Bab 50 Mertua dan Menantu Perempuan
Semula ketika Meng Shulan mengusulkan untuk berbisnis, Meng Changli langsung mendukungnya tanpa berpikir panjang.
Hal yang bisa menghasilkan uang, tentu saja layak untuk dicoba.
Namun, setelah tenang sejenak, ia merasa jika dirinya ikut campur dalam urusan ini, segalanya mungkin tidak akan berjalan dengan lancar.
Meskipun ia orangnya cuek, bukan berarti ia tidak bisa berpikir panjang.
Saat itu, peraturan resmi belum turun. Belum lagi apakah suaminya akan mendukungnya, ibu mertuanya kemungkinan besar tidak akan setuju.
Pikiran wanita itu kuno dan kaku, sering kali melontarkan istilah-istilah seperti memotong ekor kapitalisme atau Huang Shiren. Di tengah situasi kebijakan yang belum jelas, mustahil wanita itu membiarkannya keluar untuk berbisnis.
Namun, adiknya mengatakan bahwa kebijakan itu akan segera turun. Ditambah lagi seluruh anggota keluarga sedang sangat antusias, Meng Changli tidak ingin merusak suasana, jadi ia memilih untuk diam.
Saat itu ia berpikir, selagi ini baru sebatas gagasan dan keberhasilannya masih belum pasti, lebih baik ia menunggu dan melihat perkembangan situasi terlebih dahulu.
Kemudian, kedua saudari itu pergi ke kota.
Meng Changli menyaksikan kemakmuran kota, bersalaman dengan Song Huailing, dan mengobrol beberapa patah kata dengan pemilik warung mi. Pemikirannya pun ikut mengalami sedikit perubahan.
Semula ia hanya ingin membantu keluarga orang tuanya dan adiknya, tetapi kali ini ia sendiri juga bertekad untuk ikut serta di dalamnya.
Tidak peduli alasan lainnya, memiliki uang sendiri dan tidak perlu menengadahkan tangan kepada ibu mertua serta suami adalah hal yang terbaik di dunia ini.
Huang Jialin adalah anak tunggal di keluarganya. Selama mertuanya masih ada, Meng Changli tidak mungkin memegang kendali keuangan rumah tangga.
Beberapa tahun ini, hasil panen keluarga dan gaji suaminya diatur oleh sang ibu mertua. Bahkan ketika Meng Changli ingin membelikan putrinya sebatang manisan buah, ia harus meminta uang kepada keluarga. Siapa pun yang pernah mengalaminya pasti tahu bagaimana rasanya.
Meng Changli ingin mencari uang, tetapi ia tidak bisa mengatakannya terus terang kepada keluarga suaminya. Selama seminggu ia pulang ke rumah orang tuanya, ia mencari alasan bahwa ibunya ingin membuka toko penjahit untuk membuatkan pakaian bagi orang lain, namun ia membeli mesin jahit dan belum bisa menggunakannya, sehingga Meng Changli datang untuk mengajari ibunya.
Meng Changli bisa mengoperasikan mesin jahit karena dulu ia sempat mempelajarinya di komune dengan memanfaatkan koneksi keluarganya.
Ketika ia mengutarakan hal itu saat itu, Zhuang Bailu secara tidak sadar mengira bahwa He Jinqiu berniat seperti adiknya, He Saijun, yaitu bernaung di bawah koperasi pemasokan dan pemasaran untuk berbisnis kecil-kecilan.
Toko penjahit zaman sekarang masih dianggap sebagai bagian dari mata pencaharian masyarakat, dan menghasilkan uang dengan keringat sendiri tanpa melibatkan praktik jual beli ilegal. Bernaung di bawah sebuah instansi, dengan sebagian keuntungan diserahkan kepada instansi dan sebagian lagi disimpan sendiri, hal itu untuk saat ini masih dianggap sesuai aturan.
Meski demikian, Zhuang Bailu tetap memandangnya sebelah mata. Sama seperti He Saijun, selain berbau mata duitan, ia juga harus tampil di muka umum dan memalukan diri sendiri.
Saat itu Zhuang Bailu bahkan menyuruh Meng Changli pulang ke rumah orang tuanya untuk membujuk mereka agar tidak melakukan hal-hal rendahan demi sedikit uang. Jika benar-benar ingin mencari uang, mendapatkan pekerjaan yang layak adalah satu-satunya jalan yang benar.
Hanya saja, Meng Changli tidak mendengarkan dan mengatakan bahwa keluarganya telah memutuskan, kakaknya pun setuju, bahkan mesin jahit itu dibantu dibeli oleh kakaknya.
Zhuang Bailu melihat bahwa ia tidak dapat dibujuk, jadi ia mengurungkan niatnya dan hanya berpesan kepada Meng Changli agar tidak ikut membantu di jalan, demi menjaga martabat dan penampilan agar tidak dilihat oleh rekan kerja serta teman-teman Jialin.
Singkatnya, ia hanya merasa malu karena keluarganya sendiri berbisnis.
Meng Changli adalah orang yang sangat membela keluarganya. Saat itu juga ia bertengkar mulut dengan Zhuang Bailu, lalu membereskan barang-barang dan membawa kedua anaknya pulang ke rumah orang tuanya.
Oleh karena itu, selama seminggu bekerja di rumah orang tuanya, Meng Changli memendam kekesalan di dalam hatinya. Ia semakin bertekad untuk menjalankan bisnis ini dengan baik, dan kelak ketika sudah menghasilkan uang untuk membeli makanan serta pakaian, ia akan membuat orang-orang berfikiran kuno itu merasa iri setengah mati.
Namun, baru saja rencananya mulai dijalankan, ibu mertuanya justru mendatangi tempat itu.
Mulut siapa yang begitu usil dan panjang?
Kata-kata yang diucapkan Zhuang Bailu terlalu menyakitkan, membuat Meng Changli ikut tersulut emosi. Niat awalnya yang ingin meredakan masalah kini telah lenyap, dan ia balas membentak, "Aku tidak mencuri dan tidak merampok. Aku menukar tenagaku sendiri dengan nilai. Di mana letak kehinaanku yang mencemarkan nama baik? Bu, kita semua adalah manusia, punya dua mata dan satu mulut, apa tidak bisa berbicara dengan sedikit lebih sopan?"
"Aku berbicara kasar?" Zhuang Bailu menunjuk Meng Changli dengan eksporsi tidak percaya, seolah menantu itu telah melakukan kejahatan besar. "Apakah kamu sadar dengan apa yang kamu perbuat? Apakah kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan sekarang? Saat melakukan hal-hal ini, apakah kamu menempatkan dirimu sebagai menantu keluarga Huang, dan apakah kamu memikirkan Jialin? Apakah kamu tahu tindakanmu ini sangat berisiko membuatnya kehilangan pekerjaan yang susah payah ia dapatkan!"
Pikiran dan wawasan Zhuang Bailu jelas masih tertinggal di masa beberapa tahun yang lalu.
Meng Changli mengerutkan keningnya erat-erat. "Bu, bisakah Ibu tidak langsung menghakimi hanya karena mendengar angin lalu? Aku melakukan urusanku sendiri, apa urusannya dengan Jialin? Lagi pula, aku sudah membicarakan hal ini dengan Jialin sebelumnya!"
Karena suaminya adalah seorang pegawai negeri, Meng Changli sebenarnya masih memiliki sedikit kekhawatiran.
Ia memang menyembunyikan urusan berbisnis ini dari ibu mertuanya, tetapi ia tidak merahasiakannya dari suaminya.
Pasangan muda itu baru menikah beberapa tahun, dan perasaan di antara mereka masih ada.
Selain itu, ia juga ingin suaminya membantu menutupi hal tersebut selama beberapa bulan, jadi ia pasti harus membicarakannya dengan suaminya.
Hari itu, Meng Changli dan ibunya pergi ke kota untuk mengambil sampel pakaian guna diperlihatkan kepada adiknya, dan ia menyempatkan waktu untuk menemui suaminya di dekat sekolah dasar.
Ia sudah berpikir, jika suaminya merasa hal itu tidak baik, ke depannya ia hanya akan menjahit pakaian saja, sementara pekerjaan menjual barang akan diserahkan kepada orang lain.
Jika ia tidak muncul langsung, seharusnya tidak akan ada masalah.
Saat itu suaminya memang tampak sedikit serba salah, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Meng Changli secara alami menganggap itu tidak masalah.
Itulah sebabnya hari ini ia ikut datang ke kota, bagaimanapun juga, di hari pertama bisnis ini berjalan, ia juga ingin datang melihatnya.
Tetapi sekarang, mengapa pria ini justru bungkam seribu bahasa?
Meng Changli awalnya menyukai suaminya karena kejujurannya, bukan karena pria itu bisu atau dungu.
Dalam situasi seperti sekarang, ia tentu berharap suaminya bisa berdiri dan mengatakan beberapa patah kata untuk membelanya.
Namun, Huang Jialin sama sekali tidak membuka mulutnya, bahkan menghindari tatapan mata Meng Changli.
Meng Changli tertegun, merasa sangat kesal hingga dadanya sesak.
Zhuang Bailu mendengkus dingin dan berkata dengan nada datar, "Apa gunanya kamu bilang pada Jialin? Kapan dia tidak pernah mengalah padamu? Kamu memang bisanya hanya menindas anakku saja."
Zhuang Bailu telah bertahun-tahun bekerja di bidang Federasi Wanita, sehingga cara bicaranya masih cukup terarah.
Meng Changli tidak bisa mendebatnya, tangannya gemetar karena marah.
Pada saat itu, Meng Shulan datang menghampiri dan langsung berdiri di sisi kakinya.
"Bibi, kata-katamu barusan sama sekali tidak benar. Bagaimana bisa Kakakku menindas putramu? Apakah dia memukulnya? Memarahinya? Atau kurang memberinya makan dan pakaian?"
Melihat penampilan Huang Jialin yang seperti pengecut itu, Meng Shulan bahkan enggan memanggilnya kakak ipar lagi.
Zhuang Bailu tidak menyangka Meng Shulan akan maju membela. Biasanya gadis muda itu jarang sekali buka suara.
Bagaimanapun juga ia adalah seorang anak SMA, jalan pikirannya masih cukup jernih.
Zhuang Bailu berkata, "Orang tua sedang berbicara, bukan giliranmu untuk ikut campur di sini. Sebagai seorang pelajar, fokuskan saja pikiranmu pada pelajaran, agar usahamu tidak berbuah sia-sia."
Zhuang Bailu bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga sangat pandai menyindir orang.
Meng Shulan mendengkus kecil, menatap Zhuang Bailu dengan pandangan meremehkan. "Kamu bermarga Zhuang, aku bermarga Meng. Jika bukan karena Kakakku, apa hubungan kekerabatanmu denganku? Jadi, jangan pasang muka senior di depanku. Kalau ingin menindas Kakakku, tanyakan dulu pada diriku apakah aku mengizinkannya."
Meng Shulan samar-samar menduga bahwa kakaknya belum menceritakan semuanya secara jelas kepada keluarganya, tetapi hal itu sama sekali tidak menghalanginya untuk melindungi dan memihak sang kakak.
Terlahir kembali di kehidupan ini, ia sudah lama ingin memberi pelajaran kepada perempuan tua yang sinis, Zhuang Bailu, beserta suami penakutnya itu.