Bab 65: Kebenaran
“Nenek, cucu juga mengetahui hal ini secara kebetulan. Wanita itu…” Sebenarnya ia hendak memanggil Qiao Xiu’er sebagai Selir Xiu seperti di kehidupan sebelumnya, namun tiba-tiba teringat bahwa Qiao Xiu’er saat ini masih belum menjadi selir seperti dulu, sehingga ia pun sengaja mengaburkan panggilannya. “Waktu itu, ketika cucu melihat Huai di Wuwei Lou yang wajahnya mirip dengan Paman Ketiga, cucu sudah merasa curiga. Kemudian, secara kebetulan, di perjalanan pulang, cucu mendengar beberapa orang menanyakan tentang dia dan Huai, jadi karena penasaran, cucu pun bertanya lebih banyak…”
Kisah mengetahui secara kebetulan tentu saja hanyalah alasan. Namun Gu Qingwei tidak mungkin menceritakan kenyataan yang sebenarnya. Kehidupannya yang terlahir kembali terlalu mengerikan untuk dipercaya. Sekalipun diceritakan kepada nenek, ayah, atau ibunya, mereka pasti tidak akan percaya. Alasan bermimpi pun sudah pernah digunakan, masakan harus diulang? Maka lebih baik mengatakan itu terjadi secara kebetulan.
Selain bagian itu, Gu Qingwei sama sekali tidak berbohong.
Qiao Xiu’er adalah putri seorang petani dari Desa Qiao di luar Kota Qinghe. Sejak kecil ia sudah dijodohkan dengan anak laki-laki dari keluarga lain di desa itu. Ketika keduanya beranjak enam belas tahun, kedua keluarga pun menikahkan mereka. Walaupun keluarga Qiao Xiu’er tidak bisa dibilang kaya, namun kebutuhan hidupnya selalu tercukupi. Sejak kecil ia tidak pernah merasakan penderitaan, tumbuh layaknya gadis manja yang selalu disayang, dan memang menjadi idola di desanya.
Dengan paras seperti itu, setelah menikah pun Qiao Xiu’er sangat disayang dan dimanjakan keluarga suaminya. Seandainya hidup berjalan seperti itu terus, mungkin ia hanya akan menjadi petani wanita yang hidupnya sedikit lebih baik dari yang lain. Namun malang tak dapat ditolak, suatu insiden malah terjadi kemudian.
Dua belas tahun lalu, tak lama setelah menikah, suami Qiao Xiu’er, saat pulang dari kota usai menjual hasil panen, dirampok oleh penjahat yang datang dari luar. Semua uang dan barangnya habis dirampas, bahkan ia juga mengalami luka parah. Berkat pertolongan, nyawanya memang selamat, namun sejak itu ia tak lagi menjadi pria yang utuh.
Menghadapi kejadian seperti itu, keluarga suami Qiao Xiu’er tentu berusaha keras menutupinya. Bahkan pada awalnya Qiao Xiu’er sendiri pun tidak mengetahui apa-apa. Suaminya merasa takut Qiao Xiu’er akan membencinya karena kekurangannya. Ia pun terus menyembunyikan hal itu dengan alasan masih dalam masa pemulihan, menolak tidur sekamar dengan istrinya, namun di sisi lain, ia berusaha sebisa mungkin memperlakukan istrinya dengan baik, berharap jika suatu saat rahasianya terbongkar, Qiao Xiu’er masih bisa mengingat kebaikannya.
Namun, sepandai-pandainya menutupi, akhirnya ketahuan juga. Meski ada alasan pemulihan, dua bulan kemudian Qiao Xiu’er mulai merasakan ada yang aneh. Akhirnya, karena tak bisa lagi disembunyikan, keluarga suaminya pun dengan terpaksa memberitahukan kebenaran pada Qiao Xiu’er.
Setelah mengetahui kenyataan, Qiao Xiu’er merasa sangat sedih dan menderita. Hidup yang sebelumnya baik-baik saja, kini justru ditimpa musibah seperti itu. Pada waktu itu, usianya baru tujuh belas tahun dan belum memiliki anak. Apakah sisa hidupnya harus dijalani dengan penuh penderitaan seperti ini?
Setengah tahun berlalu dengan penuh kesabaran, akhirnya Qiao Xiu’er tidak tahan lagi dan mengajukan permintaan cerai pada suaminya. Dalam pikirannya, jika sang suami sudah tak bisa disebut sebagai pria sejati, setidaknya beri kesempatan padanya mencari kebahagiaan dengan orang lain di sisa hidup. Namun keluarga suaminya tidak sependapat. Baru menikah belum genap setahun sudah minta cerai, apa yang akan dikatakan orang-orang? Bagaimana mereka harus menjelaskan alasannya?
Haruskah mereka mengaku bahwa anak laki-laki mereka bukan lagi pria sejati? Jika kabar seperti itu sampai tersebar, keluarga mereka akan menjadi bahan gunjingan sepanjang hidup.
Karena itu, keluarga suaminya jelas tidak rela. Ketika situasi semakin buntu, Qiao Xiu’er pun mencari kesempatan meminta bantuan keluarganya sendiri. Namun, keluarganya malah menyuruhnya bersabar saja, nanti tinggal mengadopsi anak, maka kehidupan akan tetap bisa dilalui.
Bersabar? Jika Qiao Xiu’er memang mampu terus bersabar, tentu ia tidak akan pernah meminta cerai. Dalam keadaan seperti inilah, Qiao Xiu’er bertemu dengan Gu Jincong.
Keluarga Gu memiliki tanah pertanian yang letaknya bersebelahan dengan Desa Qiao. Gu Jincong sendiri memang bertanggung jawab mengurus tanah dan usaha keluarga. Karena hasil bumi dari lahan itu sangat disukai oleh Nyonya Tua, Gu Jincong pun sering datang memeriksa keadaan di sana. Pada salah satu kunjungan itu, Gu Jincong melihat Qiao Xiu’er diam-diam menangis di sudut desa yang sepi.
Saat itu Gu Jincong masih muda, baru saja melewati masa-masa indah pernikahan dengan Chen, istrinya yang berwatak sangat berbeda dari Qiao Xiu’er. Tidak heran jika kehadiran Qiao Xiu’er menimbulkan rasa penasaran dan ketertarikan dalam hatinya.
Sejak saat itu, Gu Jincong semakin sering datang ke desa tersebut, dan setiap kali, ia selalu “kebetulan” bertemu dengan Qiao Xiu’er. Pertemuan demi pertemuan itu pun menumbuhkan benih perasaan di antara mereka.
Setelah pengalaman pahit bersama keluarga suaminya, Qiao Xiu’er menjadi lebih dewasa dan penuh perhitungan. Ia tahu siapa Gu Jincong sesungguhnya – Tuan Ketiga dari keluarga Gu di Qinghe. Bersama orang seperti dia, hidup yang diimpikannya bukanlah mustahil.
Namun, Qiao Xiu’er juga paham betul keadaannya. Tak hanya masih berstatus istri orang, bahkan andai sudah cerai pun, keluarga Gu tak mungkin menerima wanita yang pernah bercerai masuk ke dalam keluarga mereka. Maka sejak awal, ia memang tak pernah berniat masuk ke keluarga Gu lewat Gu Jincong.
Qiao Xiu’er memang seorang wanita yang tegas. Setelah yakin dengan keputusannya, ia pun segera bertindak. Diam-diam ia mengemasi barang-barang berharganya, lalu mencari kesempatan kabur ketika keluarga suaminya lengah. Ia pergi hingga tiba di luar rumah leluhur keluarga Gu, menunggu di sana selama dua hari dua malam, barulah akhirnya bertemu dengan Gu Jincong yang sedang keluar rumah.
Seorang wanita yang telah lama memiliki hubungan dengan dirinya, rela meninggalkan segalanya untuk mencari perlindungan padanya, dan demi menjaga nama baik Gu Jincong, ia rela menunggu dua hari penuh di luar rumah keluarga Gu. Menyaksikan betapa malangnya Qiao Xiu’er waktu itu, Gu Jincong jelas sangat terharu, sampai-sampai melupakan status Qiao Xiu’er sebagai istri orang.
Sejak saat itu, Qiao Xiu’er ditempatkan oleh Gu Jincong di sebuah tanah miliknya pribadi, dan mereka pun menjalani kehidupan bersama setiap kali Gu Jincong ada kesempatan keluar rumah.
Gu Yihuai lahir dari hubungan ini.
Qiao Xiu’er akhirnya menjalani kehidupan yang selama ini ia impikan. Hidup berkecukupan, memiliki anak laki-laki, dan merasa bahagia. Ia tahu benar, setelah melarikan diri dari keluarga suaminya, sudah pasti mereka akan mencarinya ke mana-mana. Karena itu, sejak tinggal bersama Gu Jincong, ia nyaris tak pernah keluar rumah, takut menimbulkan masalah.
Atas pengertian dan sikap Qiao Xiu’er, Gu Jincong sangat puas. Apalagi jika dibandingkan dengan istri sahnya, Chen, Qiao Xiu’er jauh lebih lembut dan penuh perhatian. Selama bertahun-tahun, Gu Jincong benar-benar sangat memanjakan Qiao Xiu’er.
Di rumah, ia punya istri pilihan keluarganya, Chen, sementara di luar ia memiliki wanita lembut yang selalu menuruti keinginannya. Gu Jincong benar-benar hidup penuh kebahagiaan selama bertahun-tahun. Namun ia tidak sadar, sifat serakah manusia memang tak pernah ada batasnya.
Awalnya Qiao Xiu’er benar-benar puas dengan kehidupan seperti itu. Tak masalah ia tidak punya status resmi, selama Gu Jincong memperlakukannya bak permata di telapak tangan, bahkan jika mungkin, bintang di langit pun akan diambilkan untuknya. Hidup seperti itu, bahkan para gadis dan nyonya di Qinghe mungkin belum tentu bisa menikmatinya. Terlebih lagi, ia kini memiliki seorang putra yang sangat dicintai Gu Jincong.
Namun seiring berjalannya waktu, tahun demi tahun, Gu Yihuai pun tumbuh besar. Setiap kali melihat wajah Gu Yihuai yang sangat mirip dengan Gu Jincong, Qiao Xiu’er merasa hatinya bergejolak. Ia tahu, di keluarga Gu, Gu Jincong juga punya anak-anak lain. Putranya, Huai, meski sangat dicintai, tetap saja hanyalah anak haram yang tak diakui, bahkan masih kalah dengan anak-anak dari selir sah di keluarga itu.
Lihatlah dirinya sendiri, meski dimanjakan oleh Gu Jincong, hidup di tanah kecil seperti ini mana mungkin dibandingkan dengan kemegahan kediaman keluarga Gu?
Lambat laun, Qiao Xiu’er mulai punya pikiran lain.
Ia merasa, jika Gu Jincong begitu menyayangi dirinya dan Huai, bukankah mereka seharusnya punya kesempatan untuk benar-benar masuk ke keluarga Gu, menjadi selir sah dan putra yang diakui oleh Tuan Ketiga keluarga Gu?