bijak. Raja yang sekarang paling membenci pejabat yang menggunakan kekuasaan demi keuntungan keluarganya, apalagi keluarga Chang tidak hanya memanfaatkan nama Menteri Chang, tapi juga terlibat dalam banyak kasus pembunuhan.
Karena keluarga Chang tinggal jauh dari ibu kota, belum menjadi perhatian para penyelidik istana. Tapi kalau ada yang membawa bukti ini ke ibu kota, dengan sifat para penyelidik yang tak pernah melepaskan kasus sekecil apa pun, pamannya yang menjabat sebagai Menteri Pekerjaan bisa saja terkena imbas dari perbuatan anggota keluarga.
Keluarga Chang bisa berkembang seperti sekarang berkat jasa besar sang paman. Jika Menteri Chang sampai jatuh karena ulah keluarganya, dengan cara mereka yang tak mengenal batas, masa depan...
Chang Jinzhou tak berani membayangkan lebih jauh.
Ia menatap Gu Jinyuan, tak percaya bahwa pria yang tersenyum di depannya bisa begitu saja menyerahkan sesuatu yang mampu mengantarkan keluarga Chang ke kehancuran.
“Kamu lihat sendiri, apa yang ditemukan keluarga Gu sudah cukup membuat Menteri Chang yang kalian banggakan kewalahan. Tapi bagaimanapun, keluarga Chang dan keluarga Gu pernah jadi kerabat, kami tidak akan menjatuhkan kalian selagi terpuruk. Asal kamu setuju Gu Jinlin membawa anak pergi dan bercerai denganmu, tak ada orang ketiga yang akan melihat ini. Cukup menguntungkan, bukan?”
Gu Jinyuan tersenyum tanpa bangga, yakin Chang Jinzhou akan menerima syaratnya.
Sejak memutuskan mendukung Gu Jinlin bercerai dengan Chang Jinzhou, Gu Jinyuan sudah mulai mengumpulkan semua informasi ini. Awalnya tidak berniat memperuncing konflik dengan keluarga Chang, tapi karena situasi mendesak, ia tak bisa berpikir terlalu lama.
Dibandingkan nasib seluruh keluarga Chang, sekalipun Chang Jinzhou masih punya sedikit rasa pada Jinlin dan anak dalam kandungannya, ia pasti memilih keputusan yang benar.
Terlebih lagi, menurut Gu Jinyuan, Chang Jinzhou tidak tampak seperti orang yang benar-benar menyayangi Gu Jinlin.
“Baik, aku setuju!” Chang Jinzhou mengatupkan gigi, berkata perlahan.
Lalu ia mengambil pena dan kertas yang sudah disiapkan di meja, menulis surat cerai dan menegaskan bahwa anak dalam kandungan Gu Jinlin akan dibawa pergi, lalu membubuhkan cap jari.
Sampai tinta mengering dan cap jari memerah mengering di tangannya, Chang Jinzhou masih tak percaya, mulai hari ini, ia dan Gu Jinlin benar-benar bukan lagi suami istri.
Hatanya terasa kosong, ia mengepalkan tangan erat-erat, tapi akhirnya tak berkata apa-apa lagi.
“Begini, semuanya jadi baik. Beberapa hari lagi, akan ada orang ke keluarga Chang untuk mengambil kembali barang-barang pengantin Jinlin. Aku Gu Jinyuan menepati janji, tidak akan ada kabar tentang perbuatan keluarga Chang yang keluar dari keluarga Gu.”
Setelah bicara jelas, Gu Jinyuan tak memperdulikan reaksi Chang Jinzhou, memanggil pelayan untuk mengantar mantan adik iparnya pergi.
Kemudian, ia membawa surat cerai yang baru saja ditulis menuju ke halaman belakang.
Baik Gu Jinlin maupun nenek pasti sudah menunggu-nunggu kabar ini. Kini semuanya sudah selesai, sudah saatnya mereka bergembira.
Anak perempuan sendiri bercerai, tapi bukannya bersedih, malah bahagia untuknya. Hanya nenek yang bisa begitu.
Adapun keluarga Chang yang telah berbuat begitu banyak kejahatan...
Karena keluarga Qin sudah mengirim kabar, kemungkinan besar mimpi Huan benar-benar akan terjadi. Saat itu, tanpa bantuan siapa pun, keluarga Chang akan runtuh dengan sendirinya.
Keluarga Gu hanya perlu menunggu, dan melihat bagaimana akhir keluarga Chang. Mengapa tidak?
Di kediaman belakang, sejak pesta ulang tahun selesai, Gu Jinlin selalu gelisah, terus membayangkan bagaimana reaksi Chang Jinzhou saat kakaknya membicarakan perceraian, dan bila ia bersikeras tidak mau membiarkan ia membawa anak pergi, apa yang harus dilakukan?
Baru hamil di usia tiga puluh, bagi Gu Jinlin saat ini, anak dalam kandungan lebih penting dari segalanya.
Untungnya, Gu Jinlin tak perlu terlalu lama cemas, Gu Jinyuan datang ke halaman belakang dan menyerahkan surat cerai yang ditulis langsung oleh Chang Jinzhou.
“Sekarang kamu bisa tenang. Mulai sekarang, kamu dan anakmu tak ada hubungan apa pun lagi dengan keluarga Chang...” kata Gu Jinyuan.
Bukan hanya Gu Jinlin yang lega, nenek pun tersenyum lebar.
Bagi seorang perempuan, bercerai atau diceraikan bukanlah sesuatu yang membanggakan, tapi dibandingkan hal-hal luar itu, nenek lebih berharap putri kesayangannya bisa hidup bahagia.
Mereka pun mulai membicarakan masa depan Gu Jinlin.
“...Beberapa hari lagi, akan ada orang ke keluarga Chang untuk mengambil kembali barang pengantin Jinlin,” ujar Gu Jinyuan.
Bukan karena ia menginginkan barang-barang itu, tapi setiap kali mengingat perlakuan Chang Jinzhou pada adiknya, ia berharap tak ada hubungan apa pun lagi dengan keluarga Chang. Sekarang Jinlin dan Chang Jinzhou sudah bercerai, mengambil kembali barang pengantin adalah hal yang wajar.
Di Dinasti Zhou, jika bercerai, pihak perempuan tidak hanya berhak mengambil kembali barang pengantin, pihak laki-laki juga harus memberi nafkah tiga tahun.
Tapi, mengingat pandangan Gu Jinlin dan keluarga Gu terhadap keluarga Chang, mereka tidak sudi mengambil sehelai pun milik keluarga Chang.
Dengan surat cerai ini, pesta ulang tahun nenek benar-benar berakhir sempurna.
Agar Gu Jinlin tidak mengingat hal-hal menyedihkan, baik nenek, Gu Jinyuan, maupun pasangan Qin tak membahas kehidupan Gu Jinlin setelah ini, hanya menyuruhnya beristirahat di rumah dan kelak melahirkan anak laki-laki yang sehat.
Justru Gu Jinlin sendiri yang mengangkat topik itu.
“Ibu, dulu Ayah dan Ibu memberikan banyak barang pengantin untukku, selama ini aku belum pernah menggunakannya. Penghasilan dan sewa dari tanah itu cukup untukku dan anak, sedangkan toko-toko, selain yang di Qinghe, sebagian besar kuswakan murah pada keluarga Chang. Aku ingin mengambil semuanya kembali, atau menyewakannya pada orang lain, atau membuka usaha kecil untuk mendapat uang kosmetik. Bagaimana menurut Ibu?” ujar Gu Jinlin.