Bab 72: Diskusi (Bagian 2, mohon dukungan suara bulanan)
Qin Lang tumbuh besar di bawah bimbingan ayahnya, Qin Ye. Karena itu, ia sangat percaya pada penilaian sang ayah. Namun, baru saja beberapa waktu berlalu sejak ayahnya menyebut paman mereka sebagai orang yang kolot dan keras kepala, kini paman sudah setuju membiarkan sepupu An ikut serta dalam ujian musim gugur?
Walaupun hatinya penuh tanda tanya, Qin Lang tetap menampilkan senyum ceria dan menanggapi ucapan Gu Qingwei, “Kalau begitu, kakakmu memang harus lebih giat lagi. Kalau tidak, jika tahun depan gagal dalam ujian musim semi, bisa-bisa aku benar-benar akan satu angkatan dengan sepupu An.”
Semua orang yang hadir pun tertawa riang.
Gu Yining menepuk bahu Gu Yi’an dengan keras, sorot matanya penuh kebahagiaan yang sulit disembunyikan.
Tiga bersaudara dari cabang utama keluarga Gu selalu sangat akrab. Selama bertahun-tahun, Gu Yi’an memiliki keinginan sendiri, dan Gu Yining bukan tidak menyadarinya. Hanya saja, selama ini ia tahu rencana ayah mereka bukanlah sesuatu yang bisa mereka campuri. Ia hanya bisa diam-diam merasa sayang pada adiknya. Namun, kini ayah mereka sudah mengambil inisiatif untuk mengalah, ia pun ikut bahagia untuk sang adik.
Hanya saja, kenapa ayah tiba-tiba mengambil keputusan ini?
Gu Yining melirik Gu Qingwei dengan rasa ingin tahu.
Tadi, hingga mereka keluar dari ruang kerja ayah, sang ayah sama sekali tidak menyinggung soal ini. Setelah itu, hanya Huan Jie’er yang tinggal cukup lama di ruang kerja ayah.
Jangan-jangan, ayah berubah pikiran gara-gara Huan Jie’er?
Gu Yining merasa dugaannya agak tak masuk akal, tapi selain itu, ia benar-benar tak bisa memikirkan alasan lain.
Gu Qingwei kembali mengedipkan mata, “Kakak ketiga, ayah bilang sendiri, kau harus mengungkapkan keinginanmu langsung pada beliau…”
Belum selesai berbicara, Gu Yi’an sudah melompat berdiri, “Aku pergi sekarang juga!”
Ia pun berlari cepat, menampilkan sisi ceria yang belum pernah ia perlihatkan sebelumnya.
Gu Qingwei dan yang lain hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihatnya dari belakang.
Gu Yining yang masih menyimpan pertanyaan, menahannya untuk sementara. Setelah mengantar Qin Lang dan Qin Ming kembali ke paviliun mereka, serta menyuruh Gu Qingwei segera pulang, ia pun langsung menuju ruang kerja Gu Jinyuan.
Saat Gu Yining tiba, Gu Jinyuan sedang dengan wajah serius menasihati Gu Yi’an.
“…An Ge’er, kau sudah berumur empat belas tahun. Kalau ini benar-benar keinginanmu sendiri, dan kau sudah mantap memilih jalan ujian negara, maka kau harus memperjuangkannya sungguh-sungguh. Kalau tidak, kau tak pantas dengan segala upaya Huan Jie’er yang membujuk ayah demi kamu.”
Gu Yining kebetulan mendengar kalimat terakhir itu.
Ternyata benar, semua karena Huan Jie’er.
Perasaan aneh pun menggayuti hatinya.
Setelah Gu Yi’an mengangguk dengan penuh tekad, Gu Yining tak lagi bisa menahan rasa penasarannya. Ia pun bertanya, “Ayah, bukankah dulu… mengapa ayah bisa langsung berubah pikiran hanya karena bujukan Huan Jie’er?”
Gu Jinyuan pun teringat pada penilaian kakak iparnya, Qin Ye, yang pernah menyebut dirinya kolot dan keras kepala.
Sebagai kepala keluarga Gu, Gu Jinyuan jelas bukan orang bodoh. Ia sangat sadar, zaman keemasan keluarga bangsawan telah berlalu. Dinasti Da Zhou sudah bulat tekad menekan para bangsawan. Jika tak mau berubah, betapa pun dalam akar budayanya, keluarga bangsawan hanya akan perlahan-lahan merosot.
Namun, meski tahu semua itu, karena harga dirinya, ia selalu gagal melangkah ke depan untuk berubah.
Tapi tadi, saat mendengar Gu Qingwei bercerita, ia terkejut sekaligus merasa malu.
Putrinya yang baru sembilan tahun saja sudah memikirkan masa depan keluarga Gu, sementara dirinya sebagai nahkoda keluarga, hanya karena gengsi semata, membiarkan keluarga Gu perlahan kehilangan kejayaannya.
Maka, menatap wajah putrinya yang masih polos, Gu Jinyuan akhirnya menyingkirkan ego dan mengambil langkah ini.
Lagipula, Gu Yi’an adalah putranya. Jika anaknya punya keinginan seperti itu, dan ia sudah tahu, apa salahnya membantu mewujudkannya?
Gu Jinyuan tidak menjelaskan semua itu pada Gu Yining secara detail. Ia hanya menepuk bahunya dan berkata, “Ning Ge’er, kelak kau juga harus memikul beban keluarga Gu. Maka, ingatlah baik-baik, di atas kepentingan pribadi, ada kepentingan keluarga yang jauh lebih penting.”
Gu Jinyuan selalu puas pada Gu Yining.
Putra sulungnya itu sejak kecil sudah berkepribadian matang. Kini baru enam belas tahun, tapi sudah sangat teliti dan bijaksana. Dengan Ning Ge’er di keluarga, dan jika An Ge’er juga berhasil dalam ujian negara, masa depan keluarga Gu pasti cerah.
Semua itu sebenarnya adalah kata-kata penghiburan dari Gu Qingwei untuk dirinya. Namun, saat ini, menatap kedua putranya yang berdiri sejajar, Gu Jinyuan akhirnya tertawa lepas.
Saat itu, masih ada empat sampai lima bulan sebelum ujian musim gugur. Gu Yi’an sendiri sudah lulus sebagai murid tingkat dasar, sehingga memenuhi syarat untuk mengikuti ujian musim gugur. Maka keputusan ini pun resmi diambil.
Baru saja keputusan itu dibuat di keluarga Gu, tanpa mereka sadari, tak lama kemudian, di ibu kota jauh di sana, di kediaman Adipati Negara, Ning Jingchang dan Putri Agung Anping tengah membicarakan hal ini.
“…Baru-baru ini, kudengar kabar putra kedua keluarga utama Gu dari Qinghe juga akan ikut ujian musim gugur.” Yang berbicara adalah Ning Jingchang, Adipati Negara.
Ning Jingchang usianya beberapa tahun lebih muda dari Gu Jinyuan, sekitar tiga puluh satu atau tiga puluh dua tahun. Meski lahir dari keluarga berpengaruh dan sejak kecil belajar bela diri, posturnya tak terlihat kekar, justru terkesan berwibawa dan lembut.
Berhadapan dengannya adalah Putri Agung Anping, Chu Jingshu, yang usianya dua-tiga tahun lebih muda dari Ning Jingchang. Namun karena menjaga diri dengan baik, dari penampilan saja tak tampak kalau ia sudah punya putra berusia sebelas tahun.
“Gu Jinyuan dari keluarga Gu itu, bukankah katanya sangat kolot dan konservatif? Kok bisa sekarang berubah pikiran? Tahun depan, putra sulung keluarga Qin juga akan ke ibu kota ikut ujian musim semi. Keluarga bangsawan yang selalu menganggap diri mereka lebih mulia, begitu cepat juga membaca situasi?” Putri Agung Anping tampak agak terkejut.
Beberapa waktu lalu, mereka sekeluarga sempat membawa putra mereka ke Qinghe. Awalnya ingin mencari kesempatan mengunjungi keluarga Gu, tapi tiba-tiba ada urusan mendesak di ibu kota sehingga mereka harus kembali buru-buru.
Konon, putri keluarga Gu di Qinghe sangat luar biasa. Mereka ingin mencoba peruntungan, siapa tahu orang yang pernah disebutkan oleh Pendeta Dongxu memang ada di keluarga Gu. Tak disangka, justru di kediaman barat…
Putri Agung Anping diam-diam menghela napas dalam hati.
Namun, saat memandang putra semata wayangnya, Ning Zhiyuan, yang sedang melotot mendengarkan mereka berbicara, suasana hatinya langsung membaik.
“Suamiku, ngomong-ngomong, sekalipun keluarga bangsawan itu mulai berubah, memangnya mereka bisa apa? Kalau putra kita Pan Ge’er ikut ujian negara, anak-anak bangsawan yang merasa paling hebat itu pasti akan kalah bersaing dengan Pan Ge’er kita.”
Wajah Putri Agung Anping yang cantik berseri-seri menampakkan kebanggaan.
Mendengar itu, Ning Zhiyuan sama sekali tidak merasa senang. Ia malah langsung cemberut.
Ia sekarang sudah sebelas tahun, bukan lagi bocah kecil tak mengerti apa-apa. Kenapa ibunya masih saja memanggilnya Pan Ge’er?
Sambil mendongkol, Ning Zhiyuan tiba-tiba teringat pada gadis kecil dari Qinghe yang pernah membuatnya merasa kalah untuk pertama kalinya dalam hidup.
Gadis kecil itu galak dan tak tahu malu. Kalau nanti ia pergi ke Qinghe lagi, ia pasti akan mencarinya, agar gadis itu tahu rasanya dibalas setimpal! (Bersambung.)