Bab 72: Mengunjungi Dekan Fakultas Ilmu Komputer
Matahari mulai terbenam di ufuk barat.
Tiba-tiba, dering telepon menggema di ruangan. Dalam kebingungan beberapa orang, Suhan mengeluarkan telepon genggamnya dan memilih untuk mengangkatnya.
Wakil kepala bagian penerimaan mahasiswa telah pulang kerja dan mengajaknya bertemu di salah satu sudut kampus. Setelah menutup telepon, Suhan meninggalkan kamar asrama.
Semua penghuni kamar terdiam mematung.
Ge Yuntian berkata, “Barusan Suhan itu pegang apa, jangan-jangan itu telepon?”
Xiang Li menimpali, “Kelihatannya mirip dengan ponsel besar yang sering dipakai di serial TV Hong Kong.”
Tong Junhao mencibir, “Kalau memang ponsel, lalu kenapa? Mau pamer? Ayahku juga punya satu.”
Ge Yuntian berkata, “Bukankah benda itu mahal sekali?”
Xiang Li berkata, “Paling tidak harganya di atas sepuluh ribu.”
Ge Yuntian terkejut, “Serius? Semahal itu?”
Tong Junhao berkata, “Sepuluh ribu mah cuma dapat cangkangnya! Harganya mulai dari tiga puluh ribu. Ditambah biaya aktivasi dan deposit pulsa, kalau tidak punya empat puluh ribu, jangan harap bisa punya.”
“Empat puluh ribu?” Ge Yuntian dan Xiang Li pun terpana mendengarnya.
Meski keluarga mereka terbilang mampu, orang tua mereka hanya pegawai biasa. Uang sebesar empat puluh ribu bagi mereka bagaikan jumlah yang tak terbayangkan.
Tanpa perlu dijelaskan pun, mereka kini tahu keluarga Suhan pasti sangat kaya. Mana mungkin seorang mahasiswa mampu membeli telepon genggam seharga empat puluh ribu kalau bukan anak orang kaya?
Awalnya Ge Yuntian dan Xiang Li mengira Tong Junhao adalah yang paling kaya di antara mereka. Mereka pun berencana mendekatinya demi mendapat keuntungan. Ternyata, Suhan lah yang benar-benar berkelas.
Sepertinya mereka harus berusaha lebih akrab dengan Suhan ke depannya.
Tong Junhao yang selama ini mengira dirinya paling kaya, kini merasa tersaingi. Mengetahui Suhan punya ponsel, ia pun geram bukan main.
...
Suhan tiba di lokasi yang telah disepakati.
Ia melihat seorang pria paruh baya menunggu di sana dengan sepeda.
Setelah saling memperkenalkan diri, Suhan mengetahui bahwa pria itu adalah Wakil Kepala Bagian Penerimaan Mahasiswa bernama Mai Liangshu.
Mai Liangshu mengajak Suhan mengayuh sepeda melintasi kompleks kampus selama beberapa lama, hingga mereka tiba di deretan gedung tertutup. Ada petugas keamanan berjaga, jelas tempat itu berbeda dari yang lain.
Saat melihat Mai Liangshu, petugas keamanan tersenyum, “Pak Mai, pulang kerja ya!”
“Ya, sudah selesai! Dia bersama saya.” Setelah itu, mereka masuk ke dalam kompleks.
Mai Liangshu membawa Suhan menaiki tangga hingga ke lantai tiga. Ia mengetuk sebuah pintu.
Seorang wanita paruh baya membuka pintu dan menyapa ramah, “Wah, Pak Mai datang. Silakan masuk!”
Mai Liangshu tersenyum, “Kak Zhou, Direktur Wei ada di rumah?”
“Ada, silakan masuk!” Zhou Yiru lalu mengambilkan dua pasang sandal untuk mereka.
Suhan mengucapkan terima kasih dan mengikuti Mai Liangshu masuk ke dalam rumah.
Di dalam, ruangan itu sangat luas, jauh melebihi ukuran apartemen standar saat ini.
“Lao Wei, Pak Mai datang!” Zhou Yiru berseru.
Tak lama, Dekan Fakultas Ilmu Komputer, Wei Haoguang, keluar dengan senyum, “Pak Mai, silakan duduk.”
“Maaf sudah merepotkan, Pak Wei.”
“Ah, kita semua orang sendiri, tak perlu sungkan.” Wei Haoguang berkata sambil menatap Suhan.
Suhan buru-buru berkata, “Selamat malam, Pak Wei.”
“Duduklah, kita bicarakan sambil duduk.” Wei Haoguang mempersilakan mereka duduk, lalu berkata, “Kamu pasti Suhan, ya?”
“Saya Suhan.”
Mai Liangshu berkata, “Pak Wei, mengenai Suhan sudah saya jelaskan pada Anda. Mohon dengan sangat agar Anda mau menerimanya.”
Wei Haoguang menggeleng, “Kalian ini, suka sekali cari perkara. Program S1-S2 langsung sudah saya setujui, sekarang malah minta program doktoral juga. Kamu juga tahu, jatah doktor sangat terbatas, setiap tahun fakultas hanya punya beberapa kuota. Kalian sih enak saja memberi janji, ujung-ujungnya fakultas yang pusing.”
Mai Liangshu tersenyum pahit, “Kami juga tidak punya banyak pilihan. Sekarang setiap tahun kampus harus memenuhi kuota penerimaan siswa unggulan, kalau tidak tercapai, pimpinan pasti kecewa. Lagi pula, Anda pasti tahu prestasi Suhan. Dia peraih nilai sempurna pertama di sejarah nasional, benar-benar jenius. Namanya pun sudah terkenal di dalam dan luar negeri, masa depannya pasti cemerlang. Kami sudah berjuang keras membawanya ke sini, mohon mengerti kesulitan kami.”
Wei Haoguang menghela napas, kemudian menoleh ke Suhan, “Saya dengar kamu juga berbakat di bidang seni. Kenapa dulu saat ditawari masuk jurusan ekonomi dan manajemen tanpa tes, kamu tidak mau? Bukankah di sana juga bisa langsung lanjut S1, S2, hingga S3?”
Suhan menjawab, “Saya memang lebih tertarik pada komputer. Sejak lama ingin masuk Fakultas Ilmu Komputer.”
Wei Haoguang bertanya, “Kamu sudah punya dasar komputer?”
“Ada sedikit, di rumah saya ada komputer.”
“Komputer?” Wei Haoguang tersenyum, “Memang komputer itu sama dengan mesin hitung. Tapi kuliah komputer bukan sekadar bermain komputer seperti yang biasa orang lakukan. Umumnya orang hanya memakai aplikasi, paling-paling untuk main game, tidak pernah menyentuh aspek yang lebih dalam. Ilmu komputer mempelajari struktur dasar dan logika mendalam komputer. Ngomong-ngomong, kamu tahu apa itu bahasa pemrograman?”
“Tahu. Bahasa pemrograman adalah media komunikasi antara manusia dan komputer. Komputer itu seperti seorang koki yang hanya mengerti satu bahasa, sementara programmer tidak bisa bicara bahasa itu. Mereka tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa memberi perintah. Bahasa pemrograman berperan sebagai penerjemah antara koki dan programmer. Kalau programmer mengetik: 'Saya mau sepiring tumis kentang', lewat terjemahan bahasa pemrograman, si koki pun paham dan akan melaksanakan serangkaian instruksi sesuai permintaan programmer.”
Mendengar jawaban itu, mata Wei Haoguang menunjukkan keterkejutan.
Tak disangka, anak ini memang paham sedikit, bahkan penjelasannya cukup tepat. Sepertinya bukan orang awam.
Wei Haoguang berkata, “Jawabanmu bagus dan penjelasanmu tepat. Kalau di rumah ada komputer, kamu pernah menulis program sendiri?”
“Pernah. Kadang-kadang saya buat game sederhana.”
“Kira-kira berapa baris kode?”
“Lebih dari seratus. Skenarionya tidak banyak, gerakannya pun sederhana.”
“Lebih dari seratus baris sudah lumayan. Sekarang bisa buat lagi?”
“Tidak masalah!”
“Ikut saya.” Wei Haoguang berdiri dan mengajak masuk ke ruang dalam.
Suhan dan Mai Liangshu mengikuti.
Di kamar Wei Haoguang ada sebuah komputer 486. Ia menyalakan komputer dan membuka perangkat pemrograman.
“Silakan coba. Saya ingin lihat kualitas game buatanmu.”
Suhan mengangguk, duduk di depan komputer, membuka program, dan langsung mulai menulis kode.
Melihat itu, Wei Haoguang mengerutkan kening.